Sebuah screenshot yang berasal dari akun IG dikirimkan oleh seorang teman lewat group WA dengan pesan ‘Jadikan Pasar Santa’ sambil me-mention nama saya.

Screenshot itu bergambar gedung Plaza 21 Samarinda, dengan caption ‘Perjanjian Kerjasama Berakhir : Pemkot akan Ambil Alih Bangunan Plaza 21 Samarinda’.

Saya tak segera menanggapi kiriman pesan dari teman tersebut, pikiran saya justru melayang jauh melewati rooftop  gedung itu yang dari kejauhan terlihat mulai dihiasi tetumbuhan.

Sebagai warga migrant saya tak  tahu bagaimana sejarah keberadaan gedung itu atau apa statusnya?. Apakah gedung itu dibangun dengan skema BGS, Bangun Guna Serah atau BSG, Bangun Serah Guna.

BGS adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan/sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati untuk kemudian diserahkan kembali tanah beserta bangunan/sarana serta fasilitasnya setelah jangka waktu berakhir.

Sementara BSG adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan/sarana beserta fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunan diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu yang disepakati.

Namun nampaknya tak penting lagi menyoal tentang BGS atau BSG yang dalam prakteknya memang kerap tak seperti yang diharapkan.  Yang jelas sebagai aset kini Plaza 21 dengan segala sejarahnya telah kembali ke Pemkot Samarinda.

Kepada teman yang mengirimkan pesan saya menjawab ada baiknya ditanyakan kepada pihak Pemkot soal apa rencananya dengan aset kusam dan lusuh itu.

Saya sendiri tak cukup keberanian untuk menanyakan kepada Walikota atau Wakilnya, sebab meski mengenal mereka namun saya tak yakin mereka kenal saya.

Rasanya juga tak enak untuk menanyakan kepada Tim Walikota untuk Akselerasi Pembangunan {TWAP}, yang kebanyakan anggotanya saya kenal. Saya segan karena tahu mereka tengah sibuk rakor, diskusi dan pertemuan untuk mensinkronisasi program dan rencana OPD dengan Visi Misi Walikota untuk menjadikan Kota Samarinda sebagai Kota Pusat Peradaban.

Maka satu-satunya tempat yang paling nyaman untuk bertanya adalah google. Sayapun mengetik pertanyaan di kolom mesin pencarian paling berkuasa di dunia itu. Hasilnya ada entri yang menunjukkan rencana Walikota Samarinda untuk pemanfaatan eks gedung Plaza 21 itu.

Tertulis bahwa basement gedung itu akan dikelola oleh Dinas Perdagangan sebagai tempat parkir untuk pengunjung kawasan Citra Niaga.

Rencana menjadikan basement menjadi tempat parkir nampaknya menjadi satu-satunya yang paling terang. Tapi saya yakin pasti ada banyak rencana lain yang masih diperbincangkan di ruang-ruang yang belum terlalu terang.

BACA JUGA : Kalau Jatuh Cinta Tahi Kucing Rasa Cuan

Saya tahu maksud teman mengirimkan screenshot bergambar gedung Plaza 21 itu, sebab akhir tahun lalu dengan fasilitasi dari salah satu OPD Provinsi saya sempat berkeliling ke beberapa daerah untuk melihat aktivasi ruang-ruang kusam menjadi arena nongkrong untuk anak muda yang kemudian menjadi hype.

Dan dilanjutkan saat liburan yang difasilitasi oleh istri, saya meneruskan pengamatan itu di beberapa daerah yang kami kunjungi.

Tentu saja perjalanan ini kemudian saya ceritakan kepada teman-teman yang ada di WAG. Maka tidak salah jika kemudian seorang teman berpikir bahwa saya pasti punya pikiran soal pemanfaatan gedung mangkrak untuk diaktivasi menjadi sarana yang berdaya guna.

Tapi ada baiknya sebelum berpikir jauh, mencari referensi dari hasil studi banding, studi tiru, orientasi lapangan, benchmarking atau apapun, ada baiknya belajar dari apa yang terjadi tak jauh dari gedung Plaza 21, yakni Citra Niaga.

Kawasan yang pernah mendapat penghargaan arsitektur The Aga Khan Awards itu ketika masa jayanya habis tumbuh menjadi kawasan ‘bronx’ nya Kota Samarinda. Kawasan yang bahkan di tengah hari bolong tak banyak yang sudi dan berani pergi kesana sendiri.

Ada deret inisatif untuk kembali menghidupkan gajah yang terkulai itu, salah satunya dengan payung Smart City. Hasilnya adalah  ya bangku-bangku di jalanan dengan lembaran atap diatasnya, namun citra Citra Niaga tetap saja masih suram.

Mengawali tahun 2020 kondisi surup atau senjakala Citra Niaga mulai tersibak kabutnya. Dimotori oleh anak muda yang mengajak anak-anak muda lainnya mulai berdiri kedai-kedai kopi. Dalam waktu tak lama ada kurang lebih 50 tenant food and beverages kekinian menyemarakkan Citra Niaga.

Pandemi Covid 19 yang mulai menggila sampai gila-gilaan tak mampu menggilas semangat anak-anak muda dalam berwira usaha. Citra Niaga ramai hingga tengah malam, banyak orang berani dan tak segan pergi kesana sendiri.

Namun ketika pandemi Covid 19 mulai surup, Citra Niaga ternyata juga ikut meredup. Kedai-kedai mulai tutup. Awal tahun 2022, kedai yang menjadi pionerpun mematikan lampunya. Kini pergi ke Citra Niaga malam-malam bisa disalahsangkai, mengaku hendak ngopi tetap bakal dikira akan mencari banci.

Bersama dengan teman-teman Borneo Corner Creative Movement, saya sempat membuat podscast bersama Adece, salah satu pelopor kebangkitan Citra Niaga. Menyambut hangat dan bangga pada inisiatif itu, sunguh tak menyangka jika kemudian usaha kreatif anak-anak muda lewat dunia perkopian di Citra Niaga kemudian mati bujang.

Saya tentu punya hipotesis atau jawaban-jawaban sementara soal kenapa hal itu bisa terjadi. Namun itu hanya duga-duga yang bisa jadi penuh prasangka. Namun saya tak keberatan untuk berbagi pikiran tapi bukan di tulisan ini karena bakal lebih asyik jika di bincang di warung kopi.

BACA JUGA : Judi Menjanjikan Kemenangan dan Kekayaan Tapi Bohong

Adalah PT Ruang Radar Riang yang telah berhasil menyulap aset-aset mangkrak, terbiar dan bermasa depan suram menjadi tempat nongkrong anak-anak muda di berbagai kota.

Di Jakarta mereka berkolaborasi dengan Perum Peruri menyulap bekas rumah dinas Perum Peruri yang terbengkalai puluhan tahun menjadi M Bloc dan PT Pos Indonesia dengan menata Gedung Filateli menjadi  Pos Bloc.

Di Yogyakarta kemudian lahir JNM Bloc di kompleks Yogyakarta National Museum dan terakhir di Padang, bekas pabrik seng disulap menjadi Fabric Bloc.

Dari keempat creative market dan creative space itu yang pernah saya kunjungi adalah M Bloc. Lokasinya tidak jauh dari Blok M dan mengingatkan saya pada kenangan lagu Jalan Jalan Sore yang dipopulerkan oleh Deni Malik.

Berada di tepi jalan Panglima Polim, M Bloc memang hanya sepelemparan batu dari kawasan Blok M. di bagian depan berderet rumah petak tersambung yang kemudian dijadikan outlet para tenant untuk berjualan.

Ada yang berjualan makanan, minuman, pernak-pernik, produk musik dan lain-lain. Sementara di bagian belakangnya yang terdiri dari bangunan gudang kemudian disulap menjadi toko kelontong, ampiteater, ruang pertunjukan musik, galeri dan sebagainya.

Selasar dan halaman menjadi tempat untuk duduk-duduk, titik merokok dan tempat untuk berfoto-foto dengan dinding yang dihiasi mural.

Menyusuri ruang demi ruang menjadi jelas bahwa M Bloc didesain dengan kesadaran pada jiwa anak muda, jam buka tutupnya menyesuaikan dengan waktu anak-anak muda.

Sesungguhnya bagi Perum Peruri jauh lebih mudah membongkar bangunan tua di kawasan itu untuk kemudian dibangun kembali menjadi ruang komersil. Namun kesadaran untuk menjaga bangunan tua yang merupakan warisan sejarah, membuat mereka kembali mau berinvestasi bersama PT Ruang Radar Riang untuk menata aset terbengkalai itu dan kemudian menawarkan kepada usahawan-usahawan muda untuk mencetak uang disana.

Sebagai ruang untuk merayakan kreatifitas, PT Ruang Radar Riang memikirkan keberlanjutan usaha dengan seksama. Para tenant dikurasi dengan sangat baik, dikenali narasi apa yang hendak mereka labelkan pada usahanya.

Adapun model bisnis yang dikembangkan bukan lewat sewa ruang melainkan melalui revenue sharing, sebesar 10 persen dari pendapatan. Namun ada pagu minimal yang disetujui bersama antara PT. Radar Ruang Riang dengan para tenant.

Pagu bukan semata untuk memastikan keuntungan melainkan sebagai patokan baik untuk PT Ruang Radar  Riang maupun tenant untuk bersama mencapainya melalui serangkaian program branding maupun marketing.

Baik tenant maupun PT Ruang Radar Riang bertanggungjawab untuk membuat berbagai event guna mengundang sebanyak mungkin orang untuk datang, terlibat dan merasakan atmosfer serta ekosistem kreatif di M Bloc.

Menurut saya model pengembangan ruang dan pasar kreatif yang dikembangkan oleh PT Ruang Radar Riang cocok untuk diterapkan guna mendayagunakan gedung eks Plaza 21 Samarinda.

Sementara model lain semacam Pasar Santa, di Jakarta atau Hallway di Bandung bisa diterapkan di ruang komersil tradisional yang terbengkalai atau kosong losnya. Konon di Kota Samarinda ada banyak los pasar tradisional yang kosong karena pedagangnya lebih suka jualan di pinggir jalan.

Namun model manapun yang dipilih, satu yang mesti dipastikan adalah adanya pengelola yang mampu berinvestasi diawal dan paham dengan watak ekonomi serta bisnis anak muda. Kepada pengelola mesti diberikan wewenang penuh untuk mengembangkan aset yang hendak diaktivasi agar bisa didesain sesuai dengan roh anak-anak muda serta mencerminkan kreatifitas dan inovasi orang muda.

Campur tangan yang berlebihan dari pemerintah atau pihak lain yang menguasai aset mesti dihindari sekuat mungkin. Biarkanlah anak-anak muda berkarya, berkreasi dan berinovasi dalam ekosistem kreatif yang mendukung mereka untuk menghasilkan cuan.

Tanpa kerelaan itu, bisa jadi sebuah creative hub, creative space atau creative centre hanya akan gegap gempita saat peresmian namun tak lama kemudian kembali akan mati bujang.

Beberapa catatan tentang creative space di berbagai kota :

https://kesah.id/meretas-sejarah-blok-m-dari-jjs-little-tokyo-hingga-creative-hub-generasi-kekinian/

https://kesah.id/6-hal-unik-yang-bikin-m-bloc-jadi-tempat-tongkrongan-asyik-kesah-i-yustinus-sapto-hardjanto/

https://kesah.id/belajar-dari-m-bloc-untuk-menghidupkan-aset-usang/

https://kesah.id/the-hallway-hidden-place-di-pasar-kosambi/

https://kesah.id/makan-makan-di-museum/

https://kesah.id/revitalisasi-kota-tua-semarang/