Mengunjungi Kota Bandung mata akan dimanjakan dengan pemandangan bangunan atau kawasan dengan gedung-gedung tua yang terpelihara. Area yang mempunyai bangunan-bangunan tua tersebar di berbagai penjuru kota.
Kemampuan Kota Bandung mempertahankan gedung-gedung tuanya menjadikan kota itu sebagai kota ketiga di dunia yang mempunyai banyak bangunan tua.
Dari antara gedung atau bangunan tua itu yang paling populer antara lain Gedung Sate, Gedung Merdeka, Masjid Agung Bandung, Katedral Bandung, Gereja Bala Keselamatan, Observatorium Boscha dan Museum Geologi lainnya.
Selain difungsikan sebagai rumah tinggal, rumah dinas dan kantor, banyak bangunan tua kini difungsikan sebagai ruang usaha, seperti hotel, kafe, resto, butik, factory outlet dan lain-lain. Fungsi yang sangat mendukung dunia pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Modal gedung tua yang terpelihara menjadikan Kota Bandung sulit untuk disaingi oleh kota lain, selain karena arsitektur bangunannya juga karena sejarah yang melingkupinya.
Keberadaan gedung dan bangunan tua yang didukung dengan beragam taman tematik menjadikan Kota Bandung bak studio yang maha besar untuk para pengkarya film, video maupun konten-konten di media sosial.
Bandung oleh pemerintah kolonial Belanda memang dibangun untuk menyerupai kota-kota di Eropa. Makanya Bandung mendapat julukan Parijs Van Java karena keindahan kota yang dihiasi dengan taman-taman nan elok dan bangunan nan cantik.
Hanya saja sama seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia, Bandung juga giat melakukan pembangunan gedung-gedung baru, gedung yang menjulang tinggi dan berpotensi menenggelamkan ciri khas Bandung sebagai Kota Heritage dan Vintage.
Walau keberadaan gedung dan bangunan tua dilindungi oleh Undang-Undang dan Peraturan Daerah, namun tidak semua gedung atau bangunan tua itu dikuasai oleh pemerintah. Pun juga pemanfaatannya, ada banyak gedung atau bangunan tua yang tidak dimanfaatkan untuk apa-apa sehingga terbengkalai dan rusak.
Sebagian lain oleh pemiliknya disewakan yang kemudian akan melakukan perombakan atau perwajahan ulang pada gedung dan bangunan tua sesuai kepentingan penyewanya.
Sehingga konservasi bangunan atau gedung tua menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua bangunan bisa dipertahankan keutuhannya. Mengingat material untuk membangun bangunan itu tidak lagi tersedia. Maka tak sedikit yang bahan atapnya telah diganti. Atau dalam kasus tertentu yang bisa dipertahankan dari bangunan hanya fasad-nya, sementara lantai telah berubah juga dindingnya.
Meski masih terus berjuang untuk mempertahankan keberadaan dan keaslian bangunan, apa yang bisa dinikmati di Kota Bangun tetap harus diacungi jempol. Tidak seperti banyak kota lainnya yang dengan sangat mudah merobohkan bangunan atau gedung tua bahkan yang punya nilai sejarah tinggi karena ingin mengantinya dengan bangunan yang megah, tinggi dan modern.

BACA JUGA : Belajar dari M Bloc untuk Menghidupkan Aset Usang
Di Jakarta PT Ruang Riang Milenial berhasil merevitalisasi kawasan perumahan dan gudang tua milik Perum Peruri menjadi ruang ekonomi kreatif. Kolaborasi anak-anak muda dari berbagai latar belakang yang berbeda mampu mengaktivasi kawasan yang terbengkalai menjadi hdup kembali dengan model bisnis khas anak-anak muda.
Di Bandung juga ditemukan model serupa meski tak sama persis. Meski Bandung kaya dengan gedung dan bangunan tua, namun bukan merupakan pilihan bagi Rilly Robi Gusadi untuk mewujudkan visinya.
Yang dipilih oleh Robi justru pasar tradisional. Sebuah tempat yang identik dengan kekumuhan, kotor, bau dan becek. Stigma semacam ini membuat pasar tradisional secara kultural sulit untuk direvitalisasi.
Pasar yang kemudian dipilih oleh Robi adalah pasar legendaris di Bandung yaitu Pasar Kosambi.
Jika kawasan rumah dinas Perum Peruri dibranding dengan nama M Bloc, maka lantai atas Pasar Kosambi oleh Robi disebut sebagai Hallway.
Hallway biasa diartikan sebagai lorong, jalan yang tersembunyi dan terkadang gelap. Hallway sebagai creative space memang tersembunyi. Dari luar hanya akan terlihat seperti pasar tradisional biasa, tak nampak ada tanda atau petunjuk bahwa di dalamnya ada sesuatu yang unik.
Buat mereka yang datang bermodal petunjuk dari google map, jika tak mempunyai kegigihan untuk bertanya kepada orang di sekitar pasar kemungkinan besar akan balik kanan dan merasa tersesat atau salah alamat.
Lorong menuju Hallway adalah tangga yang akan kelihatan setelah melewati beberapa kios pedagang tradisional. Lorongnya sendiri memang agak gelap. Namun setelah menemui outlet pertama yaitu Gudang Warrior akan segera terasa atmosfir yang berbeda dengan pasar-pasar tradisional lainnya.
Disitulah ruang kreatif bernama Hallway berada, yang didalamnya berisi kurang lebih 70-an outlet dari para pengusaha muda yang mengembangkan bisnis makan minum, fashion, aksesories, desain, hobby dan lainnya.
Robi memang jeli, keprihatinannya atas pasar tradisional yang dihindari oleh anak-anak muda ternyata berbuah manis. Robi tidak berkampanye dengan cara menasehati anak-anak muda untuk pergi ke pasar, melainkan dengan mengajak rekan-rekannya yang punya usaha untuk berkreasi disana. Dan anak muda pasti akan memanggil anak muda lainnya.
Hasilnya Hallway bukan hanya sekedar tempat belanja melainkan juga tempat nongkrong anti mainstreams, nongkrong di pasar.
Diantara petak-petak ruang usaha dan jasa, disediakan bangku-bangku dan meja untuk ngobrol serta menikmati kudapan serta minuman aneka rupa.
Melihat Hallway kini tidak banyak yang menyangka bahwa lantai dua Pasar Kosambi itu dulunya adalah ruang yang terbengkalai, bekas terbakar.
Butuh waktu sekitar satu tahun bagi Robi untuk merencanakan secara detail gagasannya dan menawarkan kesana kemari kepada rekan-rekan yang punya usaha untuk mau berusaha disana.
Lahan yang dua puluh tahun menganggur itu akhirnya bisa disulap sebagai ruang kreatif di akhir tahun 2019 dan terus berkembang hingga sekarang.
Areanya belum sepenuhnya terisi, namun cita-cita Robi bukan hanya memenuhi Hallway dengan ratusan tenant, melainkan menjadikan Hallway sebagai komunitas kreatif terbesar di Bandung. Hallway dimaksudkan menjadi pusat komunitas dan kegiatan-kegiatan kreatif.
Industri dan ekonomi kreatif memang tipikal anak-anak muda yang dinamis. Tuntutan untuk terus menerus melakukan pembaharuan tak mungkin diikuti oleh generasi yang doyan kemapanan.

BACA JUGA : 6 Hal Unik Yang mNejadikan M Bloc Jadi Tempat Tongkrongan Asyik
Upaya untuk melakukan revitalisasi pasar tradisional sebenarnya adalah kisah lama. Hanya saja generasi lampau selalu berkutat pada infstruktur, memodernisasi pasar tradisonal dengan merombak bangunan sehingga mirip mal.
Pasar Segiri juga tak lepas dari paradigma ketika beberapa tahun lalu dibangun gedung bertingkat disalah satu sisinya. Namun semenjak diresmikan banyak ruangannya tak terisi, yang berdagang disana juga tak mampu mendatangkan pengunjung.
Dinamai sebagai Segiri Grosir hanya sempat ramai ketika demam batu akik. Namun setelah itu kembali suram.
Belajar dari reaktivasi lahan pasar yang terbengkalai ala Hallway, terbukti pendekatan kreatif dengan sasaran yang jelas yaitu anak-anak muda ternyata mampu menjadikan pasar sebagai tujuan untuk bersosialisasi.
Yang diperlukan adalah sebuah perencanaan yang kuat dan lepas dari embel-embel kepentingan sesaat untuk sekedar mencari pujian wah karena kemegahan bangunan.
Berikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk menuliskan sejarahnya, sebab sejarah anak muda adalah cerita hari esok.

note : artikel ini merupakan catatan perjalananyang diikuti oleh kesah.id dalam kegiatan orientasi lapangan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dari tanggal 19 s/d 22 Desember 2021.








