Memasuki akhir dekade 90-an, Citra Niaga sebagai kawasan pusat perbelanjaandi Kota Samarinda mulai ditinggalkan konsumennya. Padahal di tahun 1989, kawasan ini mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award of Architecture {AKAA}.
Munculnya pusat-pusat perbelanjaan modern yang lebih ramah konsumen menjadi salah satu penyebabnya. Terdesak oleh model bisnis yang lebih modern, Citra Niaga membiarkan dirinya terpuruk. Bukan hanya kawasannya yang tak terurus, keamanannya juga tak terjamin sehingga semakin membuat masyarakat enggan kesana.
Pemerintah Kota Samarinda tak bisa disebut abai. Sebab beberapa kali upaya untuk merevitalisasi kawasan ini dilakukan. Namun upaya itu belum mampu menghidupkan kembali kawasan yang makin lama makin usang itu.
Beberapa komunitas juga berupaya untuk menghidupkan lagi kawasan Citra Niaga namun tak juga berhasil. Hingga kemudian mulai Februari 2020 yang lalu, secercah cahaya mulai kelihatan. Dimulai dari berdirinya Kopi Sajen, keterpurukan kawasan ikonik itu mulai tersibak.
Adalah Adi Chandra atau kerap disapa sebagai Adece yang memulainya, sembari terus mengajak orang lain untuk ikut serta sehingga di kawasan Citra Niaga ada kurang lebih 40-an kedai kopi dan makanan lainnya.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Citra Niaga kemudian identik dengan kopi dan tempat nongkrong anak-anak muda di Samarinda. Kawasan yang biasa gelap dan menjadi tempat mangkal Pekerja Seks Komersil kemudian menjadi ramai dan terang setiap malamnya.
Pandemi dan kebijakan pembatasan sosial memang sempat memukul usaha yang sedang dirintis itu, namun syukur tak berkepanjangan. Dan ketika banyak usaha lain surut di saat pandemi ternyata usaha perkopian di kawasan Citra Niaga justru tumbuh dengan pesat, baik jumlah kedai maupun pengunjungnya.
Kampanye digital dengan hastag #kembalikecitra dan #citraaman terus digaungkan, hasilnya anak-anak muda datang dan tak canggung nongkrong di Citra Niaga yang sebelumnya mereka kenal sebagai kawasan ‘hitam’.
Jauh di Jakarta, beberapa bulan sebelum Citra Niaga bergeliat, hunian di sepanjang Jalan Panglima Polim yang terbengkalai sejak tahun 1992 juga mulai berubah wajah. Sejumlah rumah dinas dan gudang yang dibangun sejak tahun 1950-an kembali ditata.
Adalah PT Ruang Riang Milenial yang bekerjasama dengan Perum Peruri sebagai pemilik aset untuk mengembangkan kawasan seluas hampir 7.000 meter persegi itu menjadi ruang kreasi, ekpresi dan bisnis anak muda yang dinamai sebagai M Bloc.
Hadirnya M Bloc dimilai dari keinginan Perum Peruri untuk menghidupkan aset usangnya kembali. Keinginan ini kemudian disambut oleh Jacob, Glenn Fredly, Handoko Hendroyono, Lance Mengong, Mario Sugianto dan Wendi Putranto sebagai pendiri PT. Ruang Riang Millenial.
Keinginan Perum Peruri tidak langsung dieksekusi melainkan lebih dulu dimatangkan lewat sebuah diskusi yang panjang untuk memikirkan konsep ruang yang akan mempu mengembalikan kesan Blik M sebagai ‘episentrum’ gaya hidup yang tetap relevan untuk anak-anak muda.
Anak muda diputuskan sebagai sasaran yang hendak dilayani melalui kehadiran M Bloc. Sebab generasi milenial dan generasi Z dianggap sebagai generasi yang bangga pada creativepreneur.
M Bloc kemudian hadir sejak September 2019. Area bekas rumah dinas dan gudang serta bangunan lainnya ditata dengan konsep ruang yang meliputi area konser indoor, amphiteater, retail food and beverage, area fesyen dan aksesories, area galeri produk aka diatas lahan dengan luas kurang lebih 6.500 persegi itu ditata dengan konsep ruang yang meliputi area konser, ruang eksebisi, retail food dan beverages, fesyen dan aksesoris serta area galeri produk kreatif.
Apa yang ditampilkan dan diperjualbelikan di M Bloc sebagian besar merupakan karya para kreator indie, hanya sebagian kecil yang dihasilkan oleh usaha yang mereknya telah dikenal luas oleh masyarakat.
Bacaan para pendiri PT Ruang Riang Milenial ternyata tepat. Tak butuh waktu lama bagi M Bloc untuk meraup perhatian dari generasi yang dituju, geliat M Bloc untuk mengembalikan masa jaya Melawai sebagai area ‘ngeceng’ anak muda berjalan dengan sangat cepat.

BACA JUGA : 6 Hal Unik Yang Membuat M Bloc Jadi Tempat Tongkrongan Asyik
Menghidupkan aset usang yang telah lama terbiar tentu saja tidak mudah. Selama aset itu terbengkalai tentu biasanya muncul ‘penguasa’ tidak resmi atas aset itu. Orang atau sekelompok orang ini biasanya tak mau kehilangan ‘akses’ dan ‘pengaruh’ atas aset itu.
Namun dengan konsep dan model bisnis yang jelas serta pengelola yang mendapat mandat secara sah dari pemilik aset, niscaya hambatan-hambatan dari pihak luar yang kemudian tersingkir akan bisa diatasi.
Perjuangan terberat dari revitalisasi kawasan adalah kembali menarik perhatian masyarakat untuk datang ke tempat yang selama ini dianggap kelam.
Menghadirkan sebuah keunikan yang menarik perhatian menjadi sebuah keharusan. Siapapun yang datang harus diberi jaminan akan merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak ditemui di tempat lainnya.
Untuk memberi jaminan itu maka pengelola M Bloc melakukan kurasi yang sangat ketat terhadap segala sesuatu yang akan dihadirkan di kawasan M Bloc. Deretan kedai dan resto yang menyajikan makanan serta minuman tidak ada yang jenis makanan atau jualannya sama. Dengan demikian akan terjadi diversivitas, antar penjual tidak akan saling bersaing, saling berebut konsumen sebab yang dijual atau disajikan berlainan.
Selain kurasi yang kuat, pengelola M Bloc juga mempunyai keberpihakan yang kuat terhadap barang-barang hasil karya dari UKM dalam negeri. Hal itu ditunjukkan melalui M Bloc Market, sebuah toko kelontong yang bercorak indie grocery store.
Upaya untuk menghidupkan M Bloc tidak semata merupakan tanggungjawab pengelola. Mereka yang berusaha disana juga dituntut untuk menyelenggarakan acara yang berpotensi untuk mengundang masa sesuai dengan karakter aau brand usahanya,
Tanggungjawab ini kemudian membuat para tenant berlomba menata interiornya semenarik mungkin, estetik dan menyelenggarakan acara yang beragam.
Selain tanggungjawab untuk menarik pengunjung para tenant di M Bloc juga diberi target untuk menghasilkan minimal 250 juta per bulan . Manajemen M Bloc akan mengutip 10 persen dari pendapatan kotor, yang sebagian akan diberikan kepada Peruri sebahai pemilik aset.
Dan pada awal bulan ketiga pendiriannya, M Bloc telah berhasi meraup pengunjung sebanyak 11.000 orang. Sampai menjelang akhir tahun 2021, M Bloc tetap masih ramai, setiap hari di sore hari banyak kelompok anak-anak muda datang untuk bercengkrama dan menyaksikan berbagai macam jenis pertunjukan atau penampilan para kreator disana.
Area kompleks Peruri semula adalah area pendukung bagi kawasan Blok M. Namun kini memberi nuansa yang berbeda, sehingga memberi roh baru bagi kawasan Blok M yang semakin hari perkembangannya mengental menjadi pusat perdagangan.
Melalui M Bloc, kawasan hunian Peruri mempunyai roh baru yang akan semakin menguatkan kesadaran akan pentingnya melindungi dan melestarikan bangunan tua yang merupakan warisan sejarah.
Dibanding dengan upaya – upaya revitalisasi sebelumnya, salah satu kekuatan yang menyokong keberhasilan M Bloc adalah kekuatan komunitas.
Para pendiri M Bloc adalah orang yang mempunyai komunitas masing-masing atau orang yang punya kekuatan untuk mengerakkan komunitasnya. Para pendiri kemudian menarik komunitasnya untuk sama-sama turut berpartisipasi dalam membangun M Bloc.

BACA JUGA : Meretas Sejarah Blok M Dari JJS, Little Tokyo Hingga Creative Hub Generasi Kekinian
M Bloc berhasil mengibarkan benderanya dan keberhasilannya menginspirasi lahirnya ‘M Bloc’ lain di berbagai kota yang digawangi oleh anak-anak muda. Anak-anak muda yang kemudian berhasil menyulap aset dan kawasan kusam menjadi punya wajah dan fungsi baru untuk menjadi ruang kreatif dan produktif serta menghasilkan uang.
Sayangnya apa yang dimulai di Samarinda oleh Adece dan rekan-rekannya tak berhasil dipertahankan apalagi dikembangkan. Citra Niaga yang mulai terang ternyata sinarnya tak lama bertahan. Belum mampu melewati angka satu tahun, tanda-tanda kekelaman Citra Niaga kembali terlihat.
‘Bubuhan Kopi Citra Niaga’ yang berhasil memoles kembali Citra Niaga ternyata tak cukup punya kendali atas lingkungan di Citra Niaga. Mereka tak bisa mengawal skema dan model bisnisnya karena ada banyak tangan lain yang turut campur sehingga ekosistem kreatif yang mulai bertunas kemudian gagal bertumbuh dengan sempurna.
Tentu saja ini akan menjadi catatan buruk bahkan luka batin bagi kaum muda yang punya keinginan untuk membangkitkan kembali aset-aset di Kota Samarinda yang selama ini terbiar begitu saja.
Ada banyak aset di Kota Samarinda yang bisa diberdayakan sebagai ruang ekpresi dan kreasi bagi kaum muda untuk memasuki industri serta ekonomi kreatif. Namun inisiatif dan kreatifitas anak-anak muda akan segera layu andai kepada mereka tidak diberikan keleluasaan untuk mengembangkan kreatifitasnya.
Adalah sayang jika kemudian anak-anak muda Kota Samarinda dan Kota lain di Kalimantan Timur lebih suka mengunjungi serta menikmati kreatifitas rekan-rekan sebayanya di wilayah lain ketimbang mengembangkan kreatifitas di kotanya sendiri.
note : artikel ini merupakan catatan perjalananyang diikuti oleh kesah.id dalam kegiatan orientasi lapangan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dari tanggal 19 s/d 22 Desember 2021.








