KESAH.ID – Sebuah permintaan untuk membeli kopi di pinggir jalan ternyata berubah menjadi sebuah perenungan mendalam tentang upaya mendisrupsi pasar. Sebuah jenama global besar tengah agresif turun ke trotoar melalui konsep coffee-to-go murah berstandar kafe. Di balik kepuasan menikmati segelas es kopi yang ramah di kantong,mungkin sedang berlangsung sebuah strategi korporasi dalam mendemokratisasi rasa, sekaligus menyimpan tanya kritis: apakah ini awal dari monopoli baru yang perlahan akan menyingkirkan para pemain lokal dari jalanan?
Siang itu, matahari seperti berada tepat di atas kepala, hawa panasnya bukan hanya terasa membakar tetapi juga menyebar ke segala penjuru. Untung saja, green giant dan green deli, jambu air yang dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Mas Malik membawa kesegaran yang cukup untuk melawan hawa penat.
Minggu siang, saya dan beberapa kawan memilih me time dengan mengunjungi MLQ Farm, kebun jambu air yang dikembangkan dan dirawat oleh Mas Malik. Selain ingin menikmati jambu premium, beberapa kawan yang lain nyambi membuat konten dengan tema Green Jobs.
Sebelum bergeser dari MLQ Farm ke Sesukamu, Sekolah Sungai Karang Mumus, sebuah pesan masuk. Istri saya meminta tolong untuk membeli kopi, kopi Nescafe. Saya jawab iya.
Tapi kemudian saya baca kembali pesannya, dia meminta dibelikan Nescafe Latte. Sebuah permintaan yang tidak biasa, terlebih dalam pesan berikutnya “Beli di depan RM Bemo,”.
Sebuah permintaan yang sekilas terdengar banal. Masak beli kopi bubuk saja mesti di depan RM Bemo.
Saya mengirim pesan balik “Nescafe apa ini, botolan atau sachet?”
Alih-alih jawaban teks panjang lebar, istri saya justru mengirimkan sebuah foto. Di sana terlihat sebuah gerai mungil—lebih mirip booth portabel—berwarna merah menyala dengan logo putih yang sangat ikonik berdiri tegak di pinggir jalan.
Foto itu menjadi momen pertama saya menyadari bahwa merek kopi yang selama ini saya seduh sendiri di rumah kini telah bermetamorfosis menjadi jaringan Nescafe Outlet dengan konsep coffee to go yang kekinian.
Saya tercenung sejenak untuk menghapus anggapan kalau merek kopi yang ternama, terutama lewat kopi instan sachet yang hampir selalu tersedia di kamar hotel itu hanyalah produsen kopi bubuk dan kopi siap saji di botolan.
Saya membiarkan foto itu seketika mengubah persepsi saya; Nescafe bukan lagi sekadar kopi bubuk, melainkan sebuah layanan kopi siap minum yang tampaknya sedang mencoba merambah setiap sudut trotoar perkotaan.
Entah sudah ada berapa outlet kopi Nescafe di Kota Samarinda, saya yakin pasti bukan cuma satu saja di Jalan Gunung Arjuna, di halaman depan RM Bemo yang menurut informasi dari Google Maps dinyatakan tutup permanen.
BACA JUGA : Messi Marquez
Rasa penasaran akhirnya menuntun saya menuju titik lokasi yang dimaksud. Dari kejauhan, warna merah gerai tersebut memang sangat mencolok di tengah ramai jalanan dan riuh lalu lintas yang diwarnai terik mentari. Ketika mentari begitu terik jalanan cenderung semrawut, semua tergesa-gesa.
Sesampainya di depan meja kasir, saya tertegun melihat daftar menu yang terpampang. Ternyata, apa yang ditawarkan di sini jauh melampaui sekadar “kopi instan yang dicampur air”. Ada beragam variasi menu yang biasanya hanya saya temukan di kafe-kafe dengan vibe dan interior mahal.
Saya melihat menu bernama Neslo, yang merupakan perpaduan unik antara kopi Nescafe dan cokelat Milo. Campuran ini bukan sekadar kopi cokelat biasa, melainkan perpaduan yang menghasilkan tekstur creamy dengan sentuhan rasa malt yang menjerat.
Ada juga menu yang klasik, Iced Caffe Latte dengan dua tingkatan intensitas: reguler bagi pencinta keseimbangan kopi-susu, dan strong bagi mereka yang membutuhkan tendangan kafein lebih kuat. Dan masing-masing mempunyai pilihan gula: No Sugar, Less Sugar, dan Normal.
Menu ini yang rupanya dipesan oleh istri saya.
Di depan outlet ada tulisan Americano mulai Rp5.000. Namun di daftar menu tak ada tulisan Americano melainkan Nescafe Ice Roast. Ada 3 tawaran untuk menu ini yakni 1 shot, 2 shot, dan 3 shot. Harganya mulai Rp5.000 sampai Rp10.000.
Selain kopi ada juga menu non-kopi berupa teh aneka rasa.
Melihat daftar menu dan harganya, ini kejutan baru lagi. Di tengah gempuran minuman kekinian yang namanya susah dihafal, banderol harganya rata-rata di atas 30 ribu. Di kedai atau kafe kekinian, berbagai jenis minuman dijual bahkan sampai 40-50 ribuan, minumannya rasa uang.
Meski tak mengedepankan soal harga, namun outlet merah menyala itu sudah dengan sendirinya mem-branding diri dengan harga yang “nggak bikin kantong sengsara”.
Harga menunya dimulai dari lima ribu rupiah saja dan yang termahal sekitar tiga belas ribu rupiah.
Saya membeli 3 jenis minuman: Nescafe Latte, Nescafe Milo, dan Americano atau Nescafe Iced Roast. Dan kasir menyebut angka tiga puluh ribu.
Untuk segelas Iced Caffe Latte reguler, saya hanya perlu membayar delapan ribu rupiah, sementara versi strong dibanderol sepuluh ribu rupiah. Ketika menerima struk pembayaran, ternyata yang harus saya bayar hanya harga minuman, tidak ada biaya service, pajak, atau fee lainnya.
Di struk tertulis juga perkiraan berapa menit pesanan akan diselesaikan.
Sepanjang perjalanan dari Outlet Nescafe ke rumah ada banyak pertanyaan dan dugaan tentang minuman kekinian yang outletnya tidak ditawarkan sebagai franchise ini.
BACA JUGA : Messi Lagi
Sekali lagi, harga yang tertera di struk pembayaran memang mengejutkan. Biasanya harga menu di gerai kopi kekinian akan kemudian “membengkak” di struk karena tambahan pajak pembangunan atau biaya layanan.
Apakah ini tanda kejujuran, di mana semua akan ditanggung oleh yang punya usaha? Sebab memang sungguh jarang harga yang tertera di struk adalah harga bersih sesuai dengan yang tertulis di papan menu tanpa tambahan satu rupiah pun.
Tapi hal ini juga memicu pertanyaan filosofis sekaligus spekulatif dalam kepala saya. Apakah perusahaan sebesar ini sedang menerapkan strategi “bakar duit” demi menguasai pasar? Ataukah mereka memang tidak benar-benar mencari keuntungan finansial yang besar dari setiap gelasnya, melainkan ingin melakukan penetrasi merek secara masif ke lapisan masyarakat bawah?
Hanya berbekal selembar uang sepuluh ribu rupiah, siapa pun kini bisa menikmati petualangan rasa kopi berkualitas ala kafe di pinggir jalan.
Strategi harga yang sangat agresif ini menurut saya adalah sebuah pernyataan “perang” yang serius. Dengan kualitas rasa yang terjaga berkat standar mesin dan kemasan yang aman, saya merasa gerai-gerai minuman lain yang menjual produk serupa dengan harga lebih mahal akan berada dalam posisi yang sangat sulit.
Jika Nescafe terus mengekspansi titik-titik gerai mereka seperti ini, saya cukup yakin banyak outlet minuman kekinian lain yang tidak akan bertahan lama. Nescafe telah berhasil mendemokratisasi kopi berkualitas: menjadikannya murah, mudah dijangkau, namun tetap terasa mewah.
Namun jika suatu saat mereka menguasai jalanan, mereka bisa saja ‘seenaknya’ menaikkan harga dan pembeli tak punya pilihan.
Akankah tiba waktu itu? Entahlah, yang pasti pengalaman pertama saya ini memberikan sebuah simpulan nyata bahwa kesenangan memang bisa ditemukan dalam secangkir kopi tepi jalan yang sederhana namun dieksekusi dengan sempurna.
note : sumber gambar – nestle








