KESAH.ID – Musim kering di Kalimantan Timur bukan sekadar soal panas dan debu, tapi juga tentang bagaimana manusia berhadapan dengan alam yang berubah. Dari lagu Kemarau hingga praktik pertanian tradisional, kita melihat betapa hujan dan api selalu menjadi bagian dari cerita hidup masyarakat. Kini, ketika iklim semakin ekstrem dan kebakaran lahan merajalela, pengetahuan lama tentang mengelola api perlu direfleksikan ulang. Bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk ditransformasikan agar tetap relevan, aman, dan memberi harapan bagi masa depan pertanian serta kehidupan bersama.
PAS Band dengan sangat pas menggambarkan kerinduan akan hujan lewat lagu Kemarau. Fakta tentang musim kering langsung ditancapkan di baris pertama: “Tak ada lagi tetes embun membasahi.” Akibatnya, “Bungapun menangis, takkan mewarnai alam ini.” Karena hujan tak turun, “Cahya mentari mencium tanah tanpa henti.” Dan benar, di banyak daerah tanah yang terus-menerus disengat matahari bukan hanya kering, tapi juga retak-retak. Ketiadaan air membuat ikatan molekul tanah terlepas.
Tak ada hujan berarti “Mata air pergi, kering menanti, tanpa arti.” Pertanyaan sekaligus harapan pun muncul: “Kapan kemarau itu berlari pergi, kurindukan hujan datang kan hadir di sini.” Kemarau panjang, hujan yang tak kunjung turun, selalu membawa kita pada refleksi: “Akankah kau datang atau kau ‘kan pergi? Apakah alam murka kepada kita? Apakah alam marah kepada kita?”
Kemarau berkepanjangan dan hujan berlebihan sama-sama jadi ujian. Keduanya membawa masalah berbeda di tiap wilayah. Di Kalimantan Timur, misalnya, kelebihan air saat musim hujan bukan bencana bagi warga Mahakam Tengah. Justru banjir dianggap berkah karena ikan melimpah. Air yang datang menghubungkan rawa dengan danau dan sungai. Ikan dari rawa masuk ke badan air lain, membuat akses nelayan ke sudut-sudut yang sebelumnya sulit dijangkau jadi terbuka. Di musim banjir, nelayan bisa panen rejeki, penghasilan sehari bahkan jutaan.
Sebaliknya, kemarau panjang selalu jadi masalah pelik. Sebagian besar kebutuhan air di Kalimantan Timur bergantung pada air sungai. Sungai jadi sumber air baku untuk diolah jadi air bersih. Saat debit menurun, Sungai Mahakam rawan peningkatan kadar garam, sehingga tak layak lagi jadi sumber air. Sungai yang surut juga mengganggu transportasi air, baik untuk penumpang maupun logistik. Di Mahakam Hulu, jalur sungai yang tak bisa dipakai membuat harga kebutuhan pokok melonjak.
BACA JUGA : Kena Mental
Tentang musim kering dan api, dulu keduanya justru jadi pengubah arah peradaban di Kalimantan Timur. Air yang surut meninggalkan sedimentasi kaya nutrisi, melahirkan pertanian pasang surut di pemukiman sekitar badan air. Api melahirkan pertanian ulang-alik, atau tebas bakar, di lahan kering. Dua model ini adalah puncak pengetahuan lokal: masyarakat beralih dari sekadar mengambil hasil alam menjadi pembudidaya yang bisa menyediakan pangan sendiri.
Paduan kemarau dan api adalah penemuan revolusioner. Keduanya jadi fondasi dua teknologi pertanian tradisional: tebas bakar dan pasang surut.
- Tebas bakar memanfaatkan api untuk membersihkan lahan, menyuburkan tanah dengan abu, dan menyiapkan ruang tanam baru.
- Pasang surut memanfaatkan siklus alami air: saat kemarau, air surut meninggalkan sedimentasi yang subur.
Keduanya bisa disebut pertanian tanpa olah tanah berlebihan. Petani tidak membalik tanah dengan cangkul, hanya memakai tongkat kayu runcing untuk menugal dan menanam bibit.
Namun tahun ini, musim kering panjang menghadirkan ironi. Api yang dulu sahabat peradaban kini jadi bencana. Kekeringan membuat hutan dan lahan gambut mudah terbakar. Api yang dulu dikendalikan untuk menumbuhkan kehidupan kini lepas kendali, melahap ruang hidup manusia. Asap menutup langit, udara penuh racun, anak-anak sulit bernafas, petani kehilangan lahan, nelayan kehilangan ekosistem sungai.
Bencana kebakaran ini mengingatkan bahwa teknologi tradisional tak bisa dilepaskan dari konteks ekologi hari ini. Tebas bakar dan pasang surut adalah warisan pengetahuan lokal, tapi dalam iklim ekstrem, praktik itu bisa berubah jadi ancaman. Api adalah paradoks: cahaya peradaban sekaligus bara kehancuran. Di Kalimantan Timur, paradoks itu nyata. Musim kering menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan api harus direfleksikan ulang. Kita perlu belajar dari sejarah—bahwa api pernah jadi alat membangun kehidupan—namun kini harus dikelola dengan nalar ekologis agar tak lagi jadi bencana.
BACA JUGA : Berpikir Bernalar
Mentari pagi di ufuk timur Kalimantan Timur makin memerah, langit jarang menampakkan biru. Musim kering belum usai, asap kebakaran lahan dan hutan memenuhi udara di hampir semua kabupaten/kota. Dalam kondisi ini, praktik tebas bakar yang dulu jadi bagian dari pengetahuan tradisional dengan mudah dipandang berbahaya.
Muncul kebijakan pelarangan sebagai respons atas iklim ekstrem. Tapi pertanyaan penting tetap ada: apakah pengetahuan tradisional tentang mengelola api harus benar-benar ditinggalkan?
Dalam sejarah, api bukan sekadar alat perusak. Ia adalah teknologi membuka lahan, menyuburkan tanah, dan menyiapkan ruang tanam. Tebas bakar bukan sekadar membakar, melainkan sistem dengan pengetahuan lokal: memilih waktu, mengendalikan arah api, menjaga agar tak merembet ke hutan. Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun, bagian dari strategi bertahan hidup di ekosistem tropis.
Hari ini tantangannya berbeda. Iklim lebih kering, lahan gambut mudah terbakar, tekanan ekonomi makin berat. Tapi bukan berarti pengetahuan tradisional harus dihapus. Justru ia bisa jadi dasar model baru:
- Membakar hanya di musim hujan atau lahan aman.
- Membuat sekat bakar agar api tak meluas.
- Mengintegrasikan teknologi modern: pemantauan cuaca, kelembaban tanah, sistem peringatan dini.
- Melibatkan komunitas dalam pengawasan bersama.
Dengan cara ini, pengetahuan tradisional tentang api tidak hilang, melainkan bertransformasi. Ia tetap hidup, disesuaikan dengan tantangan iklim masa kini. Api kembali jadi sahabat pertanian, bukan musuh ekologi.
Note : sumber gambar – ANTARA








