KESAH.IDAgustus yang semula diprediksi akan diwarnai demonstrasi besar ternyata berakhir lebih cepat dari dugaan. Dari Pati, ribuan warga bergerak ke Jakarta membawa isu RUU Perampasan Aset Koruptor, namun drama yang sempat memanas akhirnya mereda sebelum senja. Ada kekecewaan, ada tuduhan, bahkan riuh di media sosial, tetapi keputusan untuk bubar justru menyelamatkan Jakarta dari potensi kerusuhan. Inilah cermin zaman: demonstrasi kini lebih ramai di layar gawai daripada di jalanan.

Sayup-sayup terdengar kabar akan ada demo besar-besaran di bulan Agustus, mengambil momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI. Namun geliat itu tak sungguh terlihat, agustusan terasa adem ayem saja.

Sentakan justru datang bukan dari Jakarta, melainkan dari Pati. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bersiap ngeluruk ke ibu kota. Urusannya bukan lagi sekadar mantan Bupati Pati yang dicokok KPK, melainkan advokasi lebih luas: mendesak pengesahan UU Perampasan Aset Koruptor.

Siapa pun yang merasa mendapat mandat menjaga stabilitas politik tentu khawatir. Ancaman demo besar di Jakarta yang digerakkan masyarakat daerah bisa menuai simpati luas. Maka langkah cepat diambil: melemahkan logistik. Rekening pendukung aksi dibekukan, agar massa terlantar di Jakarta.

Namun strategi itu justru berbalik. Ribuan massa dengan semangat membara tetap bergerak. Drama pembekuan rekening tokoh sentral malah memukul balik pihak yang ingin menghambat. Publik marah, Bank Mandiri dicaci. Alasan blokir dianggap mengada-ada. Tekanan publik akhirnya membuat rekening dibuka kembali, tapi reputasi bank sudah tergores. Kepercayaan masyarakat botak.

Kekhawatiran pun makin liar. Ada praduga soal pembatasan sinyal. Ada yang takut pemerintah bisa “di-Nepal-kan”, runtuh lewat gerakan media sosial.

Sejak rencana aksi muncul, terdengar kabar tentang massa tandingan. Mereka datang bukan untuk menolak korupsi, melainkan untuk menyatakan dukungan pada pemerintah. Jelas ada kontra intelijen untuk melemahkan AMPB. Namun publik kini lebih suka mendukung gerakan organik, yang lahir dari tapak, bukan hasil konsolidasi panjang.

Di depan DPR, massa mulai berkumpul. Suasana memanas. Kekhawatiran muncul: jika aksi bertahan hingga malam, rawan ditunggangi. Para “sutradara” menunggu gelap untuk menyusupkan aktor kerusuhan.

Namun tokoh sentral AMPB tidak tertarik berlama-lama. Tujuan mereka jelas: memastikan RUU Perampasan Aset disahkan. Ketika jaminan itu diperoleh, ia mengajak massa bubar. Pulang ke Pati.

BACA JUGA : Gandul Mandul

Dasco membaca situasi. Ia mengundang tokoh inti AMPB. Bersama pimpinan DPR lainnya—kecuali Puan Maharani—mereka memberi jaminan: jika sampai 15 Desember RUU tidak disahkan, mereka akan mundur. Jaminan itu membuat AMPB merasa tujuan tercapai. Bara mereda.

Keputusan bubar membuat sebagian massa kecewa. Ada yang merasa dikhianati. Kelompok perempuan di garda depan mengumbar kekecewaan ke media. Mereka menuduh pertemuan di gedung DPR sebagai penyebab aksi bubar. Kelompok ojol yang bersolidaritas tinggi juga kecewa. Kegaduhan pun bergeser ke media sosial. Tuduhan berseliweran, simpang siur informasi bertebaran.

Tanggal 27 Agustus, media sosial riuh dengan siaran langsung. Namun jumlah massa tidak cukup besar untuk mengguncang nasional. Ribuan, tapi bukan puluhan ribu.

Aparat mencoba mengamankan tokoh sentral aksi. Ia dimasukkan ke mobil, lalu dikeluarkan kembali setelah massa mengepung. Ada percikan, tetapi tak membesar. Skenario rusuh kehilangan momentum.

BACA JUGA : Ketika Warga Menjadi Suara Alam

Demo pun berakhir. Jakarta selamat dari kerusuhan. Publik yang semula khawatir melihat guncangan nasional tidak terjadi. Ada yang kecewa, ada yang lega. Ada yang menilai perjuangan layu sebelum berkembang, ada yang melihat keputusan bubar sebagai kedewasaan.

Pada akhirnya, drama demonstrasi ini lebih ramai di media sosial daripada di jalan. Tuduhan, kekecewaan, dan simpati berseliweran. Namun satu hal jelas: Mas Botok memilih jalan pulang, bukan jalan rusuh. Dengan itu, Indonesia terhindar dari malam panjang yang bisa berujung entah ke mana.

Demo Pati di Jakarta menjadi cermin zaman. Demonstrasi kini bukan hanya soal jumlah massa di jalan, tetapi juga soal narasi di media sosial. Keputusan seorang tokoh bisa meredam bara, meski harus menanggung kekecewaan. Drama politik bisa berakhir layu sebelum senja, bukan karena hilangnya semangat, melainkan karena pilihan untuk tetap fokus pada tujuan.

Mungkin sebagian kecewa, tetapi sejarah akan mencatat: demo ini berakhir tanpa rusuh, dan itu juga sebuah kemenangan.

note : sumber gambar – NOMOR SATU