KESAH.ID – Fajar selalu membawa cerita. Di balik pesona bulatan merah menyala yang muncul di ufuk timur, tersimpan tanda-tanda rapuhnya bumi. El Niño yang dulu dianggap sekadar siklus kini hadir bersama pemanasan global, menjadikannya ancaman nyata bagi kehidupan. Sungai yang menyusut, hutan yang terbakar, udara yang sesak oleh asap—semua adalah alarm yang tak bisa lagi diabaikan. Keindahan matahari merah hanyalah permukaan; di baliknya ada derita yang menunggu. Inilah saatnya kita berhenti sekadar mengagumi, dan mulai bergerak bersama, menjaga bumi agar tetap layak dihuni.
Saat fajar merekah, waktu terasa paling tepat untuk menangkap wajah mentari. Mereka yang rajin bangun pagi dan menatap ufuk timur akan menemukan pemandangan penuh pesona: bulatan merah menyala yang menggantung di langit.
Saya sendiri jarang bangun sepagi itu, tetapi pada hari-hari tertentu mobil jemputan sudah menunggu di depan rumah pukul enam. Karena rumah saya paling dekat dengan sopir, saya sering mendapat giliran pertama.
Begitu mobil beranjak, tepat menjelang turunan puncak Wiraguna menuju Juanda IV, semburat merah itu tampak menyala. Saya terpana, sampai tak sempat meraih handphone untuk mengabadikannya. Namun tak lama kemudian saya sadar, merah itu bukan sekadar pesona. Ada mimpi buruk di baliknya, karena mentari bulat berwarna merah itu pertanda atmosfer mulai dipenuhi kabut asap.
El Niño, nama yang terdengar manis dalam bahasa Spanyol, sejatinya adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Nelayan Peru menamainya karena ia sering muncul menjelang Natal, El Niño de Navidad.
Fenomena ini mengganggu pola angin dan curah hujan dunia. Di Indonesia, El Niño biasanya berarti musim kemarau lebih panjang, curah hujan berkurang, suhu lebih panas, kekeringan meluas, dan kebakaran hutan meningkat.
Indonesia juga punya kebalikannya: La Niña. Saat suhu muka laut mendingin, angin pasat menguat, dan curah hujan meningkat drastis. Musim hujan pun lebih panjang, banjir dan longsor lebih sering, suhu udara terasa lebih sejuk. Dua “saudara kembar” ini membuat negeri kita sering berada dalam pusaran cuaca ekstrem: kemarau yang kering dan penghujan yang banjir. Negeri yang digambarkan gemah ripah loh jinawi ternyata menyimpan siklus petaka berulang.
Dulu El Niño dan La Niña mungkin dianggap sekadar siklus alam. Kini siklus itu berubah menjadi ancaman nyata: bencana iklim. El Niño bukan hanya melahirkan kemarau panjang dan kekeringan, tetapi juga kebakaran—baik lahan, hutan, maupun infrastruktur. Bulan Agustus ini saja, kebakaran hutan dan lahan sudah terjadi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Lebih dari 200 ribu hektar terbakar, dengan kasus paling parah di Kalimantan Barat dan Papua Selatan. Langit biru tersapu asap, berubah kelabu. Mentari yang menembus kubah asap itu terperangkap, membuat bumi serasa sauna raksasa.
BACA JUGA : Ngopi Siang
Di media sosial, beredar gambar sungai yang menyusut drastis. Sungai Mahakam mulai berpantai, di hulu tengahnya muncul gusung batu yang disebut karangan. Danau-danau di Mahakam Tengah mengering, berubah jadi lapangan rumput hijau bak permadani. Masyarakat sementara bersuka, menjadikannya destinasi piknik dadakan.
Pokdarwis Desa Pela rajin memposting ajakan berfoto di padang rumput baru. Di tepian Mahakam, warga menikmati pantai dan karangan. Namun kesukaan itu tak akan lama. Rumput yang tumbuh bisa melukai kulit, danau yang menyusut akan segera menimbulkan krisis air bersih. Sungai yang terganggu alirannya membuat pasokan kebutuhan sulit masuk, harga barang pokok pun akan melonjak. Indah di foto, tetapi menyimpan derita di baliknya.
Fenomena ini bukan lagi siklus biasa. El Niño kini hadir dalam lingkup pemanasan global. Atmosfer yang jenuh energi membuat dampaknya semakin intens. Sungai mengering, waduk menyusut, akses air bersih terganggu. Pertanian gagal panen, harga pangan melonjak, ketahanan pangan terguncang.
Kabut asap menyesakkan paru-paru, suhu panas ekstrem mengancam tubuh. Ekosistem kehilangan daya tahan: hutan terbakar, biodiversitas terancam, lahan gambut rusak. Semua ini bukan sekadar angka, melainkan kenyataan yang kita rasakan setiap hari—air minum yang sulit, makanan yang mahal, udara yang berat dihirup. Matahari merah menyala adalah simbol nyata krisis ini. Indah dipandang, tetapi sesungguhnya alarm bahwa bumi sedang menuju titik kritis.
BACA JUGA : Mbah Dhi
Secara teknis, bahaya besar mengancam sepanjang Sungai Mahakam. Masyarakat di Mahakam Hulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, hingga Samarinda terancam kesulitan air bersih. Walau air Sungai Mahakam di Samarinda masih terlihat melimpah, intrusi air asin mulai meninggi.
Debit sungai melemah, kalah oleh pasang laut. Air sungai bercampur asin, tak layak lagi jadi sumber air baku. PDAM bisa menghentikan produksi karena tak punya teknologi desalinisasi. Kekhawatiran ini masih tersembunyi, karena masyarakat tampak tenang, sibuk menikmati hidup di tongkrongan kota. Pemerintah pun tampak lengah, mungkin karena terhimpit masalah anggaran. Namun ancaman itu nyata, dan semakin dekat.
Menghadapi El Niño di era pemanasan global bukan hanya soal bertahan, tetapi soal kesadaran bersama. Masyarakat perlu beradaptasi: hemat air, diversifikasi pertanian, memperkuat peringatan dini.
Di tingkat global, komitmen menekan emisi harus dijalankan, deforestasi dihentikan, ekosistem hutan, mangrove, dan gambut dipulihkan. Matahari merah, kabut asap, sungai kering adalah alarm bahwa krisis iklim nyata.
El Niño kali ini adalah cermin rapuhnya bumi, memperlihatkan bagaimana krisis iklim memperparah fenomena alam. Ia adalah peringatan bahwa kita tak bisa lagi memandangnya sebagai siklus biasa. Ancaman besar ini hanya bisa dihadapi dengan tindakan bersama—kesadaran kolektif yang lahir dari pengalaman sehari-hari dan diwujudkan dalam langkah nyata.
note : sumber berita – DETIK








