KESAH.ID – Kisah ini berangkat dari sebuah insiden di tengah kemarau panjang yang melanda Samarinda. Niat sederhana seorang warga lanjut usia untuk membersihkan halaman rumah dengan cara membakar serasah justru berubah menjadi ancaman besar. Api kecil yang dianggap sahabat menjelma monster, hampir melahap rumahnya. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa di musim panas, niat baik bisa berbalik jadi musibah, dan solidaritas warga menjadi benteng terakhir yang menyelamatkan.
Saya masih terus dibayangi ingatan yang mencekam akibat insiden yang terjadi pada hari Jumat, 21 Agustus 2026. Samarinda kala itu sedang digenggam kemarau panjang akibat El Niño. Udara panas menusuk kulit, angin kering berhembus dari bukit Pampang Muara, Sungai Siring. Langit biru memang tampak indah, tetapi tanah di bawahnya retak-retak, rumput menguning, dan udara membawa aroma debu.
Banyak orang menyebut situasi ini seperti neraka yang bocor ke bumi.
Ketika orang-orang berbondong ke masjid untuk sholat Jumat, ada satu sosok yang tetap sibuk di halaman belakang rumahnya. Namanya Mbah Dhi. Ia tinggal seorang diri, sebatang kara, di rumah sederhana yang berdiri di lereng bukit gersang. Tak ada sumur, tak ada aliran air, hanya tanah kering dan semak belukar.
Mbah Dhi punya kebiasaan: membersihkan halaman dengan cara mengumpulkan serasah, daun kering, dan sampah kecil lain, lalu membakarnya. Baginya, itu cara paling praktis agar halaman tetap rapi. Angin tak lagi menyebarkan sampah, ayam tak lagi mengacak-acak. Ia percaya, setelah api padam, halaman akan bersih, rumah terasa nyaman. Begitulah pola hidup sederhananya.
Hari itu pun sama. Ketika sebagian besar orang sedang menjalankan ibadah sholat Jumat, Mbah Dhi sibuk bersih-bersih sekitar rumahnya, melawan terik mentari. Setelah serasah dan kotoran lain terkumpul, dengan tenang ia menyalakan api kecil di tumpukan sampah. Seperti biasa, ia yakin api akan melahap kotoran dan sampah, lalu padam dengan sendirinya. Karena panas semakin menyengat, ia masuk ke rumah, berkeringat deras, tetap percaya semuanya akan baik-baik saja. Api kecil itu dianggapnya sahabat yang membantu menjaga kebersihan.
BACA JUGA : Kejutan Naratif
Namun, panas kemarau dan angin kering bukanlah sahabat. Angin dari bukit tiba-tiba membuat api kecil itu berubah jadi monster. Api mulai menjilat-jilat tak terkendali. Ketika Mbah Dhi keluar rumah beberapa saat kemudian, ia terperanjat: api sudah membumbung tinggi, hanya berjarak satu meter dari dinding rumah.
Mbah Dhi panik. Ia berlari, berusaha melawan api dengan tubuh renta. Tak ada air, tak ada ember. Ia mencoba memukul api dengan ranting, menendang tanah kering, bahkan menutup dengan kain basah seadanya. Tapi api terlalu cepat merambat, berpindah-pindah, seolah menari liar di tengah teriknya siang.
Ranting dan dedaunan kering yang terbakar terbang tertiup angin, lalu membakar permukaan lahan gersang. Mbah Dhi menyabet-nyabet api agar padam, tetapi ayunannya justru memercikkan bara. Percikan itu jatuh mengenai perutnya, meninggalkan luka. Nafasnya terengah, keringat bercampur debu, tubuhnya gemetar. Namun ia tetap bertahan, berusaha memadamkan api seorang diri. Bayangan rumahnya yang sederhana, satu-satunya tempat berteduh, akan berubah menjadi abu membuatnya tak menyerah.
Di tengah kepanikan itu, asap mulai membumbung tinggi. Beruntung, orang-orang yang baru selesai sholat Jumat melihat kepulan asap dari kejauhan. Mereka berlari, menghentikan langkah pulang. Salah satunya adalah suami saya, yang segera mengambil mobil berisi air. Dengan sigap, warga bergotong royong menyemprotkan air, menutup jalur api, dan akhirnya si jago merah berhasil ditaklukkan.
Mbah Dhi terduduk lemas, wajahnya penuh debu, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, jika bukan karena warga yang pulang sholat, rumahnya mungkin sudah jadi abu.
BACA JUGA : Ngopi Siang
Kejadian itu meninggalkan jejak mendalam. Saya yang menyaksikan langsung, tak bisa berhenti memikirkan betapa rapuhnya hidup di tengah kemarau. Niat sederhana membersihkan halaman bisa berubah jadi bencana. Api sekecil puntung rokok pun bisa menjelma musibah besar.
Ada pelajaran yang harus kita ambil:
- Membakar sampah di musim kemarau sangat berbahaya. Angin kering dan panas terik membuat api mudah merambat.
- Kesadaran kolektif warga sangat penting. Jika tidak ada warga yang pulang sholat Jumat, mungkin api sudah melahap rumah Mbah Dhi.
- Ketersediaan air dan kesiapan alat pemadam sederhana harus jadi perhatian. Di daerah gersang, tanpa sumber air, warga rentan menghadapi kebakaran.
Mbah Dhi mungkin hanya satu orang tua yang tinggal sebatang kara, tetapi kisahnya adalah cermin bagi kita semua. Ia melawan api seorang diri, dengan tubuh renta dan luka di perut. Namun, solidaritas warga menyelamatkannya.
Hari itu, saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar membersihkan halaman. Ada cara yang lebih aman: mengompos serasah, mengubur sampah organik, atau mengumpulkan untuk dibuang ke tempat yang tepat. Membakar sampah di musim kemarau adalah perjudian yang bisa berakhir tragis.
Kisah Mbah Dhi adalah kisah tentang keberanian, kepanikan, dan solidaritas. Tentang seorang manusia yang tinggal sebatang kara, melawan api seorang diri, di tengah bukit gersang tanpa air. Tentang luka di perut yang jadi saksi betapa rapuhnya hidup di musim kemarau.
Namun, lebih dari itu, kisah ini adalah peringatan. Bahwa api bukan sekadar cahaya kecil di tumpukan sampah, melainkan ancaman yang bisa mengubah rumah jadi abu dalam hitungan menit. Bahwa solidaritas warga adalah benteng terakhir melawan bencana.
Saya menuliskan ini dengan harapan: semoga kita semua lebih waspada. Jangan biarkan niat baik berubah jadi musibah. Jangan biarkan api kecil berubah jadi monster. Semoga Allah selalu menjaga kita dari bahaya yang datang tanpa diduga.
Waspadalah, waspadalah. Karena di musim panas seperti ini, api sekecil puntung rokok pun bisa jadi musibah besar.
note : sumber berita – HERLYANA








