KESAH.ID – Perjalanan ke Serang yang berawal dari rencana sederhana menikmati secangkir kopi, justru membuka kisah lebih besar tentang jurnalisme warga. Dari pencarian kedai kopi hingga pertemuan dengan komunitas Fesbuk Bantennews, pengalaman ini memperlihatkan bagaimana ruang sosial tumbuh dari hal-hal kecil, lalu berkembang menjadi gerakan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sejak dari Samarinda saya sudah merencanakan untuk menikmati secangkir kopi di malam pertama di Serang. Beberapa hari sebelum berangkat, saya berkirim pesan kepada seorang kawan di sana untuk mencari rekomendasi tempat yang layak disinggahi. Saya bertanya, “Adakah kopi yang khas di Serang?” Bukannya menjawab ada atau tidak, teman saya justru berkata, “Nanti saya bawakan.”
Waktu berlalu, namun tak ada tanda-tanda ia akan datang ke hotel tempat saya menginap. Rupanya ia sibuk dan kelelahan karena kegiatan yang sudah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelum saya tiba. Berbekal mesin pencarian Google, saya akhirnya menemukan sebuah tempat yang tampak cukup proper untuk menghabiskan malam pertama di Serang. Lokasinya tak jauh dari hotel, menunya memang tidak banyak pilihan kopi, tetapi cukup beragam makanan sehingga cocok untuk ngopi sekaligus makan malam. Meski begitu, saya merasa tempat itu bukan pilihan utama. Saya mencari lagi hingga menemukan Empat Coffee and Space. Dari foto-foto di Google Maps, rasanya tempat ini lebih cocok untuk menghabiskan malam pertama.
Kedai kopi dekat hotel kemudian saya coret dari daftar karena ternyata menunya sama dengan yang ada di kamar hotel. Rupanya kedai itu memang berada di lobi hotel. Hotel tempat saya menginap agak unik, lobi dan kamar berada di bangunan berbeda. Usut punya usut, hotel itu dulunya gedung Pusat Pelatihan milik sebuah universitas yang kemudian dikerjasamakan dengan jaringan hotel.
Dalam perjalanan menuju Empat Coffee and Space, sopir transportasi online menunjukkan beberapa tempat ngopi yang ramai. “Di sebelah situ juga ada, tak jauh dari hotel,” katanya. Saya menjawab, “Oke, yang itu besok saja.” Saya memang masih punya satu malam lagi di Serang.
Empat Coffee and Space ternyata besar sekali. Ada ruang outdoor yang bisa menampung ratusan orang. Kru-nya anak-anak muda, pengunjungnya pun mayoritas kaum muda. Saya merasa seperti orang tersesat di kumpulan yang salah. Tapi tak apa, toh di Samarinda saya juga sering datang ke kedai kopi dengan atmosfer serupa, meski berbeda generasi dengan pengunjungnya. Karena menu manual brew tidak tersedia, saya akhirnya memilih satu menu standar: Americano.

BACA JUGA : Makan Enak

Sebenarnya saya ingin berlama-lama di kedai kopi yang luas dan lega itu, tetapi suasana outdoor tidak bersahabat. Nyamuknya banyak sekali. Barangkali perubahan iklim membuat populasi nyamuk cepat beranak pinak sehingga serangan mereka terasa hebat di kedai yang estetik itu.
Sesampai di hotel, saya mendapat kabar bahwa acara esok hari jadwalnya agak longgar. Kegiatan pertama di Serang tidak dimulai pagi-pagi sekali, melainkan menjelang siang. Agenda pertama saya adalah mengunjungi Fesbuk Bantennews, salah satu komunitas pionir media baru di Serang yang kini berkembang menjadi gerakan sosial, memayungi kelompok relawan di bidang kesehatan dan kebencanaan.
Karena waktunya lega, saya berencana sarapan lama-lama di ruang makan hotel yang diiklankan di dinding lift sebagai tempat sarapan all you can eat dengan harga cukup murah. Namun rencana itu urung karena tak ada ruang khusus untuk perokok. Saya pun turun ke teras belakang hotel, merokok sambil menikmati sisa kopi semalam yang saya bawa pulang.
Menjelang jam sepuluh, beberapa kawan mulai berdatangan. Setelah berbincang sebentar, kami segera menuju posko Fesbuk Bantennews. Yang terekam di benak saya adalah ketika mobil memasuki Gang Glatik, sebuah gang kecil di tengah permukiman rapi. Di ujung jalan terlihat tanah lapang berisi beberapa mobil ambulans. Tak jauh dari situ ada dua bangunan: satu bertuliskan “Laboratorium Kemanusiaan” dan satu lagi “Rumah Singgah.” Kami berkumpul di bangunan bertuliskan Rumah Singgah, yang tampaknya sekaligus berfungsi sebagai sekretariat relawan.
Di teras depan, kami disambut oleh Lulu Jamaluddin, founder Fesbuk Bantennews. Ia berlatar belakang jurnalis, pernah bekerja di berbagai media, lalu kembali ke Serang dengan tekad berbuat sesuatu untuk kotanya. Ketika iklim kebebasan pers melahirkan banyak media baru, Lulu ditawari bekerja di beberapa tempat. Namun ia menolak karena hanya ingin menjadi pewarta, bukan sekaligus marketing. Akhirnya, bersama beberapa temannya, ia membuat fanpage untuk memberitakan hal-hal yang tidak diangkat media arus utama. Di Fesbuk Bantennews, ia mengembangkan jurnalisme warga, di mana masyarakat bebas mengirim berita selama berbasis fakta. Lulu tegas: jika ada opini pribadi bercampur dalam berita, maka tidak akan dimuat, bahkan bisa diturunkan atau kontributor dikeluarkan.

BACA JUGA : Jurnalis Warga 1

Singkat cerita, fanpage Fesbuk Bantennews yang beberapa kali diblokir Facebook itu menerima banyak informasi. Dari sana, para pengelola dan relawan berkembang menjadi gerakan sosial. Keluhan soal layanan kesehatan, terutama ambulans, ditindaklanjuti dengan menyediakan ambulans gratis. Kini Fesbuk Bantennews memiliki sekitar tujuh ambulans yang dioperasikan relawan. Informasi kebencanaan juga mendorong terbentuknya tim rescue yang bekerja lintas provinsi. Layanan ini terus berkembang hingga memiliki rumah singgah untuk pasien.
Kegiatan Fesbuk Bantennews bersifat inklusif, tidak membedakan siapa pun. Menurut Lulu, kini mereka memang lebih banyak melakukan kegiatan sosial, meski semangat pemberitaan tetap dijalankan relawan. Mendengarkan kisah Lulu yang runut, saya menyadari pentingnya jurnalisme warga. Belajar dari pengalaman Fesbuk Bantennews, jurnalisme warga adalah praktik jurnalistik yang bertujuan menghasilkan dampak nyata, terutama bagi masyarakat kecil, rentan, atau terabaikan.
Apa yang disampaikan jurnalis warga adalah fakta tanpa tedeng aling-aling, suara masyarakat yang bisa diintervensi oleh komunitas maupun pemerintah. Fesbuk Bantennews sudah membuktikan bahwa jurnalisme warga bisa berkembang menjadi gerakan sosial karena tuntutan warga yang disalurkan lewat informasi di fanpage.
Gerakan serupa sebenarnya ada di banyak tempat sejak 15 tahun lalu, dengan perkembangan dan dampak masing-masing. Ada media baru yang tumbuh besar dari fanpage Facebook, bahkan membuat pendirinya hidup berkecukupan dan berpengaruh secara politik. Hal itu bisa saja diraih Fesbuk Bantennews, tetapi menurut Lulu mereka sejak awal tidak pernah berniat melakukan monetisasi. “Kami tidak melakukan open donasi,” ujarnya, sambil mengkritisi platform donasi yang sering kali lebih banyak mengantongi dana daripada menyalurkan bantuan.
Soal ini, Lulu menekankan bahwa matematika kehidupan berbeda dengan matematika pelajaran. “Ini relawan saya tetap bertahan, walau hampir sepuluh tahun tak menerima gaji. Tapi dia tetap hidup,” katanya.
Dunia memang selalu membutuhkan kisah—kisah yang menginspirasi, yang mungkin saja bisa menjadi bagian dari solusi.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








