KESAH.IDRivalitas Italia–Spanyol di MotoGP berawal dari Rossi–Gibernau, berlanjut ke Rossi–Márquez, lalu bergeser ke dominasi Spanyol lewat Lorenzo, Pedrosa, Márquez, hingga Pedro Acosta; sementara Italia mencoba bangkit lewat Bagnaia dan Bezzecchi, musim 2026 menunjukkan persaingan lebih tajam antar-motor Italia seperti Ducati dan Aprilia, dengan Spanyol tetap kokoh melahirkan juara baru.

Persaingan Italia–Spanyol di MotoGP bukan sekadar adu cepat di lintasan, melainkan drama panjang yang berakar dari konflik personal. Semuanya bermula dari Valentino Rossi dan Sete Gibernau. Pada sebuah final, tim Rossi dituduh membersihkan grid start, memicu protes keras dari Gibernau. Rossi kemudian melontarkan kalimat legendaris: “Tak akan ada pembalap Spanyol yang menang di sini.”

Sejak itu tensi Italia–Spanyol terus terbawa. Rossi bersaing sengit dengan Jorge Lorenzo, sesama pembalap Yamaha. Namun puncak rivalitas hadir ketika Marc Márquez masuk MotoGP. Sebagai rookie, ia mengobrak-abrik lintasan, langsung merebut gelar juara dunia di tahun pertamanya. Rossi dan Márquez kemudian terlibat persaingan brutal. Rossi merasa Márquez menjegal peluangnya meraih gelar dunia ke-10. Konflik itu bahkan memengaruhi anak didik Rossi. Namun Márquez tetap mampu membalikkan keadaan, menjadikan rivalitas Italia–Spanyol semakin murni—ironisnya karena banyak pembalap Spanyol justru membalap dengan motor Italia.

Setelah era Rossi, Italia sempat tenggelam. Namun muncul generasi baru: Francesco Bagnaia, Marco Bezzecchi, dan Enea Bastianini. Bagnaia menjadi yang terbaik, berhasil mengangkat trofi dunia. Sementara Spanyol terus melahirkan bakat tanpa henti.

Marc Márquez meninggalkan Honda untuk bergabung dengan Gresini Racing, tim Italia yang memakai motor Ducati, bersama sang adik. Bau persaingan Italia–Spanyol masih terasa walau Marc sudah mengendarai motor Italia. Ia terus dihadap-hadapkan dengan murid-murid Akademi VR46.

Setahun membalap di Gresini, Marc akhirnya melompat ke tim utama Ducati bertandem dengan Pecco Bagnaia. Datang sebagai pembalap kedua, ternyata Marc justru moncer: kemenangan demi kemenangan bahkan rekor diraihnya. Namun publik Italia tetap enggan memberi hormat. Di atas podium, Marc disoraki hingga membuat manajemen Ducati marah besar.

Memasuki musim 2026 tensi mulai menurun. Marc terbukti mendedikasikan dirinya untuk Ducati dan itu diapresiasi. Sementara Pecco justru makin melorot. Walau begitu, media masih sering menyentil soal rivalitas Italia–Spanyol, meski semakin tak relevan karena tahun depan tim pabrikan Ducati akan diisi oleh dua pembalap Spanyol: sang legenda Marc Márquez dan talenta muda Pedro Acosta.

BACA JUGA : Lengo Potro

Era MotoGP modern ditandai dengan dominasi Spanyol. Nama-nama besar seperti Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo, dan Marc Márquez silih berganti menguasai podium. Di seri Misano 2026, dominasi ini makin terasa: enam pembalap terdepan secara berurutan berasal dari Spanyol.

Dominasi ini bukan kebetulan. Spanyol memiliki sistem pembinaan kuat, sirkuit tersebar, dan kultur balap yang mengakar. Italia memang masih melahirkan talenta, tetapi Spanyol seakan tak pernah kehabisan stok juara. Rivalitas pun semakin tajam: Italia berusaha bangkit lewat Bagnaia dan Bezzecchi, sementara Spanyol terus menancapkan hegemoninya.

Hegemoni ini bahkan membuat penyelenggara MotoGP gerah, hingga pernah muncul usulan membatasi jumlah pembalap Spanyol di kelas utama. Namun rencana itu dianggap tak adil, karena prestasi Spanyol lahir dari ekosistem balap yang mereka bangun.

Setelah Márquez, masa depan MotoGP juga berada di pundak Pedro Acosta. Ia tidak sendirian, dilapis oleh Fermin Aldeguer dan deretan pembalap muda Spanyol lain yang mendominasi Moto2 dan Moto3. Spanyol seperti tak pernah kekeringan bakat: tiap tahun muncul talenta baru yang siap bertarung di kelas utama.

Sementara Italia lebih lambat melahirkan bintang baru. Akademi VR46 sempat menyiratkan harapan lewat kerja sama dengan Ducati. Namun kedatangan Márquez ke Ducati membuat rencana jangka panjang itu berantakan. Ducati bahkan semakin berbau Spanyol.

BACA JUGA : Negeri Gerontokrasi 

Di musim balap 2026, rivalitas Italia–Spanyol mulai luruh. Yang menguat justru rivalitas antara sesama Italia, terutama antara Ducati dan Aprilia. Dari awal musim, Aprilia lewat Marco Bezzecchi dan Jorge Martin menunjukkan perlawanan kuat pada Ducati, saat Marc Márquez masih berusaha pulih dari cedera.

Beberapa seri pertama menunjukkan Bezzecchi berpotensi besar menjadi juara dunia. Marc tertatih-tatih, sementara Fabio Di Giannantonio justru tampil sebagai pembalap terbaik Ducati. Sampai tengah musim, Marc tertinggal lebih dari 100 poin dari pemimpin klasemen. Bezzecchi yang semula nyaman di puncak mulai dikejar tandemnya, Jorge Martin, bahkan kemudian dilewati.

Memasuki paruh kedua musim, Marc kembali ngebut. Dalam tiga balapan ia berhasil menyamai poin Martin. Balapan di Red Bull Ring Austria menjadi panggung menarik: Ducati vs Aprilia, dengan Pedro Acosta bertekad mempersembahkan kemenangan bagi KTM di kandangnya.

Di sprint race, Pedro start sempurna dan memimpin. Marc dan Martin terlibat duel sengit hingga Martin sempat tercecer. Pedro yang nyaman di depan melakukan kesalahan dan crash. Martin melesat dari belakang, melewati Bezzecchi dan Marc, lalu memenangkan sprint race. Kemenangan ini mengembalikannya ke puncak klasemen.

Marc yang bermasalah dengan ban belakang ingin balas dendam di balapan utama. Namun Pedro kembali start dengan baik, begitu juga Martin. Marc kesulitan sejak tikungan pertama. Martin memimpin bersama Bezzecchi, keduanya saling salip hingga Martin mengambil alih. Pedro dengan motivasi besar menyodok ke depan, melewati Bezzecchi lalu mengejar Martin, dan akhirnya memimpin dengan nyaman.

Balapan berjalan konstan: Pedro, Martin, dan Bezzecchi tak tersusul. Di belakang, Ai Ogura berusaha memangkas jarak, namun gagal naik podium. Marc sempat tercecer ke posisi 7, dilewati Fermin Aldeguer dan Brad Binder, namun berhasil finis ke-5.

Pedro Acosta menepati janjinya: menang di kandang KTM, Austria. Jorge Martin kembali menjauh dari Marc di klasemen sementara. Ducati kehilangan tajinya, sementara Aprilia dan KTM membuktikan motor mereka lebih cocok untuk Red Bull Ring.

note : sumber gambar – DETIK