KESAH.IDLewat lagu sentir lengo potro, almarhum Didi Kempot mengajak kita menelusuri jejak nostalgia dari lengo potro—minyak tanah yang dulu jadi sumber penerangan desa, hingga berubah menjadi cerita antrian panjang di SPBU masa kini. Dari remang warung wedangan yang ditemani nyala sentir, sampai bau jerigen di mobil angkutan, ada rangkaian masa lalu dan masa kini dengan benang merah yang sama: energi selalu menyisakan cerita tentang harapan, kerumunan, dan ironi kehidupan sehari-hari.

Almarhum Didi Kempot dikenal piawai membuat parikan, sebuah gaya sastra tradisional Jawa yang bentuk dan rimanya mirip pantun Melayu. Dalam lagu berjudul Sentir Lengo Potro, Didi Kempot tidak hanya memberi latar kehidupan sederhana di perdesaan yang belum ada listrik, tetapi juga memakainya untuk menyampaikan perhatian atau jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Sentir adalah sebutan untuk lampu sederhana berbahan bakar minyak tanah. Sentir bisa dibeli atau dibuat sendiri dari botol, diberi sumbu tanpa torong untuk menyelubungi nyalanya. Sedangkan lengo potro adalah sebutan umum orang Jawa untuk minyak tanah.  Berasal dari kata lengo yang berarti minyak, dan potro yang merupakan serapan atau pelafalan tidak sempurna, bahkan bisa jadi plesetan dari kata petroleum dalam bahasa Inggris. Ada pula sebutan lain untuk minyak tanah, seperti lengo gas, lengo mambu, dan lain-lain.

Sebelum mengenal lengo potro, masyarakat Jawa menggunakan minyak dari tumbuhan: lengo klenteng, lengo jarak, dan lengo klentik. Penggunaan minyak untuk energi, terutama penerangan, kemudian bertransisi setelah Royal Dutch Shell mulai mengeksploitasi minyak di Hindia Belanda. Minyak hasil ekstraksi industri ini lebih terang sehingga masyarakat beralih memakainya. Lengo potro kemudian populer sejak zaman kolonial Belanda hingga berakhir di masa pemerintahan Presiden SBY yang melakukan konversi minyak tanah menjadi gas LPG.

Dalam nuansa nostalgia, lagu Sentir Lengo Potro karya Didi Kempot kembali populer. Generasi 70-an dan 80-an yang mendengar lagu itu pasti masih bisa merasakan kedekatan emosional. Generasi ini tahu persis, dibanding masa sekarang yang catu daya energinya berasal dari listrik batubara, desa-desa di masa itu sungguh remang-remang, kecuali mereka yang mampu menyalakan lampu Stromking.

“Sentir lengo potro, Ngesir ora biso nggowo,” atau “Sentir lengo potro, Sing dipikir kok ora rumongso,” merupakan parikan yang menggambarkan dengan sangat baik suasana perdesaan dengan warung wedangan remang-remang. Warung wedangan yang diterangi cahaya sentir, dengan pelayan cantik yang membuat pengunjung lelaki jatuh hati. Namun rasa itu tak ditanggapi, sehingga nikmat gorengan dan wedangan yang mengepul hanya menguap dalam remang malam. Begitulah kisah asmara sederhana di perdesaan, dengan malam yang hanya diterangi kerlip nyala sentir lengo potro.

BACA JUGA : Prabowo Sosialis

Masa kecil saya hadir dalam konteks suasana ini, suasana perdesaan yang diterangi lengo potro. Ada ritual rutin yang biasa saya lakukan setiap sore: membersihkan torong sentir, lalu mengisi minyak tanah. Mbah Asengat menjadi orang paling terkenal di Wetan Kali Bogowonto karena menjadi agen besar lengo potro. Di halaman rumahnya ada banyak drum metal untuk menampung minyak yang datang dengan mobil tangki.

Saya senang bermain di rumah Mbah Asengat karena selalu ramai. Terlebih ketika beberapa hari minyak kosong, begitu tangki datang orang akan berdatangan untuk antri membeli minyak. Di masa itu, antri terasa menyenangkan karena sering kali menjadi jeda kehidupan. Dalam antrian, orang saling berinteraksi, bertanya, bertukar kabar, bertemu tanpa harus bertamu.

Tak perlu berdiri dalam barisan untuk mengantri, cukup jerigen yang dibariskan. Yang mengantri bisa menunggu di emperan atau di ruang rumah Mbah Asengat yang hampir selalu terbuka sepanjang hari. Mbah Asengat dan anak-anaknya yang melayani pembeli sudah hafal tampilan jerigen masing-masing pelanggan.

Pada masa libur sekolah, lengo potro bisa jadi oleh-oleh berharga. Setiap kali liburan ke rumah Mbah dan saudara lain di wilayah gunung, saya membawa jerigen 10 liter minyak tanah. Mungkin karena itu lengo potro sering juga disebut lengo mambu, sebab kalau dibawa dengan mobil angkutan penumpang, baunya memenuhi seluruh kabin. Yang tak tahan akan mual, mabuk. Bau kabin mobil jadi tak karuan, bercampur dengan aroma minyak angin atau minyak PPO yang dipakai penumpang untuk menahan mual.

Di gunung—begitu sebutan saya dan saudara sekandung untuk tempat tinggal Mbah, Pakde, dan Paklik—membeli lengo potro butuh perjuangan. Minyak hanya bisa dibeli di sekitar Pasar Pendem, berjarak kurang lebih dua kilometer dengan jalan tanah naik turun bukit, penuh tanjakan dan turunan curam. Maka datang dengan bawaan sepuluh liter lengo potro jadi hiburan tersendiri bagi kerabat. Paling tidak kebutuhan penerangan terpenuhi selama sebulan. Di rumah Mbah dan kerabat lain di gunung, minyak tanah tidak dipakai untuk memasak. Makanan dimasak di luweng atau tungku dengan bahan bakar kayu.

BACA JUGA : Tirta Petaka

Dulu, antrian terasa menyenangkan, meningkatkan tali silaturahmi dan persaudaraan. Kini, antrian jadi petaka, terutama di SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Truk dan mobil terbuka menjadi penghuni tetap jalan raya, deretannya bisa berkilo-kilo meter jauhnya. Persoalan antrian solar subsidi ini seperti lingkaran setan, benang kusut yang tak terurai.

Sudah muncul paguyuban, mereka berkali-kali melakukan demo, namun ujungnya hanya emosi, terjadi debat kusir antara sopir dan wakil pemerintah. Urusan subsidi memang bukan perkara gampang, terlebih ketika yang disubsidi adalah barang yang diperlukan bukan hanya oleh mereka yang berhak. Solar subsidi juga diminum industri.

Antrian panjang truk dan mobil bak terbuka yang memenuhi terminal seperti di Terminal Dalam Kota Tenggarong tidak semuanya calon pemakai solar. Sebagian ada dalam rantai bisnis jual beli yang memanfaatkan celah keuntungan dari subsidi. Kini antrian hampir memenuhi semua SPBU karena BBM bersubsidi lain, yakni pertalite, juga mulai langka. Di beberapa SPBU, antrian motor yang hendak mengisi pertalite, baik untuk dipakai atau dijual kembali dalam bentuk botolan, memanjang sampai keluar jalan.

Baik antrian solar maupun pertalite sudah membawa pengaruh psikologis bagi para pemakai jalan raya lainnya. Jalanan Kota Samarinda yang memang tak lebar terasa semakin menyempit. Makin sulit mencari pertalite terlihat dari kios BBM eceran yang kini sebagian hanya memajang botol berisi Pertamax. Pertalite eceran menghilang, bukan karena penjualnya tak punya stok. Bisa jadi di pagi hari pertalite botolan sudah diborong pengendara mobil LCGC.

Kini bukan lagi pemandangan asing ada mobil mampir di kios bensin eceran, bukan karena kehabisan bensin, melainkan mengincar pertalite botolan karena tak sanggup berada dalam antrian panjang di SPBU.

Yang bersubsidi memang selalu menghasilkan antrian menjengkelkan, karena celah keuntungan selalu ada bagi mereka yang lihai melihat peluang.

note : sumber gambar – JOGJAPOLITAN