KESAH.ID – Dalam dunia yang semakin riuh oleh suara, frasa Jawa “Sing mikir ora ngomong, sing ngomong ora mikir” terasa seperti peringatan yang tak lekang oleh waktu. Ia mengingatkan kita bahwa komunikasi publik bukan sekadar adu lantang, melainkan seni menyeimbangkan pikiran dan kata. Di era media sosial, ketika siapa pun bisa jadi pembicara, keterampilan berbicara dengan refleksi dan empati menjadi kebutuhan bersama agar ruang publik tidak sekadar ramai, tetapi juga bermakna.
Frasa Jawa “Sing mikir ora ngomong, sing ngomong ora mikir” terasa semakin relevan hari ini. Ia seakan menjadi cermin yang memantulkan wajah komunikasi publik kita. Di satu sisi, ada orang-orang yang berpikir panjang, menimbang kata, lalu memilih diam. Di sisi lain, ada yang cepat bersuara, lantang, tetapi sering kali tanpa proses berpikir yang matang.
Dalam ruang publik modern—baik forum resmi, media sosial, maupun percakapan sehari-hari—keseimbangan antara berpikir dan berbicara menjadi keterampilan yang kian penting. Komunikasi bukan sekadar menyampaikan kata-kata, melainkan seni menghubungkan pikiran dengan suara.
Orang yang hanya berpikir tanpa berbicara kehilangan kesempatan untuk memengaruhi. Sebaliknya, orang yang hanya berbicara tanpa berpikir berisiko menimbulkan kebingungan, bahkan kerusakan. Keterampilan komunikasi publik menuntut kita menjembatani keduanya: berani bersuara, tetapi dengan dasar refleksi.
Bayangkan sebuah forum diskusi. Mereka yang diam sebenarnya menyimpan ide berharga, tetapi tidak terlatih mengartikulasikannya. Sementara yang paling aktif berbicara mungkin justru menguasai panggung dengan argumen dangkal. Di sinilah keterampilan komunikasi publik berperan: melatih keberanian untuk mengeluarkan pikiran, sekaligus disiplin menimbang kata sebelum diucapkan.
Keterampilan ini mencakup:
- Momen jeda: kemampuan berhenti sejenak sebelum merespons, agar kata lahir dari pikiran, bukan sekadar reaksi.
- Kejernihan pesan: menyusun gagasan dengan struktur sederhana, sehingga mudah dipahami tanpa kehilangan makna.
- Empati komunikasi: menyadari bahwa berbicara bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana orang lain menerima pesan.
- Keberanian artikulasi: melatih diri agar ide tidak berhenti di kepala, melainkan mengalir menjadi suara yang bisa menggerakkan.
Kembali ke dunia kita saat ini, terutama di ruang maya, komunikasi publik dipenuhi keriuhan. Bahkan ucapan pemimpin tertinggi, presiden, kerap berakhir menjadi kehebohan belaka. Suara yang disampaikan sering kali tidak seimbang antara fakta dan pikiran, sehingga gagal menjadi jembatan pemahaman bersama.
Di ruang publik, informasi pun menjadi bias. Yang menarik perhatian bukan lagi substansi, melainkan siapa yang menyampaikan.
BACA JUGA : Berpikir Bernalar
Ada satu prinsip klasik yang sering dilupakan: know your audience. Prinsip ini menekankan bahwa berbicara bukan hanya soal isi kepala, tetapi juga soal memahami siapa yang mendengar, bagaimana mereka berpikir, dan apa yang mereka butuhkan. Namun kini, di era media sosial dan platform live streaming, prinsip itu semakin kabur.
Orang bicara sembarangan, tanpa tata krama, tanpa empati. Seorang profesor dengan keahlian puluhan tahun bisa dengan mudah disebut “bego” oleh anak SMA yang baru belajar bersuara. Publik yang pintar, penuh isi, sering kalah oleh mereka yang jago ngomong. Dan “jago ngomong” kini bukan lagi monopoli MC, presenter, atau host televisi. Siapa pun bisa jadi public speaker dadakan, cukup dengan akun media sosial dan kamera ponsel.
Fenomena ini melahirkan paradoks: kualitas isi kalah oleh kualitas performa. Kata-kata yang keras, cepat, dan penuh sensasi lebih mudah menarik perhatian dibanding gagasan yang tenang dan mendalam. Akibatnya, ruang publik dipenuhi suara lantang, tapi miskin empati. Orang lebih sibuk memenangkan panggung daripada membangun pemahaman.
Padahal, komunikasi publik sejatinya menuntut keseimbangan: antara isi dan cara, antara pikiran dan suara. Bicara tanpa pikir hanya melahirkan kebisingan. Pikir tanpa bicara hanya melahirkan kesunyian. Yang dibutuhkan adalah keberanian bersuara, sekaligus kebijaksanaan menimbang kata.
Di era ketika siapa pun bisa jadi pembicara, keterampilan komunikasi publik bukan lagi milik segelintir orang. Ia menjadi kebutuhan bersama: agar ruang publik tidak sekadar ramai, tetapi juga beradab, berempati, dan bermakna.
BACA JUGA : Rindu Hujan
Ironi ini mudah ditemukan hari ini: orang pintar dengan pengetahuan bertahun-tahun sering kalah oleh mereka yang jago bicara. Seorang profesor bisa dicemooh oleh anak SMA di media sosial, bukan karena ilmunya salah, melainkan karena cara menyampaikan yang kalah menarik. Publik cerdas sering tenggelam, sementara yang pandai beretorika justru menguasai panggung.
Fenomena ini lahir dari perubahan besar dalam komunikasi. Dulu, public speaking adalah keterampilan khusus milik MC, presenter, atau host televisi. Kini, siapa pun bisa jadi pembicara publik berkat media sosial dan platform live streaming. Mikrofon digital terbuka untuk semua, dan yang paling lantang sering dianggap paling benar.
Namun, kepintaran tidak harus kalah. Orang pintar bisa belajar dari “si jago ngomong” tanpa kehilangan substansi. Ada beberapa hal yang perlu diasah:
- Mengenal audiens: prinsip know your audience harus kembali dihidupkan. Bicara bukan hanya soal isi, tetapi juga tentang siapa yang mendengar.
- Menyusun pesan sederhana: gagasan kompleks perlu dikemas dalam bahasa yang jelas dan mudah dipahami.
- Storytelling: ilmu yang kering bisa hidup jika disampaikan lewat cerita relevan.
- Keberanian tampil: pengetahuan tidak akan berarti jika hanya tersimpan di kepala. Ia harus berani keluar, meski berisiko dikritik.
- Empati komunikasi: bicara dengan kesadaran bahwa kata-kata bisa melukai atau menguatkan, bisa menjauhkan atau mendekatkan.
Kepintaran adalah isi, keterampilan berbicara adalah wadah. Isi tanpa wadah tercecer, wadah tanpa isi kosong. Agar tidak kalah, si pintar harus belajar mengisi wadah itu dengan cara yang menarik, beradab, dan penuh empati.
Pada akhirnya, komunikasi publik bukan sekadar adu suara, melainkan seni menyeimbangkan pikiran dan kata. Dengan melatih keterampilan berbicara, orang pintar bisa memastikan bahwa kecerdasannya tidak hanya terdengar di ruang kelas, tetapi juga bergema di ruang publik.
note : sumber gambar- IDNTIMES








