KESAH.ID – Sejarah Nusantara selalu dipenuhi pertemuan gagasan besar. India memberi warna lewat seni, bahasa, dan agama; Barat membawa ilmu pengetahuan dan teknologi; Asia Timur jadi simbol kemajuan modern. Namun, tokoh seperti Sukarno, Nehru, dan Tan Malaka menunjukkan arah berbeda: politik, semangat ilmiah, dan nalar kritis.
Menelisik perjalanan sejarah peradaban Nusantara tidak bisa dilepaskan dari pengaruh India. Jejak India merasuk ke dalam seni, bahasa, hingga sistem kepercayaan. Peninggalan budaya bercorak India kini bahkan menjadi ikon kebudayaan Indonesia.
Dalam sistem kepercayaan, India bukan hanya membawa Hindu dan Buddha, tetapi juga Islam. Teori Gujarat menyebut bahwa para penyebar Islam di Nusantara datang dari wilayah Gujarat.
Namun sejak abad ke-19, kiblat peradaban Nusantara bergeser ke Barat: Eropa dan Amerika Serikat dipandang sebagai pusat pengetahuan, teknologi, dan industri. Jika pun menoleh ke Timur, yang disebut bukan India, melainkan Jepang, Korea, Taiwan, dan China—simbol kemajuan teknologi masa kini.
Padahal menjelang dan awal kemerdekaan, hubungan politik India–Indonesia sangat erat. Sukarno dan Jawaharlal Nehru bersahabat layaknya kakak-adik. Mereka menggagas inisiatif besar yang menunjukkan Asia dan Afrika bukan sekadar “antek Barat.” Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Nonblok lahir dari gagasan dua tokoh besar ini.
Meski sama-sama berpengaruh, jejak Sukarno dan Nehru berbeda. Keduanya berlatar pendidikan teknik dan sama-sama mendalami politik, tetapi Sukarno lebih politis. Jargon dan pidatonya yang berapi-api masih dikutip hingga kini. Nehru justru meninggalkan jejak pemikiran dalam peta pengetahuan dan teknologi India. Seperti halnya Tan Malaka di Indonesia, Nehru ingin bangsanya keluar dari kungkungan tahayul.
Nehru menekankan pentingnya scientific temper atau perangai ilmiah: sikap yang menolak tahayul dan menempatkan nalar sebagai dasar pembangunan. India bahkan menjadi satu-satunya negara yang mencantumkan perangai ilmiah dalam konstitusinya.
Perangai ilmiah bukan hanya urusan peneliti di laboratorium atau profesor di kampus, melainkan kewajiban setiap warga negara: mengembangkan humanisme, berpikir logis, dan memiliki spirit of inquiry—semangat menyelidiki sebelum percaya sesuatu.
Di sinilah perbedaan Sukarno dan Nehru. Sukarno lebih fokus pada politik dan simbol kebangsaan untuk menggerakkan rakyat, sementara Nehru menekankan nalar ilmiah sebagai fondasi kemajuan.
BACA JUGA : Susur Tahura
Di Indonesia, pemikiran serupa Nehru justru muncul dari Tan Malaka. Dalam mahakarya Madilog, ia menekankan pentingnya sains, logika, dan rasionalitas untuk membuang mentalitas budak atau fatalisme mistis.
Namun nasib Tan Malaka berbeda. Ia bergerak dalam faksi kecil, lewat gerakan bawah tanah dengan semangat revolusioner, hingga menjadi buronan politik. Menggunakan kerangka materialisme historis dan dialektika Marx, Tan Malaka menentang “logika mistika”—cara pandang yang percaya pada kekuatan gaib atau dogmatisme untuk menjelaskan hukum alam.
Pemikiran Tan Malaka dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru yang anti-komunis. Madilog dilarang, karena penguasa khawatir cara pandang kritis ini merongrong otoritas tradisi dan dogmatisme politik. Akibatnya, perangai ilmiah tak tumbuh di Indonesia.
Orang Indonesia lebih akrab dengan kata “mikir” daripada “bernalar.” Padahal, dalam konteks peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan, berpikir saja tidak cukup.
Apa bedanya berpikir dan bernalar?
Menurut Profesor Iwan Pranoto, berpikir adalah proses mental umum, sedangkan bernalar adalah berpikir dengan struktur, tujuan, dan kaidah logika yang ketat.
- Berpikir: bisa spontan, emosional, atau intuitif. Misalnya, “jalan ini macet, saya harus cari jalur lain.”
- Bernalar: membutuhkan argumen, bukti, dan konsistensi. Misalnya, “jalan ini macet karena volume kendaraan meningkat, maka solusi jangka panjang adalah transportasi publik.”
Dalam neurosains, berpikir dan bernalar melibatkan dua bagian otak berbeda: otak emosional dan otak rasional. Secara naluriah, manusia lebih suka berpikir emosional karena hemat energi. Sementara bernalar butuh latihan, data, dan struktur logika.
Tan Malaka berjuang agar bangsa Indonesia mengedepankan nalar, bukan tahayul. Ia melihat berpikir tanpa nalar hanya melahirkan ilusi, sementara bernalar melahirkan strategi nyata.
BACA JUGA : Kena Mental
Beberapa tahun terakhir, muncul teknologi Big Data. Data yang kompleks dianalisis dengan bantuan kecerdasan buatan, menghasilkan informasi lebih akurat. Pemerintah mulai menerapkan pengambilan keputusan berbasis data. Kebijakan diharapkan lahir dari penelaahan fakta, bukan sekadar “feeling.”
Pertanyaannya: apakah kebijakan Indonesia lebih banyak didasari berpikir atau bernalar?
Contoh berpikir tanpa bernalar: kebijakan berbasis simbol politik, seperti proyek mercusuar yang lebih menonjolkan citra daripada manfaat nyata.
Contoh bernalar: kebijakan berbasis riset, seperti program vaksinasi COVID-19 yang mengandalkan bukti ilmiah dan rekomendasi WHO.
Sayangnya, banyak kebijakan di Indonesia masih cenderung “berpikir” ketimbang “bernalar.” Politik sering mendominasi, sementara nalar ilmiah kurang dijadikan dasar.
Jika dibandingkan dengan India, perbedaan jelas. Nehru menekankan scientific temper sebagai fondasi pembangunan, sementara Indonesia lebih menekankan politik simbolik. Padahal, untuk menghadapi tantangan modern—teknologi, krisis iklim, disrupsi digital—Indonesia butuh kebijakan berbasis nalar.
Orang muda, calon pemimpin masa depan, harus sadar: berpikir saja tidak cukup, kita harus bernalar. Sejarah menunjukkan bangsa yang maju adalah bangsa yang berani meninggalkan tahayul dan menjadikan nalar sebagai dasar kebijakan publik.
Indonesia punya modal besar: tradisi kritis dari Tan Malaka, pengalaman politik dari Sukarno, dan inspirasi ilmiah dari Nehru. Tantangannya adalah bagaimana generasi muda menjadikan nalar sebagai kebiasaan, bukan sekadar wacana.
Kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita berpikir, tetapi seberapa konsisten kita bernalar dalam membuat keputusan.
note : sumber gambar – MASOEMUNIVERSITY








