KESAH.IDPerdebatan antara perintis dan pewaris bisa berakhir panas, karena apa yang disebut sebagai  perintis dan pewaris punya banyak ukuran. Demikian juga dengan titik berangkat, dimana masing-masing tidak sama. Maka mengklaim diri sebagai perintis namun sesungguhnya merupakan penerima waris lewat privilege tertentu, bisa-bisa malah kontra produktif, dihujat netizen sekebon. Dan netizen jelas tak pedulian, bahkan seorang anak yang usianya masih 10-an tahun dihajar habis-habisan.

Dalam bahasa Inggris, istilah “run amok” atau “amok” merujuk pada perilaku seseorang yang bertindak secara brutal, tak terkendali, atau penuh kemarahan. Lebih ekstrim lagi malah diartikan sebagai marah-marah tanpa alasan.

Konon kata ini berasal dari Jawa, amuk.

Sangat mungkin kata ini diadaptasi melalui interaksi. Kaum kolonial yang waktu itu bercokol di Nusantara dan sekitarnya bertemu dengan fenomena perilaku seseorang yang tiba-tiba marah-marah membabi-buta. Kaum kolonial Inggris kemudian menamai fenomena itu run amok.

Fenomena orang Indonesia gampang ngamuk memang kerap jadi obrolan, bahkan olokan. Banyak video yang viral menunjukkan hal itu. Seperti seseorang yang dicegat polisi, nggak pakai helm dan melawan arus, malah balik marah pada polisi. Motornya dirobohkan, diinjak-ijak, dihancurkan sendiri.

Atau tukang parkir, yang ngomel kanan kiri, bahkan tak jarang ada yang merusak kendaraan yang diparkir, atau malah memukuli hingga menusuk yang punya kendaraan gara-gara uang parkir dianggap kurang.

Ketika salah lalu ngamuk duluan memang kerap jadi modus di Indonesia, saat seseorang berhadapan dengan masalah. Mungkin memang terselip kebiasaan untuk lari dari masalah, atau menyelesaikan masalah dengan membuat masalah.

Hanya saja sebutan orang Indonesia ngamukan itu terasa berlebihan. Memang banyak orang yang seperti itu tapi tak seluruhnya sehingga tak bisa digeneralisasi.

Tapi kalau orang Indonesia jadi mudah marah, memang bisa dipahami. Di negeri ini banyak persoalan bertumpuk-tumpuk sehingga masyarakatnya cenderung mudah stres dan sulit mengontrol emosi.

Padahal secara kultural masyarakat Indonesia diajarkan untuk tidak langsung mengekpresikan ketidaksukaan, ketidaksenangan dan lain-lain. Diajar untuk sopan santun, tepo seliro. Hanya saja karena ajaran ini, orang kemudian sering memendam rasa tidak senang, tak puas dan lainnya hingga suatu saat karena dipicu persoalan kecil, ketidaksenangan yang bertumpuk-tumpuk itu meledak, tak terkendali.

Ajaran tradisional Jawa juga mengajarkan nrimo, menerima keadaan dengan sukarela. Ajaran ini secara spiritual tentu baik, terutama karena nyakin bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur. Hanya saja menekan diri seperti itu membuat orang tak mudah mengekpresikan perasaan atau emosinya. Dan sekali lagi perasaan atau emosi yang ditahan-tahan, akan meledak pada waktunya.

Yang kemudian menyuburkan perilaku ‘ngamuk tanpa alasan’ maksudnya alasan kuat dan rasional adalah media. Untuk urusan pemberitaan, media masih memegang prinsip bad news is good news.

Media doyan sekali menayangkan atau memberitakan kekerasan, marah-marah yang konyol atau amuk masa yang tolol. Kekerasan kemudian dianggap normal, terutama dalam berita selanjut jarang sekali pelakunya dikenai sanksi hukum.

Lebih aneh lagi, ketika suami-suami brutal lalu ditangkap polisi, istrinya tantrum berteriak-teriak mereka tak salah.

Lepas dari apapun, sebenarnya memang perlu disadari ada masalah besar di negeri ini yakni kemampuan mengelola emosi secara sehat. Kata anak-anak Gen Z, bangsa ini punya masalah mental health.

BACA JUGA : One Piece

Belum lama ini, seorang konten kreator bocil diamuk netizen sekebon.

Adalah Ryu Kintaro, yang usianya baru 10 tahun tapi mulai bikin konten-konten motivasi. Dari videonya terlihat jelas Ryu anak cerdas, bicaranya teratur, bernas lah.

Namun saking bernasnya, ketika mengulas soal perintis dan pewaris, netizen murka.

Tak tahu seberapa panjang video aslinya. Namun yan gjelas para clipper beraksi. Videonya dipotong-potong, dijadikan meme dan di-react sejadi-jadinya. Bocah kecil itu di-bully netizen dari Sabang sampai Merauke.

Debat soal perintis dan pewaris mewarnai jagat netizen gara-gara bocah kecil yang pandai story telling dan public speaking.

Padahal yang disebut pewaris atau perintis itu spektrumnya luas. Sama seperti perdebatan antara sukses dan tidak sukses yang sering berakhir dengan saling cela. Pewaris, perintis, sukses dan tidak sukses standarnya memang beda-beda.

Petani misalnya sulit disebut pewaris, apa yang mau diwariskan olehnya, kecuali cerita tentang pertanian yang tak sanggup memperbaiki kesejahteraannya, cerita hutang karena tanaman gagal panen, diserang hama atau bencana.

Di Kalimantan Timur, perintis lain lagi ceritanya. Seorang perintis adalah mereka yang bekerja membuka lahan, menebang hutan atau membersihkan belukar untuk dijadikan kebun sawit. Perintis bekerja borongan atau harian, dan jelas sukses bukan milik perintis karena dia hanya orang upahan yang kerjanya tak cukup lama.

Perintis bisa beruntung kalau membuka lahan sendiri dan setelah ditanami atau bersih lalu datang ganti rugi entah dari perkebunan atau tambang, dapatnya bisa lumayan. Bahkan ada yang sampai tidak bisa menikmati uangnya karena yang didapat sungguh banyak hingga kaget dan kena stroke.

Netizen terusik dengan video Ryu Kintaro karena jelas sekali bocah yang menganjurkan untuk menjadi perintis ini sesungguhnya pewaris. Dia sedari kecil tajir melintir, punya lingkungan sosial dan modal lain yang bisa membuatnya sukses selama dia waras.

Soal anjuran kerja keras, mau menderita, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, untuk masyarakat Indonesia memang sensitif. Sesensitif mengibarkan bendera one piece di mata para pejuang yang merasa mengorbankan air mata, keringat dan darah untuk mengibarkan merah putih.

Dengan mudah netizen memutuskan bahwa Ryu tak layak bicara itu. Selain soal umur juga soal latar belakang. Bagaimana mungkin seorang yang tak perlu kerja keras kemudian menganjurkan kerja keras. Ryu Kintaro adalah anak dari Christoper Sebastian, CEO Makko Grup. Silahkan cek gurita bisnis dari Makko Grup ini.

Bisa jadi yang diucapkan oleh Ryu benar adanya, dan hal yang biasa saja. Apa yang sering diucapkan oleh para motivator sesungguhnya narasi-narasi lama, hanya saja terkadang tak direfleksikan oleh kebanyakan orang sehingga ketika diamplifikasi oleh motivator terasa wow, mampu mengerakkan.

Bangsa kita ini memang suka sekali nyeletuk “Inspiring banget”. Tapi setelah itu zonk, kembali ke kelakuan semula.

Ryu kabarnya berkolaborasi dengan ayahnya membuat bisnis minuman tradisional Tjap Nyonya Kaya. Ini yang dipakai sebagai contoh bahwa dia bukan pewaris melainkan perintis.

Disitulah netizen murka.

BACA JUGA : Pemajuan Kebudayaan

Secerdas apapun, Ryu tetaplah bocah yang masih kecil. Orang bilang belum banyak makan asam dan garam, kisah keberhasilan tak sedramatis ayahnya yang tumbuh dari keluarga broken home. Dan berpindah-pindah profesi hingga akhirnya sukses membangun kerajaan bisnis sendiri.

Ryu lahir dalam keluarga yang sudah kaya, bukan saat ayahnya jatuh bangun.

Lingkaran bisnis ayahnya sudah besar, otomatis jejaring bisnis Ryu juga luas walaupun dia masih bocah.

Jangan dulu bicara sukses, bisnisnya gagal saja tak jadi masalah.

Tapi sekali lagi, maklumi saja ucapan seseorang yang masih berumur 10 tahun kalau tak sensitif pada perbedaan antara kaya dan miskin.

Bayangkan jika Ryu adalah anak buruh tani dan kemudian punya proposal bisnis yang dibiayai dengan menggadaikan sepetak sawah bapaknya lalu gagal, sekeluarga bisa mati. Sementara Ryu biar berkali-kali membuka bisnis lalu gagal, kekayaan orang tuanya mungkin hanya berkurang secuil dan tak lama pulih lagi. Sakitnya hanya seperti gigitan nyamuk, sementara untuk anak petani, seperti diseruduk gerombolan bison di padang rumput.

Ryu mungkin seperti Kaesang Pangarep. Senyam-senyum sana sini dan start upnya banyak. Investor dan pemodal berdatangan. Dan hanya dengan ha ha hi hi, jabatan ketua partaipun didapat.

Pun ketika start upnya rontok satu persatu, Kaesang tetap senyam-senyum saja bahkan bisa pergi ke luar negeri naik pesawat pribadi yang kabarnya dipinjami oleh teman. Lihat, sekuat apa jaring pengamannya, kegagalannya tak dihitung sebagai buntung.

Sebenarnya tak pantas juga kita jengkel pada Ryu yang kurang sensitif itu, terlalu menyederhanakan persoalan hidup dan merasa menjadi perintis.

Tapi kejengkelan netizen juga bisa dipahami akibat Ryu membuat perbandingan yang sebenarnya tak sebanding.

Tapi ya suka-suka Ryu Kintaro saja dia mau buat apa dan tak perlu gentar jika diserang netizen apalagi sampai meratap-ratap minta maaf.

Toh serangan itu membawa untung juga buat dia, namanya semakin berkibar.

Dan itu artinya video-video yang dia buat malah makin tinggi ekposurenya.

Toh orang Indonesia walau gampang ngamuk,gampang pula menyesal. Apalagi kalau Ryu memanfaatkan momen ini untuk merubah strategi, bagi-bagi sedikit kekayaan orang tuanya atau mungkin kekayaannya sendiri lewat gift away.

Dijamin yang memaki-maki balik akan memuji-muji.

Moral ceritanya, kalau memang kaya ya nda apa-apa tunjukkan kalau kaya. Apalagi dengan menunjukkan kekayaan bisa mendatangkan untung. Banyak viewer lalu masuk endorsan, syukur-syukur gelontoran iklan.

Tunggangi saja gelombang. Selama bisa mengantar ke puncak, nggak ada yang salah, fly to the moon.

Tapi untuk masyarakat rata-rata, kaum muda yang hidup berkubang dalam perjuangan lepas dari kemiskinan, tetaplah bermimpi untuk bisa menjadi hero from zero. Tapi ingat yang kemudian bisa menjadi perintis itu sedikit, bukan karena apa-apa, tapi memang begitu hukum alamnya.

Bukti saintifik menunjukkan 99 persen lebih manusia itu masuk dalam golongan rata-rata, normal-normal saja. Maka yang disebut perintis atau pewaris itu jumlahnya sedikit.

Ini mirip dengan banyak anak-anak Indonesia yang punya cita-cita jadi presiden, padahal presiden hanya dipilih 5 tahun sekali. Maka perbandingan antara anak-anak yang bercita-cita jadi presiden dan kemudian bisa menjadi presiden itu jaraknya sejauh hulu dan hilir Sungai Mahakam, 900-an kilometer.

Jadi ngapain terlalu serius menanggapi ucapan perintis dan pewaris yang begitu terucap keluar dari mulut Ryu Kintaro itu.

note : sumber gambar – DETIK