KESAH.IDAmerika Serikat mungkin punya segalanya, tapi sejarah mencatat mereka sering kali kalah dalam politik meski menang dalam senjata. Dari trauma Vietnam yang melahirkan mitos Rambo, hingga gertakan Donald Trump ke Iran yang kini bikin pusing dunia. “Gila Urusan” ala Amerika ini kini mulai mengancam dompet dan fiskal kita di Indonesia

Ego Amerika Serikat pernah terluka. Meski memiliki hampir segalanya, memimpin dalam berbagai bidang, dan menjadi polisi dunia, faktanya Amerika Serikat kerap menjadi pecundang. Hollywood kemudian digunakan sebagai penyembuh luka tersebut. Munculnya karakter Rambo dalam film First Blood yang diperankan oleh Sylvester Stallone bukan semata produk kreatif untuk hiburan. Film ini merupakan proyek budaya dan psikologis untuk memproses “luka batin” pasca-Perang Vietnam.

Perang Vietnam memang menjadi salah satu trauma terbesar Amerika Serikat. Di Vietnam, mereka dianggap kalah; bukan kalah di medan pertempuran, melainkan kekalahan politik. Lewat Rambo, Amerika Serikat menulis ulang narasi tentang prajurit yang gagah berani—sosok pahlawan di medan perang yang kemudian dikalahkan oleh sistem. Film ini sejatinya mengkritik Amerika Serikat sendiri, di mana para prajurit dikirim ke “neraka”, tetapi saat pulang dibiarkan tanpa penghargaan yang setara. Banyak tentara Amerika Serikat sepulang dari Vietnam terlantar dan menderita karena terpapar Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Dari Vietnam, Rambo terus dipertahankan sebagai alat propaganda Perang Dingin. Rambo menjadi sosok patriotis yang kembali ke Vietnam untuk menyelamatkan tawanan perang, lalu menyeberang ke Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Secara khas, Rambo memisahkan antara tentara dan pemerintah. Tentara Amerika Serikat digambarkan kuat, tetapi mereka kerap “ditusuk dari belakang” oleh politisi. Keputusan menang atau kalah ada di tangan pemerintah, bukan berdasarkan aksi di lapangan. Perang memang tidak selalu sesuai dengan apa yang digambarkan oleh para politisi.

Di sinilah Amerika Serikat sering “kalah”, karena para politisi tak tahan menghadapi tekanan akibat perang yang berkepanjangan. Umumnya, dalam berbagai invasi, serangan pasukan udara, darat, dan laut Amerika Serikat dengan cepat bisa menghancurkan objek-objek vital, namun kemudian gagal menghadapi serangan gerilya—perlawanan kelompok-kelompok kecil bersenjata yang paham kondisi geografis negerinya. Tentara kelelahan berperang, sementara pemerintah di Amerika Serikat belum memiliki jalan keluar untuk mengakhiri perang melalui pergantian kekuasaan.

Vietnam tetap komunis. Di Afghanistan, meski berhasil mengusir Uni Soviet, pemerintahan yang muncul tidak sesuai dengan keinginan Amerika Serikat; begitu pula di Irak dan Libya. Salah satu keberhasilan yang dicatat Amerika Serikat hanyalah di Korea. Perjanjian gencatan senjata membuat Korea Selatan tidak jatuh ke tangan komunis. Dalam sejarah militer, perang darat yang dilakukan pasukan Amerika Serikat menjadi perdebatan yang menarik. Kegagalan tersebut sejatinya bukan masalah teknis militer. Dengan semua keunggulan teknologi dan logistik, kemenangan taktis tentara Amerika Serikat tidak berujung pada kemenangan politik jangka panjang. Akibatnya, ketika pemerintah Amerika Serikat menarik mundur pasukannya, negeri yang diinvasi biasanya sudah porak-poranda.

BACA JUGA : Peluh Di Atas Tanah Luka – Menanam Kedaulatan Di Lubuk Sawah

Mungkin karena sudah merasa kaya dan makmur, Amerika Serikat memiliki waktu luang lebih banyak dibandingkan negara lain untuk memikirkan dunia. Amerika Serikat menjadi “GU” alias Gila Urusan dengan mencampuri urusan negara lain agar menganut demokrasi liberal. Amerika Serikat mendorong sistem internasional yang unipolar—satu kutub. Mereka meluncurkan proyek globalisasi melalui berbagai lembaga internasional yang mengikat anggotanya, termasuk menguasai lembaga-lembaga dunia lainnya.

Pendekatan Amerika Serikat lewat jalur globalisasi ini bersifat multi-pintu: politik, sosial, budaya, ekonomi, dan senjata. Negeri yang pemerintahannya tidak demokratis akan diguncang lewat revolusi. Yang tak menuruti kemauan Amerika akan diembargo. Lembaga bantuan Amerika Serikat beroperasi di seluruh dunia untuk menampilkan wajah simpatik mereka. Pendekatan seperti ini justru sering kali lebih berhasil. Contohnya, pergantian kekuasaan di Indonesia. Berbagai dokumen yang telah melewati masa kerahasiaan membuktikan adanya campur tangan Amerika dalam transisi dari Soekarno ke Soeharto. Kelak, jika dokumen yang lebih baru sudah kedaluwarsa, mungkin akan ada gambaran lebih terang mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam kejatuhan Soeharto.

Amerika Serikat bekerja sebagai “Kakak Pembina” di banyak negara. Mereka menyiapkan kondisi yang membuat rakyat marah, ekonomi morat-marit, dan pemimpin terlihat pongah. Dalam situasi itu, “binaan Amerika Serikat” bergerak dengan dukungan rakyat hingga rezim jatuh. Cara ini bukan hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga di Iran untuk menjatuhkan Mossadeq, sehingga Iran berubah dari monarki konstitusional menjadi monarki absolut di bawah Syah Reza Pahlavi.

Di Indonesia, Amerika Serikat tak suka Soekarno yang mengorganisir blok baru dunia dan enggan memberikan konsesi tambang emas di Papua. Di Iran, Amerika dan sekutunya murka karena Mohammad Mossadeq menasionalisasi industri migas. Keahlian Amerika Serikat sebenarnya adalah mengguncang dari dalam. Masalahnya, tidak semua pemimpin Amerika adalah orang sabar. Beberapa ingin perubahan cepat sehingga melakukan invasi bersenjata. Senjata mungkin melumpuhkan militer negeri lain, tapi tak akan mengubah perasaan warganya. Di sini Amerika Serikat tak punya kendali; bahkan saat mereka menginisiasi pemerintahan transisi, yang terpilih lewat pemilu belum tentu kelompok yang diinginkan Amerika.

Berhasil menjadikan globalisasi sebagai arus utama, pada akhirnya Amerika Serikat semakin kesulitan menjaga unipolaritasnya. Globalisasi justru melahirkan poros kemajuan baru yang menyaingi mereka sendiri. Sekutu terdekat di Eropa kini semakin menjauh karena mereka sering mendapat “getah” dari kelakuan Amerika Serikat yang masih gemar berperang. Pemimpin Eropa mulai sadar bahwa dunia yang saling terikat ini, jika diganggu dengan permusuhan, akan membuat lebih banyak nyawa melayang bukan karena rudal, melainkan karena dampak sistemiknya.

BACA JUGA : Red Flag

Setelah bersama Israel menyerang Iran, Donald Trump kini pusing. Meski Ali Khamenei dan banyak petinggi lainnya terbunuh, Iran tak berubah. Masyarakatnya mungkin justru semakin patriotis membela ideologi mereka. Donald Trump mungkin lupa bahwa Amerika Serikat telah lama gagal menaklukkan Iran lewat penderitaan. Embargo ekonomi jangka panjang telah membuat masyarakat Iran tahan banting. Secara tidak langsung, Amerika Serikat justru mendidik bangsa Iran untuk mandiri.

Terbukti, kematian pemimpin tertingginya tidak menimbulkan guncangan. Dalam keadaan berduka, mereka masih mampu membalas serangan, bahkan menciptakan ketakutan di negeri tetangga yang membantu Amerika dan Israel. Iran memiliki stok pemimpin pengganti Ali Khamenei, dan Amerika Serikat tak punya akses untuk memengaruhi siapa yang akan ditunjuk. Watak Donald Trump sudah terbaca: tukang gertak. Dan Iran tak gentar. Donald Trump pun pusing tujuh keliling.

Rasanya tak mungkin Trump mengirim tentara untuk invasi darat ke Iran, karena risiko kekalahannya terlalu besar. Trump juga sulit memprovokasi tetangga Iran untuk menyerbu. Mendorong pemberontakan internal dengan mempersenjatai kelompok minoritas seperti Kurdi juga bukan pilihan efektif karena skalanya terlalu kecil. Iran pun sudah menemukan cara untuk membuat Trump makin pusing: bukan membalas Israel secara langsung, melainkan mengganggu pusat ekonomi negara tetangga.

Serangan ke bandara, misalnya, membuat jalur penerbangan terhenti dan warga dunia terjebak. Iran berhasil meningkatkan sentimen negatif terhadap Amerika dan Israel dengan melebarkan dampak aksi mereka ke warga dunia. Pilihan menutup Selat Hormuz juga menjadi senjata mematikan bagi ketahanan energi global.

Langit Indonesia mulai muram gara-gara serangan Israel-Amerika ke Iran. Pemerintah khawatir dengan persediaan BBM, terlebih menghadapi Hari Raya Lebaran. Ekonomi Indonesia kian sulit karena serangan tersebut membuat dolar menguat dan saham melemah. Keuangan negara sedang kembang-kempis; kemampuan membayar utang menurun. Jika pemerintah kekurangan dana, akan sulit mengajukan pinjaman internasional. Sementara itu, postur anggaran kini banyak terserap oleh program non-investasi, salah satunya MBG. Jika program ini terus dibiarkan menggerogoti kesehatan fiskal, walau tidak terkena rudal Israel-Amerika, kita bisa lebih porak-poranda daripada negeri yang tengah berduka kehilangan pemimpinnya itu.