KESAH.ID Menonton Presiden Prabowo berpidato tanpa teks rasanya seperti terjebak di ruang keluarga saat Lebaran; kita tidak sedang mendengar kepala negara yang berwibawa, melainkan titah seorang Kakek kaku yang merasa resep hidupnya paling benar sejagat raya. Mulai dari kengototan soal Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga klaim ajaib “orang desa nggak pakai dolar”, gaya komunikasi paternalistik ini memicu dilema ketimuran yang pelik: kita dipaksa takzim menghormati yang tua, sementara logika kebijakannya sukses menguji batas tebal kesabaran mental kolektif satu bangsa.

Sejujurnya, saya agak khawatir begitu melihat Presiden Prabowo berpidato tanpa teks. Rasanya saya tidak sedang mendengar seorang kepala negara yang tengah berbicara di hadapan rakyatnya dengan penuh wibawa. Presiden justru lebih menunjukkan impresi seorang Bapak, Kakek, atau Eyang di ruang tengah yang sedang dikelilingi anak cucu saat Hari Raya Lebaran.

Semua perhatian mesti diarahkan padanya agar kita tidak dicap sebagai anak atau cucu durhaka. Semua telinga dan mata harus tertuju untuk mendengarkan kisahnya; semua wajib menyimak resep hidupnya yang dianggap oleh beliau sebagai yang paling benar sejagat raya.

Tak boleh ada yang membantah. Kepala harus terangguk-angguk takzim walau dalam hati sedang menahan gejolak batin yang dahsyat.

Pidato Presiden Prabowo di hadapan masyarakat tanpa teks memang selalu epik, sekaligus memicu gejolak dan tanggapan. Yang terbaru, misalnya, klaim bahwa “orang desa nggak pakai dolar,” atau indikator ekonomi baru yang agak ajaib: “Kalau Purbaya masih tersenyum, tenang saja.”

Padahal, yang namanya senyum tidak selalu menjadi tanda senang, bahagia, atau gembira. Senyum bisa saja bermakna kecut, bahkan menjadi topeng dari tangis mendalam yang menguras air mata.

Pernyataan Presiden memang kerap memicu dilema ketimuran. Sebagai generasi yang lebih muda, kita dituntut dan diharuskan untuk bersikap sopan kepada orang tua. Masalahnya, logika komunikasi Presiden Prabowo ini kerap bikin kita garuk-garuk kepala walau sedang tidak gatal.

Tesis ekonomi Prabowo memang revolusioner, bahkan mungkin layak untuk disebut sebagai Prabowonomics.

Hanya saja, teori yang lahir dari seseorang yang berumur 75 tahun memang rentan. Sebab secara biologis dan psikologis, seiring bertambahnya usia, manusia cenderung mengalami penurunan memori jangka pendek dan enggan memproses informasi global yang njelimet.

Semakin menua, seseorang akan lebih memilih untuk berpegang teguh pada hal-hal konkret yang sudah mereka pahami sejak zaman masih muda.

“Orang desa nggak pakai dolar” adalah gambaran masa lampau. Kenangan tentang desa di kepala orang-orang tua adalah tentang hidup yang sederhana, tidak terpengaruh kehidupan luar, dan aman dari badai inflasi global.

Tapi kini, desa adalah pasar—sasaran empuk distribusi produk-produk perkotaan.

Lihat saja, di warung paling sederhana sekalipun di pelosok desa, pasti berjejer produk Wings Food, GarudaFood, Danone, Unilever, dan gurita konglomerasi consumer goods nasional lainnya. Alhasil, bahkan di dalam hutan sekalipun, sampahnya seragam: kemasan makanan dan minuman sasetan.

Lain ceritanya dengan desa tempo dulu, desa di zaman Indonesia masih menjadi anggota OPEC (Organisasi Pengekspor Minyak). Di masa itu, penetrasi hal-hal yang berbau perkotaan masih sangat rendah. Desa relatif mandiri dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Pangannya berasal dari petani lokal, dan kemana-mana warga berjalan kaki, naik sepeda, atau naik dokar—kereta yang ditarik oleh kuda.

Kala itu, yang datang atau masuk ke desa lebih banyak berupa bantuan, bukan barang dagangan.

Namun, begitu pupuk pabrikan, bibit sekali tanam, listrik, televisi, sepeda motor, dan internet menyerbu, desa makin mengkota. Hampir semua kebutuhannya kini dipasok dari kota atau pusat-pusat industri.

Desa pun otomatis turut berbau dolar. Sebab, barang atau sarana yang datang, dipakai, atau dikonsumsi oleh orang desa mengandung komponen impor, lalu diangkut dengan moda transportasi yang berbahan bakar minyak. DNA dolar itu nyata ada dalam minyak kita, terutama sejak Indonesia terpental dari OPEC karena berubah menjadi net importer.

Tapi ya sudahlah, namanya juga orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan—dan mungkin mulai akrab dengan asam urat juga. Mereka ini memang sering merasa paling tahu segala-galanya hingga lupa kalau ada banyak model inflasi. Maka, kalau ada orang desa yang ikut mengomongkan kurs atau nilai tukar, langsung dianggap kebanyakan gaya mirip orang kota.

BACA JUGA : Merah Papua

Watak lain dari laki-laki yang menua adalah cenderung makin emosional. Ada untungnya, terutama untuk para cucu. Kakek biasanya jauh lebih penyayang kepada cucunya ketimbang nenek. Tapi ada syaratnya: sang cucu harus menjadi good boy dan nice girl, serta jangan sekali-kali melempar kritik.

Laki-laki yang semakin tua cenderung mudah terbawa perasaan (baperan). Jika dikritik, responsnya akan sangat defensif.

APBN kita jelas sedang megap-megap. Presiden Prabowo pun mengambil kebijakan untuk melakukan efisiensi. Kementerian dan lembaga dikurangi anggarannya, disuruh mengirit—bukan sekadar diminta menghilangkan pemborosan.

Namun di sisi lain, ada program unggulan yang jelas-jelas menyedot anggaran yang sudah megap-megap tersebut. Salah satunya adalah MBG (Makan Bergizi Gratis), dan salah duanya adalah KDMP (Koperasi Desa Merah Putih).

Urusan MBG, Presiden Prabowo tak bisa digoyang. Tidak ada ruang tawar-menawar di sini. Kalau dulu yang harga mati adalah NKRI, sekarang bertambah satu: MBG. Saking identiknya Prabowo dengan program ini, beliau sampai dijuluki sebagai CEO MBG.

Soal MBG, Prabowo memang kaku. Jika dikritik, responsnya cenderung defensif. Beliau menyatakan bahwa rakyat sangat berterima kasih atas program ini. Bahkan setiap kali bertemu, rakyat disebut memohon sambil menangis-nangis agar program ini tidak dihapus.

Entah rakyat di sebelah mana yang menangis-nangis meminta agar MBG tak dihentikan. Rasanya, kalau program ini dikoreksi, yang menangis bombay bukan rakyat, melainkan para kontraktor yang sudah jor-joran mengeluarkan uang miliaran untuk membangun fasilitas dapur umum. Tak sedikit dari mereka yang mengelola beberapa dapur sekaligus, yang modalnya mungkin saja bersumber dari kredit lembaga keuangan. Merekalah yang sebenarnya akan meneteskan air mata darah jika MBG mendadak disetop.

Program MBG bukan hanya sekadar program prioritas pemerintah, melainkan juga soal legacy (warisan) bagi Presiden Prabowo. Mengingat, hampir tidak ada program unggulan lain yang bisa membuat namanya harum di buku sejarah. Jika Presiden Soeharto dulu digelari Bapak Pembangunan, mungkin Prabowo ingin dikenang sebagai Bapak Makanan Bergizi.

Maka ketika program ini dikritik habis-habisan, Presiden Prabowo merasa terancam. Batalnya program MBG menjadi momok yang menakutkan, sehingga harus diperjuangkan habis-habisan apa pun taruhannya.

Sikap keras kepala Presiden Prabowo terkait MBG bukanlah diniatkan untuk merusak fiskal negara, melainkan manifestasi dari ego dan keinginannya untuk dikenang. Dia ingin diingat sebagai Bapak yang sayang pada anak-anaknya; Bapak yang mencerdaskan bangsa sebagaimana cita-cita proklamasi.

Sepertinya Presiden yakin betul kalau MBG otomatis akan mencerdaskan anak-anak bangsa. Sebuah keyakinan yang tampaknya disuntikkan dengan sukses oleh Wakil Menteri Pendidikan. Dalam sebuah kesempatan, Wakil Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bertujuan memenuhi gizi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kemampuan anak dalam bidang matematika dan bahasa Inggris, terutama jika dikemas secara kreatif.

Nampaknya semua pembantu di kabinet ingin menyenangkan Presiden, walau logikanya berakhir seperti anekdot “Jaka Sembung Makan Kedondong” (nggak nyambung, Jack!). Mirip dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah yang mendadak ingin menjadikan Presiden Prabowo sebagai Bapak Haji Indonesia.

BACA JUGA : Horor Catalunya

Jika semua orang hanya sibuk menyenangkan Presiden—terutama para pembantu di kabinet—situasi ini lambat laun akan mengganggu kesehatan mental kolektif bangsa.

Kita mungkin perlu memperluas stok kesabaran, karena negara ini sedang diurus oleh pemimpin yang memiliki psikologi “orang tua lansia”. Dan kita tahu, orang tua yang sudah sepuh sangat sulit untuk berubah menjadi sosok dengan semangat muda yang fleksibel serta gemar belajar hal baru.

Namun, terus-menerus menyenangkan beliau jelas sebuah kekeliruan. Apalagi jika terus menuruti keinginannya untuk membuat segala sesuatu serba cepat dan bernuansa “wah” tanpa melalui uji coba yang matang. Siapa pun yang waras tahu bahwa membangun koperasi secara serentak dari Sabang sampai Merauke jelas sedang menjemput kegagalan sejak dari dalam rencana.

Taruhlah apa yang diinginkan oleh Presiden Prabowo memang murni didasari oleh niat baik. Tapi niat baik saja tidak pernah cukup; ia harus dipijakkan pada rasionalisasi dan kalkulasi yang kuat.

Sayangnya, keinginan untuk cepat mencapai tujuan kemudian tampak menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan memanfaatkan lembaga atau institusi yang tupoksinya jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan MBG maupun koperasi.

Rasanya bukan tugas polisi, tentara, dan perguruan tinggi untuk sibuk mengurus dapur umum.

Terlebih lagi bagi tentara, yang belakangan semakin diberi banyak porsi tugas di luar urusan keamanan dan kedaulatan negara.

Keterlibatan tentara yang terlampau jauh di ruang sipil bakal membuat luka lama bersemi kembali—sebuah luka sejarah yang pernah ditorehkan oleh Soeharto lewat konsep Dwifungsi ABRI.

Mengandalkan tentara untuk mensukseskan rencana-rencana pembangunan kabinetnya semakin membuktikan kalau Presiden Prabowo masih terkungkung oleh masa lalunya. Padahal, dunia terkini sudah bergerak sedemikian jauh dari masa lalu Presiden Prabowo saat masih aktif di militer.

Masa lalu memang penting, tetapi bukan untuk dijadikan acuan kaku dalam membangun masa depan. Sebab, sudah terlalu banyak hal purba yang tak lagi relevan dengan dinamika masa kini dan masa mendatang.

Anggapan bahwa semakin tua seseorang akan semakin bijaksana hanyalah sebuah harapan ideal yang kita inginkan. Namun dalam kenyataannya, hal itu kerap kali zonk. Sains—khususnya neurosains—memang membuktikan kalau kebijaksanaan tidak otomatis beriringan dengan pertambahan umur.

Usia lanjut adalah sebuah keuntungan potensial untuk memperoleh kebijaksanaan, tetapi bukan jaminan mutlak. Penurunan fungsi kognitif akibat usia, jika tidak diimbangi dengan kemampuan refleksi diri yang baik, justru berpotensi besar menghasilkan sikap kaku yang jauh dari kata bijak.

note : sumber gambar – ACEHPROV