KESAH.ID – Panggung MotoGP 2025 menjadi saksi bagaimana pertaruhan besar Ducati mendobrak filosofinya sendiri demi memboyong Marc Marquez terbukti berbuah kejayaan instan, sebelum akhirnya badai cedera di Sirkuit Mandalika kembali memutar balik konstelasi persaingan. Di balik dominasi mutlak yang tampak begitu kokoh di atas kertas, riak-riak anomali dan rahasia fisik yang disembunyikan sang juara, sebuah drama di balik layar yang pelan-pelan memaksa Ducati merana, Aprilia merangsek maju, hingga memicu migrasi besar-besaran para pembalap top menyambut musim balap baru.
Cedera berat yang dialami oleh Marc Marquez ketika masih membalap bersama Tim Honda membuat Joan Mir, Fabio Quartararo, Francesco Bagnaia, dan Jorge Martin punya kesempatan untuk menjadi juara dunia. Jika tidak, mereka hanya akan dikenang sebagai deretan pembalap hebat minus gelar juara dunia, seperti halnya nasib Dani Pedrosa.
Bersama dengan Honda, Marc yang menyandang status sebagai pembalap dengan bayaran termahal diprediksi akan sangat sulit untuk dikalahkan. Sampai-sampai, sempat beredar keyakinan kuat di panggung MotoGP bahwa Marc hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri.
Sebagai pembalap yang agresif dan suka memaksa motor melewati batas maksimalnya, tubuh Marc Marquez memang kerap terhempas di atas aspal, pasir, dan kerikil. Meski terlihat kuat bak bertulang baja dan berotot kawat, Marc Marquez sewaktu-waktu bisa saja terancam pensiun dini karena hampir seluruh bagian tubuhnya pernah didera cedera dan berpotensi kehilangan fungsinya.
Bagian yang paling krusial dari rentetan cedera yang dialami oleh Marc Marquez adalah masalah pada area mata dan bahu.
Hanya saja, Marc merupakan salah satu pembalap yang sangat pandai menyembunyikan rasa sakitnya, sekaligus piawai menutupi kelemahan atas kekurangan pada bagian tubuh tertentu. Ketika merayakan kemenangan atas raihan gelar juara dunia bersama Honda dulu, bahu Marc Marquez ternyata sempat copot. Saat itulah Alex Marquez yang bertindak menarik lengannya agar posisi bahu tersebut bisa kembali ke tempat semula.
Setelah sembuh dari cedera panjang dan kembali membalap dengan Honda, Marc Marquez ternyata kehilangan feeling berkendaranya. Motor yang selama ini dikembangkan berdasarkan selera dan gaya balapnya justru terasa tak cocok lagi. Marc Marquez tidak bisa lagi tampil kencang, yang kemudian membuat Honda kalah segala-galanya di atas lintasan.
Marc Marquez kehilangan kepercayaan diri, dan di dalam dunia lintasan balap, kehilangan rasa percaya diri adalah sebuah petaka besar.
Untuk menguji kembali kepercayaan dirinya, Marc harus menunggangi motor yang mampu bersaing dengan barisan terbaik. Ducati adalah yang terbaik saat itu, namun berpindah langsung dari tim pabrikan Honda ke tim pabrikan Ducati tentu merupakan hal yang mustahil.
Mengabaikan gengsi, nama besar, termasuk sodoran uang dalam jumlah besar, Marc akhirnya memilih bergabung dengan Gresini Racing yang merupakan tim satelit Ducati. Di Gresini, Marc membalap bersama dengan adiknya sendiri, seperti yang pernah terjadi di Honda dulu. Sebuah kondisi yang sangat menguntungkan secara psikologis.
Transisi dari Honda ke Gresini pun berjalan dengan sangat mulus.
Perlahan tapi pasti, Marc berhasil mendapatkan kembali rasa percaya dirinya di Gresini. Motor Ducati yang menjadi tunggangan barunya mampu memberikan apa yang selama ini ia cari. Marc Marquez kembali merasakan sensasi kemenangan dan kemudian turut bersaing di papan atas memperebutkan gelar juara.
Target utama Marc Marquez di Gresini sebenarnya bukan semata-mata untuk meraih gelar juara, melainkan untuk meyakinkan kembali dirinya bahwa ia masih mampu membalap dan bersaing dengan pembalap-pembalap muda. Gresini juga dijadikan sebagai batu loncatan yang strategis untuk kemudian bisa kembali membalap di tim pabrikan.
Dan peta jalan (road map) yang dibangun oleh Marc Marquez ternyata terbukti benar. Prestasi gemilang yang ditunjukkan di Gresini membuat Marc Marquez langsung digaet oleh pabrikan utama Ducati. Marc kemudian resmi menjadi pembalap utama Ducati, bertandem dengan Francesco Bagnaia.
Ducati melakukan pertaruhan besar dengan melawan filosofi mereka sendiri. Berniat membangun tim dengan pembalap-pembalap muda untuk investasi masa depan, Ducati justru merekrut Marc Marquez, salah satu pembalap tertua yang masih aktif saat ini. Dampaknya, Ducati harus kehilangan beberapa pembalap muda potensial mereka.
Drama perpindahan Marc Marquez dari Gresini ke Ducati bukan hanya menyingkirkan Jorge Martin sebagai juara dunia, melainkan juga membuat tim satelit yang selama ini paling setia dengan Ducati memutuskan untuk hengkang.
BACA JUGA : Salib Merah
Dalam jangka pendek, pilihan Ducati untuk merekrut Marc Marquez memang terbukti benar. Tahun 2025 menjadi tahun kejayaan bagi Ducati karena Marc Marquez bisa langsung nyetel dengan motornya dan membabat habis podium kemenangan. Rekor demi rekor pun sukses Marc catatkan bersama Ducati.
Marc Marquez kembali mencatatkan masa kejayaannya, persis sama ketika ia berada di masa-masa keemasan bersama Honda dulu. Marc kembali menciptakan situasi di mana hanya dirinya sendirilah yang bisa mengalahkan dirinya.
Namun, di sisi lain Ducati sebenarnya juga mulai merana karena pembalap andalan mereka, Francesco Bagnaia, seolah kena mental. Prestasi Pecco merosot tajam sejak bertandem dengan Marc Marquez. Pecco seperti mengalami kesulitan dengan motornya sendiri dan tak kunjung menemukan jalan keluar yang tepat.
Hal ini terasa agak aneh, karena hubungan antara Marc dan Pecco sebenarnya baik-baik saja. Bahkan, mungkin ini menjadi hubungan terbaik antara Marc dengan rekan setimnya, di luar hubungannya dengan sang adik.
Bagaimanapun juga, Ducati dengan segera berubah menjadi sangat “Marquez-sentris” demi menyapu bersih semua kemenangan. Sebuah sikap yang realistis namun sebenarnya berbahaya untuk masa depan tim, persis seperti Honda yang kemudian kehilangan arah ketika ditinggalkan oleh Marc Marquez.
Dominasi Marc Marquez memang terasa sangat menyengat di tahun 2025. Langkah Marc hanya terhenti ketika ia tertabrak oleh Marco Bezzecchi di Sirkuit Mandalika, Indonesia. Tabrakan keras itulah yang kemudian membuat Marc Marquez harus beristirahat panjang dan terpaksa absen di sisa balapan musim MotoGP 2025.
Namun, absen di beberapa seri terakhir MotoGP 2025 tidak membuat Marc Marquez kehilangan gelar juara dunia; gelar itu sudah berhasil ia kunci ketika seri MotoGP masih menyisakan 5 balapan. Poin yang dikumpulkan oleh Marc Marquez sudah terlanjur terlalu tinggi, dan margin jaraknya dengan pembalap lain sudah terlewat jauh.
Sisa balapan MotoGP 2025 yang tidak diikuti oleh Marc Marquez pada akhirnya hanya menyisakan perebutan peringkat dua ke bawah, sementara posisi peringkat satu sudah tidak mungkin digoyang lagi.
Ducati pun menjadi semakin percaya diri bahwa motor mereka adalah motor terbaik di lintasan. Tapi mungkin Ducati kurang jeli melihat bahwa motor itu menjadi yang terbaik karena berada di tangan Marc Marquez—seorang pembalap yang kerap berani mengambil risiko tinggi dan pintar menutupi kelemahan motornya.
Akibat euforia kemenangan Marc Marquez, Ducati menjadi kurang menaruh perhatian pada keluhan pembalap lain. Padahal sepanjang musim balap MotoGP 2025, Pecco selalu mengeluhkan kendala pada motornya.
Di balik cedera yang menimpa Marc Marquez di Mandalika, sebenarnya ada alarm peringatan lain untuk Ducati, yakni kemajuan pesat dari Aprilia. Meski sempat bisa diatasi oleh Marc Marquez sebelum kecelakaan di Mandalika, grafik kemajuan Aprilia meningkat sangat tajam. Marco Bezzecchi berkali-kali menunjukkan penampilan yang impresif dan mampu memberikan perlawanan sengit kepada Marc Marquez.
Marco dengan motor Aprilianya perlahan mulai mengejar poin para pembalap Ducati lainnya. Bahkan pada beberapa seri penutup yang tidak diikuti oleh Marc Marquez, Marco selalu menunjukkan diri bahwa ia punya potensi besar untuk menjadi pemenang.
Andai saja tidak telat panas di awal musim, mungkin Marco Bezzecchi bisa mengakhiri musim seri balap MotoGP 2025 di peringkat kedua.
BACA JUGA : Demo Berjilid
Seri balapan MotoGP 2026 disambut dengan nada optimis oleh pihak Ducati. Tim Ducati sangat yakin bahwa pembalap utamanya tidak akan menemui masalah berarti dengan motor mereka. Namun, beberapa seri awal balapan ternyata memperlihatkan bahwa Marc Marquez dan Francesco Bagnaia justru kedodoran.
Marc dan Pecco memang sempat mencatatkan kemenangan di sesi Sprint Race, namun kemenangan itu terasa sangat minor karena kedua pembalap Ducati ini kerap kali kehilangan poin berharga dalam balapan utama (Main Race).
Ducati kehilangan pemandangan yang biasa terlihat di seri-seri sebelumnya, di mana seluruh podium juara disapu bersih oleh penunggang Ducati. Kini, podium justru lebih sering diduduki oleh para pembalap dari tim Aprilia.
Marco Bezzecchi tampil dominan dan kuat, sementara Jorge Martin juga sukses kembali ke performa terbaiknya. Berkali-kali Jorge Martin menunjukkan penampilan yang luar biasa, merangsek dari posisi belakang untuk kemudian meraih kemenangan yang sangat meyakinkan.
Mengapa penampilan Francesco Bagnaia belum juga membaik masih menjadi misteri yang belum ditemukan jalan keluarnya. Namun, teka-teki mengenai penyebab Marc Marquez yang mendadak melempem akhirnya mulai terjawab.
Memasuki musim balap MotoGP 2026, Marc Marquez terbukti menyembunyikan kondisi fisik yang sebenarnya dari publik. Marc Marquez sebenarnya mengalami masalah serius pada bahunya—masalah yang kemudian kerap membuat Marc Marquez terjatuh di lintasan tanpa ada peringatan apa pun.
Kecelakaan dramatis yang terjadi di Prancis akhirnya membuka tabir rahasia tersebut. Marc Marquez mengalami insiden highside dan kemudian menderita cedera di tulang telapak kaki. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani tindakan operasi. Menariknya, Marc Marquez ternyata langsung menjalani dua operasi sekaligus, yakni operasi retak telapak kaki dan operasi pada bahunya.
Pihak tim menyatakan bahwa Marc Marquez sebenarnya sudah menjadwalkan operasi bahu tersebut, namun cedera kaki yang baru saja dialaminya membuat jadwal operasi bahu terpaksa dipercepat.
Permasalahan di bahu yang selama ini disembunyikan oleh Marc Marquez merupakan buntut panjang dari insiden tabrakan dengan Marco Bezzecchi di Sirkuit Mandalika, Indonesia. Tabrakan itu ternyata membuat posisi pen yang tertanam di bahu Marc Marquez menjadi bergeser.
Pergeseran pen tersebut membuat saraf radialnya tertekan, sehingga sangat mempengaruhi kenyamanan Marc Marquez dalam mengendalikan laju motornya. Hanya saja, masalah ini anehnya hanya ditemui oleh Marc Marquez ketika mengendarai motor MotoGP, sementara ketika membalap dengan motor Motocross, Marc tidak merasakan kendala apa pun.
Beberapa pembalap senior yang kini menjadi komentator balap sebenarnya sudah menaruh curiga dengan hal ini. Penampilan Marc dinilai tidak konsisten; kadang bisa sangat cepat dan kadang mendadak lambat. Namun yang paling soroti adalah gaya berkendara Marc yang terlihat tidak nyaman, seolah-olah ia terus mencari-cari posisi gaya balap yang tepat.
Akankah operasi yang baru saja dilakukan bisa mengembalikan kondisi fisik Marc Marquez secara 100 persen? Hal ini tentu masih perlu ditunggu, sebab cedera Marc Marquez kali ini sudah mengenai jaringan saraf sehingga sulit diduga bagaimana dampak jangka panjangnya.
Karena cedera dan harus menjalani masa pemulihan pasca-operasi, Marc Marquez dipastikan tidak bisa mengikuti GP Catalunya. Tim Ducati pun semakin merana karena Pecco juga belum kunjung kembali ke performa terbaiknya. Di tengah keringnya prestasi tim pabrikan, Fabio Di Giannantonio dan Alex Marquez setidaknya mampu memberikan hiburan tersendiri bagi Ducati.
Mungkin Diggia dan Alex ingin memberikan hadiah perpisahan terbaik untuk Ducati sebelum mereka meninggalkan tim tahun depan. Alex dan Diggia yang pernah bertandem di tim Gresini, kemungkinan besar pada musim tahun 2027 nanti akan kembali berpasangan di bawah bendera tim pabrikan KTM.
Pecco juga tampaknya akan mengucapkan selamat tinggal kepada Ducati untuk menuju Aprilia dan bergabung dengan Marco Bezzecchi. Sementara itu, Marc Marquez akan bertandem dengan Pedro Acosta di tim pabrikan Ducati. Akankah duet maut antara Marc dan Pedro bisa membawa Ducati kembali ke masa kejayaannya?
note : sumber gambar – GRIDOTO








