KESAH.ID – Cerdas Cermat bukan sekadar ajang adu pintar di layar kaca; ia adalah monumen kejujuran intelektual pada masanya. Namun, apa yang terjadi ketika ‘kecermatan’ itu hilang dari mereka yang seharusnya menjadi wasit kebenaran? Cerdas vermat kembali terkenal karena ada kasus yang menunjukkan filosofi cerdas cermat yang kini kian tergerus oleh ego dan relasi kuasa.
Sejarah edukasi di Indonesia mencatat acara Cerdas Cermat TVRI sebagai salah satu program siaran televisi terpopuler dan paling legendaris di era tahun 80-90-an. Acara yang berjenjang ini menjadi salah satu arena bergengsi bagi sekolah untuk menunjukkan kualitas pendidikannya.
Cerdas Cermat sendiri merupakan kompetisi atau perlombaan yang diikuti oleh grup siswa untuk diadu dengan grup lainnya mengenai ketajaman berpikir serta ketangkasan dalam menjawab pertanyaan secara cermat dan cepat.
Lombanya sendiri dalam satu sesi biasanya diikuti oleh tiga grup atau tim: A, B, dan C. Setiap grup atau tim bisa terdiri dari 3 hingga 5 orang. Masing-masing tim akan diuji dengan dua model pertanyaan, yakni Pertanyaan Wajib dan Pertanyaan Rebutan.
Bagian Pertanyaan Rebutan ini yang paling seru karena masing-masing tim akan berebut memencet bel agar bisa ditunjuk sebagai tim yang akan menjawab. Jika jawabannya salah, biasanya poin mereka akan dikurangi.
Adapun materi pertanyaan yang diperlombakan terdiri dari materi akademik, seperti Matematika, IPA, Pengetahuan Umum, Sejarah, Bahasa, dan lain-lain. Namun, ada pula materi tematik sehingga muncul Cerdas Cermat Alkitab, Cerdas Cermat Wawasan Kebangsaan, hingga Cerdas Cermat Lingkungan Hidup.
Cerdas Cermat dilakukan bukan hanya untuk menilai kecerdasan intelektual atau IQ, melainkan juga kecepatan motorik; sejauh mana kecepatan otak menemukan jawaban sinkron dengan tangan yang memencet bel saat fase pertanyaan rebutan.
Hal lain yang dinilai tentu saja ketenangan, yakni kecermatan mendengarkan pertanyaan dan perintah juri lalu menjawabnya dengan runut. Kerja sama tim menjadi penilaian berikutnya, menyangkut strategi siapa yang akan menjawab pertanyaan hitungan dan siapa yang menangani pertanyaan hafalan, utamanya pada Pertanyaan Rebutan. Untuk Pertanyaan Wajib, biasanya yang menjawab adalah juru bicara tim.
Hadiah untuk pemenang lomba Cerdas Cermat berbeda-beda, tergantung levelnya. Namun umumnya hadiah yang diberikan bersifat simbolis seperti Piala atau Trofi, Sertifikat/Piagam Penghargaan, dan Medali. Diberi hadiah seperti ini saja, anak-anak tahun 80-90-an sudah sangat senang.
Hadiah tambahan tergantung pada panitia penyelenggara atau sponsor. Umumnya berupa Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional), buku, alat olahraga, atau tiket hiburan ke tempat seperti Taman Mini Indonesia Indah, Museum Nasional, Monumen Nasional, dan sebagainya.
Jangankan hadiah yang bermacam-macam, terpilih menjadi anggota tim untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat di tingkat Kabupaten, Provinsi, apalagi Nasional sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Dipilih menjadi anggota tim Cerdas Cermat artinya diakui sebagai anak yang cerdas dan pintar.
Acara yang dalam bahasa Inggris disebut Quiz Bowl atau Knowledge Competition ini sekarang mulai kurang dikenal oleh siswa-siswi. Perlombaannya masih ada, namun tidak seterkenal dulu. Model tanya jawab semacam ini justru lebih populer dalam konten-konten media sosial.
Ada model konten yang disebut sebagai Social Experiment, di mana seorang konten kreator bertanya pada orang yang ditemui, baik secara personal maupun kelompok. Sayangnya, banyak konten yang berakhir konyol dengan jawaban-jawaban yang terlihat tolol.
Beberapa konten tanya jawab pengetahuan umum dan matematika hasilnya cukup menyedihkan. Anak-anak tidak bisa menjawab dengan cepat dan tepat operasi perhitungan matematika sederhana. Banyak juga yang tak tahu ibu kota daerah sendiri dan salah menyebut contoh negara di Eropa, Asia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, hingga Australia/Oseania.
BACA JUGA : Nggak Lucu
Dalam setiap pertandingan, semua pesertanya tentu ingin menang. Namun kemenangan kadang melayang karena berbagai hal yang terjadi selama pertandingan. Bisa saja ada peserta lain yang curang, atau mungkin karena pengawas dan jurinya kurang cermat, dan faktor lainnya.
Dalam pertandingan sepak bola misalnya, diperkenalkan VAR atau Video Assistant Referee. Teknologi ini dipakai untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan yang akurat di waktu-waktu krusial, seperti sah atau tidaknya gol, keputusan penalti, dan lain-lain.
Ada banyak kasus legendaris dalam dunia sepak bola di mana wasit tidak melihat pelanggaran pemain, padahal pemain lain atau penonton melihatnya dengan sangat jelas. Namun, karena keputusan wasit bersifat mutlak, apa yang diputuskan tetap harus dijalankan.
Agar tidak ada kerugian akibat kurang cermatnya wasit atau sudut pandang yang terbatas, dihadirkanlah teknologi VAR agar keputusan tetap akurat dan tidak merugikan salah satu pihak. Rekaman video dari berbagai arah menjadi penting dalam menjaga integritas pertandingan, terutama pada kompetisi yang mengandalkan kecepatan seperti balap motor.
Di balapan MotoGP, kamera dipasang di mana-mana, termasuk pada motor pembalapnya. Rekaman ini penting untuk memastikan para pembalap menaati regulasi. Race Direction akan memakai rekaman ini untuk menilai dengan cepat apakah seorang pembalap melakukan pelanggaran, seperti menyentuh garis terlarang, mencuri start, atau melakukan manuver agresif. Dengan rekaman itu, pengawas balapan bisa memberi peringatan, penalti, hingga membatalkan kemenangan.
Manusia sering kali khilaf, maka dalam tata kelola sebuah perlombaan, pengawasan mesti dilakukan secara berlapis untuk meminimalisir kerugian akibat kesalahan manusia atau human error. Teknologi hadir untuk membantu mengurangi risiko kesalahan tersebut.
Kini, teknologi itu sudah menjadi hal yang biasa. Menjadi sebuah kelaziman dalam sebuah acara bagi penyelenggara untuk merekam prosesnya dalam bentuk audiovisual. Selain sebagai dokumentasi, rekaman itu menjadi bahan evaluasi untuk melihat kekurangan yang mungkin terlewatkan oleh pandangan mata biasa.
Manusia bukanlah makhluk multitasking yang bisa mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan dengan sempurna. Fokus perhatian cenderung terarah pada hal tertentu saja. Ketika fokus pada apa yang dilihat, mungkin kita tak memperhatikan apa yang diucapkan orang lain.
Adalah hal biasa ketika kita meminta orang lain mengulang ucapannya; bukan karena suaranya tidak jelas, melainkan karena perhatian kita sedang teralih. Perbedaan fokus perhatian walau berada di tempat yang sama juga mudah ditemukan karena berkaitan dengan memori dan ketertarikan. Maka, orang-orang di tempat yang sama bisa memiliki cerita yang berbeda-beda.
Alhasil, seseorang sering berujar, “Oh, ternyata di sana ada itu, ya?” padahal dia sudah berkali-kali ke sana namun sebelumnya tidak menaruh perhatian pada objek tersebut.
BACA JUGA : Kematian Internet
Dalam sistem sosial religi, diakui bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Maka, sudah sepatutnya kita rendah hati dan tidak segan untuk meminta maaf. Namun pada dasarnya, menjadi manusia yang rendah hati adalah imaji bersama yang sulit diwujudkan. Media sosial memvalidasi hal itu. Kita sering menggambarkan diri sebagai bangsa Timur yang gotong royong dan sopan, di mana tutur kata selalu dijaga agar tetap harmoni.
Sekali lagi, ini sering tak terbukti—baik di jagat maya maupun jagat nyata. Kasus yang membuat istilah Cerdas Cermat “naik daun” kembali belakangan ini menjadi salah satu bukti fenomena ini. Padahal dalam dunia akademik, kerendahan hati adalah mentalitas yang harus dikedepankan.
Sepintar apa pun seseorang, ia tetap bisa salah. Tidak ada orang pintar yang menguasai segala hal dan selalu benar dalam setiap tindakannya.
Dalam sebuah cuplikan video yang viral, seorang juri menyampaikan pertanyaan lalu dijawab oleh tim yang ditunjuk. Jawaban tersebut dinyatakan salah dan poin mereka dikurangi. Pertanyaan lalu dilempar ke tim lain; dijawab, dikomentari juri, dan dinyatakan betul.
Penonton yang melihat rekaman itu pasti tahu bahwa jawaban tim kedua sama persis dengan jawaban tim pertama yang nilainya dikurangi. Jawaban itu sudah betul sejak awal. Ketika pembawa acara hendak lanjut ke pertanyaan berikutnya, tim pertama menyela. Juru bicara tim menyebut bahwa jawaban mereka identik dengan tim yang diberi nilai sempurna.
Juri menyangkal dan bersikeras bahwa jawaban tim pertama tidak lengkap. Meski dibantah lagi, juri tetap bertahan pada posisinya. Kemudian juri lain menimpali dengan tambahan yang tidak relevan dengan substansi pertanyaan, yakni soal artikulasi. Memang pengucapan dari juru bicara tim kurang “bulat”, namun ucapannya masih terdengar jelas.
Sekali lagi, keputusan juri dinyatakan mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Pembawa acara kemudian meneruskan acara seraya mengingatkan peserta bahwa para juri adalah orang-orang yang kompeten.
Untunglah naluri advokasi dan politik tim yang dirugikan tidak terlalu besar. Jika tidak, mungkin mereka sudah memutuskan untuk walkout. Seseorang yang merekam dan mengedarkan video itu tahu persis kalau jawaban kedua tim itu sama. Pada saat yang bersamaan, tiga sosok penting dalam acara Cerdas Cermat itu gagal mendengar secara cermat.
Dua juri dan satu pembawa acara mengalami masalah pendengaran sesaat; mungkin perhatian mereka teralihkan pada waktu yang bersamaan. Akhirnya dipakailah “rumus pokoknya” (pokoke). Juri pertama kukuh menyebut jawaban tidak lengkap, diperkuat juri kedua yang malah membahas artikulasi, dan ditutup oleh pembawa acara yang menormalisasi kesalahan dengan memuja kompetensi juri.
Ketiga orang ini menjadi petaka karena mencederai filosofi cerdas cermat itu sendiri. Sang juri mungkin saja cerdas, tapi ia jelas tidak cermat. Selama dunia pendidikan dalam arti luas masih diisi oleh orang-orang yang lebih menekankan relasi kuasa daripada kebenaran, maka mustahil siswa akan menjadi cerdas karena pendidiknya sendiri tidak cermat.
note : sumber gambar – ILMUPEDIA








