KESAH.ID – Hilangnya deretan angkot di sekolah-sekolah Samarinda adalah potret nyata disrupsi transportasi yang tak terelakkan. Di tengah gempuran startup yang agresif, tulisan ini membedah resiliensi Blue Bird yang tetap kokoh melalui kualitas dan adaptasi bisnis, sembari memotret ancaman baru dari taksi listrik global. Ini adalah refleksi tentang pentingnya melepas nostalgia masa lalu demi menjaga relevansi di tengah perubahan zaman yang kian cepat.
Saya baru mulai menyadari kalau angkot kehilangan relevansi di Kota Samarinda ketika mulai rutin mengantar anak saya sekolah di bangku SMA. Sekolahnya kebetulan berada di jalan utama kota, tempat kendaraan umum lalu lalang.
Seingat saya, di depan sekolah umum pada waktu jam berangkat dan pulang, biasanya banyak angkot. Tapi di depan sekolah anak saya, setiap jam pergi dan pulang sekolah yang bikin macet bukan angkot, melainkan mobil pribadi atau kendaraan online yang mengantar atau menjemput.
Barisan angkot yang parkir di depan sekolah menunggu anak-anak pulang tak ada lagi. Yang banyak parkir adalah ojek online, bahkan sesekali kelompok ojek online membagikan brosur promosi untuk anak-anak sekolah.
Kehadiran angkutan online memang membuat kendaraan umum seperti angkot atau taksi argo berada dalam tekanan. Di banyak kota mereka tumbang, termasuk di Kota Samarinda.
Bukan hanya angkot yang tumbang, tetapi juga taksi argo. Dari deretan nama-nama taksi yang pernah populer, mungkin yang masih kukuh bertahan hanya Blue Bird. Padahal seharusnya dari 5 tahun lalu Blue Bird mestinya bangkrut karena selain hantaman ride-hailing atau kendaraan online, juga dihantam oleh badai pandemi Covid-19.
Tapi nyatanya, Blue Bird bertahan dari rugi ratusan miliar, malah kemudian berhasil mencetak rekor pendapatan dan keuntungan di tahun 2025. Apa yang membedakan Blue Bird dengan perusahaan angkutan lainnya?
Di Indonesia, Blue Bird jelas menjadi sasaran untuk ‘dimatikan’ oleh startup taksi online karena Blue Bird adalah penyedia angkutan argo terbesar. Startup yang mendapat dana besar dari investor punya misi: apapun caranya, taksi konvensional harus dikalahkan.
Dan memang betul, kebanyakan perusahaan taksi konvensional tak mampu melawan aksi yang dilakukan oleh taksi online. “Bakar duit” yang dilakukan oleh startup sebenarnya adalah perintah untuk mencuri konsumen taksi konvensional dengan iming-iming harga murah, layanan cepat, dan lain-lain.
Kenapa taksi konvensional potensial kalah dengan taksi online? Karena biaya tetap yang harus ditanggung taksi konvensional jelas besar. Perusahaan ini harus punya mobil sendiri, tempat parkir, sopir yang harus dibayar rutin, dan seterusnya. Sementara taksi online bebannya lebih ringan; mobil bukan punya mereka, sopir dibayar berdasarkan kinerja, tak ada ongkos pool, parkir, dan lain-lain.
Strategi startup ini biasa disebut Kuda Troya; memberi sesuatu yang bagus pada konsumen tetapi di dalamnya ada virus. Konsumen dipancing untuk memakai produknya, baru setelah kompetitor mati, harga dinaikkan dan mau tidak mau konsumen harus tetap memakai karena sudah dimonopoli.
Cara startup mengguncang pasar adalah perang harga. Di sinilah kunci Blue Bird bertahan. Blue Bird tak mau ikut perang harga.
Alih-alih melawan dengan ikut menurunkan harga, Blue Bird justru memberi akses bagi armadanya untuk bisa ikut dipesan lewat aplikasi Gojek. Mungkin ada konsumen Blue Bird yang pindah, tapi Blue Bird tak sampai kolaps.
Semesta sepertinya berpihak pada Blue Bird ketika iklim tech winter mulai tiba. Startup tak lagi dimanja dengan bakar-bakar uang, harga yang ditawarkan mulai harga wajar. Blue Bird tak jadi terpuruk walau harga layanannya bisa 20-30 persen lebih mahal dari taksi online.
Dan bahkan Blue Bird makin kokoh ketika perusahaan atau layanan taksi online semakin bertambah umur justru semakin memburuk layanannya. SOP taksi online tidak seketat saat pertama dulu; sopir mulai tak ramah, mobil bau rokok, tak ada lagi komplimen air minum dan permen, dan lain-lain. Di saat seperti itu, Blue Bird malah makin prima dengan layanan istimewa.
Blue Bird makin menekankan quality control dan SOP yang makin ketat. Sehingga ketika taksi online mulai kehilangan pamor, Blue Bird kembali ke mode normal, menjadi pilihan yang teraman dan nyaman untuk konsumen.
BACA JUGA : Mengutuk Panas
Tapi sebetulnya yang menyumbang atau berkontribusi sehingga Blue Bird tetap bertahan adalah bisnis lain yang tak disentuh oleh kompetitornya. Pendapatan terbesar dari Blue Bird sekarang bukan dari taksi argo atau taksi konvensional.
Kinerja Blue Bird justru terangkat oleh layanan angkutan non-taksi. Yang dikembangkan oleh Blue Bird adalah jasa mobilitas. Layanan mobilitas misalnya Golden Bird, layanan sewa kendaraan dengan sopir menggunakan mobil mewah. Layanan ini banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan.
Lalu ada juga Big Bird untuk kendaraan besar atau bus. Layanan keluar kota juga dilayani lewat Cititrans. Sedangkan mengirim barang dilayani oleh Blue Bird Kirim.
Kenapa Blue Bird mengembangkan layanan non-taksi? Karena layanan taksi hanya akan menghasilkan keuntungan yang begitu-begitu saja, sudah sulit untuk berkembang atau meledak untungnya. Dan bagi Blue Bird, bisnis non-taksi pendapatannya bisa diprediksi. Bagi sebuah bisnis, yang paling penting bukannya besarnya pendapatan, melainkan pendapatan yang bisa diprediksi. Pendapatan yang bisa diprediksi akan lebih mudah untuk membuat perencanaan pengembangan.
Blue Bird kini sudah kembali sehat, tetapi masih ada ancaman baru yakni perusahaan taksi listrik asal Vietnam. Perusahaan taksi listrik ini sekaligus adalah produsen mobil listrik. Taksi listrik menjadi ancaman karena operasinya lebih murah.
Blue Bird mungkin saja punya strategi mengganti mobil konvensional dengan mobil listrik, tetapi jelas butuh waktu. Masalahnya, taksi listrik asal Vietnam ini punya kekuatan lain ketimbang taksi online lainnya; mereka tidak menggantungkan cuan pada taksinya, karena taksi sebetulnya merupakan alat promosi untuk mobil listrik buatan Vietnam ini.
Harga yang lebih murah bisa menjadi ancaman, tetapi dalam bisnis terkadang bukan soal itu yang dipakai untuk menjatuhkan pilihan. Salah satu hal penting dalam bisnis adalah kepercayaan; mahal sedikit tidak apa-apa asal bisa dipercaya.
Model kepercayaan ini yang ditekankan oleh Blue Bird terutama dalam layanan mobilitas B to B (Business to Business). Saling percaya dan saling mengerti kerap lebih dipilih oleh perusahaan dalam menentukan mitra untuk layanannya. Dan di titik ini Blue Bird menang; relasi dengan perusahaan-perusahaan yang butuh jasanya sudah berlangsung lama dan umumnya tak mengecewakan.
Sementara saingannya tengah berjuang, seperti yang ditunjukkan oleh Green SM, taksi listrik dari Vietnam. Taksi yang warnanya sepintas mirip Blue Bird ini sedikit mendapat kerugian dalam citranya baru-baru ini karena terlibat kecelakaan dengan kereta api. Kecelakaan yang mungkin saja bisa membuat konsumen khawatir tentang keandalan mobil listrik, entah pada sistem kelistrikan atau baterainya.
BACA JUGA : Angket Angkot
Apa yang bisa dipelajari dari keberhasilan Blue Bird bertahan di tengah model bisnis yang berubah?
Perusahaan atau usaha konvensional bisa belajar dari Blue Bird dalam menghadapi model bisnis baru yang berbasis aplikasi. Perusahaan startup umumnya akan membakar uang untuk mendapatkan pemakai aplikasinya. Tidak perlu panik menghadapi perang harga selama yakin produk, jasa, atau layanannya memang prima.
Reaktif jelas akan menimbulkan masalah, sebab bisnis baru akan selalu muncul. Jadi, menganggap bisnis baru sebagai ancaman bukan pilihan. Bisnis baru harus dilihat sebagai potensi untuk kolaborasi, atau sekurangnya sebagai saingan.
Angkot, ojek pengkolan, dan lain-lain mati karena bereaksi negatif terhadap munculnya angkutan online. Angkutan mode baru dianggap sebagai musuh, di-bully, bahkan dilarang beroperasi di tempat-tempat tertentu. Namun, napas panjang yang dipunyai oleh startup membuat perlawanan dari angkot dan ojek pengkolan mati sendiri.
Angkot dan ojek pengkolan tak punya strategi kolektif untuk melakukan pembaruan. Di beberapa kota, angkot masih bertahan karena melakukan pembaruan. Mobil angkot diperbarui, diberi pendingin dan tata letak kursi yang tidak membuat penumpang berdesak-desakan. Beberapa pengemudi ojek kemudian melakukan layanan personal, berhubungan dengan pelanggan melalui aplikasi pesan singkat.
Kemampuan mengikuti perkembangan, memakai teknologi, sekaligus melihat celah atau peluang yang tidak diambil oleh kompetitor menjadi kunci resiliensi dari bisnis-bisnis arus utama untuk bertransisi ke bisnis yang berbasis virtual atau digital. Ini berlaku untuk semua bisnis, bukan hanya angkutan.
Dalam bisnis F&B, kita mempunyai banyak nama yang sudah melegenda, namun kini terancam dengan model bisnis F&B baru yang sangat agresif. Usahawan-usahawan yang umur bisnisnya sudah lebih dari 30 tahun ini kini berada di persimpangan: hidup dengan mempertahankan pelanggan lama yang kian menyusut karena umur, atau bangkit meraih pelanggan baru yang secara agresif ditarik oleh bisnis-bisnis baru.
Mempertahankan resep lama sekaligus terbuka terhadap pengembangan resep baru menjadi salah satu formula yang nampaknya cukup berhasil di beberapa tempat. Namun, hal ini menuntut sedikit kerelaan untuk melepas nostalgia lama hilang ditelan zaman. Perkembangan memang selalu meminta kerelaan untuk melepaskan kebanggaan masa lalu menjadi arkaik, diawetkan dalam museum kenangan.
note : sumber gambar – KUMPARAN








