KESAH.ID – Pernahkah kita membayangkan bahwa ramalan Nietzsche tentang runtuhnya kompas moral dunia kini sedang berulang di dalam saku celana kita? Lihat saja, bagaimana internet, yang semula dipuja sebagai ‘tuhan’ baru yang maha tahu, kini sedang perlahan menelan dirinya sendiri melalui otomatisasi dan algoritma, membawa kita menuju sebuah era kematian digital yang sunyi.
Frasa “Tuhan sudah mati” adalah salah satu pernyataan paling terkenal sekaligus yang paling sering disalahpahami dalam sejarah filsafat. Friedrich Nietzsche pertama kali memunculkan ungkapan ini dalam karyanya The Gay Science (1882) melalui perumpamaan “Orang Sinting”.
Pernyataan Nietzsche bukanlah pernyataan teologis, melainkan diagnosis sosial-kultural yang dimaksudkan sebagai alarm bagi kebudayaan serta peradaban Barat yang selama ini berpusat pada Tuhan sebagai simbol, tujuan, kebenaran mutlak, serta sumber arah tatanan moral.
Tuhan telah mati artinya kepercayaan terhadap-Nya tidak lagi kredibel di Era Pencerahan akibat kemajuan sains dan pemikiran rasional. Ini bukan berarti iman kepada Tuhan telah punah atau agama tak lagi dianut, melainkan perintah Tuhan tak lagi dijadikan standar utama dalam bertutur, bertindak, dan berperilaku.
Nietzsche kemudian menuliskan bahwa kita semua adalah pembunuh Tuhan. Artinya, manusia sendiri yang menyingkirkan Tuhan melalui skeptisisme, sains, dan sekularisme. Dengan mengejar kebenaran ilmiah, manusia secara tidak sengaja menghancurkan fondasi mistis yang selama ini menopang nilai-nilai hidup mereka.
Jelas Nietzsche tidak merayakan kematian Tuhan; ia bahkan menyampaikannya dengan nada khawatir. Ia ngeri karena tanpa Tuhan, tidak ada lagi standar yang sahih dan kuat tentang apa yang benar dan salah, baik dan buruk. Kondisi ini akan membawa umat manusia ke dalam Nihilisme—sebuah kondisi di mana hidup terasa tidak berarti, hampa, dan tanpa tujuan. Ia meramalkan bahwa abad ke-20 akan dipenuhi perang-perang besar karena hilangnya kompas moral universal ini.
Singkatnya bagi Nietzsche, Tuhan sudah mati berarti sistem nilai lama sudah runtuh dan tidak lagi relevan, namun manusia belum siap menghadapi konsekuensinya. Ini adalah sebuah peringatan sekaligus tantangan bagi manusia untuk menemukan makna hidup tanpa bergantung pada otoritas transenden.
Memasuki tahun 2000-an, muncul “tuhan” baru yakni internet. Internet menyatukan dan menghubungkan dunia, siapa pun, di mana saja, dan kapan saja. Internet memberikan semua jawaban yang diperlukan oleh manusia. Selain maha tahu, ada banyak atribut “maha” lainnya dari internet.
Belum terlalu lama umur internet, namun tanda-tanda “Kematian Internet” sudah datang. Kehadiran internet yang semula mematikan banyak hal, kini mulai menelan dirinya sendiri. Kehadiran AI membuat internet kehilangan autentisitasnya; internet tidak lagi berwatak organik, karena semua ditentukan oleh algoritma dan social engineering berbasis neurosains.
Lihat saja akun-akun media sosial yang linimasanya mulai terasa seragam, kaku, repetitif, dan menimbulkan perasaan asing. Saat ini, internet dipenuhi pola yang serupa: video TikTok dengan narasi suara AI, akun Twitter centang biru yang berkomentar tidak nyambung demi pembagian keuntungan iklan (Ads Revenue Share), hingga gambar aneh di Facebook yang dipenuhi komentar “Amin” dari akun-akun robot. Akunnya mungkin asli, tetapi kontennya dibuat oleh AI dan ditanggapi oleh bot.
Situasi ini sebenarnya sudah cukup lama disampaikan lewat Dead Internet Theory. Teori ini mengklaim internet sebenarnya sudah “mati” sejak 2016 atau 2017. Internet sebagai hutan digital tidak lagi berisi konten organik buatan penggunanya; penguasa internet bukan lagi manusia, melainkan bot dan algoritma. Mereka yang bertekun di internet dengan karya orisinal kini layaknya hewan langka yang sebentar lagi akan punah.
BACA JUGA : Mobil Vietnam
Ketika internet lahir, perubahan terjadi dengan cepat. Internet menjadi penghubung antarmanusia melintasi berbagai batasan yang belum pernah ditembus teknologi sebelumnya. Internet segera berkelindan dengan watak manusia yang ingin cepat tahu dan memberi tahu. Semangat berbagi menjadi faktor utama yang membuat internet tumbuh pesat.
Namun kemudian internet bermutasi ketika mesin berbagi yang autentik itu berubah menjadi mesin uang. Internet memicu apa yang disebut sebagai Attention Economy. Adalah Herbert A. Simon, pakar ekonomi, psikolog, dan peraih Nobel asal Amerika Serikat yang pertama kali mencetuskan hal ini. Konsep tersebut diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1971 dengan judul “Designing Organizations for an Information-Rich World”.
Pemikiran Simon didasari pengamatannya bahwa saat dunia dibanjiri informasi, tantangannya bukan lagi kekurangan data, melainkan keterbatasan manusia dalam memprosesnya. Meski dicetuskan jauh sebelum era media sosial, pemikiran Simon sangat relevan dengan situasi saat ini. Apa yang disampaikannya menjadi fondasi utama untuk melihat fenomena internet terkini, di mana atensi telah menjadi mata uang.
Dengan akun media sosial, seseorang bisa berlimpah uang bukan karena menjual produk, melainkan karena meraup perhatian yang meluap. Demikian juga dengan informasi; karena informasi berlimpah, maka yang bermasalah bukan ketersediaannya, melainkan waktu dan fokus manusia. Merebut fokus menjadi krusial untuk meraih atensi, sehingga waktu akses menjadi tinggi.
Di sinilah algoritma bekerja. Mereka yang terjebak memberi perhatian kemudian “dipenjara” oleh algoritma lewat skema endless scrolling agar tak berpindah hati. Notifikasi bekerja secara agresif untuk terus mempertahankan fokus pada isu tertentu. Platform melakukan profiling terhadap pemakainya dan terus memberikan rekomendasi berdasarkan profil tersebut.
Apa yang hendak ditambang oleh pemilik modal di industri teknologi adalah perhatian; dalam ekonomi atensi, perhatian adalah komoditas langka dan berharga. Internet mampu menjaga upaya penambangan atensi ini secara konsisten karena tidak lagi ditopang oleh manusia yang bekerja siang malam, melainkan oleh sistem otomatis.
Karena perangkat lunak dan cloud tak mengenal lelah, putus asa, atau malas, maka ekonomi atensi bisa berjalan sendiri lewat otomatisasi. Monetisasi menjadi kata kunci. Cita-cita sebagian besar pengguna media sosial adalah mendapat ‘gaji’ dari YouTube, Facebook, TikTok, dan lainnya, atau setidaknya aktivitas tersebut membuka pintu rezeki.
Padahal, tidak semua orang berbakat menarik perhatian. Menarik perhatian secara organik dengan berlaku konyol atau tolol akan dengan cepat ditimpa oleh kekonyolan lainnya; atensinya tak akan bertahan lama. Akibat perebutan perhatian yang sengit ini, muncullah tindakan engagement fraud atau penipuan interaksi.
Trafik internet kemudian dipenuhi aktivitas bot. Seorang influencer bisa saja menjadi “peternak” akun bot yang bereaksi ketika ia dibayar oleh sebuah jenama untuk beriklan. Coba baca reaksi atas unggahan para influencer; akan ada banyak komentar yang terlihat seperti pola template atau tidak relevan dengan konten yang dipublikasikan.
Algoritma memperburuk keadaan dengan mendorong konten sampah yang disukai bot untuk direkomendasikan kepada pengguna manusia. Algoritma sering kali belum bisa membedakan mana interaksi organik dan mana yang artifisial. Masalahnya, platform sendiri tidak mengharamkan pengguna membayar ongkos tertentu agar ditempatkan dalam moda interaksi tinggi. Para kreator membayar platform untuk memperoleh engagement. Makin tinggi targetnya, makin mahal ongkos iklannya.
BACA JUGA : Nggak Lucu
Bagaimanapun, internet dibangun oleh investor yang ingin uangnya berbiak berkali-kali. Kelahiran sebuah teknologi selalu membawa watak yang sama: membunuh teknologi sebelumnya. Sebelum internet hadir, gesekan antar-teknologi tidak pernah seradikal ini dalam menumpas moda arus utama zaman sebelumnya. Internet dengan cepat membunuh hal-hal manual dan analog untuk diganti menjadi digital, virtual, dan daring.
Generasi yang lahir tahun 70-an mungkin menyaksikan kepunahan hayati, namun generasi 90-an menyaksikan kepunahan siaran radio, televisi, koran, majalah, hingga pusat perbelanjaan megah. Internet melahirkan disrupsi total. Cara kerja industri teknologi di ekosistem internet mirip bandar narkoba: membagikan “barang” gratis melalui mode freemium. Siapa pun diberi akses gratis, lalu diminta membayar jika ingin layanan lebih atau terpersonalisasi.
Dengan jangkauan luas hasil fitur gratisan, perusahaan seperti Google dan Meta tumbuh menjadi agensi iklan terbesar, menggulung agensi tradisional hingga membuat dunia penerbitan kelimpungan. Cengkeraman internet sulit dihindari; jika dulu mati air dan listrik membuat hidup sulit, kini mati internet membuat hidup buyar.
Genggaman internet semakin dalam dengan kehadiran AI. Kecerdasan buatan ini memanjakan manusia yang pada dasarnya “dikutuk” untuk malas berpikir. Dimulai oleh OpenAI lewat ChatGPT, AI Generatif tumbuh subur. Bahkan, kini lahir AI Agentic yang membuat manusia semakin terlena dalam kepasifan.
Dalam dunia konten, di mana semua orang mengaku sebagai “konten kreator”, kehadiran AI dianggap sebagai juru selamat. Namun, ia adalah penyelamat yang mematikan karena menumbuhkan akun-akun “zombie” yang mampu memproduksi ratusan konten dalam sekali klik lewat perintah prompt. Kecepatan AI jelas mengalahkan kreator asli yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk riset dan produksi.
AI menjawab kebutuhan manusia yang ingin produktif namun malas. Hasilnya, internet dibanjiri konten sampah (slop), seperti foto AI yang aneh atau video kaku yang tujuannya hanya memancing interaksi bot agar menghasilkan uang dari iklan. Sebagai teknologi, AI punya potensi besar, namun jika digunakan berlebihan oleh mereka yang enggan berpikir, hasilnya akan menghancurkan kepercayaan terhadap platform. Informasi sampah membuat berita atau kisah inspiratif hampir tak bisa dipercaya lagi.
Jika fenomena ini berlanjut, kematian internet tinggal menunggu waktu. Internet akan menjadi biang penipuan, gudang barang palsu, dan rekayasa kotor. The Dark Age of Information telah terbit. Agar tak semakin tenggelam, ketergantungan pada algoritma dan ambisi mengejar FYP atau viralitas mesti dihindari.
Peliharalah kebiasaan mencari informasi secara manual dan lebih hargai karya asli yang memiliki kedalaman emosi serta riset mendalam. Perbanyak waktu untuk berinteraksi langsung secara nyata, bukan hanya asyik dengan gim, slot, atau mencari celah pinjaman daring. Jaga interaksi dalam komunitas, karena itu adalah vaksin untuk menjaga kekebalan kita agar tetap menjadi manusia di tengah dunia internet yang kian otomatis dan robotik ini.
note : sumber gambar – WEBOPEDIA








