KESAH.ID Sebelum saya memilih jalan sunyi melalui tulisan, kamera adalah teman bicara saya yang paling setia. Dari pinggiran sungai Mahakam hingga pulau-pulau di Raja Ampat, terangkum ingatan tentang masa-masa memproduksi dokumenter kampanye, serta refleksi atas fenomena ‘Pesta Babi’ yang memperlihatkan betapa tajamnya jarak antara gembala dan domba di tengah ancaman ekologis.

Saya lebih menyukai film dokumenter atau semi-dokumenter ketimbang fiksi. Kesukaan ini berawal dari kegemaran mengabdikan berbagai hal memakai kamera pinjaman. Ketika mulai membantu program M3 (Multi Media Machine) dari Yayasan Lestari, saya mulai akrab dengan kamera DSLR.

Dalam program itu, salah satu produknya adalah mini dokumenter, tapi saya tidak terlibat langsung karena lebih mengurusi konten publikasi newspaper insert. Namun, saya sudah merasa bahwa kelak video dokumenter akan memiliki prospek besar sebagai alat kampanye publik.

Di Samarinda sendiri, persentuhan dengan audio-visual sebenarnya dimulai dari ruang diskusi di Naladwipa Institute, kemudian di Jatam saat mengadakan kampanye Deadly Coal. Selain mengambil gambar, saya mulai belajar editing menggunakan perangkat lunak Pinnacle. Kelak perangkat ini menjadi andalan saya, meski Adobe Premiere jauh lebih populer.

Tempat nongkrong yang kami sebut Unggas, atau Universitas Gang Sebelas, punya jasa besar menumbuhkan minat pada film. Berbekal kamera besar milik STAIN, muncul niatan membuat film fiksi. Saya menulis skenario berjudul Titik Busuk. Namun, rencana ini ikut “membusuk” setelah 3 atau 4 kali syuting. Membuat film fiksi panjang dengan modal nekat ternyata hanya menyisakan kesia-siaan. Jejak yang tersisa hanyalah unggahan Facebook berupa foto dokumentasi di lokasi syuting yang terlihat meyakinkan.

Meski belajar otodidak, akhirnya ada yang mulai percaya memberikan proyek. Mulai dari proyek kecil bersama Jatam untuk mendokumentasikan aktivitas tambang yang berdampak pada petani di Makroman. Dari proyek gotong royong, kemudian muncul peluang proyek berbayar. Karena portofolio belum meyakinkan, bayaran saat itu ditentukan sepenuhnya oleh pemilik proyek.

Program Pendidikan Politik di Pokja 30 menjadi tempat saya belajar memproduksi mini dokumenter kampanye. Ke mana-mana saya, Burhan, dan Aspi menenteng kamera hingga anak-anak sering memanggil kami “TV Youtube”. Selain klip pendek, program tersebut menghasilkan dokumenter panjang berjudul “Tagih Janji” sebagai elemen pendorong Gerakan Tagih Janji (Gergaji).

Setelah itu disusul produksi lain, seperti Dokumenter Pembelajaran Perubahan Iklim dari DDPI, hingga video tentang Madu Hutan di Berau bersama Jaringan Madu Hutan Indonesia. Di luar itu, saya terus mengasah naluri lewat inisiatif Eli Hasan di Museum Samarinda Bahari, serta proyek home brewing yang membawa saya mendokumentasikan gelombang kopi ketiga di Samarinda bersama Bubuhan Kopi.

Pengalaman paling berkesan tentu saja dokumenter Proyek Pesisir di Raja Ampat. Hampir sebulan saya berkeliling pulau-pulau di sana, setelah sebelumnya hanya sampai di Pulau Jefman, Distrik Salawati. Ngomong-ngomong soal film fiksi, karena laptop saya dicuri, saya mengikuti lomba ide cerita dari KPK. Ternyata terpilih sebagai pemenang dan mendapat hadiah laptop Lenovo. Laptop inilah yang kemudian terus saya “perkosa” untuk tugas berat editing hingga ia menjerit-jerit. Perkenalan dengan Watchdoc membuat perspektif saya tentang dokumenter sebagai alat advokasi semakin menguat.

BACA JUGA : Kematian Internet

Suatu malam saat berada di Taman Lamin Sendawar dalam kegiatan AMAN Kaltim, sebuah pesan masuk meminta saya mengirimkan ide untuk kompetisi dokumenter ICT Watch. Jika terpilih, saya akan mengikuti pembekalan dari Watchdoc. Pesan itu meminta saya menulis ide tentang Gerakan Samarinda Menggugat. Kebetulan, sedari awal saya memang mendokumentasikan inisiasi gerakan ini sejak masih berupa embrio bernama Taman Bercerita.

Singkatnya, saya terpilih bersama rekan-rekan dari Palu, Flores Barat, Aceh, dan Kendeng. Untuk pertama kalinya, saya belajar film dokumenter langsung dari ahlinya, Dandhy Laksono. Dibekali camcorder Sony, saya kembali ke Samarinda untuk memulai produksi, melengkapi gambar, dan wawancara. Klip pilihan beserta skripnya kemudian saya kirim ke Watchdoc untuk disunting. Jadilah sebuah omnifilm berjudul Linimassa III.

Satu hal yang paling saya ingat, Dandhy mengatakan bahwa tidak semua hal penting di daerah harus diserahkan kepada orang Jakarta. Ucapan ini memotivasi saya untuk menggeluti dokumenter lebih serius sekaligus mendorong anak muda untuk menekuninya. Setelah itu, saya terus berkomunikasi dengan Watchdoc dan menjadi kontributor, termasuk mengirim klip yang menjadi bagian dari film Yang Ketujuh.

Saat Dandhy dan Ucok melakukan ekspedisi Indonesia Biru, mereka sempat menginap di rumah saya selama di Samarinda. Dokumenter Indonesia Biru menjadi bahan perbincangan hangat, meski saat itu Kalimantan Timur tidak dibuatkan episode tersendiri. Kelak baru ketahuan bahwa Dandhy menyiapkan “bom” tersendiri, yakni dokumenter berjudul Sexy Killers.

Watchdoc sudah terkenal, namun Sexy Killers membuat audiens mereka meluas drastis hingga dibahas oleh tokoh seperti Deddy Corbuzier. Dandhy semakin kukuh di jalan gerakan, menumbuhkan pembuat dokumenter di daerah melalui kolaborasi. Saya sendiri mulai perlahan menepi dan meninggalkan kamera yang menua. Saya lebih memilih menekuni jalur tulisan—sebuah jalan yang mungkin tak segemerlap audio-visual yang engagement-nya kian meninggi.

BACA JUGA : Cerdas Cermat

Sebaliknya, Dandhy dan Watchdoc kian berkibar. Selain Sexy Killers, ekspedisi kedua bertajuk Indonesia Baru juga meledak, terutama dalam rupa buku berjudul Reset Indonesia. Kali ini Dandhy berkendara motor bersama wartawan senior Farid Gaban. Buku ini ramai dibahas meski di beberapa tempat mendapat tantangan hingga larangan diskusi.

Belum reda perbincangan itu, Watchdoc meluncurkan dokumenter dengan judul yang memikat: Pesta Babi. Saya belum menontonnya meski banyak yang menyangka sebaliknya. Namun, saya tertarik memperbincangkannya, terutama simbol huruf ‘T’ dalam judulnya yang terlihat seperti Salib Merah.

Dalam grup WhatsApp alumni sekolah tinggi yang berkarya di Indonesia Timur, Salib Merah muncul sebagai simbol perlawanan masyarakat di Papua Selatan terhadap proyek investasi yang dipayungi Proyek Strategis Nasional (PSN). Salib Merah mulanya ditancapkan di Boven Digoel, lalu menyebar ke Mappi dan Merauke sebagai penanda perlindungan atas tanah ulayat.

Meskipun menggunakan simbol Kristiani dan sejalan dengan ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus sebagai ajaran resmi gereja, sikap institusi tidak selalu searah dengan umatnya. Kontroversi terjadi di Keuskupan Agung Merauke ketika Uskup Petrus Canisius Mandagi secara terang-terangan mendukung PSN, di saat sebagian umatnya merasa terancam.

Monsinyur Mandagi, seorang biarawan MSC yang semestinya memiliki preferensi membela yang lemah, justru memilih mendukung PSN dengan alasan ketahanan pangan dan peluang kerja. Sikap ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai implementasi Ajaran Sosial Gereja. Salib Yesus adalah simbol penyelamatan, namun kini bagi umat di sana, Salib Merah lebih merupakan simbol keberpihakan dan perlawanan. Salib Merah menegaskan bagaimana para “domba” berjuang sendiri karena “gembalanya” tak lagi berdiri bersama mereka. Agama sebagai institusi memang kerap tampil dengan banyak wajah.

note : sumber gambar – CRCS UGM