KESAH.IDAli Khamenei tewas, namun Iran tak menyerah. Sebaliknya, dunia kini dipenuhi komunikasi manipulatif yang menganggap tragedi sebagai sekadar ‘drama’. Inilah catatan tentang sanksi 40 tahun, serangan udara yang brutal, dan betapa sulitnya mengucapkan kata ‘duka cita’ ketika tangan kita sedang menjabat erat tangan Donald Trump.

Terhitung sudah 40-an tahun Iran diberi sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat. Sanksi ini dijatuhkan pada saat Amerika Serikat dipimpin oleh Jimmy Carter pada November 1979 setelah pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran, atau dikenal dengan peristiwa Krisis Sandera. AS membekukan aset Iran dan memberlakukan larangan impor minyak dari Iran.

Ketika perang Iran-Irak, AS memasukkan Iran sebagai negara pendukung terorisme yang berakibat Iran diberi sanksi oleh lembaga-lembaga keuangan internasional. Embargo berlanjut ketika Bill Clinton memperluas sanksi terhadap Iran dengan melakukan embargo total lewat larangan terhadap perusahaan AS untuk berinvestasi dalam sektor migas di Iran.

Tekanan dari AS belum menurun. Lewat PBB, Amerika Serikat menekan Iran melalui program nuklirnya. Iran dituduh mengembangkan nuklir untuk senjata. Iran terus diperlemah dari sisi keuangan dan kemampuannya untuk mengekspor minyak serta gas. Sanksi sempat melemah ketika perjanjian kesepakatan nuklir ditandatangani. Namun, ketika Donald Trump memimpin Amerika Serikat, ketegangan kembali terjadi. Trump menetapkan kebijakan Maximum Pressure terhadap Iran; semua diembargo oleh Trump. Sangat kelihatan Trump ingin mengganti kekuasaan di Iran.

Sebagai negara yang sangat membela Israel, Amerika Serikat kemudian memang sangat membenci Iran. Iran dibenci karena setelah Revolusi Iran, orientasi politik monarki yang tadinya pro-Barat kemudian berubah menjadi teokrasi yang sangat menentang pengaruh Amerika Serikat dan Barat. Republik Islam Iran kemudian menjadi negara yang sangat menentang keberadaan Israel. Iran menggalang kekuatan di Timur Tengah untuk melawan Israel di saat banyak negara tetangga yang dulu pernah berperang mulai memperbaiki atau menormalisasi hubungan.

Iran aktif membangun aliansi atau jaringan militer untuk mengepung dan memblokade pengaruh Israel. Jaringan ini meliputi Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, Houthi di Yaman, dan berbagai faksi militer di Irak serta Suriah. Jika Iran adalah pohon, rantingnya ada di Lebanon, Gaza, Irak, Yaman, dan juga Suriah. Sejak jatuhnya Shah Mohammad Reza Pahlavi, sejak itu pula Iran memusuhi Israel. Iran menyebut Israel sebagai “Setan Kecil”, sementara setan besarnya adalah Amerika Serikat.

Melalui cabang-cabangnya, Iran menyerang Israel dalam perang asimetris; perang bayang-bayang dengan serbuan siber, serangan kapal di laut, hingga pembunuhan ilmuwan. Konfrontasi langsung terjadi setelah Israel menyerang konsulat Iran di Suriah. Iran membalas dengan menembakkan rudal jarak jauh ke sasaran di Israel, yang kemudian memicu aksi saling balas. Terjadi serangan imbal balik lewat udara yang ditargetkan untuk menghancurkan objek-objek strategis.

Akhir Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan bersama ke wilayah Iran dan menewaskan tokoh-tokoh penting beserta keluarganya; termasuk di antaranya adalah Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Ali Khamenei. Dalam masa berkabung, Iran masih tetap melancarkan serangan balasan kepada Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat yang ada di Timur Tengah.

BACA JUGA : Etanol Nusantara

Sudah banyak yang menduga bahwa Trump akan menyerang Iran. Donald Trump sedang tertekan; apa yang dikampanyekan terhadap rakyat Amerika Serikat mendapat perlawanan dari dalam negeri. Diplomasi tarif yang dilakukan Trump untuk menekan mitra-mitra AS justru ditentang oleh Mahkamah Agung. Keputusan Trump mengenakan tarif pada negara lain dibatalkan. Trump harus mencari cara agar tetap populer. Meski jengkel pada Kanada, tetapi Trump tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan menggunakan peraturan kedaruratan, Trump berusaha memancing simpati warga dengan menangkap Presiden Venezuela. Presiden Maduro dianggap penjahat yang harus diadili di Amerika Serikat. Tanpa menurunkan banyak tentara, AS berhasil membawa Maduro untuk diadili. Setelah itu, Trump tak lagi “cawe-cawe” soal Venezuela. Operasi di Venezuela berbeda dengan di Iran, walau sama-sama ingin menghabisi pemimpin tertinggi. Di Venezuela operasi terlihat ringkas dan cepat, sementara di Iran, serangan dilakukan besar-besaran. Rudal kendali jarak jauh dihamburkan begitu saja.

Serangan ke Venezuela bisa disebut kemenangan karena Maduro berhasil dibawa. Tapi serangan ke Iran, walau menewaskan Ali Khamenei, tidak bisa dikatakan sebagai kemenangan AS dan Israel. Perang jarak jauh tanpa pengiriman tentara darat sulit untuk menyimpulkan siapa yang menang. Yang pasti, semua pihak akan sama-sama menderita serangan.

Entah apa tujuan Trump menyerang Iran; tak mungkin jika hanya bertujuan membunuh Pemimpin Tertinggi. Sebab, walau Ali Khamenei tewas, Iran tak menyerah. Kematian Khamenei juga tidak menumbuhkan minat bagi warga untuk melawan rezim. Masyarakat Iran justru menangisi kepergiannya. Belum ada tanda-tanda munculnya gerakan perlawanan rakyat terhadap penguasa. Kerumunan massa ada di mana-mana, namun untuk menyampaikan duka, bukan untuk menggulingkan pemerintah.

Trump jelas salah jika mengira tewasnya Khamenei akan memicu revolusi internal. Situasi politik Iran tetap stabil. Rakyat Iran sudah terbiasa hidup dalam tekanan, namun tetap tunduk pada pemerintahnya. Kematian Khamenei malah dijadikan bahan bakar untuk semakin kencang melawan. Trump terlalu optimistis menduga kematian ini akan mengubah struktur kekuasaan. Nyatanya, rakyat turun ke jalan hanya untuk menunjukkan duka. Tak mungkin ada yang berani melawan arus air mata masyarakat Iran dengan ajakan kudeta.

Lalu apa tujuan sebenarnya? Israel lebih jelas: bukan soal menang-kalah, melainkan agar Ali Khamenei tiada. Tapi apa untungnya bagi AS? Secara langsung mungkin tidak ada. Tapi dari sisi geopolitik, AS beruntung; ekonomi dunia terguncang dan Dolar menguat. Amerika kembali ditakuti, terlebih dengan presiden seperti Donald Trump.

BACA JUGA : Peluh Di Atas Tanah Luka – Menanam Kedaulatan Di Lubuk Sawah

Rakyat Iran berduka selama 40 hari. Bagaimana dengan dunia? Ternyata tidak banyak kepala negara yang menyampaikan ucapan duka resmi, bahkan negara tetangga sekalipun. Pun demikian dengan negara Eropa mantan sekutu AS. Meski kini tak mendukung serangan tersebut, belum terdengar ucapan duka dari sana. Di media sosial, gunjingan bergulir: Presiden Prabowo belum mengucapkan duka cita. Yang disampaikan Prabowo dan Menlu justru tawaran kesediaan untuk memediasi.

Yang beredar di media sosial justru surat duka cita dari Presiden Megawati; surat panjang dua halaman yang bersifat personal, menceritakan interaksi dengan Ali Khamenei sebagai pengagum Bung Karno. Ini membuat publik bertanya: mana ucapan duka dari Presiden RI saat ini? Nampaknya posisi Presiden Prabowo menjadi sulit. Beberapa hari sebelum serangan, ia bertemu Donald Trump, baik sebagai Presiden AS maupun pemimpin Board of Peace. Artinya, Prabowo berada di gerbong yang sama.

Kabarnya, dalam klausul perjanjian dagang dengan AS, terdapat redaksi yang menyebutkan bahwa apapun yang disukai atau tidak disukai Amerika harus diikuti. Jika AS memandang Iran musuh, maka mitra dagangnya harus ikut membencinya. Intinya, kelakuan AS dan Israel ini membuat banyak pemimpin dunia terjepit. Mungkin Presiden Prabowo tidak akan mengucapkan duka meski jadi gunjingan, sebab di Indonesia pun banyak yang bersorak dengan wafatnya Khamenei.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, Iran bukanlah negara Islam meski namanya Republik Islam. Bahkan ketika Iran dibombardir ribuan rudal, banyak yang menganggap itu hanya drama antara Yahudi dan Syiah. Donald Trump berhasil membuat dunia terjebak dalam situasi berbahaya. Dunia kini dipenuhi ketidakpercayaan dan komunikasi negatif yang manipulatif.

Oh, iya, ternyata Presiden Prabowo akhirnya mengucapkan duka cita dengan mengirimkan surat untuk Presiden Iran. Sepertinya surat itu baru terkirim setelah memastikan bahwa tinta yang digunakan tidak akan membuat Donald Trump tersinggung atau menghapus angka-angka di perjanjian dagang kita. Sungguh sebuah diplomasi yang sangat “damai”: berduka secukupnya, berdagang sebanyak-banyaknya, sambil tetap waspada kalau-kalau drone Trump salah alamat ke Jakarta.

note : sumber gambar – TEMPO