KESAH.ID – Banyak yang bilang mereka gila. Menanam padi di atas tanah keras dengan bekas bongkahan batubara dan laterit yang menambah kesan bekas tambang yang gersang dan masam dianggap sebagai judi yang mustahil menang. Tapi di Lubuk Sawah, Pakde Minto membuktikan bahwa kedaulatan pangan bukan lahir dari selebrasi pejabat, melainkan dari ketekunan menyembuhkan luka bumi.
Jun, mahasiswa ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Kalimantan Timur, tak bisa menyembunyikan ekspresi tak percaya. Baginya, dan bagi sebagian besar warga Kalimantan Timur yang paham cara kerja tanah, menyaksikan lahan di Lubuk Sawah hanya akan memunculkan satu kesimpulan: mustahil untuk ditanami.
Masyarakat awam memang lazim beranggapan bahwa lahan eks tambang adalah lahan yang terluka parah. Aktivitas tambang, terutama jalur koridoran, kerap menyisakan “kiamat kecil” saat ditinggalkan: hamparan tanah gersang, sisa bongkahan batu bara, dan batuan laterit. Kondisinya kering, masam, dan bahkan rumput pun enggan menancapkan akarnya di sana.
Anggapan itu kian kuat karena inisiatif pemulihan lahan eks tambang berlabel “lahan pangan” sering kali hanya sebatas kegiatan selebrasi. Ada upacara tanam perdana, namun tak pernah berlanjut hingga panen. Apa yang ditanam tidak tumbuh, apalagi diurus lebih lanjut.
Maka, ketika Sarminto dan Kelompok Tani Tegalrejo memutuskan untuk “mengayunkan cangkul” di lahan eks tambang Lubuk Sawah, Mugirejo, banyak orang menganggap mereka sedang berjudi. Bahkan, tak sedikit yang menyebut mereka sedang menunjukkan kegilaan.
Memang, seolah hanya orang gila yang mau bertahan menanam di lahan eks tambang. Risiko kegagalannya hampir 100 persen. Modal tenaga dan waktu seolah terbuang percuma ke dalam lubang tanpa ujung.
Namun, Sarminto tidak sedang berjudi. Di tengah kesunyian lahan tandus itu, ia sedang melakukan inovasi bermodal pengetahuan tentang pemulihan tanah serta kemandirian alat produksi pupuk.
Tak jauh dari lokasi tanam, terdapat kandang sapi yang difungsikan sebagai UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik). Sapi-sapi di sana dipelihara bukan semata untuk dikembangbiakkan, melainkan sebagai pabrik pupuk padat dan cair yang menjadi bahan pembenah tanah.
Meski terlihat nekat di permukaan, pria yang akrab disapa Pakde Minto ini memiliki bekal pengetahuan, teknologi, dan sistem untuk memulihkan tanah yang tidak ramah agar kembali produktif. Pakde Minto dan kawan-kawannya tidak sekadar bertani; mereka sedang melakukan langkah sunyi untuk melawan kerusakan ekologi akibat tambang.

BACA JUGA : Pecah Ban

“Hampir tiga tahun kami beraktivitas di sini, dengan semua suka dukanya. Dan lihat, kini lahan ini sudah bisa ditumbuhi jagung, pepaya, melon, bahkan padi ladang,” terang Pakde Minto.
Padi ladang yang jarang ditemui di Kota Samarinda ini bukanlah sebuah keajaiban mistis. Padi tersebut tumbuh berkat inovasi pemulihan tanah berbasis masyarakat yang dipraktikkan oleh Kelompok Tani Tegalrejo.
Percakapan dengan Pakde Minto mengenai produktivitas lahan ini kerap diwarnai istilah spiritualitas. Ia memiliki penghayatan bahwa petani adalah penjaga tanah dan air. Meski begitu, bekal teknis tetap menjadi kunci agar inovasi ini bisa direplikasi di tempat lain.
“Ini laboratorium kami,” ujar Pakde Minto. “Sambil bertanam, kami catat tiap langkah dan hasil pengamatannya. Sehingga nanti akan lahir SOP tentang cara memulihkan lahan eks tambang menjadi lahan pertanian,” terangnya lebih lanjut.
Saat ditanya rahasia keberhasilannya, Pakde Minto menjawab singkat, “Jangan bergantung pada pemerintah.”
Ya, Pakde Minto dan kawan-kawannya tidak berkampanye untuk menggaet dukungan. Padahal, aksi mereka sangat potensial untuk ditunggangi demi pencitraan CSR perusahaan tambang. Meski begitu, ia tak menampik jika ada pihak yang ingin membantu.
“Jika pemerintah mau membantu, kami terbuka. Tapi jangan pengaruhi kami untuk memulihkan lahan dengan cara atau agenda mereka,” tegasnya. Jika pihak luar bersikeras, Pakde Minto menantang untuk membandingkan dua model: model mereka versus model Kelompok Tani Tegalrejo. “Kami siap dibandingkan.”

BACA JUGA : Etanol Nusantara

Secara swadaya, Kelompok Tani Tegalrejo menyusun formula sendiri. Berbagai eksperimen dilakukan untuk menjinakkan tanah yang keras, masam, dan miskin mikroorganisme.
Sebagian Jurnalis Warga yang berkunjung pun tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. “Ada padi tumbuh di kebun!” seru beberapa dari mereka, generasi yang mungkin tak pernah mengenal informasi tentang padi gogo.
Di lahan eks tambang itu, Pakde Minto sedang bereksperimen dengan padi ladang jenis Serai yang memiliki masa tanam lebih pendek. “Pada umur sekitar dua bulan, tanaman sempat menguning semua. Mulanya kami kira kurang nutrisi, ternyata kurang air. Begitu hujan turun dan diberi pupuk ekstra, sebagian bisa pulih,” jelasnya.
Sambil mengajak Jurnalis Warga melihat tanaman padinya dari dekat, Pakde Minto menerangkan tantangan pemulihan lahan. “Perlakuan serupa ternyata tak selalu menghasilkan hasil yang sama. Di titik ini subur, di titik lainnya merana,” tuturnya sembari menunjukkan perbedaan fisik tanaman di dua blok yang berbeda.
“Sebulan lagi akan panen, semoga tidak diserang hama,” harapnya. Hamparan padi yang tak terlalu luas memang rawan; saat malai mulai keluar, burung-burung datang menghisap sarinya, menyisakan bulir cokelat yang kopong. Pakde Minto dibantu istrinya harus bekerja ekstra mengusir burung demi menyelamatkan bulir padi yang mulai menua.
Pondok sederhana mereka kini bukan sekadar tempat berteduh dari terik mentari atau guyuran hujan. Pondok itu telah menjadi pusat gravitasi yang menarik siapa pun yang peduli lingkungan untuk datang berkunjung.
“Jangan terlalu berharap pada hasil cepat. Menanam di lahan eks tambang adalah soal menikmati proses pemulihan,” pungkas Pakde Minto sembari menjerangkan kopi untuk para tamu.
Keberhasilan Kelompok Tani Tegalrejo mengirimkan pesan kuat: bahwa kedaulatan pangan dan transisi energi yang adil harus dimulai dari tangan-tangan rakyat yang mau menyentuh tanah. Di Lubuk Sawah, mereka telah mengubah “luka bumi” menjadi ruang diskusi yang hidup. Di tangan mereka, kegilaan telah berubah menjadi harapan yang ranum di tengah narasi pemulihan lahan yang sering kali minim bukti.
Penulis : Herliyana
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Herliyana









