KESAH.ID – Sepak bola di Indonesia selalu melampaui batas olahraga: Gus Dur dan Sindhunata menulisnya sebagai refleksi politik dan budaya, sejarah Ramang dan generasi emas jadi mitos, harapan baru muncul lewat Shin Tae-yong dan naturalisasi namun meredup setelah pergantian pelatih, sementara pengamat sok iye menjadikan Piala Dunia 2026 penuh isu konspirasi dan kontroversi VAR; pada akhirnya, meski Indonesia tak pernah lolos ke Piala Dunia, publik tetap menemukan panggung lewat komentar dan talkshow yang lebih mirip drama daripada diskusi olahraga.
Kita pernah mempunyai seorang presiden yang fasih berbicara soal sepak bola, Gus Dur atau Abdurrahman Wahid. Gus Dur rajin menuliskan peristiwa demi peristiwa dalam dunia sepak bola mulai 1982 hingga 2000. Tulisan berserak di pelbagai media cetak, seperti Tempo, Kompas, Tabloid Bola hingga Suara Pembaruan. Tulisan-tulisan Gus Dur itu kemudian diterbitkan menjadi buku pada tahun 2014 oleh Imtiyaz, Surabaya dengan judul Gus Dur dan Sepakbola.
Nama lain yang tak kalah fasih bicara soal sepak bola adalah Sindhunata. Dalam urusan sepak bola, Romo Sindhu sering menuliskannya di Kompas. Tulisan-tulisannya kemudian dirangkum dalam trilogi berjudul Bola di Balik Bulan, Bola-bola Nasib, dan Air Mata Bola.
Di tangan kedua sosok ini, sepak bola tidak dipandang sekadar sebagai salah satu cabang olahraga. Di balik riuh dan hiruk pikuk permainan bola, dukungan pada tim kesayangan, fanatisme termasuk segala kericuhannya, sepak bola ternyata menyimpan berbagai hal: politik, ekonomi, sosial, budaya, sains, filsafat hingga spiritualitas maupun agama.
Satu hal yang menarik, ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden, Sindhunata tiga hari kemudian menulis di kolom Kompas dengan judul Kesebelasan Gus Dur. Dalam tulisannya Romo Sindhu menyinggung situasi perpolitikan hingga krisis yang tengah dihadapi Indonesia. Sindhunata menulis kolomnya untuk menghadapi momentum Gus Dur yang tengah menyusun kabinet.
Ketika Gus Dur berhadapan dengan Pansus DPR RI terkait kasus Bulog, Sindhunata kembali menulis artikel di Kompas dengan judul ‘Catenaccio’ Politik Gus Dur. Memakai model bertahan ala Italia itu, Sindhu mengkritik cara Gus Dur yang cenderung defensif dan mengerendel lawan. Gus Dur menanggapi tulisan itu dengan artikel berjudul ‘Catenaccio’ Hanyalah Alat Belaka.
Di tengah euforia Piala Dunia yang kini lebih ramai dalam podcast dan streaming pengamat di Indonesia, mengenang Gus Dur dan Romo Sindhu menimbulkan kerinduan tersendiri.
Tentang sepak bola, setiap kali menjelang Piala Dunia, euforia masyarakat Indonesia selalu mengarah ke masa lalu, masa yang dianggap sebagai keemasan. Pada 1950-an kita pernah punya generasi emas: Ramang dan kawan-kawan. Tim ini mencatat sejarah sebagai tim Asia pertama yang lolos ke kualifikasi Piala Dunia 1958, namun kemudian mundur karena alasan politik. Kenangan itu menjadi mitos besar dalam sejarah sepak bola Indonesia, yang belum bisa diulang hingga sekarang.
Asa itu mulai muncul kembali ketika Shin Tae-yong ditunjuk sebagai pelatih. Kehadirannya membawa disiplin ala Korea, strategi modern, dan semangat baru yang membuat timnas tampil lebih percaya diri. Memori kejayaan Ramang dkk terus hidup dalam imajinasi publik. Setiap kali timnas tampil baik, bayangan masa lalu itu kembali muncul, membangkitkan harapan bahwa Indonesia bisa mengulang sejarah.
BACA JUGA : Visi Ekologis Green Jobs Dari Loa Ipuh Darat
Asa keikutsertaan Timnas Indonesia dalam Piala Dunia menguat saat kebijakan naturalisasi besar-besaran diterapkan. Banyak pemain keturunan Belanda memperkuat skuad Garuda. Bertabur pemain naturalisasi, Timnas Garuda sempat disebut sebagai “Tim Belanda rasa Asia Tenggara.” Stadion selalu penuh jika tim ini bertanding, nonton bareng diselenggarakan di mana-mana termasuk di kantor pemerintah. Jersey pun laris manis, dan masyarakat sepak bola Indonesia mulai berani bermimpi bahwa Indonesia akan lolos ke Piala Dunia.
Namun asa itu perlahan meredup ketika Shin Tae-yong digantikan oleh Patrick Kluivert, legenda Belanda yang datang dengan reputasi besar tetapi gagal menjaga momentum. Publik merasa kehilangan arah, dan mimpi lolos ke Piala Dunia kembali menjauh. Pergantian pelatih ini menjadi titik balik: dari euforia menuju kekecewaan, dari harapan menuju skeptisisme.
Meski Indonesia tak pernah lolos lagi ke Piala Dunia, pengamat sepak bola dan komentator selalu punya panggung. Talkshow sepak bola menjadi arena di mana mereka tampil penuh percaya diri, membicarakan isu-isu besar seolah-olah paling tahu seluk-beluk sepak bola dunia dari A-Z.
Salah satu isu yang paling ramai diperbincangkan adalah konspirasi dalam Piala Dunia tahun ini. Menurut para pakar bola Indonesia, Piala Dunia kali ini adalah last dance untuk Cristiano Ronaldo dan Messi, seolah didedikasikan bagi keduanya. Final impian Argentina vs Portugal disebut-sebut sudah dituliskan sebelum bola bergulir.
Untuk memperkuat tuduhan konspirasi ini, Messi yang tampil gemilang dituduh mendapat keistimewaan dari wasit. Pelanggaran yang ia lakukan tidak diganjar hukuman. Tuduhan juga diarahkan kepada Amerika Serikat sebagai penyelenggara, dianggap mengintimidasi tim-tim dan wasit dari negara yang tidak disukainya. Salah satu korbannya disebut Timnas Iran yang dibuat lelah dengan interogasi sebelum masuk ke Amerika Serikat.
Selain konspirasi, pengamat Indonesia juga menyoroti kontroversi VAR. Mereka menganggap wasit terlalu bergantung pada VAR, dan teknologi itu bukan alat keadilan melainkan instrumen manipulasi. Konspirasi dan kontroversi yang menyelimuti Piala Dunia 2026 kemudian dijadikan bumbu oleh para pengamat, termasuk yang dadakan. Talkshow tentang Piala Dunia pun lebih mirip drama ketimbang diskusi olahraga.
BACA JUGA : Cabo Verde
Menjamurnya pengamat sepak bola yang sok iye sebenarnya bisa jadi hiburan tersendiri. Menyenangkan menonton seseorang yang begitu percaya diri merasa paling tahu, paling kritis, dan paling berhak menilai. Alih-alih bergaya akademis kritis, para pengamat dadakan lebih sering tampil sensasional daripada substansial.
Tak apa-apa, toh FIFA sendiri sebagai penyelenggara juga tak lepas dari demam attention economy. Ini memang zamannya perhatian menjadi cuan, maka diskusi harus penuh drama dan emosi. Jika tidak, talkshow terasa hambar.
Di sisi lain, akrobat para pengamat sepak bola Indonesia barangkali merupakan pelepasan atas segala tekanan dan kekecewaan. Model naturalisasi yang ternyata tak bekerja dengan baik di Indonesia justru berhasil membawa Tanjung Verde ke Piala Dunia. Mereka lolos babak grup dan berhadapan dengan Argentina, pulang dengan dada membusung karena berhasil merepotkan Messi dan kawan-kawan.
Namanya bicara tentu bebas saja. Pengamat bebas menilai Amerika Serikat sebagai penyelenggara yang berusaha mempengaruhi FIFA, mencampuradukkan olahraga dengan politik. Sekali lagi tak apa-apa, walau sebenarnya menjelang Pemilu 2024 kita juga melakukan hal yang sama. Rencana kedatangan Timnas Isreal Junior kita tolak mentah-mentah. Ganjar Pranowo sebagai calon presiden bahkan kena dampaknya karena berusaha demokratis, akibatnya Ganjar tak populer dan kemudian kalah tragis dalam pemilu.
Masyarakat sepakbola Indonesia memang pantas kecewa, dengan kepercayaan bahwa sepakbola lebih populer di Indonesia ketimbang Amerika Serikat ternyata negeri Paman Sam jauh lebih sering ikut piala dunia.
Di negeri yang menyebut sepakbola dengan sebutan soccer dan bola tangan sebagai American Footbal juga telah dua kali menjadi penyelenggara piala dunia.
Maka tak ada cara lain bagi publik sepakbola Indonesia terutama para pengamat dan komentatornya untuk menjadi juara di luar panggung Piala Dunia, tidak apa-apa tak ikut bertanding yang penting ramai berkomentar.
note : sumber gambar – SMBTELKOM.PURWOKERTO








