KESAH.IDTransformasi komoditas arang halaban premium dimulai dari Loa Ipuh Darat, Kutai Kartanegara, dari sekadar industri rumahan menjadi produk ekspor bernilai tinggi ke Timur Tengah. Mempunyai akar sejarah teknik Binchotan sejak era pendudukan Jepang di Banjarbaru, arang kayu halaban bisa menjadi perwujudan visi ekologis transisi energi berbasis green jobs. Melalui integrasi budidaya pohon pionir Vitex pinnata di lahan bekas galian tambang batu bara, produksi arang kayu halaban menawarkan jalan untuk pemulihan ekosistem Kalimantan Timur dan kedaulatan ekonomi warga lokal yang mestinya dimulai dari hal paling dekat: api tungku dan meja makan kita sendiri.

Sama sekali tidak ada aroma pekat kayu terbakar yang menyengat hidung begitu kaki menyambangi lokasi pembuatan arang kayu halaban ini. Tempatnya tersembunyi, berada tak jauh dari riuh jalur logistik jalan poros Kutai Kartanegara – Kutai Barat.

Di sebuah kawasan sunyi yang dikepung keheningan di Loa Ipuh Darat, juga tak nampak kepulan asap hitam yang biasanya mengotori udara. Alih-alih polusi, pandangan mata justru akan tertambat pada struktur-struktur unik nan magis yang menyembul dari dalam tanah. Bentuknya melengkung kokoh dan simetris, sekilas menyerupai cangkang kura-kura raksasa purba, atau justru lebih mirip dengan arsitektur igloo—rumah tradisional suku Eskimo di kutub utara. Inilah tungku kubah (dome kiln), laboratorium alam tempat di mana magis pirolisis dan karbonisasi mengubah batang kayu keras hutan sekunder menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi di pasar internasional.

Proses arsitektural pembuatan tungku bumi ini adalah sebuah kerja presisi yang mengombinasikan kalkulasi dan intuisi fisik. Tanah mula-mula digali sedalam satu meter dengan diameter melingkar yang lapang mencapai 3 hingga 4 meter. Di dalam ruang bawah tanah itulah, potongan-potongan kayu halaban (Vitex pinnata atau yang secara lokal di Kalimantan akrab disebut leban atau alaban) disusun secara tegak, rapat, dan presisi. Susunan ini dibuat menjulang membulat ke atas hingga menyembul keluar sekitar 2 meter dari batas permukaan tanah galian.

Untuk memicu lidah api pembakaran awal di bagian puncak, permukaan atas susunan kayu halaban tersebut ditutupi dengan serpihan kayu ulin yang kaya minyak, potongan kayu karet, serta taburan serbuk gergaji sebagai penyulut umpan api.

“Kunci utama dari seluruh keberhasilan proses karbonisasi ini sebenarnya bukan pada apinya, melainkan ada pada selimutnya,” ujar Reza Karta Pahlevi (39), pria berwajah tenang yang mengomandoi bengkel kerja sunyi di pedalaman Kutai ini.

Selimut yang dimaksud oleh Reza adalah lapisan tanah pilihan dengan ketebalan konstan berkisar antara 25 hingga 30 sentimeter yang membungkus rapat seluruh tumpukan kayu raksasa tersebut. Tanah yang digunakan untuk menyelimuti kayu dan membentuk struktur kubah penahan panas ini sama sekali tidak bisa menggunakan sembarang tanah hara atau tanah permukaan biasa.

Di lokasi pembuatan arang milik Reza, material yang dipilih secara khusus adalah sejenis tanah merah lokal yang berkarakteristik lempung berkerikil.

Karakteristik unik inilah yang membuat tanah merah berkerikil tersebut menjadi sangat solid saat dipadatkan, memiliki porositas yang sangat minim, serta dianugerahi kemampuan termal yang luar biasa untuk meredam sekaligus memerangkap hawa panas api agar terisolasi sempurna di dalam perut tungku.

Setelah kubah tanah merah terbentuk secara padat, halus, dan dipastikan kedap udara, barulah api dinyalakan dari lubang kontrol. Segera setelah pembakaran awal stabil, mulut tungku langsung dikunci rapat menggunakan susunan bata merah, dan seluruh permukaan luar dinding kubah dilumuri kembali dengan pasta abu tebal bekas pembakaran sebelumnya. Pelumuran abu ini berfungsi sebagai segel pamungkas untuk menutup pori-pori mikroskopis sekecil apa pun yang tersisa pada dinding tanah.

Struktur kubah tanah merah berkerikil ini tidak hanya menjamin kayu halaban mengalami proses pirolisis—yakni pembakaran lambat bersuhu tinggi tanpa pasokan oksigen—secara sempurna, tetapi juga berfungsi sebagai aset investasi produksi jangka panjang. Dinding laterit yang mengalami pemanasan ekstrem secara konstan ini lama-kelamaan akan mengeras layaknya tembikar atau batu bata bakar. Karakter fisiknya menjadi sangat kuat, rigid, dan tidak mudah runtuh atau retak saat arang matang dibongkar dan dipanen. Alhasil, satu struktur kubah kura-kura ini bisa digunakan kembali secara aman hingga 5 sampai 6 kali siklus pembakaran berikutnya tanpa perlu membangun ulang dari awal.

Reza Karta Pachlevi menjadikan workshop pembuatan arang kayu halaban sebagai ruang belajar bagi siapapun yang ingin mempelajari pembuatan arang atau yang ingin memulai bisnis arang kayu halaban

BACA JUGA : Eropa Mendidih

Pekerja terampil di workshop ini diboyong dari Kalimantan Selatan, diharapkan mereka akan menularkan ketrampilan dalam pembuatan arang kayu halaban pada warga setempat.

Proses pengarangan komoditas premium ini jelas bukanlah sebuah bidang pekerjaan yang tepat bagi mereka yang berkarakter tidak sabaran atau menyukai hasil instan. Selama rentang waktu 15 hingga 20 hari lamanya, tungku cangkang kura-kura yang membara di dalam tanah ini harus terus dipantau dan “didengarkan” perilakunya siang dan malam tanpa jeda sedetik pun.

Para pekerja yang berjaga dituntut memiliki kejelian sensorik yang tinggi dalam membaca arah dan karakter kepulan asap yang keluar dari celah kontrol kecil. Jika muncul retakan sekecil rambut saja pada dinding tanah merah akibat pemuaian panas, udara luar yang kaya oksigen akan langsung menyusup masuk ke dalam ruang pirolisis. Masuknya oksigen secara liar ini adalah bencana; ia akan merusak rantai karbonisasi dan mengubah batang-batang kayu halaban yang berharga itu menjadi arang yang rapuh, hancur, atau bahkan musnah menjadi tumpukan abu putih yang tak memiliki nilai ekonomi sama sekali.

Namun, jika ritual pembakaran panjang itu berjalan mulus dan proses karbonisasinya sukses total, maka satu tungku kubah tanah merah ini mampu memuntahkan sekitar 2 ton arang berkualitas tinggi yang lolos kurasi ketat sebagai arang Grade A. Ciri fisik utama dari arang premium yang mengagumkan ini adalah kondisinya yang kering mutlak (zero moisture), bobotnya ringan namun solid, serta sama sekali tidak mengotori telapak tangan dengan jejak jelaga hitam saat dipegang langsung. Lebih unik lagi, jika dua potong arang halaban ini diketuk-ketukkan satu sama lain di udara, mereka tidak akan mengeluarkan bunyi berat kayu patah, melainkan menghasilkan bunyi denting yang nyaring dan jernih mirip benturan dua keping keramik atau porselen.

Teknik pembakaran lambat dengan suhu tinggi yang dikontrol secara presisi di dalam tanah ini sebenarnya memiliki akar sejarah dan antropologis yang panjang di lanskap Kalimantan. Kebudayaan manufaktur arang bumi ini bermula pada era pendudukan militer Jepang di wilayah Kalimantan Selatan pada masa Perang Dunia II. Kala itu, pemerintah tentara Jepang mendorong sekaligus memobilisasi masyarakat di kawasan Banua untuk memproduksi arang dalam skala industri massal demi mencukupi kebutuhan bahan bakar logistik perang mereka.

Dalam masa kelam itulah, pihak Jepang memperkenalkan dasar-dasar teknik pembuatan Binchotan—yakni arang putih legendaris khas Jepang yang terkenal di dunia kuliner internasional karena memiliki persentase kandungan karbon terikat (fixed carbon) yang sangat tinggi, tahan lama, dan sepenuhnya bebas asap polusi saat dibakar kembali.

Pada awal mula perkembangannya di tanah borneo, arang kayu halaban hasil adopsi teknik Jepang ini diproduksi massal untuk memenuhi kebutuhan vital para pandai besi lokal sebagai bahan bakar tempa senjata dan alat pertanian, karena karakteristik apinya mampu menghasilkan suhu panas yang stabil, bersih, dan sangat tinggi. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, pemanfaatan arang premium ini bergeser untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik dan kuliner sehari-hari. Hingga detik ini, episentrum dan sentra produksi tradisional terbesar untuk arang halaban masih tetap bertumpu di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Namun, dalam kurun beberapa tahun terakhir, radar industri biomassa ramah lingkungan ini perlahan mulai bergeser ke arah utara, merambah subur dan luasnya hamparan hutan sekunder di wilayah Kalimantan Timur. Di kawasan Loa Ipuh Darat, Kutai Kartanegara, Reza Karta Pahlevi menangkap adanya peluang ekonomi dan ekologis yang luar biasa besar dari melimpahnya tegakan pohon pionir yang selama ini sering dianggap remeh oleh industri kayu besar.

Berbekal modal tekad yang kuat, riset mandiri, serta pemahaman yang komprehensif mengenai regulasi perdagangan ekspor, Reza mengambil langkah berani dengan memboyong 4 orang pekerja terampil asli dari Kalimantan Selatan untuk bermigrasi dan menetap bersamanya di Kutai Kartanegara.

“Ketersediaan sumber daya manusia lokal yang benar-benar paham detail, dinamika, dan intuisi seni karbonisasi halaban di Kaltim ini memang diakui masih sangat langka dan terbatas. Saya sengaja membawa empat orang ahli ini langsung dari Kalsel karena keahlian, kejelian mata, dan intuisi mereka dalam membaca perubahan warna serta arah asap dari tungku tanah itu adalah keahlian rasa yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin komputer mana pun,” jelas Reza sembari tangannya menunjuk deretan tungku kubah yang berjejer rapi di area kerjanya.

Dari balik bedeng sunyi yang bersahaja di tanah Kutai inilah, arang-arang Grade A hasil remasan keringat dan keahlian mereka diam-diam telah mengarungi samudera luas, masuk ke dalam kontainer-kontainer ekspor menuju pasar Timur Tengah, khususnya hotel-hotel mewah di Arab Saudi, dan kini lini bisnisnya tengah bersiap melakukan ekspansi pasar untuk menembus regulasi ketat di negara-negara Eropa.

Salah satu ciri arang premium atau Grade A adalah tidak meninggalkan bekas hitam di tangan setelah memegangnya.

BACA JUGA : Petik Melon

Untuk kebutuhan ekport ternyata arang kayu halaban hanya dikemas sederhana, dimasukkan ke dalam karung dan kemudian siap dikirim dengan kontainer.

Bagi seorang Reza, urusan memproduksi arang halaban ini sama sekali bukan sekadar tentang kalkulasi angka di lembar invoice kontainer ekspor, atau tentang seberapa besar margin keuntungan riyal yang ia raup dari pasar Arab Saudi. Di balik aktivitas bisnisnya, ada sebuah kegelisahan komunitarian yang mendalam serta visi pelestarian lingkungan jangka panjang yang ingin ia urai dan tawarkan di atas tanah Kalimantan Timur yang telah banyak terluka oleh eksploitasi ekstraktif.

“Permintaan dari para buyer di pasar ekspor itu sejujurnya sangat besar dan kapasitas produksi kami saat ini selalu kekurangan. Kalau ada tambahan modal dan kesempatan, visi saya adalah ingin terus memperluas skala produksi ini dengan membangun lebih banyak lagi klaster tungku pembakaran sejenis di beberapa titik wilayah baru di Kaltim,” ungkapnya dengan nada optimis yang terukur.

Rencana ekspansi bisnis ini dirancang berjalan beriringan dengan harapannya untuk melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge) secara nyata kepada pemuda setempat. Dengan memosisikan workshop sunyinya sebagai pusat pelatihan kerja mini, Reza berharap para pekerja lokal asli Kalimantan Timur dapat menyerap secara langsung ilmu spiritual karbonisasi dari para perajin senior asal Kalsel tersebut. Langkah konkret ini diharapkan tidak hanya mampu mencetak generasi baru tenaga ahli di bidang biomassa berkelanjutan, melainkan juga sekaligus membuka kran lapangan kerja hijau (green jobs) bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lingkar industri galian.

Visi ekologis jangka panjang Reza bahkan melompat jauh melampaui pakem bisnis arang konvensional. Jika industri arang kayu selama ini sering kali dicap buruk oleh para aktivis lingkungan sebagai salah satu pemicu deforestasi dan kerusakan hutan, maka di tangan dingin Reza, rantai hulu produksinya justru dirancang untuk berputar secara berkelanjutan melalui konsep sirkular ekonomi.

Pohon halaban (Vitex pinnata) secara biologis adalah sejenis tanaman pionir sejati—sebuah pohon pelopor yang dikaruniai ketangguhan luar biasa oleh alam. Pohon ini memiliki daya adaptasi dan sintasan (survival rate) yang sangat tinggi terhadap kondisi lanskap tanah yang telah rusak atau kritis. Ia sanggup bertahan hidup, tumbuh subur, dan berkembang biak dengan cepat di lahan terbuka yang gersang, miskin unsur hara, bahkan di atas permukaan topografi tanah yang berbatu-batu sekalipun.

Melihat karakteristik biologis unggul tersebut, Reza telah menyusun rencana strategis untuk mengintegrasikan unit usahanya dengan program rehabilitasi lahan pascatambang. Ia kini mulai bergerak aktif mengajak masyarakat lingkar tambang, pemuda karang taruna, dan kelompok tani lokal untuk membudidayakan pohon halaban secara massal di area-area bekas galian tambang batu bara yang banyak menganga dan telantar di seantero Kaltim.

Menjadikan tanaman halaban sebagai komoditas utama dalam program revegetasi lahan eks-tambang tidak hanya akan memulihkan struktur ekosistem mikrobiologi tanah yang rusak secara alami, tetapi juga sekaligus menciptakan sebuah siklus ekonomi baru yang berkeadilan: warga lokal menanam pohon untuk memulihkan bumi mereka yang rusak, dan kelak dalam beberapa tahun, ranting serta kayunya dapat dipanen kembali secara selektif sebagai bahan baku utama penyuplai industri arang premium milik mereka sendiri.

Di ujung obrolan sore yang mulai temaram itu, sambil memandangi deretan tungku kubah tanah merah yang dinding luarnya sebagian masih memancarkan hawa hangat sisa pembakaran, Reza melontarkan sebuah refleksi filosofis yang mendalam tentang esensi transisi energi, yang menurutnya bisa dimulai dari ruang paling intim di rumah kita: meja makan sendiri.

Menurut pandangannya, diskursus mengenai transisi energi bersih tidak harus selalu melulu terjebak pada perdebatan teknologi tinggi berskala mega-proyek yang mahal, rumit, dan harus diimpor dari luar negeri. Transisi itu sesungguhnya bisa dimulai dari langkah-langkah kultural yang kecil di dapur rumah, seperti membiasakan kembali penggunaan arang biomassa berkualitas tinggi sebagai bahan bakar selingan pendamping gas elpiji, khususnya untuk memasak hidangan-hidangan lokal tertentu.

“Tanpa kita sadari, generasi masyarakat kita hari ini mulai kehilangan ingatan dan melupakan cita rasa otentik dari ragam masakan lokal yang dimasak perlahan di atas bara arang. Kita sudah terlalu nyaman dan dimanjakan dengan budaya mengolah makanan serba cepat seperti menggoreng dan menumis menggunakan minyak dan gas, yang jika ditarik garis sejarahnya sebenarnya bukan akar kebudayaan kuliner asli nusantara. Memasak lambat (slow cooking) dengan memanfaatkan radiasi panas stabil dari bara arang adalah warisan leluhur kita,” pungkas Reza sembari tersenyum.

Dari dalam kegelapan perut bumi Loa Ipuh Darat, arang halaban telah menuntaskan tugas pembuktiannya: ia adalah wujud nyata dari kapsul waktu purba Kalimantan yang kini menjelma menjadi energi bersih masa depan, siap menyembuhkan luka-luka tanah bekas galian sekaligus menyalakan kembali api kedaulatan ekonomi di tangan warga lokal sendiri.

Penulis : Wahyu Musyifa

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Gambar : Wahyu Musyifa