KESAH.IDSelama puluhan tahun, Kalimantan Timur dinarasikan melalui gemerlap komoditasnya—terutama batubara yang menghidupkan tangki-tangki industri dunia. Namun, ketika sirine eksploitasi mulai surut dan menyisakan ribuan lubang maut, kita dipaksa menghirup kenyataan pahit. Ini adalah sebuah catatan perjalanan personal; tentang ilusi kemakmuran masa kecil, keteguhan seorang petani di atas tanah yang divonis mati, dan sebuah gugatan moral bahwa ketika gaji besar tak lagi cukup untuk menutup luka, transisi energi yang berkeadilan harus segera dimulai.

Masa kecil saya di Kalimantan Timur berkelindan erat dengan aroma solar, deru mesin raksasa, dan sisa katering yang dibawa Ibu pulang ke rumah. Bagi anak-anak seusia saya waktu itu, bekerja di sektor pertambangan batubara adalah puncak dari segala definisi “keren”. Seragam lapangan yang gagah, kendaraan setinggi rumah, dan yang paling membekas di ingatan: dompet tebal dengan nominal gaji yang fantastis.

Setiap kali Ibu pulang dari pekerjaannya menyediakan katering untuk para kru tambang, beliau selalu membawa cerita-cerita hangat. Tentang keramahan para pekerja, tentang peluh yang bercucuran di bawah terik matahari, dan bagaimana emas hitam itu berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.

Bagi saya saat itu, batubara adalah kebanggaan. Ia mewakili jaminan masa depan dan pintu rezeki yang tak pernah mengetuk kata tutup. Saya tumbuh dalam kepungan narasi tunggal: tambang adalah kemajuan, batubara adalah energi yang menghidupkan dunia, dan daerah kita adalah pahlawannya. Semuanya tampak baik-baik saja.

Tak pernah sekalipun terlintas di kepala saya bahwa warna biru kehijauan yang cantik itu adalah pekatnya konsentrasi asam dan logam berat. Saya tidak pernah tahu tanah di sekelilingnya telah bertahun-tahun dikuras hingga kehilangan seluruh denyut haranya—menjadi tanah yang “mati”. Di balik gemerlap kemakmuran semu itu, ada luka yang menganga sangat dalam di sekujur tubuh bumi Kalimantan.

Instalasi pembuatan pupuk cair, sebagai bahan untuk pemuat pestisida, herbisida dan fungisida alami

BACA JUGA : Ketahanan Pangan atau Pengahncuran Hutan? Food Estate yang Tak Terbicarakan

Pemeliharaan sapi di kandang yang difungsikan sebagai pabrik pupuk

Waktu berjalan, usia membawa pengertian, dan kenyataan memaksa saya untuk membuka mata. Sisi romantis industri ekstraktif itu runtuh ketika saya mulai menyaksikan langsung ribuan lubang menganga yang ditinggalkan begitu saja. Tanpa pagar pembatas, tanpa papan peringatan, jauh dari kata reklamasi.

Di tengah rasa frustrasi melihat bentang alam yang bopeng, takdir membawa langkah kaki saya ke kawasan Lubuk Sawah, Samarinda. Di sana, saya menemui riak kecil gerakan yang menolak pasrah pada kehancuran.

Saya bertemu dengan Sarminto, atau yang akrab disapa Pakde Minto. Bersama Kelompok Tani Tegalrejo, pria paruh baya ini memilih jalan sunyi yang oleh banyak orang dianggap sebagai tindakan “gila”: mengayunkan cangkul dan menanam kehidupan di atas lahan bekas tambang.

Tanah yang dihadapi Pakde Minto adalah mimpi buruk bagi petani mana pun. Keras, masam, gersang, dan dipenuhi sisa bongkahan batubara serta laterit. Jangankan padi, rumput liar pun enggan menancapkan akarnya di sana. Namun, Pakde Minto datang bukan untuk berjudi nasib. Ia membawa pengetahuan, metode, dan konsistensi.

Ketika saya berdiri di tepi ladang itu, rasa skeptis saya luruh. Di hadapan saya, hamparan jagung berdiri tegak, melon dan pepaya tumbuh subur, bahkan bulir-bulir padi ladang jenis Serai tampak menguning diterpa angin. Air dari lubang bekas tambang dialirkan melalui parit-parit kecil yang telah dimurnikan secara alami, menjadi urat nadi irigasi. Tanah yang dulu divonis mati, kini dipaksa menghidupi.

“Perlakuan serupa ternyata tak selalu menghasilkan buah yang sama. Di titik ini bisa sangat subur, tapi bergeser beberapa meter ke sana, tanamannya merana,” tutur Pakde Minto sambil menyeka keringat. Sambil berbicara, matanya sesekali waspada, menghalau kawanan burung yang mencoba mengisap sari padi.

Ini sama sekali bukan keajaiban mistis. Ini adalah perkelahian ilmu pengetahuan dan ketekunan melawan kerusakan struktural.

Ujicoba budidaya melon dengan pupuk buatan sendiri dari UPPO Poktan Tegalrejo

BACA JUGA : Tertua Terbaik

Sayur bunga kol yang mulai bisa dipanen

Keberhasilan Pakde Minto adalah sebuah oase, namun saya menolak larut dalam euforia romantis. Di Kalimantan Timur, cerita Pakde Minto adalah sebuah pengecualian yang langka, bukan sebuah aturan umum yang diwajibkan oleh sistem.

Kenyataan pahitnya berserak di depan mata. Berdasarkan data pergerakan advokasi lingkungan, ada sekitar 1.700 lubang tambang di Kaltim yang masih dibiarkan terbuka pasca-eksploitasi. Mereka ditinggalkan begitu saja oleh korporasi yang meraup untung lalu pergi. Lubang-lubang ini bukan lagi sekadar kerusakan visual, melainkan jebakan maut yang aktif mengintai nyawa manusia.

“Sejak tahun 2022 hingga saat ini, sudah ada 53 orang yang meninggal di lubang tambang, dan saya kira angka ini akan terus bertambah jika tidak ada tindakan hukum yang tegas,” ujar Mareta Sari, saat masih menjadi Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur, dengan nada getir yang mendalam.

53 nyawa. Mereka bukan sekadar angka statistik dalam laporan tahunan. Mereka adalah anak-anak yang kehilangan masa depan, orang tua yang kehilangan buah hati, dan komunitas yang ruang hidupnya dirampas. Memori masa kecil saya tiba-tiba berputar secara ironis—teringat bahwa dulu, saya pun mungkin pernah bermain di dekat bibir jurang beracun seperti itu tanpa pernah tahu bahayanya.

Sambil ikut mencium aroma kopi dalam pondok sbederhana di tepi ladang Lubuk Sawah, Pakde Minto melontarkan kalimat yang meruntuhkan cara pandang saya tentang ketergantungan publik pada pembuat kebijakan.

“Jangan bergantung pada pemerintah. Jika mereka mau membantu, kami terbuka. Tapi jangan pengaruhi kami untuk memulihkan lahan ini dengan cara atau agenda mereka. Menanam di lahan eks tambang adalah soal menikmati proses pemulihan, jangan terlalu berharap pada hasil yang instan.”

Pernyataan itu menampar saya. Di sinilah letak jantung dari Transisi Energi yang Berkeadilan. Transisi energi bukan sekadar perkara elite politik menggeser pembangkit batu bara ke panel surya atau kendaraan listrik di kota-kota besar. Transisi yang adil harus dimulai dari bawah: dari pemulihan hak-hak komunitas lokal yang selama puluhan tahun menjadi tumbal eksploitasi, dan pemulihan ekologis atas tanah yang telah hancur.

Jika proses transisi mengabaikan pemulihan ribuan lubang tambang ini, dan membiarkan warga lokal sendirian memulihkan tanahnya tanpa pertanggungjawaban hukum dari para perusak lingkungan, maka transisi tersebut gagal total dalam memenuhi asas keadilan.

Saya pulang dari Lubuk Sawah dengan kecamuk perasaan yang rumit. Ada rasa kagum yang membuncah terhadap keteguhan kelompok tani di sana, tetapi di sisi lain, ada kemarahan yang membakar dada.

Saya marah pada sistem regulasi yang impoten, marah pada korporasi yang lepas tangan, dan marah pada kepolosan masa kecil saya yang dulu menganggap industri ini sebagai lambang kejayaan.

Kini, setiap kali saya melintasi bentang alam Kalimantan Timur dan melihat lubang tambang, saya tak lagi melihat “danau yang indah”. Saya melihat luka yang menganga lebar. Saya melihat tanah yang berteriak meminta haknya kembali. Namun, lewat peluh Pakde Minto, saya juga melihat secercah harapan: bahwa di atas tanah yang sekarat sekalipun, kehidupan bisa dipanggil pulang jika kita merawatnya dengan sains, ketekunan, dan keberpihakan pada keadilan bumi.

Generasi kita dan masa depan tidak boleh lagi tumbuh dengan kekaguman buta pada industri yang merusak rumahnya sendiri. Transisi energi harus didorong sekarang juga, demi memastikan bahwa luka ini tidak terus melebar, dan bumi Kalimantan kembali menjadi tempat yang aman untuk didekap oleh anak-cucunya nanti.

Penulis : Alief

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Gambar : Jurnalis Warga