KESAH.IDHitler pernah membangun kekuasaan dengan menciptakan musuh imajiner: Yahudi, demokrasi, dan sosialisme, Pola serupa kini muncul di Indonesia, ketika Prabowo kerap melabeli pers, LSM, dan pengamat sebagai “antek asing” atau “londo ireng,” Retorika ini bukan sekadar kata-kata, melainkan strategi propaganda untuk menutup ruang kritik dan memperkuat legitimasi kekuasaan.

Saya tak menemukan informasi entah dalam bentuk teks, audio atau video Prabowo menyebut-nyebut nama Adolf Hitler. Yang sering ditemukan adalah dalam beberapa pidato atau percakapan sering menyebut antek asing dan londo ireng. Kesukaan ini mau tak mau ini mengingatkan pada pola yang dipakai oleh Hitler untuk melakukan othering pada lawan politiknya.

Sejarah politik dunia dalam dunia kepemimpinan lewat Hitler memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin membangun kekuasaan bukan semata dengan menawarkan solusi, melainkan dengan menciptakan musuh imajiner. Adolf Hitler menjadi contoh paling ekstrem dari strategi ini.

Dalam Mein Kampf, ia menulis panjang lebar tentang bagaimana bangsa Jerman harus bersatu menghadapi ancaman yang ia definisikan: Yahudi, demokrasi, dan sosialisme.

Mein kampf mungkin menjadi playbook yang kemudian ditiru atau menjadi kebiasaan bagi para pemimpin yang cenderung fasis.

Hitler menuduh Yahudi sebagai biang kerok segala krisis ekonomi dan sosial. Demokrasi ia anggap sebagai sistem rapuh yang melemahkan bangsa, sementara sosialisme ia posisikan sebagai konspirasi internasional yang mengancam kedaulatan Jerman.

Dengan retorika yang penuh emosi, Hitler berhasil menyederhanakan masalah kompleks menjadi satu narasi tunggal: Jerman menderita karena ada musuh yang merongrong dari dalam.

Teknik ini disebut scapegoating atau kambing hitam, Ia bekerja dengan tiga mekanisme utama:

  1. Oversimplifikasi – masalah ekonomi, politik, dan sosial yang rumit dijelaskan dengan satu penyebab tunggal.
  2. Overgeneralisasi – seluruh kelompok diseragamkan sebagai ancaman, tanpa ruang untuk nuansa.
  3. Sentimen nasionalisme – rakyat digiring untuk percaya bahwa hanya dengan menyingkirkan “musuh” bangsa bisa selamat.

Hasilnya adalah legitimasi untuk melakukan represi, pembersihan politik, bahkan genosida, Hitler mengubah ketakutan menjadi solidaritas semu, dan solidaritas itu menjadi bahan bakar bagi otoritarianisme Nazi.

BACA JUGA : Pala – Rempah Nusantara yang Merubah Dunia

Indonesia, dalam konteks kontemporer, memperlihatkan pola yang mirip. Presiden Prabowo kerap menggunakan istilah “antek asing” dan “londo ireng” untuk menyerang pers, LSM, dan pengamat yang kritis terhadap pemerintah, Retorika ini bukan sekadar pilihan kata, melainkan strategi politik yang memiliki kemiripan dengan teknik Hitler.

Ketika media mengkritik kebijakan, mereka dilabeli sebagai antek asing.  Ketika LSM menyoroti pelanggaran hak asasi manusia, mereka dituding punya agenda luar negeri, Ketika pengamat menyampaikan analisis yang tidak sejalan dengan pemerintah, mereka dicap sebagai bagian dari infiltrasi musuh.

Seingat saya beberapa LSM dan sosok aktivis atau pengamat disindir oleh Prabowo sebagai antek asing,. Dan di kalangan media, Tempo yang paling disorot sebagai antek asing, karena menerima dana dari funding internasional.

Mengapa Prabowo melakukan ini?

  • Mengendalikan opini publik: dengan menciptakan musuh bersama, ia mengalihkan perhatian dari kelemahan kebijakan.
  • Melemahkan oposisi: label antek asing membuat kritik kehilangan legitimasi di mata publik.
  • Membangun citra pelindung bangsa: Prabowo tampil sebagai figur yang menjaga kedaulatan dari ancaman luar.

Retorika ini bekerja karena ia memanfaatkan emosi publik, Nasionalisme, yang seharusnya menjadi energi positif untuk membangun bangsa, dipelintir menjadi alat untuk membungkam suara kritis. Sama seperti Hitler, Prabowo tidak menawarkan data obyektif, melainkan narasi emosional yang mudah diterima massa.

BACA JUGA : Hidden Gems

Beberapa waktu lalu Prabowo punya kosa kata baru, londo ireng, Ini adalah istilah lama untuk menyebut pengkianat di masa kolonial Belanda.  Kisah tertangkapnya Pangeran Diponegoro ditenggarai karena laporan londo ireng pada kolonial Belanda,.

Tapi setelah jaman kemerdekaan, londo ireng lebih bermakna peyoratif, untuk melabeli mereka yang dituduh mengkhianati bangsa atau negara.

Setahu saya, yang disindir oleh Prabowo sebagai londo ireng adalah kompas.  Karena kompas melaporkan berita dengan foto ilustrasi anak-anak yang tengah menikmati menu MBG dengan latar sekolah yang rusak.

Setelah ndasmu, antek asing, londo ireng menambah panjang daftar pelabelan yang dipakai Prabowo untuk menghantam mereka yang mengkritisi kebijakannya.  Makin banyak kambing hitam di benak Prabowo.

Teknik kambing hitam ini berbahaya bagi demokrasi, Ada beberapa dampak yang bisa kita lihat:

  1. Menutup ruang dialog Ketika kritik dianggap pengkhianatan, ruang diskusi publik menjadi sempit, Demokrasi, yang seharusnya hidup dari perbedaan pendapat, berubah menjadi monolog kekuasaan.
  2. Menguatkan otoritarianisme Cinta tanah air dipelintir menjadi ketaatan buta, Rakyat tidak lagi diajak berpikir kritis, melainkan hanya diminta untuk percaya bahwa pemerintah adalah satu-satunya pelindung bangsa.
  3. Menciptakan polarisasi Rakyat terbelah antara “pro pemerintah” dan “antek asing”, Polarisasi ini melemahkan kohesi sosial dan membuat bangsa mudah dipecah belah.

Jika dibiarkan, Indonesia berisiko mengulang pola sejarah: demokrasi melemah, oposisi dibungkam, dan propaganda menggantikan fakta.  Sama seperti Mein Kampf yang menjadi legitimasi bagi Nazi, narasi “antek asing” bisa menjadi legitimasi bagi rezim otoritarian di Indonesia.

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk masa kini. Hitler menunjukkan bagaimana propaganda kambing hitam bisa menghancurkan demokrasi dan melahirkan tragedi kemanusiaan.  Indonesia, dengan retorika “antek asing” dan “londo ireng”, sedang berjalan di jalur yang sama: menciptakan musuh imajiner untuk memperkuat kekuasaan.

Pertanyaannya bukan sekadar mengapa Prabowo melakukan ini, melainkan apakah rakyat Indonesia akan membiarkan strategi ini bekerja. Demokrasi hanya bisa bertahan jika rakyat menolak narasi simplistik dan berani mempertahankan ruang kritik.

Keseimpulannya Prabowo menggunakan propaganda kambing hitam bukan sekadar retorika, melainkan strategi politik untuk mengendalikan kritik dan memperkuat kekuasaan. Sejarah menunjukkan bahwa teknik ini berbahaya: ia bisa mengubah demokrasi menjadi panggung otoritarianisme, di mana cinta tanah air hanya berarti tunduk pada penguasa.

note : sumber gambar – SDN55