KESAH.ID – Bahasa gaul Generasi Z sering kali terdengar asing bagi telinga generasi sebelumnya. Dari istilah no cap, delulu, hingga slay dan rizz, mereka membangun kosakata sendiri untuk mengekspresikan emosi, humor, dan identitas digital. Adalah baik bagi generasi sebelumnya untuk mencoba membuka jendela guna memahami bagaimana Gen Z berkomunikasi, bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan simbol sosial yang mencerminkan dinamika zaman yang bergerak cepat.
Urusan kopi kadang membuat saya merasa FOMO—takut ketinggalan informasi terbaru. Dengan kode “info geser” yang beredar di beberapa grup WhatsApp, saya sering mendatangi kedai kopi baru, meski ekosistemnya sebenarnya tak cocok untuk saya. Memasuki tempat itu, ada rasa minder yang ditekan. Barista di balik meja atau anak-anak muda yang asyik nongkrong mungkin heran melihat bapak-bapak sok gaul yang tampak salah tempat.
Banyak kafe yang jelas tak cocok untuk saya. Menu mereka asing, walau beberapa mulai saya sukai, seperti Mount Blanc dan Americano Booster. Di kedai itu, sambil duduk, saya biasanya memasang telinga, menguping percakapan kaum yang disebut Gen Z—generasi yang membuat saya sadar betapa lebar jurang antar generasi.
Suatu kali, di sebuah kafe yang sempat diprotes warga karena parkir pengunjungnya mengganggu jalan gang, saya melihat dua anak muda duduk berhadapan dengan gawai masing-masing. Tiba-tiba terdengar celetukan singkat di tengah kesibukan mereka: “Asli, film tadi itu no cap keren banget! Tapi ending-nya agak delulu, sih.”
No cap dan delulu? Bagi saya, istilah itu terdengar seperti sandi asing. Saya yang berusaha tahu banyak hal, mendadak merasa ketinggalan jauh. Bahasa gaul mereka berbeda sekali dari masa saya, ketika pernah mempelajari bahasa anak GALI (Gabungan Anak Liar) atau bahasa walikan.
Dalam kontestasi bahasa pop, gaya anak Jaksel dengan Indoenglish sempat populer. Tapi ternyata Gen Z—lahir antara 1997 sampai 2012—punya kosa kata khas untuk mengekspresikan emosi dengan presisi. No cap berarti serius, tidak bohong, semacam “jujurly” dalam campuran Indonesia-Inggris. Sedangkan delulu, kependekan dari delusional, dipakai humoris untuk menggambarkan ekspektasi yang tidak realistis, sering terkait percintaan atau fandom.
Bahasa kini bukan sekadar alat tukar informasi, melainkan penanda identitas digital. Di TikTok dan Instagram, istilah ringkas melintasi batas geografis. Tren dari satu benua bisa dipakai remaja di Jakarta, Surabaya, Makassar, hingga Samarinda hanya dalam hitungan jam.
BACA JUGA : Mengusir Api
Secara teori, saya tahu setiap generasi punya bahasanya sendiri, baik untuk kerahasiaan maupun ekspresi dinamika sosial. Jargon bukan sekadar kata acak, melainkan cerminan realita internal. Saat ini, dinamika sosial yang kuat adalah gejolak emosi dan kebutuhan validasi. Dunia bergerak cepat, ketakutan merebak, harapan berlebihan.
Di media sosial, performa jadi penting. Penampilan memukau mendapat perhatian, pujian sederhana tak cukup lagi. Gen Z punya istilah “Slay” untuk apresiasi tertinggi. Namun mereka juga kritis: performa palsu atau flexing akan langsung dicap “Sus” (suspicious).
Jika generasi sebelumnya suka tantangan, Gen Z lebih menghargai otentisitas. Mereka mengenal istilah “Rizz” untuk pesona alami seseorang, tapi juga punya batas tegas seperti “Ghosting”—menghilang tanpa kabar dalam hubungan modern. Humor tetap hadir: istilah seperti “Girl Math” atau “Girl Dinner” jadi cara merayakan absurditas kecil. Membeli barang mahal dengan uang tunai dianggap “gratis” karena saldo bank tak berkurang—satir khas yang dikemas dalam kata.
BACA JUGA : Tetap MBG
Kemunculan bahasa baru sering memicu pertanyaan: apakah bahasa baku terancam? Apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar berada di persimpangan? Namun bisa jadi ini tanda bahwa interaksi sosial selalu berevolusi. Setiap generasi beradaptasi dan berkreasi. Bahasa Gen Z bukan untuk menggantikan bahasa resmi, melainkan mengisi kekosongan nuansa emosional yang sulit diwakili kata konvensional.
Istilah yang lahir dari kelompok bisa bergeser menjadi istilah sosioantropologis. Seperti FOMO (Fear of Missing Out) atau Quiet Quitting yang kini dipakai untuk mendefinisikan kesehatan mental dan dunia kerja modern.
Dalam laporan Kompas, disebutkan ada sekitar 100 slang Gen Z yang beredar di internet. Kosa kata baru ini viral, familiar di kalangan sebaya, dan meluas hingga percakapan umum, melintasi batas SARA maupun negara. Beberapa bahkan dipertimbangkan masuk kamus resmi.
Dalam obrolan dengan rekan sebaya, saya akui berbicara dengan anak sendiri pun sulit. Ada jurang bahasa yang dalam. Usaha saya untuk mengatasi gap itu adalah memahami istilah-istilah tersebut. Tidak harus menggunakannya, karena bisa janggal, tapi mengenalnya memberi jendela untuk memahami cara Gen Z memproses realitas, menertawakan absurditas hidup, dan membangun koneksi sosial di linimasa yang bergerak cepat.
Di balik layar gawai yang terus menyala, bahasa gaul ini sebenarnya adalah sarana untuk satu hal mendasar: keinginan untuk dimengerti.
note : sumber gambar – KOMPAS








