KESAH.IDKesadaran akan nilai budaya membuat warga Lung Anai kembali menggiatkan olahraga meniup sumpit. Senjata tradisional itu kini memang sudah dimodifikasi, tak lagi dibuat dari kayu yang dilubangi secara manual. Lubangnya lebih presisi karena terbuat dari pipa yang kemudian dilapisi dengan kayu. Pelor atau anak sumpit juga tak terbuat lagi dari bilah bambu, tetapi dari batang fiber, hingga lebih ringan dan presisi. Berlatih meniup sumpit menjadi keramaian baru pada akhir pekan di lapangan sebelah depan lamin adat.

Saya lupa kapan persisnya mulai sering berkunjung ke Lung Anai, salah satu desa budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara yang luas wilayahnya terbilang sangat kecil untuk ukuran desa di Kalimantan Timur itu.

Waktu itu bersama dengan teman-teman Naladwipa Institute, saya getol belajar kebudayaan Kalimantan Timur utamanya Dayak. Lung Anai saat itu masih menampilkan kekhasan hidup masyarakat asli Kalimantan Timur yang berdiam di pinggiran sungai.

Desa Lung Anai memang berada di tepi Sungai Jembayan dan wilayahnya dikurung oleh Desa Sungai Payang. Lung Anai sendiri semula memang merupakan salah satu dusun dari Desa Sungai Payang. Lung Anai dibentuk menjadi desa, ketika Syaukani HR memimpin Kutai Kartanegara. Sebagai Bupati, Syaukani membuat keputusan untuk menetapkan 16 desa di Kutai Kartanegara sebagai Desa Budaya. Lung Anai adalah salah satunya.

Ciri kehidupan subsisten masyarakat Lung Anai masih kental waktu itu. Mereka pergi ke kebun yang berada di wilayah Desa Sungai Payang dan Desa Jongon Desa dengan berperahu, menyusuri Sungai Jembayan, memasuki anak sungainya yakni Sungai Gitan dan Sungai Lalut Tisau.

Ada beberapa areal yang menjadi tempat orang Lung Anai berkebun, utamanya untuk bertanam padi ladang atau padi gogo.

Duduk di dermaga tepi sungai saat pagi dan sore hari menjadi saat terbaik untuk melihat aktivitas masyarakat pergi dan pulang ladang. Menyaksikan warga pulang dari kebun, perahu akan terlihat penuh dengan bawaan. Ada sayuran dan buah, terkadang binatang atau ikan hasil tangkapan. Selain itu perahu juga sering dipenuhi dengan potongan kayu bulat untuk bahan kayu bakar.

Di Lung Anai bukan sebuah pemandangan yang langka, ibu-ibu atau perempuan mengayun kapak untuk membelah log kayu menjadi kayu bakar.

Kehidupan dengan cepat berubah. Beberapa tahun saya tak lagi ke Lung Anai. Ketika pergi ke sana jalanan dari Loa Kulu sudah lebih baik, sudah disemen sehingga kendaraan tak lagi terbenam di jalanan berlumpur saat hujan.

Namun infrastruktur darat selalu punya dampak untuk masyarakat asli Kalimantan Timur. Masyarakat yang mulanya menjadi sungai sebagai arah hadap hidup kemudian berubah arah. Bukti paling nyata adalah rumah Mamak Yurni, rumah yang selalu kami singgahi saat berkunjung ke Lung Anai.

Beranda tempat biasa kami bercengkrama memandang Sungai Jembayan dan lalu lalang gubang atau perahu ketinting, telah berubah menjadi WC, kamar mandi dan tempat mencuci perabot dapur. Rumah yang penuh kenangan itu berubah arah, dari menghadap sungai menjadi membelakangi sungai. Dermaga di sampingnya yang dulu ramai menjadi sepi. Hanya sedikit perahu yang tertambat di dermaga, yang semuanya menunjukkan tanda-tanda menua, tak terawat.

Jalan darat memang magnet. Karena jalan membuat mobilitas menjadi semakin cepat. Tak seperti perahu di sungai, kendaraan bermotor selalu dilengkapi dengan penerangan sehingga tak masalah untuk digunakan pagi, siang, sore dan malam.

Kehidupan di Lung Anai pun berjalan makin cepat. Setiap rumah yang dulu selalu punya perahu, kemudian berganti menjadi motor. Dan kini yang mempunyai mobil juga semakin banyak. Dermaga yang dulu sering dipakai untuk menjemur biji kopi, kakao, gabah, dan kadang ikan sungai yang diasinkan, kini lebih sering menjadi tempat parkir mobil dan motor.

Gilingan padi di samping dermaga juga sudah tak ada. Pun juga Lepubung atau lumbung padi yang masih berdiri megah di tengah-tengah desa, sudah lama kosong tak terisi simpanan cadangan padi ladang atau padi gunung.

Belajar menyumpit di tengah kebun kakao

BACA JUGA : Wayang Kulit

Sulit untuk menghitung berapa kali saya bolak balik Samarinda – Lung Anai, banyak kali. Tapi ternyata masih ada yang luput. Setelah hampir puluhan tahun mengenal Lung Anai, memegang sumpit dan kemudian meniupkan pelornya baru saya lakukan beberapa waktu lalu.

Padahal sumpit adalah senjata tradisional masyarakat Dayak yang dipakai baik untuk berburu maupun bertempur. Terbuat dari kayu panjang yang dilubangi di tengah, cara kerja sumpit adalah meniupkan anak sumpit sehingga melaju layaknya peluru atau anak panah. Seperti anak panah, anak sumpit yang disebut damek atau lajak terbuat dari bambu yang diserut dan ujungnya diruncingkan. Di bagian belakang dipasang pemberat yang terbuat dari sejenis akar yang mirip gabus.

Tapi sumpit sekarang berbeda. Lubang terbuat dari pipa kecil yang kemudian dilapisi dengan kayu. Lubangnya kemudian menjadi lebih presisi.

Dan anak sumpit yang kini disebut sebagai pelor, terbuat dari fiber dan gabus.

Sore itu ketika bercengkrama di teras rumah Martinus, Yurni dan Tian bercerita kalau setiap Sabtu dan Minggu sore warga akan berkumpul di lapangan depan Amin Dado, rumah lamin adat untuk berlatih meniup sumpit.

Warga Lung Anai menghidupkan lagi kebiasaan para pendahulunya memakai sumpit. Kalau dulu untuk berburu, kini untuk olahraga.

Karena rindu menikmati sore di tepian sungai, saya pergi ke dermaga dekat rumah Mamak Yurni yang kini ditempati oleh Yurni dan Tian. Sungai Jembayan kini warna airnya jauh lebih kecoklatan. Airnya seperti mencuci tanah yang dilewati.

Ada dua orang amay sedang sibuk memasang tali dan kawat di perahunya.

“Mau diberi gembok,” ujar seorang amay.

Ternyata perahu yang tidak digembok sering dipakai oleh warga lainnya tanpa permisi.

Tiba-tiba hujan turun. Untung Yurni dan Tian ada di rumah sehingga bisa singgah berteduh.

Di dalam rumah, ruangan yang tak asing untuk saya, Tian mengeluarkan batang sumpitnya.

“Kalau mau coba, disana sasarannya,” ujar Tian.

Di dinding rumah ada lingkaran berangka, sasaran untuk dibidik dengan pelor sumpit.

Saya enggan mencobanya takut kalau nyasar lalu anak sumpit menancap di kulkas.

Teman saya yang lain mencoba dan berhasil. Dari bunyi tiupannya nampaknya dia berbakat.

Ketika hujan reda kamipun pergi ke lapangan depan lamin adat. Dan disana telah ada beberapa orang berjajar meniup sumpit. Jarak antara tempat berdiri hingga sasaran kurang lebih 20 meter. Saya makin keder untuk mencoba turut meniup sumpit.

Jadi saya lebih memilih duduk di dalam lamin menyaksikan mereka berlatih.

Yang berlatih lengkap, ada bapak-bapak, anak muda, ibu-ibu dan remaja putra serta putri.

Hujan gerimis lagi-lagi turun. Mereka berteduh di lamin. Sambil menunggu hujan reda mereka berlatih menyanyi, paduan suara bapak-bapak dan ibu-ibu. Mereka menyanyikan nyanyian adat yang disebut lameloq. Lagu yang biasa dinyanyikan ketika penari berpakaian sebelum tampil, dan nanti dinyanyikan kembali setelah penampilan.

Iramanya syahdu seperti lagu-lagu religi atau lagu pengantar untuk komtemplasi.

Membidik sasaran dari jarak dekat

BACA JUGA : Tani Ternak Ramah Iklim

Hari menggelap, titik sasaran sumpit mulai tersapu remang. Latihan sumpit pun dihentikan tapi warga tetap berkumpul di lamin adat karena ada anak-anak muda gereja sedang membuat bazar kecil-kecilan, berjualan makanan dan minuman.

Saya pergi ke rumah Martinus, tempat saya akan menginap semalam sebelum pergi ke Semenar, atau Sungai Gitan.

Esok hari hujan turun, setelah reda Martinus mengantar saya dan teman-teman menuju Sungai Gitan, bersama Yurni dan Tian yang naik motor berboncengan.

Setelah melewati perkebunan sawit PT Niaga Mas dan kemudian menyusuri jalan HTI milik IHM, sampailah kami ke Sungai Gitan, tempat Kelompok Tani Lalut Tisau mengelola ruang penghidupan.

Berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer, sampailah kami ke pondok kebun Tian dan Yurni yang berada di pinggir kelokan Sungai Gitan yang airnya berwarna kecoklatan, lebih pekat dari coffeemix.

Esok hari sebelum berkegiatan, Martinus yang turut menginap mengeluarkan sumpit dari pondok beserta satu wadah pelornya.

Usai Martinus bermain, saya dan teman-teman meneruskan. Kali ini saya percaya diri untuk mencoba meniup sumpit. Berada di tengah alam yang tenang dan sepi, tak ada tekanan untuk validasi atau apapun.

Saya mencoba dan buff … pelor melayang menuju papan sasaran. Lumayan anak sumpit menancap di lingkaran berangka. Memang tidak di bagian paling tengah yang mempunyai skor 10.

Dalam hati saya bersorak “Ternyata saya bisa,”

Meniup sumpit tak sesulit yang saya bayangkan karena sumpit sekarang sudah dimodifikasi.

PR-nya adalah bagaimana mengarahkan anak sumpit tepat ke sasaran. Tidak ada keker di sumpit untuk membantu mengarahkan pelor ke titik bidik.

Saya mulai membayangkan bagaimana para pendahulu masyarakat Dayak berburu dengan sumpit. Kalau mereka harus membidik sasaran di atas pohon, jaraknya tentu lebih dari 10 meter. Saya jelas belum mampu karena sasaran yang saya bidik di depan pondok Tian dan Yurni berjarak hanya sekitar 5 meter. Berada dalam jarak sedekat itu, jika berburu binatang yang hendak dibidik sudah lari duluan.

Ternyata meniup sumpit cukup melelahkan, baru 15 anak sumpit yang dilayangkan rasanya kekuatan tiupan mulut sudah hampir habis.

Matahari mulai meninggi, panas mentari mulai mengusir embun dan bekas tetesan air hujan yang membasahi dedaunan dan tanah. Saat untuk ikut memanen coklat telah tiba.

Tian mengatakan berbulan-bulan lalu mereka tak panen coklat. Coklat menghitam karena terendam banjir yang tingginya melewati lantai pondok kebun yang berpanggung.

“Baru bulan ini kami kembali bisa panen buah coklat,” ujar Tian dengan wajah berbinar.

Namun tetap tersimpan kekhawatiran di dalam hatinya karena sungai yang aliran airnya dialihkan oleh perusahaan tambang batubara itu seperti membuat bendungan, dan kebunnya menjadi tempat dengan genangan paling dalam jika kemudian sungainya meluap.

note : sumber gambar – NON PROFIT JOURNALISM