KESAH.ID – Untuk bertahan, pertunjukan wayang kulit mesti melakukan penyesuaian. Kini wayang kulit tak lagi terasa sakral, pakemnya tak bisa dipertahankan. Penyesuaian dilakukan disana-sini agar diterima jaman. Layar dihiasi dengan lighting, bahkan potongan-potongan video. Sinden, diganti dengan penyanyi, yang berdiri menghadap penonton untuk menunjukkan kostum dan goyangan. Untuk meramaikan, panggung wayang kulit bahkan diisi dengan kehadiran bintang tamu seperti seorang pelawak untuk menyemarakkan suasana.
Sebagai orang Jawa, saya jelas tak njawani. Berbahasa Jawa saja hanya terkadang-kadang, saya bahkan tak mengajari anak semata wayang saya berbahasa Jawa. Sedikit sekali kosa kata Jawa yang kerap diucapkannya. Dia hanya suka mengatakan wareg dan turu.
Kurang lebih 36 tahun sudah saya meninggalkan tanah Jawa, dengan naik kereta dari Kutoarjo ke Jakarta, lalu meninggalkan Tanjung Priok dengan KM entah Umsini atau Kambuna, menuju Tanjung Perak, Ujung Pandang, Pantoloan, Kwangdang dan kemudian merapat di Bitung.
Dari Bitung ke Pineleng, pemandangan yang dominan adalah pohon kelapa. Waktu itu Sulawesi Utara memang disebut sebagai daerah Nyiur Melambai. Daerah penghasil kopra. Di Bitung ada Bimoli, Bitung Manado Oil Limited.
Saat meninggalkan Tanjung Priok, di geladak kapal memandang hamparan laut tanpa batas, saya kehilangan petunjuk mana utara dan selatan, mana barat dan timur.
Di Pineleng orang jarang memberi petunjuk barat, timur, utara dan selatan, yang umum adalah atas bawah, lama dan baru. Ke atas berarti ke gunung atau mudik, ke bawah berarti ke hilir atau kota.
Dua belasan tahun saya di Pineleng lalu Manado. Selama itu pula saya jarang berbahasa Jawa, meski terkadang mampir ke Warung Tegal dan Warung Sri Solo.
Semua yang ke Sulawesi Utara memang akan berbahasa Melayu Manado, ngana-ngoni.
Meski cukup banyak orang Jawa dan ada perkumpulannya, rasanya sangat jarang ada pertunjukan kesenian Jawa disana. Saya tak lagi menyaksikan ketoprak, kuda lumping, apalagi wayang kulit.
Mengingat wayang kulit itu seru, bukan pertunjukkannya.
Setiap tahun di desa saya yang kini jadi kelurahan, ada pertunjukan wayang kulit, hasil iuran orang satu kampung. Rasanya wayang kulit selalu dipentaskan saat rejeban.
Wayang dipentaskan di pendopo rumah Mbah Lurah, rumah joglo.
Dalang dan wiyogo juga sinden akan berada di atas panggung, panggung dadakan yang penyangganya berupa drum-drum minyak tanah.
Batas antara penampil dan penonton adalah layar, atau gleber, kain panjang yang disatu sisinya akan diberi batang pisang untuk menancapkan wayang.
Pertunjukan wayang kulit akan berlangsung sehari-semalam, walau sebenarnya tak sungguh-sunggu dua puluh empat jam.
Dalangnya dua, siang sampai sore adalah dalang magang, bukan dalang utama. Malamnya baru sang dalang utama akan tampil, biasanya dalang yang sudah terkenal.
Saat pembukaan pertunjukan, dimana dalang mengantarkan lakon, penonton biasanya belum begitu ramai. Nuansa pertunjukannya masih mendayu-ndayu.
Pagelaran wayang kulit biasanya mulai seru setelah masuk ke bagian goro-goro, di bagian ini dalang akan bicara lugas, tidak banyak bunga-bunganya.
Pertunjukan semakin seru dengan kehadiran punakawan, Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Dalang akan bicara dengan gaya bahasa orang jelata, bahasa yang dimengerti oleh kebanyakan orang.
Disini penonton akan sering terpingkal-pingkal, dalang pun kadang-kadang akan ngomong saru agar atmosfir pertunjukan makin seru.
BACA JUGA :Tesla BYD
Sebenarnya saya tak pernah nonton wayang kulit sampai tuntas. Walau pergi dari rumah sejak sore hari, sebagian waktu saya habiskan nonton orang main dadu.
Setiap kali ada pagelaran wayang kulit, pada saat itu pula akan muncul lapak-lapak dadu. Entah mereka muncul darimana, tapi akan ada belasan lapak setiap kali ada keramaian. Lapak dadu ini akan mencari tempat yang agak sepi namun tak terlalu jauh dari panggung pertunjukan.
Jadi tugas pertama yang mesti dituntaskan sebelum nonton wayang orang adalah mencari dimana keramaian dadu itu ada.
Walau tak tuntas menonton, kisah atau lakon yang dipentaskan oleh dalang masih menjadi cerita keseharian. Saya bersama teman-teman masih membincang tentang pandawa lima, mahabarata, lakon punakawan dan lainnya.
Kisah wayang seperti kisah keseharian yang dipentaskan lewat boneka dari kulit. Wayang kulit simbol kehidupan.
Di dalam pertunjukan dalang sering menyindir-nyindir, membawakan satir atau kalau di jaman sekarang men-spill. Menyindir kekuasaan, menyindir kehidupan populer yang mungkin sudah jauh meninggalkan norma dan nilai-nilai kejawaan.
Sebagai tontonan, wayang kulit membawa juga tuntunan tentang baik buruknya hidup, tentang baik buruknya kekuasaan dan kehidupan bersama.
Setelah kurang lebih duabelas tahun di Manado, saya kembali berpindah. Kali ini saya pindah ke Kalimantan Timur, Samarinda. Dalam perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda, saya melihat masih ada sisa-sisa kejayaan jaman kayu, masih terlihat beberapa titik keramaian yang menunjukkan disitu ada pabrik pengolahan kayu, kayu lapis.
Masa itu Kalimantan Timur sedang bertransisi dari ekonomi tebang ke ekonomi keruk. Penggalian batubara mulai merebak dimana-mana, Mahakam mulai dihiasi dengan lalu lalang ponton pengangkut emas hitam.
Samarinda jauh lebih njawani dari Manado. Meski kebanyakan orang berbahasa banjar, obrolan dan kosa kata dalam bahasa jawa teramat mudah ditemukan. Bukan hanya itu, ternyata di Samarinda ada siaran radio berbahasa jawa.
Dari ngana-ngoni, saya kemudian kembali akrab dengan opo iki.
Tapi lidah saya sudah tidak jawa lagi, mungkin gara-gara terbiasa makan rica babi.
Saya tetap mengerti percakapan dalam bahasa jawa tapi tak lagi fasih menimpalinya.
Lama-lama saya merasa Samarinda ini jawa sekali. Saat pilkada atau pemilu, banyak baliho bertuliskan “Wis Wayahe”, “Pilih Wonge Dewe” atau “Coblos Sarunge”.
Organisasi atau paguyuban Jawa juga banyak, ada yang umum tapi banyak pula yang regional.
Dan yang lebih mengejutkan ternyata banyak grup kesenian Jawa, mulai dari jaranan sampai reog, juga silat.
Di lapangan yang kini jadi lapangan semen dekat rumah saya, sering digelar pertunjukan jaranan. Yang nonton membludak, pertunjukan jaranan sudah seperti festival organik yang diselenggarakan tanpa rapat yang panjang, kepanitian yang perlu SK dan seterusnya. Pagelaran jaranan bahkan lebih ramai dari festival-festival resmi pemerintahan yang berbiaya ratusan juta.
Walau pagelarannya tak jauh dari rumah, saya sekalipun tak pernah menyaksikannya.
BACA JUGA : Kopi Pangku
Suatu ketika di halaman GOR Segiri ada pertunjukan wayang kulit. Saya nongkrong tak jauh darinya dan bisa menyaksikan dari balik layar.
Pagelarannya penuh gemerlap. Pertunjukannya modern sekali karena sudah memakai lighting dan juga diselingi dengan potongan-potongan visual video pendek. Musiknya juga ramai, tak hanya klonengan gamelan.
Sindennya juga berbeda, tak lagi mendayu-ndayu ala Waljinah atau klasik seperti Nyi Tjondroloekito.
Kalau ki Narto Sabdo meyaksikan pertunjukan ini jelas dia akan murka, wayangnya tak sesuai pakem.
Tapi begitulah wayang kulit mesti bertahan. Musik pengiringnya tak semata hanya gamelan, tapi juga sinthesizer, kalau perlu bahkan seperangkat band. Sindennya tak lagi duduk menghadap geber, membelakangi penonton. Sinden kini berdiri, seperti penyanyi pada umumnya. Bukan berdiri mematung, melainkan juga bergoyang. Rasanya sinden wayang orang banyak juga yang mulai tidak memakai kebaya, lebih mirip penyanyi panggung dangdut yang bisa diintip celana dalamnya dari pinggir panggung.
Kini tak perlu lagi menunggu hari-hari tertentu untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Ruang pertunjukan telah berpindah dari halaman atau pendopo luas ke ruang yang lebih luas lagi, youtube.
Di ruang nyata, wayang orang sudah hambar. Mementaskan wayang kulit, kini mesti menyebarkan udangan. Yang datang mungkin juga tak akan bertahan lama, selama sang dalang tak tampil out of the box. Wayang kulit yang mengedepankan pakem, kehilangan relevansinya dengan kehidupan terkini.
Grup wayang kulit mesti bersiasat, menyesuaikan dengan perkembangan. Story tellingnya tak melulu dari sang dalang. Dulu sesekali dalang mem-bully sinden atau wiyaganya, kini mereka berkomunikasi, saling bicara. Bahkan kalau perlu di panggung wayang kulit dihadirkan pelawak, pelawak-pelawak tradisional yang populer karena bicara dalam bahasa kekinian, bahasa kerakyatan.
Memang lakon di wayang menjadi tak penting, yang penting ger-ger-an,wayang kulit menghibur. Walau hiburannya muncul dari lawak picisan, pamer wajah dan goyangan sinden yang bergoyang dengan musik campur sari, dangdut bahkan koplo.
Mirip konser, wayang juga tak perlu tampil sehari semalam, dalang bisa pingsan.
Lagi pula generasi yang mau bertahan nonton wayang sambil terkantuk-kantuk tak banyak lagi. Anak-anak muda lebih suka menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi kalcer yang buka dua puluh empat jam sambil asyik menatap gawainya sendiri.
Yang bertahan dengan dogma adiluhungnya budaya jawa barangkali mulai terdesak. Nguri-uri budaya jawa menjadi semakin sunyi dan sepi. Mirip mengarami lautan atau mengecat langit.
Mencoba terus bertahan dalam pakem akan membuat wayang kulit tumbang, karena pertunjukan wayang kulit adalah pertunjukan kolektif. Dan mempertahankan sekelompok orang untuk tetap bertahan dalam perjuangan yang sepi jelas syuuulit.
Dari karawitan ke campur sari, dari campur sari ke koplo, begitu musik tradisional jawa kemudian menjadi pop.
Wayang kulit juga begitu, kalau tidak lakon-lakon hanya akan menunjukan kursi penonton yang kosong.
Panggung pertunjukan mesti mentolerir wayang kulit yang lakonnya melompong karena daya tariknya tak lagi pada cerita tapi lucunya percakapan, absurb-nya sang wayang dan kemolekan serta goyang aduhai para pesindennya, yang lebih cocok disebut sebagai penyanyi dangdut.
Apa boleh buat, buat saja yang bisa dibuat selama diperbolehkan.
note : sumber gambar – TIMESINDONESIA








