KESAH.ID – Rest area organik yang muncul di ruas jalan penghubung antar kota yang dilalui kendaraan pengangkut logistik memunculkan model warung remang-remang yang kemudian berkembang menjadi warung kopi pangku atau kopi lendot. Warung ini bukan hanya menjadi tempat istirahat tetapi juga tempat rileks bagi para sopir. Dalam perkembangannya yang datang dan singgah disana bukan hanya para sopir yang melintas, melainkan mereka yang sengaja menjadikannya sebagai destinasi. Di jalur selain Pantai Utara Jawa, warung remang-remang atau kopi pangku berkembang dengan variannya sendiri.
Saya hanya termangu ketika anak-anak muda yang sepantaran umur anak saya itu membincang Pangku, sebuah film baru yang rilis di jaringan bioskop akhir September lalu. Saya sudah lama tak menonton film, tak tertarik juga untuk menyaksikan.
Meski suka membincang budaya pop, sub kultur dan segala pernik kreatifitas, saya memang cenderung tidak suka tontonan. Berada di kerumunan penonton membuat saya terasa impersonal.
Makanya saat teman-teman setongkrongan yang bapak dan ibunya mungkin seumuran saya itu bercerita tentang film, lagu, konser dan sejenisnya saya sering hanya termanggu, seperti sopir yang singgah di warung remang-remang pantura, minum kopi sendiri tanpa ditemani LC.
Tentang film misalnya, bintang termuda yang mungkin saya kenal hanya sampai pada Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Mereka yang muncul dan mempesona publik film Indonesia setelah, saya sama sekali tak tahu.
Maka saya mesti hati-hati, ketika teman-teman saya membincang para pekerja seni terkini. Saya mesti hati-hati agar tak menganggu perbincangan dengan pertanyaan “Siapa dia ini, memangnya terkenal?”
Hanya saja ketika mulai bicara substansi, biasanya saya mulai ikut serta.
Termasuk ketika membincang Pangku, film yang mengangkat realitas warung remang-remang di Pantai Utara, atau jalur pantura Jawa.
Dulu lebih sering disebut sebagai warung remang-remang. Tempat persingahan yang memang remang karena dikelilingi alas dan tak ada jaringan listrik yang bisa membuat suasana terang benderang.
Jalur ini jalur lama, dibangun di masa kolonial ketika Daendels membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan. Jalan ini merupakan jalan niaga. Setelah pembangunan jalan itu, muncul tempat-tempat peristirahatan, rest area yang tak resmi, terutama di wilayah dekat pelabuhan seperti pelabuhan Semarang. Di tempat istirahat itu pelayan-pelayan perempuan menjadi daya tarik tersendiri bagi pekerja, tentara dan pelaut. Mereka tidak hanya melayani membuat dan menyajikan minuman serta makanan, melainkan juga ngobrol.
Perempuan-perempuan ini menemani ngobrol dan lama-lama juga bisa bersikap mesra, makan munculah istilah cabul singkatan dari cewek bual.
Tahun 2000-an muncul istilah kopi pangku, untuk memberi label bagi warung-warung kopi, tempat istirahat sejenak yang pelayan perempuannya bisa dipangku sambil ngobrol.
Warung seperti itu ada di sepanjang Jalur Utara Jawa yang merupakan jalur arteri paling penting untuk arus logistik dan angkutan penumpang di Jawa.
Tapi kopi pangku tidak hanya berkembang di jalur pantura, model tempat istirahat yang bisa dikategori sebagai warung remang-remang, atau kopi pangku muncul dimana-mana. Umumnya di daerah yang sepi di jalur yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya.
Di Samarinda, deretan kopi pangku pernah muncul di wilayah perbatasan Kutai Kartanegara – Samarinda. Berderet warung-warung di kanan kiri jalan yang menampilkan pemandangan agak tak biasa. Sore hari biasanya mulai kelihatan, perempuan berdadan menor duduk-duduk di warung itu.
Warung-warung itu pernah ditertibkan dan sebagian berpindah. Menurut informasi pindahnya ke arah Kota Bangun, berada di sisi jalan penghubung antara Kota Bangun dan Tabang sebelum Jembatan Martadipura.
Warung Kopi Pangku sebenarnya hanya istilah, sebab tak selalu ada praktek harafiah pangku memangku. Yang lebih sering ditemukan warung-warung itu justru dilengkapi dengan peralatan karaoke dan meja bilyard.
BACA JUGA : SEO GEO
Selain warung remang-remang yang kemudian lebih populer dengan penyebutan Kopi Pangku, jalur utara Jawa ini juga punya identitas lain, yakni Dangdut Pantura.
Di wilayah Pantura, terutama di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah (Cirebon, Indramayu), musik lokal seperti Tarling (Gitar dan Suling) menjadi dasar kuat lingkungan sosial di sana. Musik ini kemudian berkembang menjadi sebuah genre yang dikenal dengan sebutan Dangdut Pantura.
Dangdut yang mempunyai ciri khas tempo yang cepat, tabuhan gendang yang khas serta gaya panggung yang energik dan kadang sensasional. Dangdut ini berkembang organik dan menjadi musik latar utama yang mengiringi kehidupan di warung remang-remang jalur utara.
Di masyarakatnya Dangdut Pantura mempunyai artis-artis lokal ternama yang mungkin tak dikenal dalam percaturan dangdut mainstreams. Dangdut Pantura telah menjadi budaya populer dan ekpresi masyarakat kelas bawah di jalur yang terus diwarnai deru truk dan dinamika jalan yang tak pernah tidur itu.
Bukan rahasia lagi kalau artis-artis lokal Dangdut Pantura jarang mau ikut mentas di televisi atau ekosistem hiburan utama di Ibukota. Saweran di Pantura lebih besar ketimbang bayaran televisi yang sering diundur-undur.
Singkatnya, warung kopi pangku dan Dangdut Pantura adalah dua sisi mata uang yang menggambarkan realitas sosial-ekonomi yang kompleks dan keras di jalur utama utara Pulau Jawa.
Dan singkat cerita dari Pantai Utara Jawa, kopi pangku dan dangdut Pantura menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Diantara Samarinda dan Kutai Kartanegara mulai muncul warung kopi pangku, kalau tak salah sekitar tahun 2013-an. Dan makin ramai ketika pemerintah mulai rajin menutup lokalisasi. Konon salah satu yang membanjiri warung-warung kopi pangku adalah eks lokalisasi.
Berkali-kali ditertibkan tapi masih tetap bertahan, bahkan beranak pinak.
Kutai Kartanegara mempunyai beberapa titik lokasi kopi pangku lainnya. Yang cukup terkenal ada di Kota Bangun, di sekitar jalan menuju Jembatan Martadipura.
Samarinda juga tak ketinggalan, mulanya disebut angkringan. Lama-lama angkringan Mahkota, karena berada di jalur atau sekitar Jembatan Mahkota disebut juga dengan istilah Kopi Pangku.
Kini lebih dikenali dengan nama Café, berderet di Jalan Kapten Soedjono, jalan untuk menghormati nama Walikota Pertama Samarinda.
Menyebrang menuju Palaran ke arah Sanga-Sanga ada juga beberapa. Juga di ruas jalan lain, antara Jalan MT Haryono hingga Pergudangan.
Bangunannya sederhana saja, seperti bangunan sementara dengan konstruksi baja ringan. Atap dan dindingnya dari bahan serupa. Dinding bagian dalam dilapisi dengan lembaran entah tripleks, gypsum atau cement boards.
Berbeda dengan café atau karaoke di kota, café-café yang bertransformasi dari angkringan atau kopi pangku ini menyajikan minuman sachetan, minuman bersoda, juice dan lain-lain. Dan tentu saja ada alkohol, bir dan anggur, serta minuman keras lainnya. Di Café yang berada pada ruas Jalan MT Haryono menuju Pergudangan malah tercium bau tuak.
Jika di Pantura warung kopi pangku dilatari dangdut pantura, di Kota Samarinda, warung kopi pangku ini riuh dengan pengunjung berkaraoke, lewat tengah malam terdengar musik disko hasil racikan DJ DJ lokal.
Pengunjung dan LC party sampai pagi.
BACA JUGA : Tesla BYD
Di jalan Kapten Soedjono kehidupan seperti berjalan sangat lambat, menjelang jam 12 malam baru terasa ada geliat kehidupan. Jam 9 malam kehidupan masih terasa tenang.
Ini mirip dengan Film Pangku yang diceritakan oleh teman-teman setongkrongan saya. Menurut mereka ritme filmnya sangat-sangat lambat.
Ada yang menduga kalau itu sebenarnya jenis-jenis film festival, yang tidak mengandalkan suspen dan kejutan. Filmnya membeber realitas.
Kehidupan di warung remang-remang atau kopi pangku memang serba slow. Mereka tidak diikat oleh SOP yang ketat. Yang punya warung, LC dan maminya tidak berkontrak dalam hubungan kerja yang ketat.
Jangan harap mereka akan sat set macam waitres di club-club ternama, yang kalau ada kekurangan mudah dikomplain pada kaptennya. Di warung remang-remang yang dituntut saling paham, kalau ada yang curang ya paham saja.
Maka bisa jadi lambatnya ritme film Pangku yang kemudian terasa membosankan memang disengaja karena begitulah kehidupan disana, tak banyak dinamika, tak banyak perubahan.
Sengaja lambat akan yang menonton bisa mendalami kehidupan di balik remang-remang yang dipandang miring itu ternyata merupakan realitas kehidupan yang sama dengan kehidupan di sisi lainnya yang terang benderang.
Para pelaku kopi pangku, atau kalau di wilayah Indramayu dikenal dengan sebutan kopi lendot tetaplah manusia biasa, yang bisa iba dan tetap punya hati untuk orang lain.
Film ini mungkin juga sengaja di buat lambat, untuk menunjukkan tidak semua kehidupan di balik warung remang-remang adalah mesum dan cabul. Ada juga romansa dan kegelisahan yang persis sama dengan kehidupan di tempat lainnya.
Ekosistem kopi pangku bahkan kerap kali menjadi oase, bagi mereka yang butuh ‘lendotan’ tapi gengsi untuk mendatangi tempat-tempat yang lebih terbuka, ruang hiburan yang lebih hinggar binggar di kota karena takut ketemu atau bersua dengan kolega atau kenalannya.
Di lingkungan warung remang-remang orang mungkin lebih tidak menilai sesama yang datang. Ruangnya lebih demokratis, karena semua datang untuk senang-senang tanpa dorongan untuk flexing atau mencari validasi.
Lain cerita kalau nonton pertunjukan dangdut pantura dan nyawer, disitu memang sering kali jadi tempatnya pamer.
note : sumber gambar – IDNTIMES








