KESAH.IDMenjelajahi Jantur Inar hari ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju salah satu air terjun tertinggi di Kutai Barat, melainkan sebuah pengalaman naratif yang memadukan kenyamanan modern dengan kesunyian alam yang purba. Melalui pembangunan jalur akses baru berupa jembatan kayu ulin (telihan) yang membentang menyusuri anak sungai, pengunjung diajak untuk menikmati setiap jengkal keindahan hutan Kampung Temula dengan cara yang lebih intim dan meditatif.

Selalu ada tarikan magis yang sulit dijelaskan saat mendengar gemericik air di sungai berbatu, berpadu dengan simfoni suara hutan. Aura itu terasa di Temula, Nyuatan, Kutai Barat, walau mentari akhir-akhir ini terasa menyengat. Dengan cepat udara berganti; angin membawa kesejukan melalui semilir yang merayap dari balik rimbun pepohonan di kanan-kiri sungai. Suasana seperti ini mudah dirasakan di destinasi wisata Jantur Inar, primadona yang airnya menjulang setinggi kurang lebih 30 meter.

Jantur atau air terjun ini kembali menggeliat dengan pembaruan pintu masuk. Perjalanan ke sana tak perlu lagi menuruni anak tangga terjal yang terkadang licin dan mulai tampak ringkih. Kini, perjalanan menuju Air Terjun Jantur Inar akan melewati jalan setapak berupa jembatan panjang dari kayu ulin yang menyusuri tepian sungai. Telihan atau jembatan ulin ini berakhir di sebuah tanjakan tepi sungai, tempat air yang jatuh dari ketinggian terlihat dengan jelas.

Dari area parkir, perjalanan dimulai dengan menyeberangi jembatan kayu. Melewati jembatan itu seolah memasuki fragmen perjalanan yang puitis karena sepanjang jalan kita akan didekap oleh suara gemericik air dan rindangnya vegetasi sungai. Telihan kayu ulin ini seolah menjadi garis pembelah kesunyian hutan yang berujung pada keindahan.

Memasuki “dunia lain” terasa ketika kaki mulai menapak di ujung jembatan; kita tidak terperangkap, melainkan seolah disambut dan diantar masuk. Tiang dan lantai kayu ulin yang kokoh dengan guratan kasar nan artistik otomatis akan mengarahkan langkah tanpa perlu pemandu. Pilihan membangun jalan setapak dari kayu ulin adalah langkah cerdas. Dari sisi lanskap infrastruktur, telihan bukan hanya artistik, tetapi juga membangun keintiman dengan ekosistem sekitar.

Menyusurinya membuat kita merasa dekat dengan aliran air yang deras. Air yang menerpa batu hingga menimbulkan bunyi gemericik menciptakan sensasi tersendiri. Berpadu dengan bunyi langkah kaki yang menghentak papan, tercipta ritme menenangkan di bawah payung keteduhan atap dedaunan. Langkah demi langkah terayun di atas telihan tanpa rasa lelah. Perjalanan menyusuri tepian sungai yang berkelok membawa pesan agar kita tak memilih jalan pintas. Ada nuansa yang bisa terus dinikmati seandainya kita setia dengan perjalanan ini.

Rasanya sayang untuk melewatkan pemandangan di sisi kanan-kiri sungai yang penuh vegetasi tropis. Di beberapa titik, ranting dan dedaunan membentuk kanopi alami, menjadi tirai bagi air terjun dari kejauhan. Paduan antara cahaya mentari menjelang tengah hari dan rimbunnya pepohonan menimbulkan efek Tyndall. Cahaya mentari yang menerobos celah rerimbunan menjatuhkan larik-larik terang di atas papan telihan, menyajikan pertunjukan dramatis bagi mata yang memandang.

Makin dekat dengan air terjun, gemuruh tipis dan uap air yang terbang terbawa angin menebarkan kesejukan alami yang tak tertandingi oleh pendingin ruangan. Walau panas mulai menggigit, kesejukan dari air terjun tak akan terusir.

Telihan atau jembatan kayu ulin yang memanjang di tepian sungai menjadi penghantar menuju Jantur Inar.

BACA JUGA : Masak Air

Langkah demi langkah menyusuri telihan pasti menuntun pada pertanyaan tentang bagaimana air terjun ini bermula. Jantur dalam bahasa lokal berarti air terjun. Sementara Inar adalah nama sosok perempuan yang sedari kecil memendam lara dengan alur cerita menyedihkan di sepanjang episodenya.

Ada dua versi asal-usul penamaan Jantur Inar. Versi pertama menceritakan bahwa dahulu hiduplah seorang gadis cantik bernama Inar. Ia dikenal karena paras menawan dan kesetiaan yang luar biasa. Cerita rakyat menyebutkan Inar memiliki kekasih yang sangat ia cintai, namun takdir berkata lain. Sang kekasih pergi merantau dan tak kunjung kembali. Di titik inilah, air terjun menjadi saksi bisu kesetiaan sang gadis. Inar kerap datang ke puncak air terjun untuk menanti kepulangan sang pujaan hati hingga ia menutup usia. Masyarakat meyakini aliran air yang jatuh anggun namun bertenaga itu adalah simbol semangat dan air mata kesetiaan Inar yang tak pernah kering.

Versi kedua mengisahkan seorang putri bungsu dari keluarga terpandang yang menderita penyakit kulit bernama barah (semacam kudis bersisik dan gatal parah). Penyakit ini membuat kulitnya tidak mulus, ditambah kelemahan tulang hingga ia hampir lumpuh. Gadis bernama Inar ini kemudian dinikahkan dengan pemuda bernama Baras. Namun, mereka tidak dikaruniai anak dan kondisi Inar tetap menderita. Kehidupan semakin berat ketika Baras tiba-tiba mengalami kebutaan. Kesedihan mendalam dan kondisi fisik yang tak kunjung sembuh membuat Inar putus asa, hingga ia memutuskan mengakhiri hidup dengan melompat ke air terjun di Kampung Temula tersebut.

Meski kedua versi memiliki perbedaan mendasar, keduanya memiliki kesamaan: nama Jantur Inar dimaksudkan untuk mengenang sosok perempuan bernama Inar. Kecantikan memang menyelimuti lingkungan Jantur Inar. Memasuki jembatan kayu ini, langkah tak ingin bergegas. Kaki seolah ingin berjalan pelan menikmati keindahan di segala arah. Gemericik air jernih dan lingkungan hijau membawa nuansa meditatif. Keindahan alami di sini tidak dirusak oleh beton dan cat warna-warni yang terkadang justru tampak terlalu “genit” untuk mempercantik yang sudah indah. Kayu yang dipijak dan pepohonan yang terus tumbuh menjadi elemen utama yang menghubungkan pengunjung dengan alam.

Semakin jauh melangkah, suara air yang tadinya halus berubah menjadi gumaman berat yang menggetarkan udara. Anak sungai menunjukkan riak yang lebih berani, berbuih putih saat menabrak batu kali, mengisyaratkan sang penguasa air terjun sudah dekat. Udara terasa lembap dan uap air mulai mendarat halus di kulit, meluruhkan peluh seketika.

Gazebo menjadi tempat yang tepat untuk menikmati simponi alam sebelum sampai ke Jantur Inar.

BACA JUGA : Sepuluh Persen

Di ujung jembatan kayu, saat gemericik berganti gemuruh, rerimbunan ranting menyembunyikan kemegahan Jantur Inar. Kaki mesti melangkah melewati tebing sungai yang tak terlalu tinggi menuju sisi kanan agar getaran curah air terlihat jelas. Begitu mendekat, uap air yang membubung segera menerpa. Air yang jatuh dari ketinggian 30 meter itu membentuk tirai putih yang tak tembus pandang.

Sejuk airnya seolah memanggil. Namun, menikmati dari kejauhan pun tak kalah syahdu. Perlu sedikit hati-hati untuk mendekat; alangkah baiknya tanpa alas kaki, atau pastikan sol alas kaki Anda kesat dan tidak licin saat menginjak batu. Pastikan juga Anda siap basah walau tak menceburkan diri. Partikel lembut dari percikan air siap membasahi pakaian dalam sekejap.

Namun, jika datang saat mentari berada pada sudut yang tepat, rasa basah itu akan terbayar oleh bias cahaya yang menciptakan lengkungan indah di kaki air terjun. Itulah “Pelangi Inar”—fenomena yang seolah menghidupkan kembali kecantikan sang gadis dalam legenda.

Andai tak ada kesibukan lain, rasanya ingin berlama-lama di sini. Perjalanan kembali melewati jembatan yang sama ternyata menyajikan pemandangan berbeda. Arah berlawanan menyuguhkan detail baru yang mungkin terlewatkan saat datang.

Jika ada yang patut disayangkan, itu adalah aspek pengelolaannya. Kemegahan jalur baru ini belum dibarengi dengan manajemen yang solid. Destinasi ini seolah dibiarkan berjalan apa adanya, hingga menyimpan ironi berupa serakan sampah yang mengganggu keindahan. Manajemen limbah di destinasi wisata yang tidak dikelola secara profesional memang kerap membuat kita hanya bisa mengurut dada.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM