KESAH.IDDua puluh tahun silam, saya meninggalkan Pontianak dalam suasana mencekam. Kini, saya kembali untuk menemukan kota yang telah bersalin rupa—dari ingatan tentang konflik dan raksasa lidah buaya, menjadi hamparan cakrawala datar yang penuh cahaya di sepanjang tepian Kapuas.

Saya lupa kapan persisnya pertama kali menapakkan kaki di Pontianak. Seingat saya, waktu itu saya masih berdomisili di Manado. Kedatangan saya atas undangan British Council untuk mengikuti lokakarya bagi anak-anak pengungsi (Internal Displacement People) korban kerusuhan Sampit.

Tak banyak memori yang tersisa, kecuali ingatan tentang kegiatan yang berlokasi di sebuah lamin atau rumah panjang yang berfungsi sebagai balai umum. Namun, setelah beberapa hari, situasi memanas. Kerusuhan pecah di Pontianak, melibatkan dua kelompok masyarakat yang dibedakan oleh warna ikat kepala: merah dan kuning. Kondisi yang mencekam membuat kegiatan tak lagi kondusif, hingga akhirnya seluruh agenda dipindahkan ke Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sebelum sempat menjelajahi kota, satu hal yang terekam kuat di ingatan adalah banyaknya tanaman lidah buaya di halaman rumah warga. Ukurannya raksasa, jauh berbeda dengan lidah buaya hias yang biasa tumbuh di pot-pot teras rumah.

Dua puluh tahun lebih berlalu hingga akhirnya saya kembali. Kali ini saya berangkat dari Balikpapan melalui penerbangan langsung—sebuah kemudahan yang memangkas waktu transit lama di Surabaya atau Jakarta.

Saat pesawat mulai merendah, lekukan sungai di tengah lanskap hijau mulai tampak. Itulah Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Hamparan hijau yang dari ketinggian menyerupai karpet itu, jika diperhatikan seksama, ternyata adalah larik-larik perkebunan sawit. Kalimantan Barat memang salah satu pemilik kebun sawit terluas, hanya kalah dari Riau dan Sumatera Utara.

Pemandangan ini kontras dengan lanskap Kalimantan Timur saat akan mendarat. Di Kaltim, wajah bumi lebih banyak dihiasi “luka” cokelat dan kubangan bekas pertambangan. Di sekitar Pontianak memang tak ada tambang batu bara; yang ada hanyalah tambang bauksit milik PT Aneka Tambang di Tayan, tak jauh dari kota.

Nuansa hijau kian pekat saat roda pesawat mendekati landasan. Namun, yang paling menonjol adalah topografinya: daratan yang datar sempurna. Begitu keluar dari bandara, kesan “bumi datar” itu semakin nyata. Sejauh mata memandang ke depan, belakang, kiri, maupun kanan, tak nampak satu pun tonjolan bukit. Kedataran ini bahkan divalidasi oleh Google Maps; saat memilih moda jalan kaki, muncul keterangan: “sebagian besar datar”.

Dalam perjalanan menuju hotel, saya disambut jalanan lurus dengan pembatas jalan (divider) yang lebar dan hijau oleh pepohonan. Meski matahari khatulistiwa terasa menyengat, pemandangan hijau di sepanjang jalan memberikan kesejukan visual. Perjalanan pun terasa lancar. Saya baru menyadari bahwa di Pontianak tidak banyak lampu lalu lintas, dan minimnya titik putar balik (U-turn) membuat arus kendaraan mengalir tanpa banyak hambatan.

Pontianak jelas telah bersalin rupa. Meski tradisi “ngopi” sudah mengakar lama, jumlah kedai dan warung kopi saat ini seolah mengalami ledakan eksponensial. “Pontianak sekarang adalah kota sejuta warung kopi,” ujar sopir yang menjemput saya. Bukan seribu, tapi sejuta—sebuah hiperbola untuk menggambarkan betapa menjamurnya budaya ini di setiap sudut kota.

Pisang goreng kipas Pontianak bisa di topping aneka rasa

BACA JUGA : Ojo Gumunan

Masih ada becak di Pontianak

Setibanya di hotel, hasrat untuk segera mencicipi atmosfer warung kopi lokal tak terbendung lagi. Setelah berganti dari celana panjang ke celana pendek yang lebih santai, saya segera meninggalkan hotel dengan ojek daring. Salah satu kedai kopi legendaris di Pontianak menjadi tujuan saya.

Sambil menyesap segelas kopi ditemani pisang goreng—baik yang orisinal maupun yang berbalut selai srikaya—saya berselancar mencari informasi arah mana yang harus dituju untuk menikmati sore di tepian Sungai Kapuas. Ada banyak titik untuk melihat matahari terbenam, namun yang paling direkomendasikan adalah Taman Alun Kapuas; sebuah ruang publik dengan air mancur dan replika Tugu Khatulistiwa.

Berdasarkan Google Maps, jarak dari kedai kopi ke taman tersebut tak begitu jauh. Berjalan kaki menjadi pilihan terbaik demi mengenal kota ini lebih dekat. Usai kopi dan pisang goreng tandas, saya mulai mengayunkan langkah menuju Taman Alun Kapuas, berjalan sambil menebar pandang ke kanan-kiri, sesekali memotret objek dan gang yang menarik.

Dalam perjalanan, beberapa pemandangan sempat mencuri perhatian saya, namun saya simpan untuk eksplorasi hari berikutnya. Salah satu yang tertangkap mata adalah menara dan atap bangunan tua yang dari kejauhan menyerupai Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang. Saya menduga itu adalah Gereja Katedral Pontianak. Setelah memotretnya dari kejauhan, saya meneruskan langkah melewati hiruk-pikuk Pasar Tengah.

Melihat aplikasi peta, saya sudah berjalan lebih dari satu kilometer, namun anehnya belum ada setetes pun keringat yang jatuh. Rupanya, klaim bahwa kota ini datar dan lurus benar-benar terbukti. Namun, karena jalanannya lurus tanpa hambatan, saya harus ekstra waspada saat menyeberang karena kendaraan cenderung melaju kencang.

Tak lama kemudian, Taman Alun Kapuas mulai terlihat. Tiang-tiang kapal yang menjulang di kejauhan mempertegas identitas Pontianak sebagai kota sungai atau kota tepian air. Di sisi taman, terdapat pelabuhan feri penyeberangan yang sibuk. Karena bukan hari libur, Taman Alun Kapuas tidak terlalu sesak sore itu, sehingga saya leluasa menikmatinya. Di tepi sungai, berdiri tegak replika Tugu Khatulistiwa. Namun, yang menarik perhatian saya justru keberadaan warung-warung apung di sekitarnya. Sebenarnya tak ada sajian yang benar-benar khas; menunya mirip warung pada umumnya—minuman kemasan dan camilan berupa gorengan atau sate-satean dari bahan pangan beku (frozen food).

Lanskap tepian Kapuas di area ini sempat terpotong oleh keberadaan pelabuhan feri. Namun, pengelola membangun jembatan estetis yang memungkinkan pengunjung melintas di atas pelabuhan untuk melanjutkan penelusuran di trotoar luas sepanjang sungai. Kawasan inilah yang dikenal sebagai Waterfront Pontianak.

Menyusuri waterfront menyuguhkan banyak pemandangan menarik, baik di atas air maupun di daratannya. Ada pasar, kelenteng, hingga pelabuhan rakyat. Di pelabuhan tersebut, berderet kapal-kapal besar menyerupai rumah yang oleh warga setempat disebut Kapal Bandung—angkutan air khas Kalimantan.

Di atas sungai, terdapat pula kedai atau kafe terapung berukuran besar. Seiring hari beranjak gelap, suasana semakin semarak. Kapal-kapal wisata susur sungai mulai menyalakan lampu warna-warni mereka. Saya tak melewatkan kesempatan menaiki salah satu kapal yang memiliki dek atas. Di sana, kita bisa memesan makanan dan minuman sambil menikmati embusan angin sungai. Perjalanan susur sungainya berlangsung sekitar 20 menit dengan tarif hanya Rp15.000.

Saat kapal mulai melaju, saya kabarkan suasana tersebut kepada seorang teman di Samarinda yang bergiat di industri pariwisata. Foto itu segera dikomentari bahwa kapal susur sungai di Samarinda (Sungai Mahakam) lebih “layak” dan tertata. Saya mengiyakan, namun tidak berminat memperpanjang diskusi perbandingan. Bagi saya, tujuannya bukan soal mana yang lebih baik. “Mumpung di sini, nikmati saja,” balas saya singkat sambil terus menatap riak Sungai Kapuas.

Warung apung di Taman Alun Kapuas

BACA JUGA : Kopi Aming

Kota sejuta warung kopi yang bikin bingung memilih mana yang hendak didatangi

Sore yang tenang di tepian Kapuas perlahan bersalin rupa menjadi malam yang benderang. Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik garis cakrawala yang datar, Waterfront City Pontianak seolah baru saja terbangun dari tidur siangnya. Kawasan yang membentang kurang lebih 600 meter hingga 1 kilometer ini—mulai dari Taman Alun Kapuas, melewati Pelabuhan Senghie, hingga menyisir Kampung Melayu Benua Melayu Laut (BML)—menjadi panggung utama kehidupan masyarakat. Lampu-lampu jalan dekoratif mulai berpendar, memantul di permukaan sungai yang tenang namun menyimpan arus kuat, menciptakan bayangan cahaya keemasan yang menari-nari.

Hiruk pikuk di sini adalah harmoni yang unik. Di area Taman Alun Kapuas, kerumunan terpusat pada replika Tugu Khatulistiwa dan air mancur menari yang menjadi magnet swafoto wisatawan. Bergeser sedikit ke arah timur, aktivitas di Pelabuhan Senghie memberikan nuansa berbeda; sebuah pelabuhan legendaris saksi bisu sejarah perdagangan sejak zaman kolonial. Di sini, aktivitas bongkar muat kapal kayu tradisional masih terlihat samar di bawah lampu temaram, memberikan kesan maskulin dan kerja keras di tengah suasana santai kota.

Semakin larut, suasana kian semarak di sepanjang trotoar luas pejalan kaki. Di area ini, masyarakat melakukan berbagai aktivitas: ada yang berolahraga ringan memanfaatkan jalanan yang datar, ada seniman jalanan yang memetik gitar, hingga kelompok anak muda yang sekadar “nongkrong” memandangi hilir mudik kapal. Kapal-kapal wisata yang tadinya bersahaja, kini berubah menjadi karnaval cahaya terapung dengan lampu neon warna-warni yang menyilaukan. Dari kejauhan, dentum musik kafe terapung terdengar sayup, beradu dengan riuh pedagang kaki lima di kawasan Food Court Waterfront yang menawarkan kuliner lokal seperti sotong pangkong.

Anak-anak juga mulai ramai bermain, menaiki sepeda dan mobil-mobilan listrik. Ramainya anak-anak yang “tancap gas” memang menuntut kewaspadaan, karena mereka sering memacu kendaraan mainannya dengan laju. Menatap semua ini, saya menyadari bahwa waterfront bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan urat nadi budaya. Di satu sisi ada denyut ekonomi pelabuhan rakyat, di sisi lain ada ruang rekreatif yang demokratis. Malam di tepian Kapuas memberikan perspektif baru: meski kota ini datar tanpa perbukitan, kehidupan yang mengalir di atasnya memiliki kontur yang dalam dan penuh warna.

Menutup perjalanan hari ini di atas dek kapal wisata, menyusuri tepian sungai sembari melihat deretan rumah panggung warga di seberang sungai (Siantan), saya membiarkan diri larut dalam hiruk pikuk yang hangat itu. Ini adalah perjumpaan kembali dengan Pontianak yang jauh lebih hidup, lebih bercahaya, dan jauh lebih ramah daripada ingatan samar saya dua puluh tahun silam yang tersapu angin kencang di atas air Sungai Kapuas.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM