KESAH.IDKadang kala, pertemuan paling berkesan justru berawal dari sebuah ketidaksengajaan di tempat yang asing. Berawal dari segelas kopi di sudut mal di Bekasi yang membuat saya bertanya-tanya tentang sosok di balik namanya, takdir rupanya membawa saya melakukan perjalanan melintasi pulau menuju jantung Kalimantan Barat. Ini adalah catatan perjalanan tentang menuntaskan rasa penasaran—sebuah ziarah rasa dari sebuah kedai kopi di tanah rantau hingga ke titik nol sejarahnya di Jalan Haji Abbas, Pontianak.

Pertengahan November lalu, saya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah workshop mini di Bekasi. Saya menyebutnya “mini” karena pesertanya hanya tiga orang yang datang dari tiga pulau berbeda: saya dari Kalimantan, satu teman dari Jawa, dan satu lagi dari Sumatera.

Karena sudah terlampau lama meninggalkan Pulau Jawa, saya tak lagi familiar dengan Bekasi. Nama kota ini hanya melekat di ingatan lewat akronim Jabodetabek. Sebenarnya, saya yakin jika dicari-cari, pasti ada saudara atau tetangga asal kampung halaman saya di Purworejo yang merantau ke sini. Namun, saya urungkan niat itu; daripada repot mencari lalu bingung mau mengobrol apa, lebih baik saya “menikmati” kesendirian di kota ini.

Perjalanan dimulai dengan menumpang bus Damri dari Bandara Soekarno-Hatta. Setibanya di Bekasi, saya menyambung perjalanan dengan ojek online menuju hotel. Saat memasuki kawasan sebuah mal menuju akses hotel, seorang satpam menghentikan motor kami. “Kalau ke hotel lewat dalam mal saja, Pak. Naik lift, lobi hotel ada di lantai 4,” ujarnya melarang ojek online masuk ke pelataran.

Sampailah saya di hotel yang ternyata milik anak perusahaan Kompas Gramedia Group. Teman sekamar saya baru akan tiba tengah malam dari Serang. Dari jendela kamar, pemandangan yang tersaji hanyalah deretan mal dan pusat perbelanjaan. Hendak menyusuri gang di sekitar hotel pun tidak memungkinkan karena itu bukan kawasan pemukiman. Untuk sekadar duduk merokok pun tak bisa karena kamar saya tipe no-smoking.

Tak ada pilihan lain, saya memutuskan turun ke mal untuk mencari tempat ngopi demi membunuh waktu. Beruntung, tak jauh dari lift, saya menemukan sebuah kedai kopi bergaya Kopitiam dengan teko-teko tinggi dan saringan kainnya yang khas. “Nah, ini cocok,” batin saya saat melihat area merokok yang terbuka.

Saya memesan segelas kopi hitam panas. Sembari menyesap kopi, saya memotret gelas yang asapnya mengepul tipis itu dan mengirimnya ke grup WhatsApp.

“Wah, Kopi Aming!” Itulah tanggapan pertama yang muncul. Saya hanya membalas “Hehe,” karena belum paham mengapa teman saya begitu antusias. Saya amati gelasnya lebih saksama, ternyata memang ada tulisan “Aming”. Awalnya saya mengira ini ada kaitannya dengan Aming, komedian acara Extravaganza. Namun seorang kawan segera menimpali, “Itu kopi legendaris di Kalimantan Barat, Mas!” Kabar itulah yang akhirnya memberi tahu saya betapa tersohornya Kopi Aming di dunia perkopian.

Sang barista Kopi Aming yang sedang beraksi

BACA JUGA : Mens Rea

Waktu bergulir hingga sore itu, pada minggu kedua Januari 2026. Saya sedang duduk menyesap teh panas di belakang sebuah masjid karena mesin kopi di kedai tersebut sedang rusak. Tiba-tiba di grup WhatsApp yayasan muncul sebuah undangan. Tak lama, sebuah pesan pribadi masuk: “Bisa berangkat kah, Mas?”

Sebagai satu-satunya laki-laki di grup, saya tahu pesan itu untuk saya. “Bisa saja,” jawab saya singkat. Panitia segera meminta data identitas untuk administrasi tiket. Saya memilih berangkat dari Balikpapan agar lebih praktis melalui penerbangan langsung. Tak butuh waktu lama, sebuah tiket elektronik tujuan Pontianak mendarat di ponsel saya.

Satu hal yang langsung melintas di pikiran: saya harus berangkat sehari lebih awal. Saya ingin mencicipi langsung Kopi Aming di tempat asalnya—kopi legendaris yang perkenalan pertamanya justru terjadi secara tak sengaja di Bekasi.

Setibanya di Bandara Supadio, rencana awal saya untuk langsung menuju Jalan Haji Abbas sedikit tertunda karena ada yang menjemput. Saya pun check-in di hotel terlebih dahulu. Sekitar pukul tiga sore, setelah berganti celana pendek, saya segera memesan ojek online. Menariknya, sejak saya di Samarinda, setiap kali memesan ojek, motor yang datang hampir selalu Honda Vario.

Andai tidak naik ojek, mungkin saya tidak akan sampai ke tujuan utama saya sore itu. Di sepanjang perjalanan sekitar 3 kilometer, banyak sekali kedai kopi menarik yang menggoda untuk disinggahi. Namun, tekad saya sudah bulat menuju Kopi Aming. Jalanan protokol berganti menjadi jalanan yang lebih kecil namun sangat padat. Dari kejauhan, kerumunan orang mulai terlihat. Ternyata, Kopi Aming di sana terdiri dari dua bangunan yang saling berseberangan. Kedai aslinya tetap penuh sesak meski areanya cukup luas.

Setibanya di sana, saya sempat merasa agak canggung karena datang sebagai orang luar daerah. Mungkin karena gaya saya yang tampak seperti turis, pelayan sempat mengira saya hanya ingin membeli kopi bubuk kemasan. Dugaan itu tidak sepenuhnya salah, sebab Kopi Aming memang berakar dari industri kopi bubuk rumahan sejak tahun 1970-an yang dipasok ke warung-warung dan pekerja kayu. Barulah pada tahun 2002, mereka mendirikan kedai pertamanya di Jalan Haji Abbas ini.

Sebenarnya saya memang berniat membeli oleh-oleh, namun fokus sore ini adalah menikmati kopi original di tempat asalnya. Karena teriknya matahari Pontianak, pilihan saya jatuh pada es kopi hitam. Saya juga memesan camilan impian sejak di Samarinda: pisang goreng original dan pisang goreng srikaya. Total pesanan saya ditambah sebungkus rokok bahkan tidak sampai lima puluh ribu rupiah. Harga yang sangat ramah di kantong untuk ukuran kedai kopi legendaris.

Suasana Kopitiam seperti ini sebenarnya familiar bagi saya yang tinggal di Samarinda. Namun, kesibukan di Kopi Aming adalah level yang berbeda. Jika di Samarinda warung kopi mulai sepi pukul tiga sore, di Aming justru gelombang keramaian kedua baru saja dimulai. Pegawai mulai mengeluarkan meja dan kursi tambahan ke pinggir jalan, bersiap menyambut pengopi yang akan memadati tempat ini hingga larut malam.

Es kopi, pisang ori dan pisang srikaya yang yammy

BACA JUGA : Ojo Gumunan

Dua jam saya hanyut dalam riuhnya suasana. Begitu gelas es kopi dan piring pisang goreng tandas, saya mengecek Google Maps. Nama “Taman Alun Kapuas” muncul sebagai rekomendasi tempat terdekat yang hanya berjarak 20 menit jalan kaki. Seketika rencana berubah; saya membatalkan niat pulang ke hotel dan memilih berjalan kaki menuju arah sungai.

Sambil melangkah menyusuri gang-gang datar di Pontianak, ada rasa lega yang membuncah. Perjalanan ini terasa seperti menuntaskan rasa penasaran yang dimulai dari sebuah meja kopi di Bekasi beberapa bulan lalu. Siapa sangka, berawal dari ketidaksengajaan di sebuah mal, saya akhirnya benar-benar menginjakkan kaki di “rumah” Kopi Aming.

Saya merasa kagum melihat bagaimana usaha rumahan dari tahun 70-an ini telah bertransformasi menjadi raksasa dengan lebih dari 30 cabang di seluruh Indonesia. Datang ke kedai asalnya memberikan kepuasan tersendiri—sebuah pencapaian kecil bagi seorang penikmat kopi. Nanti, setiap kali saya melihat logo Kopi Aming di kota lain, saya akan selalu teringat pada teriknya sore di Pontianak, manisnya selai srikaya, dan langkah kaki yang ringan menuju Taman Alun Kapuas.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM