iKESAH.ID – Berjalan kaki menyusuri gang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan cara kita membaca kota dengan tempo yang lebih lambat. Di tengah gempuran kedai kopi modern yang masif, mari melangkah bersama menembus sekat-sekat gang di seputaran Citra Niaga. Kita tidak hanya berjalan untuk mencari keringat, tapi untuk merawat ingatan dan menjadi saksi hidup atas ketangguhan enam kedai kopi legendaris Samarinda yang telah menjaga nyala apinya lintas generasi. Selamat datang di Susur Gang Samarinda: Edisi Kopi Bahari.
Tulisan Anda sebenarnya sudah sangat kaya akan substansi, reflektif, dan memiliki kedekatan rasa (sense of place) yang kuat terhadap Samarinda.
Untuk membuatnya semakin “wow” tanpa mengubah struktur asli maupun mengurangi panjangnya, saya memperkuat diksi (pilihan kata), menata ritme kalimat agar lebih mengalir (flowing), serta mempertegas kontras antara nostalgia kopitiam bahari dengan gempuran modernitas.
Berikut adalah versi yang telah disempurnakan:
Di antara riuhnya komunitas susur, telusur, dan blusukan, eksistensi Susur Gang Samarinda terbukti lumayan tangguh bertahan. Konsistensinya patut diacungi jempol; seminggu dua kali, komunitas ini tetap menunaikan “hajatnya” melangkahkan kaki, membelah dan meraba nadi gang-gang di berbagai penjuru wilayah Kota Samarinda.
Ritme ini mungkin sudah menjelma menjadi rutinitas, walau energinya harus dijaga mati-matian oleh segelintir admin yang militan. Jumlah mereka tak banyak, sebab sebagian besar pengurus lainnya telanjur masuk dalam kategori admin angin-anginan.
Sebagai bagian dari barisan admin angin-anginan itu, terkadang benak saya tergelitik untuk merancang seri atau agenda Susur Gang Samarinda di luar pakem biasanya. Sebuah penjelajahan yang dikonsep lebih matang; rutenya dipikirkan masak-masak sejak awal, agar perjalanan dari titik start hingga finish memiliki benang merah yang bernilai untuk dimaknai atau direnungkan—baik secara personal maupun kolektif.
Cukup lama saya absen mengintervensi agenda. Namun belakangan, ada fenomena yang mengusik perhatian: pertumbuhan kedai kopi berskala besar di Samarinda yang nampaknya masif bak bom sambung-menyambung. Satu demi satu kedai kopi baru menyeruak ke permukaan, bahkan sebelum kita mengakhiri paruh pertama tahun 2026 ini.
Saya memang tidak melakukan sensus secara menyeluruh, tetapi sekurang-kurangnya mata saya menangkap kehadiran Kopi 28, House of Dondang, Bluedrue, Nerasa, Kopi Roona, Lauren, dan yang terakhir cukup memicu kehebohan adalah Nordu. Belum semua tempat saya sambangi, karena jujur saja, tidak semua atmosfernya ramah bagi penyuka kopi seumuran saya. Di beberapa titik, jika saya memaksakan diri ke sana, saya hanya akan tampak seperti ornamen yang salah tempat—seorang bapak-bapak yang linglung dan kesasar.
Konon, beberapa kedai kopi raksasa ini diimpor langsung dari Pontianak.
Ah, lagi-lagi Kalimantan Timur sekadar dijadikan pasar yang gurih. Fenomena ini serupa dengan lanskap kuliner Chinese Food, di mana mayoritas kedai-kedai tersohornya dibuka oleh para perantau asal Bumi Khatulistiwa. Pertanyaannya kemudian: apakah Samarinda memang tidak memiliki fondasi atau akar tradisi warung kopi yang kuat?
Sebenarnya tidak juga. Sejarah warung atau rumah kopi di Kalimantan Timur sejatinya tidak berbeda jauh dengan rekan serumpunnya di Kalimantan Barat. Yang membedakan dan membuat kita kalah barangkali adalah perkara engagement atau keterikatan budayanya. Di Kalimantan Barat, warung kopi telah lama bergeser menjadi arus utama (mainstream); kopi adalah ritus minuman harian. Sementara di Samarinda, sebagian besar masyarakatnya secara kultural masih lebih karib memilih segelas teh.
Kendati demikian, Kaltim dan Kalbar sebenarnya berbagi jejak genetika kopi yang sama: Kopitiam. Sebuah institusi rumah kopi tradisional yang dihidupkan oleh kaum peranakan Tionghoa. Hanya saja, atmosfer dan denyut budaya peranakan Tionghoa di Kalimantan Barat memang terasa jauh lebih pekat—mungkin karena faktor kuantitas populasinya.
Jika di Samarinda peta kuliner kaki lima seperti gorengan, nasi goreng, bakso, hingga soto didominasi oleh perantau asal Jawa, di Pontianak polanya berbeda. Di sana, Anda tidak akan kesulitan menemukan warga keturunan Tionghoa yang dengan santai berjualan pisang goreng kipas di kios seadanya di tepi jalan.
Bisa jadi, para pengusaha kopitiam di Kalimantan Barat kini mulai kehabisan ruang tumbuh. Di Pontianak, ruang-ruang kosong untuk mendirikan warung kopi baru barangkali sudah menyusut drastis, sehingga ekspansi ke luar pulau menjadi pilihan logis. Kalimantan Timur, dengan karakteristik demografi penduduknya yang heterogen dan cair, menjelma menjadi medan perburuan yang sangat manis karena keterbukaan masyarakatnya terhadap hal-hal baru.
Pontianak sendiri kini telanjur masyhur dengan julukan Kota Sejuta Kedai Kopi akibat densitas kedainya yang luar biasa padat. Imbas dari kompetisi yang luar biasa sengit itu, harga segelas kopi di Pontianak terkoreksi menjadi jauh lebih murah ketimbang harga segelas kopi di Samarinda, Balikpapan, atau kota-kota utama lainnya di Kaltim.
Intrusi kedai kopi dari luar ini sejujurnya cukup mengkhawatirkan, terutama bagi para penikmat dan pegiat kopi lokal yang memelihara idealisme untuk memajukan geliat komoditas kopi asli Kalimantan Timur. Upaya sunyi mereka untuk menggemakan kopi Kaltim—yang secara kuantitas produksinya memang masih tergolong sedikit—terancam tenggelam dan tergilas oleh narasi besar yang ditawarkan oleh gerai-gerai korporasi dari luar daerah.
Bahkan di salah satu kedai kopi eks Pontianak tersebut, mereka dengan bangga menyodorkan menu bean bertajuk Ponti Blend. Saya berani bertaruh, jumlah lidah masyarakat Samarinda yang fasih menyebut nama Ponti Blend hari ini pasti jauh lebih banyak ketimbang mereka yang mengenal eksistensi Liberika Lok Bahu.
BACA JUGA : Marc Joss
Bagi saya pribadi, belakangan ini kian sulit untuk mencocokkan waktu dengan jadwal reguler Susur Gang Samarinda yang rutin bergulir setiap Selasa dan Jumat. Maka, ketika letupan keinginan untuk menyusuri jejak kedai-kedai kopi bahari itu membuncah, saya mencoba mengusulkan hari Minggu sebagai waktu eksekusi.
Lagi pula, hari Selasa dan Jumat di lingkaran Susur Gang Samarinda bukanlah sebuah dogma yang kaku. Penambahan hari di luar jadwal resmi sangat dimungkinkan—terutama jika proposal itu diajukan oleh seorang admin angin-anginan.
Salah satu hukum tidak tertulis yang dirawat di Susur Gang Samarinda adalah parameter jarak tempuh; setiap kali melangkah, jaraknya diusahakan menyentuh angka kisaran 5 kilometer, atau jika dikonversi ke dalam durasi waktu, sekurangnya memakan waktu satu jam perjalanan. Menggunakan daya imajinasi untuk merajut titik-titik keberadaan warung kopi bahari di seputaran jantung niaga klasik Samarinda—kawasan Citra Niaga—saya optimis syarat keramat tersebut akan terpenuhi dengan sempurna.
Dengan menetapkan titik kumpul di Citra Niaga, garis rute dirancang membelah jalanan, melewati Kedai Kopi Madju, Kedai Taufik, Kedai Ko Lim, Kedai Ko Abun, Kedai Timur Subur, hingga akhirnya menyentuh garis finish persis di depan Kedai Hainan di Citra Niaga. Kalkulasi di atas kertas menunjukkan rute melingkar ini akan memakan waktu tempuh kurang lebih satu jam.
Dan fix, saya segera meminta bantuan rekan admin yang berkategori setengah militan untuk mengeksekusi pembuatan flyer digital, lalu mengunggahnya ke akun Instagram resmi Susur Gang. Ledakan reaksi terjadi. Postingan tersebut langsung dihujani tanda suka, direpost berulang kali, dan dibagikan ke berbagai grup. Respons yang masif ini mendadak membuat sang admin didera kecemasan; ia gugup membayangkan jika esok pagi jumlah massa yang datang akan membeludak tak terkendali.
Saya mencoba meredam kegusarannya dengan seloroh santai, “Santai saja, mereka yang berniat ikut itu sebagian besar adalah para pejuang subuh,”.
Sebuah metafora halus bahwa mereka memang memiliki determinasi tinggi untuk bangun di pagi buta, namun realitanya, sebagian besar dari mereka biasanya akan berakhir gagal melawan rasa kantuk.
Dan prediksi saya terbukti jitu. Pada jam yang telah disepakati, tubuh-tubuh yang berhasil terkumpul di pelataran Citra Niaga berkisar 16 orang—sebuah angka yang justru sangat ideal dan organik untuk memobilisasi satu rombongan jalan kaki tanpa memacetkan trotoar.
Mengingat ini bukan agenda reguler yang kaku, sebelum melangkah kami membuka sesi dengan ritual pengantar. Saya mengambil alih kendali untuk memaparkan sekilas visualisasi rute, deretan kedai yang akan kami lintasi, berikut sekelumit karakteristik unik yang melekat pada masing-masing tempat. Di semesta Susur Gang Samarinda, memang berlaku konvensi tidak tertulis: siapa yang menelurkan ide rute, maka dialah yang memikul tanggung jawab sebagai pemandu jalannya.
Pemaparan saya buat ringkas dan padat, sebab bagi sebagian besar peserta, nama-nama kedai kopi yang saya sebutkan sebenarnya bukan barang asing lagi. Namun, jika ada satu nama yang barangkali terdengar agak lamat-lamat di telinga mereka, tempat itu kemungkinan besar adalah Kopi Madju. Ya, kedai kopi satu ini memang letaknya agak tersembunyi meskipun berdiri di atas urat nadi jalan protokol. Visual fasadnya yang amat low profile membuat banyak orang tidak mengira bahwa di antara deretan ruko yang padat itu terselip sebuah warung kopi sederhana yang bersahaja. Kendati senyap dari publikasi modern, Kedai Kopi Madju sangat legendaris dan mengakar kuat di kalangan para saudagar serta pebisnis emas di radius Citra Niaga dan Pasar Pagi.
Kedai Kopi Madju yang beralamat di Jalan Panglima Batur ini pun resmi menjadi titik singgah pertama yang kami lintasi. Kedai bersahaja ini dengan mudah dikenali lewat lanskap tumpukan karung berisi arang yang berjejer di area depannya. Estetikanya menunjukkan penampakan visual yang mulai dimakan usia dan kusam. Namun jangan salah, kopi hitam yang lahir dari dapurnya terbilang sangat black dan strong. Karakteristiknya begitu pekat; bahkan ketika diguyur susu kental manis sekalipun, tone warnanya tetap kukuh menghitam. Setia pada pakem warung kopi bahari pada umumnya, Kedai Kopi Madju sudah beroperasi sejak pukul 7 pagi dan memilih menyudahi hari pada pukul 5 sore. Berdasarkan rekam jejak oral, kedai legendaris ini disinyalir telah melayani pelanggannya sejak era 70-an.
BACA JUGA : Drama MBG
Melangkah meninggalkan Kopi Madju di Jalan Panglima Batur, kami mengayunkan kaki menuju ujung Jalan Diponegoro. Di sana, berdiri dengan kokoh Warung Kopi Taufik. Berdiri sejak kisaran tahun 1980, kedai ini memiliki skala ruang yang terhitung cukup masif karena mengokupasi bangunan ruko dua pintu.
Secara fungsional, Kedai Taufik menyajikan konsep yang amat komplet; ia barangkali lebih tepat didefinisikan sebagai episentrum tempat sarapan pagi ketimbang sekadar ruang untuk menyesap kopi di waktu fajar atau senja. Opsi takaran menu sarapan di Kedai Kopi Taufik jauh lebih variatif, ditunjang dengan kapasitas ruangannya yang cukup lega untuk menampung obrolan pagi.
Bergeser sejenak dari Kedai Kopi Taufik, masih di bentangan Jalan Diponegoro tepat sebelum menyentuh marka perempatan, langkah kami disambut oleh Kedai Kopi Mekar Indah, atau yang lebih karib disapa Kedai Kopi Liem. Institusi kopi satu ini sah tercatat sebagai salah satu aktor paling sepuh dalam lini masa perkopian kota.
Selain setia mengalirkan menu minuman standar berupa kopi, teh, dan susu, serta rupa-rupa roti panggang klasik, di pelataran kedai ini juga terintegrasi lapak penjual nasi kuning dan lontong sayur yang menggugah selera. Kedai Kopi Liem sejak lama telah bertransformasi menjadi ruang komunal bagi aparatur sipil negara untuk berburu sarapan, baik mereka yang berdinas di lingkungan Kantor Walikota Samarinda maupun Kantor Gubernur Kaltim.
Saking kuatnya akar bisnis mereka, Kedai Kopi Liem kini bahkan telah melahirkan “anak” spiritualnya dalam bentuk format yang sedikit lebih segar, yakni Kedai Kopi Papalim yang berlokasi di Jalan Camar, Kota Samarinda.
Langkah kaki kemudian membawa rombongan memotong Jalan Flores menuju ke arah Jalan Pelabuhan. Di kawasan ini, bertumpu sebuah destinasi yang dikenal sebagai Kedai Kopi Pelabuhan, namun memori kolektif warga lebih lekat memanggilnya Kedai Ko Abun.
Tempat ini berbagi kemiripan genetik dengan Kedai Kopi Liem: sama-sama berusia senja dan dijalankan oleh generasi penerus yang merawat warisan leluhur mereka—para imigran yang dulu pertama kali mengadu nasib mendarat di Kota Minyak, Sanga-Sanga. Perbedaannya, Kedai Kopi Ko Abun memiliki konfigurasi ruang yang lebih intim dan sempit karena hanya menempati ruko satu pintu.
Secara historis, Kedai Ko Abun lebih pekat diisi oleh atmosfer interaksi para pelaku niaga pelabuhan. Bahkan di masa jayanya dulu, salah satu figur ketua organisasi kemasyarakatan paling berpengaruh di Kota Samarinda diketahui kerap menjadikan tempat ini sebagai markas ngopi rutinnya.
Di kalangan generasi muda kontemporer penggila karakter kopi yang strong dan bold, Kedai Kopi Ko Abun menempati posisi yang cukup sakral. Reputasi legendaris Ko Abun kian melambung berkat goresan pena jurnalis kopi kawakan, Toni Wahid, di laman cikopi.com, yang tanpa ragu menyematkan julukan kehormatan bagi sang pemilik sebagai “The Godfather of Caffeine”.
Meniru jejak Kopi Liem, imperium Kopi Abun pun kini telah sukses melahirkan “anak” keturunan yang diberi nama Kopi Starbud, mengambil posisi strategis di dalam kawasan Citra Niaga.
Perjalanan kami teruskan menuju bentangan Jalan Yos Sudarso. Berada persis di lingkar perimeter kompleks pelabuhan, berdirilah Kedai Kopi Timur Subur. Urusan amunisi untuk mengisi perut, variasi makanan di kedai kopi ini terbilang luar biasa komplet. Selain konsisten memproduksi roti tawar beserta selai srikaya buatan sendiri (homemade), dapur mereka juga menyediakan menu mantau yang hangat.
Sesuai lokasinya, entitas yang kerap memadati bangku-bangku di Kedai Kopi ini adalah para aktor pelabuhan. Jadi, jika Anda menaruh ketertarikan untuk menguping atau terlibat langsung dalam obrolan mendalam seputar seluk-beluk birokrasi, dinamika bongkar muat, hingga lika-liku dunia maritim, di sinilah tempat terbaik untuk merapat.
Kini, Kedai Kopi Timur Subur pun telah melebarkan sayapnya dengan membuka cabang yang berwajah lebih modern, mengusung nama yang sama namun mengambil tempat di Jalan MT. Haryono, Kota Samarinda.
Kami terus mengayunkan langkah lurus menuju arah Kelenteng Thien Ie Kong, merayap perlahan melewati Jalan Pangeran Suriansyah dan Jalan Mulawarman, hingga akhirnya menyusuri gang di samping eks Plaza 21 menuju Jalan Niaga Utara. Tepat di dalam Kompleks Citra Niaga, berdirilah Kopi Hainan sebagai titik pemberhentian. Serupa dengan barisan kedai bahari lainnya, Hainan juga mempertahankan tradisi memproduksi aneka rotinya sendiri. Namun, bagi para penganut sekte pencinta teh, Kedai Kopi Hainan adalah sebuah oase yang tepat; lemari mereka menyimpan berbagai kurasi pilihan jenis teh klasik yang sangat kaya.
Dalam durasi waktu perjalanan yang memakan tempo kurang lebih satu jam, enam pilar kedai kopi bahari Samarinda berhasil kami lalui seluruhnya. Meski secara garis besar berada dalam satu napas rasa karena sama-sama setia mengandalkan metode kopi saring tradisional, masing-masing kedai nyatanya berhasil mempertahankan karakteristik dan segmentasi pasarnya sendiri. Karena di balik setiap cangkir yang mereka sajikan selalu tersimpan narasi sejarah yang panjang, maka tidak ada salahnya bagi kita untuk meluangkan waktu mendatangi dan meresapi sendiri sensasi autentik yang ditawarkan dari tiap-tiap pintu kedai tersebut.
Pada akhirnya, terselip sebuah rasa bangga yang subtil ketika kita memilih untuk turut ambil bagian menjadi saksi hidup: melihat bagaimana kedai-kedai kopi bahari ini tetap tegak berdiri, menjaga nyala apinya di tengah gempuran ombak kedai kopi modern yang serbaterukur dan kekinian.
note : sumber gambar – SUSURGANGSAMARINDA








