KESAH.IDPontianak membuktikan diri sebagai kota seribu warung kopi, di mana tegukan robusta menjadi denyut nadi yang melampaui sekat waktu dan status sosial. Dari riuh Jalan Gajah Mada hingga aksi ikonik Asiang yang menyeduh kopi tanpa baju, budaya “berbual” di sini menciptakan harmoni unik yang menyatukan tradisi legendaris dengan hiruk-piruk kehidupan modern yang tak pernah mati.

Di Samarinda, ketika menyebut nama “Gajah Mada”, yang seketika melintas di benak adalah toko pakaian legendaris yang selalu disesaki pengunjung menjelang Lebaran. Toko ini dulunya berada di Jalan Antasari, namun kini telah berpindah ke Jalan Diponegoro.

Lain pula ceritanya di Pontianak. Begitu nama “Gajah Mada” disebut, tak sedikit pun terlintas memori tentang Sumpah Palapa yang diucapkan sang Mahapatih Majapahit. Gajah Mada di Pontianak adalah sinonim dari kopi. Deretan warung, kedai, hingga coffee shop memenuhi sepanjang jalan tersebut, hingga kemudian ia dijuluki sebagai Coffee Street atau “Jalan Seribu Warung Kopi”.

Jalan ini seolah tak pernah tidur; selalu berdenyut ramai dari pagi hingga bertemu pagi kembali. Ragam rumah kopi hadir di sana, mulai dari yang tradisional berbalut modernitas, kopi kekinian, kopi estetik, hingga permata tersembunyi (hidden gems). Melihat kedai kopi yang selalu penuh—bukan hanya oleh orang dewasa tetapi juga anak muda—membuat kehidupan di Pontianak terasa seperti tak diburu oleh waktu, meski di jalanan kegusaran itu tetap tampak. Ada kontras yang nyata antara budaya jalan raya yang terburu-buru dengan budaya “berbual” (mengobrol) di warung kopi yang santai.

Orang Pontianak sepertinya tak mengenal batasan waktu ngopi pagi, siang, sore, atau malam; sebab sepanjang waktu, kedai kopi selalu riuh. Sebenarnya, budaya nongkrong sambil bercakap memang tak mengenal tempat. Di Jalan Ahmad Yani, misalnya, tepat di pelataran Dekranasda yang bersebelahan dengan Hotel Ibis, ramai anak muda duduk di trotoar. Mereka mengobrol dan bermain game sambil menikmati minuman saset panas atau dingin yang dijajakan pedagang bermotor. Anak-anak muda ini duduk santai di atas trotoar hanya beralaskan spanduk bekas reklame. Tempat tongkrongan seadanya ini sanggup bertahan hingga pukul satu atau dua dini hari.

Warung, kedai, kafe, atau apa pun sebutannya, masing-masing memiliki penggemar setia, sehingga satu sama lain tak merasa saling terancam. Setiap tempat punya kiat tersendiri untuk menggaet pelanggan. Beberapa kedai dikenal karena pelayannya adalah gadis-gadis ramah dan berpenampilan menarik. Jadi, banyak pelanggan datang bukan semata demi kopi yang “joss”, melainkan untuk menyegarkan pandangan mata.

Di malam hari, beberapa kedai kopi bahkan tampil menyerupai klub malam. Diterangi lampu warna-warni dan dentuman musik jedag-jedug yang diputar terus-menerus, pengunjung dengan naluri berdansa tinggi pasti takkan tahan untuk tak bergoyang. Melewati Jalan Gajah Mada menuju Jalan Budi Karya, suasana kopi di sana memiliki warna yang berbeda lagi. Jalan yang lebih dikenal dengan sebutan “Ambalat” ini memang hingar-bingar saat malam tiba.

Selain kedai kopi permanen, di pinggir jalan berderet puluhan gerobak atau rombong yang dilengkapi pengeras suara menggelegar. Jika Gajah Mada layak disebut Coffee Street, maka Ambalat lebih cocok dijuluki sebagai Discotheque Street. Di belakang rombong dalam keremangan, tertata kursi dan meja plastik sederhana. Pengunjung tak hanya menyesap teh, minuman saset, atau kopi robusta, melainkan juga “Kopi Belanda”. Rombong-rombong itu, meski tak memajangnya secara terbuka, menyediakan aneka minuman yang sanggup membuat tenggorokan kering: bir, wiski, arak, dan jenis minuman beralkohol lainnya. Makin larut, Ambalat makin ramai, namun juga terasa makin berbahaya.

Warung Kopi Asiang dari pagi buta sudah penuh parkirannya

BACA JUGA : Kopi Aming

Jika tak cepat-cepat datang bakal kesulitan mencari tempat duduk kosong

Denyut kopi di Pontianak memang abadi. Ketika kedai kopi 24 jam mulai sepi karena mata pengunjung mulai perih menahan kantuk, di pagi buta justru sudah ada warung kopi yang mulai menyajikan kehangatan. Yang paling tersohor adalah Warung Kopi Asiang yang sudah melayani pelanggan sejak pukul empat subuh.

Agar bisa mendapatkan posisi duduk terbaik untuk melihat aksi sang “bintang”—pria kekar yang lebih mirip centeng ketimbang barista—janganlah malas bangun pagi. Pukul enam pagi, hampir semua kursi sudah terisi. Kalaupun ada meja kosong, di atasnya biasanya sudah tertanda reserved. Rasanya tak ada warung kopi yang menerima reservasi sebanyak Warung Kopi Asiang.

Saat terbaik untuk duduk ngopi memang sejak subuh hingga menjelang siang. Di waktu itulah “Sang Legenda” akan tampil meracik kopi. Pria berkepala plontos itu menjerang kopi tanpa mengenakan baju. Mungkin kedai ini bisa dijuluki sebagai “Kopi Telanjang Dada”. Meski raut wajah Asiang tak bisa dibilang ramah, ia adalah sosok ikonik yang baik hati. Ia tak menunjukkan rasa keberatan meski silih berganti diganggu pengunjung yang ingin berfoto. Bisa jadi, Asiang adalah barista terpopuler di Indonesia; intensitas orang yang mengajaknya berswafoto setara dengan bintang film atau penyanyi ternama.

Ia bahkan bersedia meninggalkan singgasananya sejenak untuk berfoto bersama rombongan di depan warung. Jika tak percaya, coba ketik “Asiang Pontianak” di Google Image. Halaman web akan dipenuhi foto Asiang bertelanjang dada bersama berbagai macam orang. Sesekali, ia pun menunjukkan senyumnya.

Sepertinya, berkunjung ke Warung Asiang pagi-pagi sekali telah menjadi agenda wajib bagi siapa pun yang bertandang ke Pontianak. Saya sendiri, ketika mendapat mandat ke kota ini, awalnya hanya memikirkan Warung Kopi Aming. Namun setibanya di sana dan bercerita pada seorang kawan, nama Asiang pun mencuat. Ia bilang, kunjungan ke Pontianak belum lengkap jika sudah ke Aming tapi belum ke Asiang.

Maka di hari terakhir, saya berniat tidak tidur agar subuh-subuh bisa menyaksikan sang bintang beraksi menyeduh kopi. Pucuk dicinta ulam tiba, menjelang tengah malam seorang teman lama menelepon, memprotes mengapa saya datang diam-diam. Untungnya saya punya alasan: besok pagi saya akan menemuinya untuk ngopi sebelum pulang. Tanpa saya beri tahu tujuannya, ia langsung berkata, “Saya jemput pagi-pagi, kita ke Kopi Asiang.”

Benar saja, belum pukul enam pagi ia sudah menelepon. “Dua puluh menit lagi saya sampai,” ujarnya. Teman saya ini tinggal di seberang Pontianak, daerah Tayan.

Luar dalam terisi penuh

BACA JUGA : Kota Datar

Sang bintang sedang beraksi dengan telanjang dada

Warung kopi di Jalan Merapi itu memang luar biasa; di saat kebanyakan orang baru terjaga dan bersiap mandi, parkiran di sekitar Warung Asiang sudah penuh sesak. Setelah bersusah payah mencari celah parkir, kami pun harus berjuang mencari bangku kosong di dalam warung.

Sambil menikmati segelas kopi saring panas tanpa gula seharga 10 ribu rupiah, teman saya mengisahkan perjalanan karier Asiang. Dulu, Asiang memulai usahanya hanya dengan sebuah gerobak. Sejak awal, ia memang menjual minuman kopi seduh, bukan sekadar bubuk kopi.

Makin siang, suasana makin riuh. Antara pukul tujuh hingga delapan pagi, profil pengunjung mulai berubah; orang-orang kantoran dan pebisnis mulai bermunculan. “Warung kopi sering menjadi tempat untuk deal-dealan bisnis,” ujar teman saya. Mungkin berdiskusi bisnis di sini memang lebih cair. Kopi selain menenangkan, juga memacu otak untuk berpikir lebih tajam.

“Selain Aming dan Asiang, Pontianak punya banyak warung kopi legendaris lain,” terang kawan saya sambil menyebut nama Warkop Djaya, Suka Hati, dan Kopi Weng. Nama terakhir, Kopi Weng, serupa dengan Aming yang merintis bisnis dari penjualan kopi bubuk. Jika Aming dan Weng akhirnya membuka warung sambil tetap menjual kopi bubuk, Asiang melakukan hal sebaliknya: bermula dari warung minuman, barulah kemudian menjual kopi bubuk olahannya sendiri.

Kini, warung-warung kopi legendaris tersebut telah membuka cabang modern di pusat perbelanjaan. Namun, warung pertama mereka tetap menjadi favorit karena menawarkan pengalaman yang tak tergantikan. Seperti kebanyakan warung kopi legendaris di Nusantara, model Kopitiam adalah dasarnya. Hanya saja, jika di kota lain biasanya ada masyarakat pribumi yang turut berjualan makanan di dalam kedai tersebut, di Pontianak polanya berbeda.

Umumnya, warung kopi di sini menyediakan makanan dan minumannya sendiri. Namun, Warung Kopi Asiang masih mempertahankan keterlibatan masyarakat lokal dengan menerima titipan aneka kue, camilan, dan gorengan. Di Samarinda, kedai kopi tiam biasanya mulai ramai pukul tujuh pagi dan mencapai puncaknya pada pukul sebelas siang. Namun di Pontianak, keramaian itu seolah tanpa jeda, bahkan makin larut makin padat. Kopi Aming misalnya, setiap pukul lima sore akan menambah barisan meja dan kursi hingga ke bahu jalan.

Kehidupan di kota yang daratannya sangat datar ini memang tampak tenang, kecuali di jalan rayanya. Tak tampak ada gejolak emosi atau suasana hati yang naik-turun drastis, sedamai harga segelas kopi yang tak membuat kantong bocor. Tapi itu barangkali hanya pengamatan sekilas saya, karena terbatasnya waktu untuk mengunjungi kedai kopi gelombang ketiga (third wave) atau keempat yang menyajikan manual brewing dan kopi kekinian dengan aneka topping.

Yang pasti, hingga hari ini, saya belum pernah menjumpai satu kota pun dengan konsentrasi warung kopi sebanyak Kota Pontianak. Selain kuantitasnya, kota ini juga tampak sangat bangga dengan Kopi Robusta mereka, yang mungkin sebentar lagi akan disusul oleh popularitas Kopi Liberika.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM