KESAH.ID – Sebuah perjalanan tak terencana menghubungkan dua sisi Kalimantan Timur: kemegahan jembatan kayu Jantur Inar di Kutai Barat dan eksotisme tersembunyi Air Terjun Tembinus di jantung Ibu Kota Nusantara (IKN). Melalui rute jalan hauling dan kawasan konsesi kehutanan, pengalaman ini menjadi potret kontras antara pembangunan infrastruktur modern seperti jembatan kaca yang sedang viral dengan sisi liar alam yang masih murni.
Minggu sebelumnya, saya ke Kutai Barat tanpa rencana untuk healing ke jantur atau air terjun. Namun, sebelum meninggalkan Kutai Barat menuju Kutai Kartanegara, muncul ide untuk mengunjungi Jantur Inar. “Mumpung di Kutai Barat, sayang kalau dilewatkan,” ujar seorang kawan. “Siapa tahu masih ada durian; durian di sana yang terenak,” sambung teman lainnya.
Memang tak ada ruginya. Ternyata Jantur Inar sekarang berbeda dengan yang saya kunjungi beberapa tahun lalu. Pintu masuknya baru, dilengkapi jembatan kayu atau titihan panjang yang menyusuri tepian sungai.
Selang empat hari kemudian, saya kembali mengunjungi air terjun. Sama seperti sebelumnya, piknik ini tak direncanakan. Hanya beristirahat sehari sepulang dari Kutai Kartanegara, saya diajak ke Sepaku. Karena ada waktu kosong sejak siang sebelum pertemuan dengan warga pada malam hari, rasanya sayang jika waktu dibiarkan berlalu begitu saja. Dari seorang satpam yang ramah, kami mendapat informasi tentang air terjun di sekitar KIPP. “Tidak jauh, sekitar satu jam perjalanan,” ujarnya.
Setelah makan siang, saya dan teman-teman berangkat dipandu staf OIKN hingga ujung jalan negara. Di sana terdapat helipad yang dinamai Helipad MBS—singkatan dari Muhammad Basuki Hadimuljono. MBS memang berjasa besar bagi IKN. Pembangunan dimulai saat ia menjabat Menteri PUPR, dan kini ia dipercaya menjadi Kepala Otorita IKN.
Sebenarnya, kami tidak benar-benar sendiri ke sana karena ada staf OIKN lain yang menyertai. Mengikuti petunjuk, mulailah kami menyusuri jalan hauling—jalur angkut kayu ekaliptus milik PT ITCI Hutani Manunggal (IHM). Dalam perjalanan, kami sempat berpapasan dengan truk besar pengangkut hasil panen. Karena berada di kawasan konsesi PT IHM, Air Terjun Tembinus yang sering dijuluki “Niagara” ini tak memiliki petunjuk arah yang jelas. Di beberapa persimpangan hanya ada tulisan seadanya. Jika tidak jeli, siapa pun yang baru pertama kali ke sana pasti akan tersesat.
Dan benar saja, dua kali kami salah jalan. Beruntung, di salah satu titik jalan yang salah terlihat sulit dilewati sehingga kami berhenti. Tak jauh dari sana, ada pondok pekerja pemeliharaan tanaman. Dari merekalah kami tahu bahwa arah tujuan kami keliru. Kami berbalik dan bertanya lagi di pos yang bangunannya lebih permanen guna mendapatkan informasi yang lebih meyakinkan. Jalannya relatif lebih kecil hingga kami melewati sebuah jembatan. Saat melintas, saya yakin aliran sungai itu berasal dari air terjun.
Tak lama kemudian, kami sampai di aliran anak sungai yang berbatu. Dari kejauhan, terlihat tempat sampah yang meluber. Tak jauh dari sana, beberapa motor terparkir berjejer. Hati langsung lega; akhirnya kami sampai.

BACA JUGA : Jantur Inar
Gemericik air terdengar jelas. Lingkungan sekitar sungai berupa perbukitan yang masih menghutan. Hanya di beberapa lereng terlihat tanaman ekaliptus, sisanya adalah pepohonan khas hutan Kalimantan. Di samping sungai, ada papan nama agak tersembunyi bertuliskan “Tembinus”. Namun, tak jauh dari sana terdapat spanduk yang menyatakan bahwa lokasi itu bukanlah objek wisata.
Air Terjun Tembinus memang berada di kawasan konservasi IHM; area yang dibiarkan tetap alami tanpa ditanami kayu HTI. Ini bukan hutan perawan, melainkan hutan yang pulih kembali. Dalam perjalanan jalan kaki kurang dari satu kilometer dari tempat parkir, nampak sisa-sisa tunggul kayu besar yang ditebang puluhan tahun lalu, kini keropos dan berlumut.
Walau menanjak, jalan setapak menuju air terjun tak membuat terengah-engah. Lingkungan dengan pohon besar dan sulur yang menggantung membuat napas tenang. Pemandangan indah membuat badan tak cepat lelah. Tak berapa lama, gemericik air berubah menjadi deru khas air yang jatuh menghantam batu. Dari balik pepohonan, terlihat saputan warna putih; air terjun sudah dekat.
Dinding batu besar menyambut, dengan air yang tumpah membentuk tirai. Dari atas, terlihat kolam yang dibatasi bebatuan besar. Beberapa pengunjung asyik bermain air, bertengger di atas batu yang tampak licin. Rasanya tak sabar merasakan sejuknya terpaan uap air yang terbawa angin. Namun, kaki mesti sabar menuruni tepian sungai yang agak curam.
Bebatuan di bawah memang licin; harus menapak hati-hati agar tidak terpeleset. Ingatan masa kecil saat seorang teman terjatuh di Air Terjun Tawangmangu seketika muncul sebagai pengingat agar tak tergesa-gesa. Air terjun ini cukup tinggi, sekitar 20 hingga 25 meter. Dinding batunya sangat khas, mengingatkan pada karakter Niagara, meski tentu tak bisa dibanding secara ukuran.
Karena waktu sudah sore, saya menjaga pakaian agar tidak basah kuyup. Setelah puas menatap keindahannya, saya kembali ke atas. Teman-teman yang sudah siap dengan baju ganti segera menceburkan diri, berenang menuju dinding batu, dan berfoto hingga memori ponsel penuh. Sampai pengunjung lain pulang, mereka masih asyik menikmati kesegaran air.

BACA JUGA : Perang Bintang
Matahari mulai masuk ke peraduan, bunyi-bunyian petang mulai terdengar di dalam hutan. Satu per satu teman saya mentas dari air. Perjalanan kembali ke parkiran terasa cepat karena jalur yang menurun. Sepanjang jalan riuh dengan kisah keseruan di bawah air terjun.
Begitu sampai di kendaraan, kami bergegas pulang karena hawa dingin memicu rasa lapar. Di sepanjang jalan hauling ini, tak ada satu pun warung karena jalurnya memang tidak melewati pemukiman penduduk. Hanya ada pondok sementara para pekerja hutan.
Namun, masih ada satu destinasi tersisa yang sedang hype di IKN, yakni jembatan kaca. Letaknya di area pandang, berdekatan dengan lokasi glamping tempat Presiden Jokowi dulu berkemah. Area itu kini dipertahankan sebagai miniatur hutan tropis lengkap dengan penginapan dan Taman Anggrek.
Saat kami tiba, pintu jembatan kaca sudah digembok. Namun, berkat bantuan staf OIKN, penjaga membukakannya untuk kami. Akhirnya, kami bisa melihat kawasan KIPP dari ketinggian dan berfoto di atas jembatan kaca yang viral sejak libur Lebaran lalu. Tuntas sudah piknik tak direncanakan di Ibu Kota Nusantara.
Kalaupun ada yang mengganjal, rasanya persis seperti di Jantur Inar: manajemen sampah. Memang ada tempat sampah, namun isinya menumpuk karena tidak rutin diangkut. Tumpukan sampah di Tembinus sangat mengganggu keindahan. Hal ini seolah tak terhindarkan karena pengunjung wajib membawa bekal sendiri. Masalahnya, kita mungkin belum terbiasa membawa kembali sampah ke rumah saat tak ada fasilitas pembuangan yang memadai.
Perjalanan tak terencana ini membawa saya pada satu kesimpulan: alam selalu punya cara untuk menyembuhkan, namun ia tak punya tangan untuk membersihkan dirinya sendiri. Menatap ‘Pelangi Inar’ di Kutai Barat atau ‘Tirai Niagara’ di Tembinus adalah pengingat bahwa keindahan selalu menuntut tanggung jawab. Pulang dari IKN, saya tidak hanya membawa memori tentang dinginnya air terjun atau viralnya jembatan kaca, tapi membawa sebuah pertanyaan besar: siapkah kita menjadi warga dunia yang tidak hanya pandai menikmati, tapi juga mampu merawat apa yang tersisa?
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








