KESAH.IDDi tengah hiruk pikuk kota dan derasnya arus ekonomi yang tak menentu, ada cerita sederhana yang justru terasa mengguncang: secangkir kopi di kafe, atau sepetak kebun jambu yang dirawat penuh cinta. Dari nostalgia masa kecil memetik buah di bukit hingga kisah seorang anak muda yang kembali ke akar setelah kehilangan pekerjaan, semua mengajarkan hal yang sama—bahwa kebahagiaan sejati sering lahir dari hal-hal kecil, jujur, dan apa adanya.

Bahkan menjelang tengah malam, pintu keluar-masuk sebuah coffee shop di Jalan Juanda, Samarinda tetap ramai. Tukang parkir seolah tak pernah beristirahat. Di dalam maupun luar ruangan, meja-meja penuh terisi, waiter hilir mudik mengantar pesanan, kadang harus mencari-cari di mana pemesannya duduk.

Aroma kopi bercampur dengan wangi makanan dan minuman lain, berpadu dengan parfum pengunjung yang datang dengan penampilan maksimal. Semakin malam, obrolan makin seru, justru ketika lingkungan sekitar mulai tenang karena jam istirahat tiba.

Ekonomi katanya sedang sulit, tapi kedai kopi justru makin menjamur dan makin ramai. Orang menyebutnya fenomena lipstick economy—di tengah tekanan hidup, orang tetap mencari cara kecil untuk menyenangkan diri. Tak perlu liburan mahal, cukup secangkir kopi di kafe estetik, satu jam duduk santai, sudah jadi hadiah untuk diri sendiri di sela rutinitas.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, hanya berganti wajah. Dulu, self reward tidak harus berupa kopi susu kekinian atau kafe instagramable.

Waktu kecil, saya dan teman-teman suka piknik dengan bersepeda sampai kaki bukit, lalu naik dengan berjalan kaki. Piknik semacam itu tak butuh rencana panjang, cukup kabar samar bahwa di Gunung Jambu buahnya sudah bisa dipetik.

Kami tak tahu siapa pemiliknya, mungkin hasil reboisasi di bukit gundul. Yang kami tahu, jambu boleh diambil gratis. Untuk jambu monyet, metenya harus ditinggal di bawah pohon.

Bukan hanya jambu, ada bukit lain yang biasa kami daki untuk mengambil buah. Letaknya cukup jauh dari desa, tapi bersepeda ramai-ramai tanpa bekal tetap membuat kami riang.

Buah lain yang sering kami ambil adalah duwet atau jamblang. Buah lonjong berwarna kehitaman, rasanya asam, manis, sepet, dan membuat lidah ungu kebiruan.

Pendek kata, naik ke bukit jambu, memetik jambu monyet, jambu klutuk, atau duwet sudah jadi sumber kebahagiaan tersendiri. Kami bisa pergi sewaktu-waktu tanpa itinerary. Semua serba spontan, begitu sepakat langsung berangkat, bahkan tanpa bekal.

Piknik naik bukit memang sepenuhnya gratis. Tak ada tiket masuk, tak ada spot foto, hanya perbukitan dan pepohonan. Kalau haus, biasanya ada teman yang kami kenal di wilayah yang dilewati.

Mas Malik ditengah kebunnya

BACA JUGA : Amerika Eropa

Komunitas Akar Hijau sedang bikin konten green jobs

Di Samarinda, lebih dari 30 tahun setelah masa kecil itu, kebahagiaan sederhana semacam ini ternyata masih bisa ditemukan. Sensasi piknik memetik buah tak harus ke Taman Buah Mekarsari di Bogor atau agrowisata lain yang butuh tiket pesawat.

Cukup ke Samarinda Utara, tepatnya Muang Dalam, menyeberangi jembatan dekat spillway Bendung Lempake atau Waduk Benanga. Di sana ada MLQ Farm, kebun jambu air yang dirawat penuh perhatian oleh Mas Malik.

Meski lahir dari keluarga petani, cita-cita Malik bukan meneruskan pekerjaan orang tuanya. Usai kuliah, ia bekerja di industri pertambangan batubara—tulang punggung ekonomi Kalimantan Timur. Bekerja di tambang adalah impian banyak anak muda.

Namun pandemi COVID-19 mengguncang segalanya. Pertambangan ikut terdampak, banyak pekerja dirumahkan. Malik salah satunya.

Kehilangan pekerjaan di tengah pandemi tentu berat. Tapi dari titik itu Malik melirik kembali kebun kecil milik orang tua di samping rumah. Bukan lahan luas, hanya sepetak tanah keluarga yang selama ini tak dianggap peluang.

Jambu air bukan komoditas populer. Petani lebih memilih buah naga, pisang, pepaya, melon, atau semangka. Merawat jambu air lebih rumit, butuh perhatian ekstra. Tapi di situlah kejelian Malik. Ia menamai kebunnya MLQ Farm sebagai identitas dan strategi pemasaran.

Ada tiga varietas unggulan di kebunnya: Red Rose, merah menyala dengan tekstur renyah; Green Giant, berukuran besar dengan rasa segar; dan Madu Deli, legendaris dengan kemanisan khas seperti madu. Ketiganya tumbuh berdampingan di lahan tak luas, tapi dirawat telaten.

Menikmati jambu dengan saos rujak

BACA JUGA : Otokrasi Elektoral

Salah satu jenis jambu air unggulan di MLQ Farm

Saya mengenal Mas Malik secara kebetulan. Seorang petani muda lain mengajak saya berkunjung ke Samarinda Utara, bertemu petani-petani untuk bertukar cerita. Saya terkejut melihat ada anak muda yang tekun bertani di lahan kecil, namun bisa menghasilkan cukup untuk keluarganya.

Kejutan lain tentu jambu air. Dalam memori saya, jambu air hampir hilang. Tapi mencicipi jambu air Mas Malik yang manis, renyah, dan kadar airnya pas, membuat kenangan itu kembali.

MLQ Farm istimewa bukan hanya karena jambu airnya, tapi juga visi pengelolanya. Malik rajin berbagi cerita dan pemikiran lewat media sosial.

Datang berkunjung, melihat kebun, lalu memetik buah langsung dari pohon dengan bimbingan Malik adalah pengalaman menyenangkan. Selain merasakan buah segar, ia dengan senang hati menjelaskan tentang jambu dan kebunnya.

Ada kejujuran dalam pengalaman semacam ini. Di tengah kota yang menawarkan hiburan instan dan mahal, MLQ Farm mengajak orang kembali ke kesenangan purba: berjalan di antara pepohonan, memetik buah dengan tangan sendiri, merasakan manis segarnya langsung dari tangkai.

Ini seperti mengulang piknik masa kecil di bukit jambu—hanya saja kali ini bukan bersama teman-teman random, melainkan seorang mantan pekerja tambang yang memilih pulang ke akar, menanam kembali sesuatu yang sempat hilang.

Barangkali inilah cara terbaik menikmati self reward di tengah ekonomi sulit: tidak harus mahal, tidak harus jauh, cukup sesederhana memetik jambu air segar sambil mendengar cerita dari orang yang menanamnya dengan sepenuh hati.

Lewat Mas Malik kita bisa belajar bagaimana seseorang bertransisi dari pekerjaan yang rapuh menuju pekerjaan hijau, merawat tanah agar terus memberi buah manis, menopang kehidupan keluarga kecilnya.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM