KESAH.IDDi tengah hiruk pikuk politik, sosial, dan isu lingkungan yang kerap membuat bangsa ini gaduh, kerinduan pada sosok Gus Dur selalu hadir. Bukan semata karena ia pernah menjadi Presiden atau Ketua PBNU, melainkan karena kemanusiaan yang ia tegakkan. Gus Dur adalah manusia multidimensional: pemikir, pluralis, pejuang demokrasi, sekaligus penjaga lingkungan, yang gagasannya tetap hidup dan relevan hingga kini.

Setiap kali ada kisruh atau keriuhan di organisasi agama, di kelompok masyarakat, maupun di pemerintahan, di tengah helaan napas saya selalu teringat dan merindukan sosok Gus Dur. Rasanya tak berlebihan jika di bulan September ini kerinduan itu semakin kuat, sebab tanggal 7 September biasanya diperingati sebagai hari lahirnya.

Saya sendiri pertama kali mengenal Gus Dur bukan dari panggung politik, layar televisi, atau sepak terjangnya sebagai Ketua PBNU. Saya mengenalnya di perpustakaan. Saat itu saya menuntut ilmu di sekolah berasrama. Dalam jadwal harian, ada jam tidur siang atau siesta selama satu jam. Karena sering gagal tidur pada waktu yang ditentukan, saya memilih menghabiskan waktu di perpustakaan.

Di ruang tenang itu, selain membaca kumpulan kliping CSIS, saya gemar membuka majalah Prisma terbitan LP3ES Jakarta. Majalah itu berisi tulisan para pemikir ekonomi, sosial, dan politik yang mumpuni. Gus Dur adalah salah satunya.

Tulisan Gus Dur selalu menarik karena gagasannya dihadirkan dengan bahasa segar, kadang jenaka, namun tetap penuh kedalaman. Ia menulis tentang masalah sosial, politik, dan agama dengan cara yang tidak biasa. Ia kerap membongkar sekat-sekat yang dianggap tabu, namun garis merah yang selalu dijaga adalah perspektif humanis.

Tentu saya juga menggemari tulisan-tulisan lain yang tak kalah menarik, seperti karya Emha Ainun Najib, Satjipto Raharjo, dan Mohammad Sobary. Namun dalam diri Gus Dur saya melihat sosok Ahmad Wahid—meski tidak ada hubungan darah, keduanya sama-sama memiliki keyakinan dan keberanian yang luar biasa.

Seperti halnya Ahmad Wahid, dari tulisan Gus Dur saya mulai memahami bahwa ia adalah sosok multidimensional. Bukan hanya pemikir, tetapi juga seorang humanitarian yang berani membela siapa saja, terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan. Semua tentu ingat, bahkan seorang Inul Daratista pun dibela Gus Dur ketika berseteru dengan Rhoma Irama.

Meski lahir dari keluarga Muslim yang sangat religius, Gus Dur tak pernah membatasi dirinya pada satu identitas. Ia fasih bicara sebagai seorang Muslim, budayawan, politisi, sekaligus warga negara dan warga dunia. Kelak memang saya lebih mengenalnya sebagai tokoh agama, Ketua PBNU, lalu masuk ke politik lewat PKB hingga terpilih sebagai Presiden Indonesia pertama pasca reformasi. Namun bagi saya, Gus Dur bukan sekadar mantan Ketua PBNU atau mantan Presiden. Ia adalah manusia yang menjadikan kemanusiaan sebagai pusat dari segala gagasan.

BACA JUGA : Rindu Hujan

Pasca reformasi, Indonesia diguncang isu sektarian. Konflik bernuansa SARA merebak, pluralisme menjadi isu penting, dan banyak inisiatif antar iman digelar untuk memoderasi. Saya terlibat dalam beberapa kegiatan peace building atau communicating for humanity. Salah satu yang sering saya ikuti adalah Interfide Yogyakarta. Dalam perjalanan bersama kelompok interfaith ini, saya semakin mengenal Gus Dur sebagai sosok pluralis.

Saya memang tak sering bertemu langsung dengan Gus Dur, tetapi dalam setiap percakapan namanya selalu disebut. Ia berdiri di depan membela kebebasan beragama dan beribadah. Baginya, agama bukanlah alat pemisah, melainkan jembatan penghubung antar manusia. Kutipan sederhana yang sering ia ucapkan adalah: “Tidak penting apa agamamu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu.”

Di masa intoleransi kerap muncul, Gus Dur hadir sebagai penyejuk. Ia berani membela kelompok minoritas, dari Ahmadiyah hingga komunitas Tionghoa. Ia menolak diskriminasi, bahkan jika sikap itu membuatnya dikritik oleh kalangannya sendiri. Gus Dur percaya, kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara tak akan tegak tanpa kebebasan beragama.

Pluralisme bagi Gus Dur bukan sekadar teori, melainkan jalan hidup. Di Ciganjur, rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja. Ia siap berdialog, tertawa bersama, tanpa membeda-bedakan. Humor menjadi senjata ampuh untuk meruntuhkan tembok prasangka.

BACA JUGA : Pintar Jago

Walau tidak dikenal luas sebagai tokoh lingkungan, Gus Dur tetap peduli. Ia pernah menerima penghargaan dari organisasi lingkungan legendaris di Indonesia. Bahkan PKB yang didirikannya sempat dijadikan sebagai partai hijau, bukan sekadar karena warnanya, tetapi karena komitmennya terhadap isu lingkungan.

Bagi Gus Dur, lingkungan bukan hanya soal pohon, hutan, atau sungai, melainkan soal keadilan. Kerusakan alam selalu paling berdampak pada mereka yang miskin dan terpinggirkan. Maka menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kemanusiaan. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan ruang hidup rakyat kecil. Demokrasi ekologis, menurutnya, adalah demokrasi yang memberi suara kepada mereka yang paling terdampak krisis lingkungan.

Warisan pemikiran ini terasa relevan hingga hari ini. Di tengah krisis iklim, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan, kita merindukan suara yang berani menegaskan bahwa lingkungan bukan sekadar isu teknis, melainkan isu moral. Gus Dur mengingatkan: merawat bumi adalah bagian dari iman dan ibadah, tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Sekali lagi, dalam kondisi negara yang penuh kegaduhan, saya merindukan sosok Gus Dur. Bukan karena jabatan yang pernah disandangnya, melainkan karena kemanusiaan yang ia tegakkan. Gus Dur adalah manusia multidimensional: pemikir, pluralis, pejuang demokrasi, sekaligus penjaga lingkungan.

Ia mengajarkan bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ruang untuk memperjuangkan keadilan. Ia menunjukkan bahwa agama bukan sekadar ritual, melainkan jalan untuk membela sesama. Ia menegaskan bahwa humor bisa menjadi senjata untuk melawan kebencian.

Mari kita luangkan waktu untuk mengenang Gus Dur. Sosok yang hadir membela semua orang, terutama yang lemah dan terpinggirkan. Sosok yang gagasannya tetap hidup, bahkan ketika jasadnya telah tiada. Gus Dur adalah cermin bahwa kemanusiaan selalu lebih besar daripada sekat-sekat identitas.

note : sumber gambar – WINGS