KESAH.ID – Ada nama-nama yang tak sekadar tercatat di papan skor, melainkan terukir di ingatan dunia. Lionel Messi dan Marc Márquez adalah dua di antaranya. Mereka datang dari panggung berbeda—lapangan hijau dan lintasan aspal—namun sama-sama menolak tunduk pada usia, sama-sama menolak berhenti menulis sejarah. Kisah mereka bukan hanya tentang trofi dan gelar juara, melainkan tentang luka, kebangkitan, dan keberanian melawan waktu. Dua legenda ini membuktikan bahwa semangat juara adalah api yang tak pernah padam.
Ada dua nama olahragawan yang tak pernah hilang dari kepala saya. Beberapa tahun lalu, ketika Twitter masih menjadi gelanggang debat paling riuh, saya kerap berseteru dengan mereka yang meragukan atau menolak mengakui keagungan dua sosok ini.
Messi dan Márquez memang membuat dunia olahraga bergetar, meski panggung mereka berbeda. Satu menari dengan bola seolah ia maestro simfoni, satu lagi menaklukkan kecepatan di atas mesin seakan ia lahir dari api dan angin. Hingga hari ini, Lionel Messi dan Marc Márquez tetap menolak tunduk pada usia, dua jiwa yang enggan berhenti menulis sejarah.
Baik di lapangan hijau maupun lintasan MotoGP, Messi dan Márquez punya benang merah yang sama. Messi identik dengan Barcelona, Márquez identik dengan Honda. Kehebatan mereka bersama tim masing-masing kerap diremehkan, dibandingkan dengan atlet lain yang berpindah-pindah tim. Mereka dianggap belum menjadi kampiun sejati karena hanya membela satu bendera.
Padahal bersama Barcelona, Messi sudah mengangkat trofi demi trofi, menorehkan catatan emas yang tak terhitung. Demikian pula Márquez, yang di tahun pertamanya sebagai rookie Honda langsung merebut gelar juara dunia. Rekornya sebagai juara termuda masih berdiri kokoh, belum ada yang mampu merobohkannya.
Kesamaan lain: keduanya terpaksa meninggalkan rumah yang membesarkan nama mereka. Messi harus pergi dari Barcelona karena aturan finansial klub tak lagi mampu menahannya. Ia dilepas tanpa biaya transfer, lalu bergabung dengan Paris Saint-Germain. Di sana, Messi membentuk trisula maut bersama Mbappé dan Neymar, namun kebahagiaan seolah menjauh. Hatinya lebih terpaut pada Argentina, tanah air yang ingin ia harumkan dengan prestasi.
Di PSG, Messi gagal memenuhi ekspektasi publik Prancis. Namun bersama Argentina, ia justru menulis kisah abadi: menjuarai Copa América, lalu mengangkat trofi Piala Dunia 2022 di Qatar, menaklukkan Prancis di final.
BACA JUGA : Gemar Membaca
Sementara itu, Márquez menapaki jalan penuh luka. Cedera parah pada 2020 memaksanya menjalani tiga operasi dan masa pemulihan panjang. Saat kembali, performanya tak lagi sama. Sang penakluk Honda tampak kehilangan arah. Ia bimbang: apakah motor yang tak lagi bersahabat, atau dirinya yang kehilangan tajinya.
Tak ada pilihan selain meninggalkan Honda. Kontrak raksasa diputus lebih cepat, uang berlimpah dilepas begitu saja. Márquez memilih bergabung dengan Gresini Racing, tim satelit Ducati yang sederhana. Baginya, membalap bukan lagi soal uang, melainkan soal harga diri: apakah ia masih kompetitif, atau waktunya pensiun.
Pilihan itu terbukti tepat. Bersama Gresini, Márquez menemukan kembali kepercayaan diri. Kemenangan mulai datang, comeback-nya mengancam para juara. Jalan menuju motor terbaik terbuka, hingga akhirnya ia bergabung dengan tim pabrikan Ducati. Dengan motor itu, Márquez merajai MotoGP 2025, memastikan gelar juara dunia bahkan sebelum musim berakhir.
Namun cedera kembali menghantam. Beberapa seri terakhir ia absen, dan di musim 2026 performanya menurun. Ia sering terjatuh, hingga kecelakaan horor mengungkap masalah bahu yang membuatnya kehilangan kendali. Gelar juara seolah hilang, namanya merosot dari klasemen atas. Tapi setelah operasi, Márquez bangkit lagi. Dari tertinggal lebih dari 100 poin, ia mampu mengejar hingga menyalip Marco Bezzecchi, dan jaraknya dengan Jorge Martin semakin tipis.
BACA JUGA : Kaum Peladang
Usai menjuarai Piala Dunia, Messi meninggalkan PSG. Ia memilih MLS, liga Amerika Serikat yang dianggap kurang kompetitif. Jika hanya mengejar uang, ia bisa saja menerima tawaran fantastis dari Arab Saudi. Namun Messi memilih Amerika, tempat yang lebih membahagiakan. Pilihan itu terbukti benar, baik secara ekonomi maupun motivasi.
Kini Messi berada dalam keraguan: masihkah ia kompetitif untuk memperkuat Argentina di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada? Sejak laga pertama, Messi menorehkan rekor demi rekor. Argentina lolos ke semifinal menghadapi Inggris—lawan berat dengan sejarah panjang rivalitas. Di usia senja, Messi tetap menunjukkan tajinya. Meski lebih banyak berjalan, ia beradaptasi dengan fisiknya. Dengan visi luar biasa, Messi membaca celah lawan, lalu mengeksekusi atau memberi umpan matang.
Pun demikian dengan Márquez. Kini ia tak selalu agresif di setiap lintasan. Di sirkuit tertentu, ia memilih strategi lain: menundukkan lawan tanpa harus menyalip. Márquez membuktikan bahwa kemenangan tak selalu datang dari kecepatan semata.
Messi dan Márquez adalah bukti bahwa gelar GOAT bukan sekadar label, melainkan perjalanan panjang penuh luka, kemenangan, dan kebangkitan. Mereka mengajarkan bahwa usia hanyalah angka, dan semangat juara adalah api yang tak pernah padam. Keduanya menolak menjadi legenda masa lalu. Mereka memilih tetap hidup di masa kini, tetap relevan, tetap mengguncang.
note : sumber gambar – BOLA








