KESAH.IDDucati selalu mendambakan kejayaan MotoGP di tangan pembalap lokal Italia. Namun, idealisme Borgo Panigale kerap tunduk pada realita pragmatis sirkuit. Dari kegagalan era Valentino Rossi hingga keputusan mendepak Francesco Bagnaia, Ducati berulang kali memilih menyerahkan kendali pada talenta Spanyol demi jaminan juara. Hengkangnya Francesco Bagnaia membuktikan bahwa pabrikan ikonik Italia tersebut pada akhirnya tersandera oleh kejeniusan Marc Marquez, hingga bersiap menyongsong era baru lewat duet Marc dengan Pedro Acosta.

Bermarkas di Borgo Panigale, Bologna, Ducati menjadi salah satu merek paling ikonik dari Italia. Sejak bergabung dalam balapan MotoGP, Ducati mempunyai identitas nasional Italia yang sangat kuat. Dengan identitas nasional yang kuat tersebut, tim balap Ducati senantiasa diharapkan akan diisi oleh pembalap-pembalap asal Italia sendiri.

Untuk itu, Ducati memiliki hubungan yang erat dengan VR46 Academy. Sinergi dengan sekolah balap milik Valentino Rossi ini diharapkan akan memastikan adanya pasokan berkelanjutan pembalap-pembalap muda dari Italia untuk masuk ke dalam ekosistem MotoGP. Dengan demikian, Ducati tidak perlu kerepotan mencari pembalap dari luar negeri.

Tapi cita-cita seperti ini tidak selalu mudah diwujudkan. Tim pabrikan Ducati tidak pernah benar-benar menjadi sepenuhnya Italia. Bahkan sepanjang keikutsertaannya dalam MotoGP, pembalap Italia yang menorehkan prestasi menjadi juara dunia bersama Ducati baru bisa diraih oleh Francesco Bagnaia.

Nama-nama besar lainnya seperti Valentino Rossi dan Andrea Dovizioso gagal membawa Ducati menjadi juara dunia. Ducati pernah berjaya di lintasan balap justru bersama dengan Casey Stoner, seorang pembalap tangguh yang berasal dari Australia.

Prestasi yang jarang terjadi di MotoGP, di mana juara dunia dimenangkan oleh pembalap dari tim satelit, juga diperoleh oleh Ducati lewat pembalap Spanyol, yakni Jorge Martin yang mengendarai Ducati di Pramac Racing, Tim Satelit Ducati.

Kemenangan Jorge Martin ini menghentikan kejayaan Francesco Bagnaia, pembalap kebanggaan Italia dan Ducati. Dan setelah itu, Francesco Bagnaia malah semakin terpuruk dengan kedatangan pembalap Spanyol lainnya, yakni Marc Marquez di tim pabrikan Ducati. Marc langsung menjadi juara dunia MotoGP di tahun pertamanya bergabung dengan Tim Ducati.

Di tahun 2025, Ducati memang berada dalam dilema besar. Duo pembalap Italia yakni Francesco Bagnaia dan Enea Bastianini tidak bisa lagi dipertahankan bersama karena Jorge Martin meraih gelar juara dunia dengan motor Ducati. Satu kursi di tim pabrikan atau tim resmi mesti diserahkan kepada Sang Juara Dunia.

Ducati terpaksa menyingkirkan pembalap dari Italia untuk memberi tempat kepada pembalap dari Spanyol.

Hanya saja, kursi tersebut kemudian urung diberikan kepada Jorge Martin karena Marc Marquez menolak tawaran untuk membalap di Pramac Racing. Marc tidak mau berpindah dari satu tim satelit ke tim satelit lainnya. Marc hanya akan pindah kalau mendapat kursi resmi di tim pabrikan.

Tak ingin kehilangan Marc Marquez, Ducati kemudian menarik jatah kursi untuk Jorge Martin. Ducati mengingkari janjinya untuk memberikan tempat kepada sang Juara Dunia.

Marc Marquez kemudian bergabung dengan tim pabrikan Ducati dan langsung mencetak prestasi tanpa basa-basi. Bersama Marc Marquez, Ducati tampil begitu perkasa, jauh lebih perkasa ketimbang ketika Ducati digawangi oleh Valentino Rossi dahulu.

Begitu bergabung di kelas utama MotoGP, Marc Marquez memang seolah mematikan aura dan gemerlap bintang dari pembalap-pembalap lainnya. Rossi, misalnya, tidak lagi bisa meraih gelar juara dunia begitu Marc Marquez mulai membalap di kelas utama MotoGP.

Marc yang masih perkasa itu hanya kehilangan gelar sekali, yang kemudian direbut oleh pembalap Spanyol lainnya yakni Jorge Lorenzo.

Karena didera cedera, dominasi Marc Marquez sempat runtuh dan kejuaraan kemudian direbut bergantian oleh Fabio Quartararo, Joan Mir, Francesco Bagnaia dua tahun berturut-turut, dan kemudian Jorge Martin.

BACA JUGA : Messi Mbappe

Namun begitu menaiki Ducati pabrikan, takhta kembali direbut oleh Marc Marquez dengan sangat meyakinkan. Gelar juara dunia sudah berhasil direngkuh oleh Marc Marquez ketika seri MotoGP bahkan masih menyisakan beberapa balapan.

Andai saja Marc Marquez tidak diterpa badai cedera berulang, rekor milik Valentino Rossi pasti sudah jauh dilewati olehnya.

Marc Marquez harus mengakhiri keikutsertaannya di seri MotoGP 2025 lebih cepat karena kecelakaan yang dialami di Mandalika. Diseruduk oleh Marco Bezzecchi membuat bahu Marc Marquez kembali bermasalah serius.

Dan ketika memulai balapan di seri MotoGP 2026, ternyata masalah bahu masih mengganggu sehingga Marc Marquez tidak bisa tampil maksimal. Marc sering mengalami crash, dan kecelakaan horor di seri MotoGP Prancis membuat Marc Marquez harus kembali naik meja operasi. Bahu Marc Marquez harus dioperasi untuk ketujuh kalinya.

Usai beristirahat dalam beberapa balapan, Marc kembali ke lintasan dan kemudian tampil meyakinkan karena berhasil memenangkan balapan di Hungaria dan Ceko. Sebaliknya, Marco Bezzecchi justru terkena masalah tepat begitu Marc Marquez kembali bugar. Dalam dua balapan saja, Marc berhasil memangkas jarak poin yang cukup signifikan dengan Bezzecchi.

Kini Bezzecchi tidak hanya khawatir akan dikudeta oleh Jorge Martin dan Fabio Di Giannantonio, melainkan juga mesti berkelit dari kejaran Marc Marquez yang setelah operasi terakhirnya mulai kembali menemukan asa untuk mengejar gelar Juara Dunia.

Kiprah Marc Marquez semenjak pertama kali membalap di kelas utama MotoGP hingga saat ini membuatnya sangat pantas ditempatkan sebagai satu-satunya legenda hidup di MotoGP yang masih aktif membalap.

Sebenarnya sejak pindah dari Honda ke Gresini dan kemudian ke tim pabrikan Ducati, langkah Marc Marquez seperti belum ada kepastian yang mutlak. Dalam kesempatan tertentu, Marc sendiri sering merasa tidak yakin dengan masa depannya.

Namun dengan semua permasalahan yang dialami serta cedera yang masih terus menerpa, Marc terus bangkit dan menunjukkan bahwa dirinya masih merupakan salah satu pembalap terkuat di lintasan. Ducati pun tidak bisa berpaling dari Marc Marquez.

Dengan persembahan satu gelar Juara Dunia di tahun pertama bergabung dengan Ducati, Marc, yang sebenarnya tidak terlalu disukai oleh publik pecinta MotoGP dari Italia, telah membuat manajemen Ducati tersandera.

Ducati, seperti halnya Honda dahulu, kemudian menjadikan Marc Marquez sebagai pembalap utama mereka. Marc lebih disukai karena selalu menunjukkan etos kerja yang luar biasa, serta menghadirkan kejutan ketika pembalap Ducati lainnya kesulitan dengan motor mereka.

Di mata para insinyur Ducati, Marc tidak seperti anggapan publik MotoGP yang sering menilai dirinya sebagai pembalap yang hanya bermodal agresivitas. Para insinyur Ducati justru menganggap Marc Marquez sebagai pengembang motor yang sangat andal.

Marc memang mendapatkan penghormatan tinggi dari Tim Ducati karena dengan gelar dan penghargaan yang sudah bertumpuk di pundaknya, Marc tetap bisa berinteraksi dengan baik tanpa membawa-bawa nama besarnya.

BACA JUGA : Teater Intimidasi

Fakta lain soal kerendahan hati Marc Marquez adalah hubungan yang sangat baik dengan rekan setimnya, yakni Francesco Bagnaia. Pecco yang merupakan punggawa didikan Valentino Rossi ternyata tidak membuat Marc jadi canggung dalam berkomunikasi dengannya. Di Tim Pabrikan Ducati, Marc dan Pecco saling menghormati satu sama lain. Mungkin Pecco dan Marc bisa menjadi contoh terbaik dari sebuah tim balap yang saling terbuka atas rahasia data masing-masing.

Hubungan antara Marc dan Pecco di Ducati hampir sama baiknya dengan hubungan kerja sama antara Marc dan adiknya saat masih berada di Tim Gresini dahulu.

Tapi bagaimanapun juga, menjadi rekan satu tim dengan Marc Marquez selalu menimbulkan kesulitan tersendiri; tidak ada tandem Marc Marquez yang benar-benar bisa melampaui dirinya. Pun juga dengan Pecco Bagnaia. Pembalap kesayangan dari Ducati ini seperti kehilangan sentuhannya ketika menjadi rekan satu tim Marc Marquez.

Fakta bahwa Marc Marquez pasti akan dipertahankan oleh Ducati membuat Pecco dengan berat hati mesti mencari tempat lain agar tidak terus berada di bawah bayang-bayang Marc Marquez. Marc tidak bisa dilawan dari dalam sistem, melainkan harus dihadapi dari luar.

Ducati yang telah diberi persembahan dua gelar juara dunia oleh Pecco Bagnaia juga dengan berat hati mesti melepaskan Francesco Bagnaia. Ducati membutuhkan rekan satu tim untuk Marc Marquez yang lebih punya ambisi besar.

Dan tidak ada pembalap muda lain yang lebih punya ambisi untuk membuktikan dirinya di lintasan selain Pedro Acosta.

Pedro Acosta bersinar terang sejak keikutsertaannya di kelas Moto3 dan Moto2. Sehingga ketika bergabung dengan KTM di kelas utama MotoGP, ada harapan besar yang diletakkan di bahunya. Pedro dianggap bisa mengalahkan rekor Marc Marquez sebagai pembalap termuda yang meraih gelar Juara Dunia di kelas utama MotoGP.

Marc Marquez memang laksana duri besar di panggung MotoGP. Joan Mir dan Quartararo menjadi juara dunia karena Marc sedang cedera. Sedangkan Pecco Bagnaia menjadi juara dunia ketika Marc sedang berjuang memulihkan cedera yang berulang, serta kehilangan kendali atas motornya akibat lama tidak membalap dan pabrikan Honda kehilangan acuan pengembangan motornya.

Jorge Martin menjadi pengecualian yang justru merengkuh gelar juara dengan perjuangan keras karena harus bersaing dengan Pecco dan Marc sekaligus; Pecco yang sedang gacor, dan Marc yang mulai menemukan kembali keyakinan dirinya walau masih membalap di tim satelit.

Pembalap-pembalap muda yang menjadi rookie hebat di MotoGP selalu terganjal ekspektasinya hanya karena keberadaan Marc Marquez.

Pedro Acosta yang paling dijagokan untuk menjadi “The Next Marquez” akhirnya tidak bisa bersikap tengil lagi ketika mulai bersaing langsung dengan Marc. Pedro mulai sabar dan bahkan bersedia belajar banyak dari Marc Marquez, hingga pembalap andalan sekaligus anak emas dari KTM itupun bersedia pindah dari KTM ke Ducati untuk menjadi tandem Marc Marquez pada tahun 2027 dan 2028 nanti.

Tahun depan, di Tim Pabrikan Ducati, merek kenamaan dan ikonik dari Italia tersebut untuk kesekian kalinya mengkhianati niat sendiri yang ingin menjadikan Ducati sebagai rumah kebanggaan pembalap Italia. Pada tahun 2027 nanti, saat MotoGP akan menerapkan regulasi balapan yang baru, motor kebanggaan Italia ini akan membalap di bawah kendali duet pembalap yang sepenuhnya berasal dari Spanyol (All-Spaniard riders).

Valentino Rossi mungkin kurang senang dengan realita ini, tapi apa boleh buat jika untuk tetap berjaya mereka harus bekerja sama dengan pembalap-pembalap hebat dari Spanyol. Spanyol sepertinya memang tidak pernah kehabisan bibit-bibit muda untuk memasok pembalap berkelas di pentas MotoGP.

note : sumber gambar – RIDERTUA