KESAH.IDSelama hampir dua dekade, dunia sepak bola dibelah oleh rivalitas Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi—sebuah benturan antara disiplin ekstrem manusiawi dan keajaiban bakat murni. Namun, seiring berjalannya waktu dan bergulirnya panggung Piala Dunia 2026, tabir perdebatan itu akhirnya tersingkap, meninggalkan jawaban mutlak tentang siapa yang sekadar hebat dan siapa yang benar-benar abadi.

Lupakan Cristiano Ronaldo, perdebatan soal siapa yang lebih baik antara dirinya dan Lionel Messi sudah selesai. Messi yang terbaik, tidak terbantahkan lagi. Semenjak Messi berhasil membawa Argentina mengangkat trofi Piala Dunia 2022, Cristiano Ronaldo sudah tersingkir dari peta. Bahkan andai saja di tahun 2026 ini, Ronaldo berhasil membawa trofi Piala Dunia yang diselenggarakan di AS, Kanada, dan Meksiko ini, hal itu tak juga akan mengubah apa pun.

Bahwa masih banyak yang menyukai Cristiano Ronaldo sebagai idola tentu harus diakui. Sama seperti penggemar MotoGP yang masih menggemari Rossi walau raja di lintasan adalah Marc Marquez. Tapi ingat, yang paling digemari belum tentu yang terbaik. Bisa jadi CR7 lebih punya banyak penggemar karena dia memang memberi harapan. Cara kerja CR7 memang seperti yang diidealkan oleh kebanyakan manusia. Ya, CR7 lebih manusiawi di mana keberhasilannya ditopang oleh disiplin dan kerja keras. Sosok seperti ini memang lebih inspiratif karena bisa memotivasi, mendorong orang untuk meniru.

Sementara Lionel Messi kebalikannya. Apa yang ditunjukkan oleh Messi membuat banyak orang kemudian berpikir ada hal yang tak mungkin bisa dilakukan. Para pemain profesional sekalipun juga berpikir demikian. Mereka menemukan ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh Lionel Messi. Messi kemudian dekat dengan keajaiban. Bagaimana Messi menendang bola, membawa bola melewati banyak pemain, menendang dari luar kotak penalti lalu gol, serta menjebol gawang lawan dari sudut yang sangat sulit, semuanya kemudian menimbulkan tanda tanya.

Messi punya bakat besar, tapi yang membedakan dirinya dengan banyak pemain berbakat lainnya adalah konsistensinya dalam memupuk bakat itu. Jadi sebenarnya Messi tidak hanya mengandalkan bakat semata, tetapi juga kerja keras. Sepanjang hidupnya hanya satu yang dilakukan oleh Messi: berlatih dan bermain sepak bola. Messi identik dengan sepak bola karena memang tak pernah bicara hal lain, dan kebetulan Messi bukan jenis manusia yang suka bercerita atau berbicara. Mungkin ini juga yang membuat Lionel Messi kemudian kurang mempunyai fans yang fanatik dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo, apalagi Diego Armando Maradona.

Tapi karena tak terlalu banyak bicara, hal itu kemudian menguntungkan, terutama di dalam tim. Messi tak mengobral apa pun, hingga kemudian dirinya mendapat rasa hormat dari teman-teman satu timnya. Jarang ada berita yang menyebutkan Messi menimbulkan masalah di ruang ganti pemain atau di lapangan. Sementara banyak pemain hebat lainnya yang minta diistimewakan di ruang ganti dan marah jika diganti saat bermain.

Berbagai perbincangan menjelang pelaksanaan Piala Dunia umumnya menempatkan CR7 dan Messi sama. Mereka dianggap sama-sama tua, sama-sama akan memainkan turnamen terakhir, dan hanya akan jadi simbol. Terawangan ini dimaklumi karena baik CR7 maupun Messi hanya bermain di liga minor. Dengan tingkat persaingan reguler di liga yang kalah kualitas, baik CR7 maupun Messi diprediksi akan menurun segala-galanya.

BACA JUGA : Menatap Hari Esok Yang Hijau – Antara Romantisme Ekologi dan Engganya Jemari Menyentuh Tanah

Apa yang diramalkan oleh banyak pengamat soal CR7 terbukti benar. Dia tak bisa menggendong tim Portugal. Statistik pertandingan memperlihatkan keterlibatan CR7 sangat rendah; hampir tak ada bola matang darinya yang mengarah ke gawang lawan. Kehadiran CR7 di timnas Portugal bahkan seperti duri dalam daging. Sebagai pemain yang sangat dihormati dan banyak memberi nama untuk Portugal, masanya di timnas seperti sudah benar-benar lewat. Sebagai pemain senior, CR7 bahkan seperti tak bisa merekatkan hubungan antar-pemain, baik di ruang ganti maupun di lapangan.

Namun, prediksi tentang Messi ternyata meleset. Meski tak bermain di liga premium, Messi ternyata masih gacor. Dalam pertandingan pertama di Piala Dunia 2026, Messi mencetak hat-trick. Bahkan kalau gol pertamanya tidak dianulir, berarti Messi mencetak 4 gol. Baru di pertandingan pertama, Messi sudah mencatatkan banyak rekor. Barangkali banyak pengamat lupa, kalau begitu meninggalkan Barcelona, Messi menyimpan tenaganya untuk Argentina. Maka bukan PSG atau Inter Miami yang paling penting untuk Messi.

Soal prioritas ini mungkin dulu menjadi masalah di PSG, karena Messi didatangkan untuk membantu meraih trofi Liga Champions. Tetapi untuk Inter Miami tidak masalah; walau Messi tak hidup mati untuk Inter Miami, toh kehadiran Messi sudah membuat klub tersebut, bahkan sepak bola Amerika Serikat, melambung tinggi. Inter Miami menjadi tempat bermain yang menyenangkan untuk Messi. Dilatih oleh pelatih yang dulu pernah bermain bersama dengan Messi, sang arsitek Timnas Argentina tahu persis apa yang dibutuhkan oleh Messi agar bisa tetap memancarkan daya magisnya.

Berbeda dengan CR7, Messi oleh pelatihnya ditempatkan di tempat yang tinggi; pemain-pemain lain diminta untuk melayani dan melindungi Messi. Dan nampaknya semua pemain Timnas Argentina siap dengan tugas itu, mereka rela ‘mengabdi’ kepada Messi. Kenapa pemain Timnas Argentina seperti tunduk pada Messi? Tentu saja karena sejak kecil mereka mengidolakan Messi dan ingin bermain bersamanya. Bermain bersama Messi adalah impian masa kecil. Mereka rela mengorbankan impian mereka sendiri asal bisa bermain bersama Messi.

Menariknya, baik di dalam dan di luar lapangan, para pemain Argentina seperti bertindak sebagai bodyguard untuk Messi. Gambar atau foto yang menunjukkan Messi dikawal oleh pemain lainnya ketika memasuki lapangan menjadi sangat fenomenal. Messi seperti ketua geng yang dilindungi oleh pengawal yang badannya kekar dan bermuka sangar. Di lapangan, pemain Argentina lain selalu bergerak walau tanpa bola. Gerakan ini untuk memecah konsentrasi pemain lawan agar tak berfokus pada Messi. Messi dibiarkan berjalan-jalan di lapangan, dan tak boleh mundur sampai melewati batas tengah lapangan.

Begitu ada kesempatan, bola akan diberikan ke Messi untuk melakukan sentuhan akhir. Dan terbukti sampai dengan pertandingan kedua, semua gol Argentina dicetak oleh Lionel Messi. Dengan 5 gol hingga pertandingan kedua, Messi menjadi pemain paling produktif sampai dengan sejauh ini. Rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia juga sudah dipecahkan oleh Messi.

BACA JUGA : Kalahkan Marc

Selain Messi, ada dua pemain muda yang juga produktif di Piala Dunia 2026, yakni Kylian Mbappe dan Erling Haaland. Namun, gol kumulatif yang paling mendekati Lionel Messi telah dikumpulkan oleh Kylian Mbappe. Dengan demikian, Mbappe menjadi satu-satunya pemain yang punya kemungkinan mengejar atau menyamai rekor Messi sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia. Mbappe sendiri masih berumur 27 tahun, sehingga perjalanannya di Piala Dunia ke depan masih cukup panjang; masih bisa ikut 2 atau 3 kali lagi andai Prancis selalu lolos.

Soal bakat dan kemampuannya jangan ditanya, Mbappe adalah salah satu pemain muda terbaik. Walau begitu, catatan kontribusinya untuk tim memang belum setebal Messi. Bahkan ketika digadang-gadang sebagai andalan PSG, ternyata Mbappe tidak bisa mempersembahkan gelar yang diimpikan, yakni trofi Liga Champions. PSG justru memenangkan Piala Champions setelah ditinggalkan oleh Mbappe yang pindah ke Real Madrid.

Di Real Madrid, kehadiran Mbappe juga belum mendongkrak prestasinya, terutama untuk trofi-trofi mayor. Meski begitu, tak bisa dibilang penampilan Mbappe di Madrid buruk. Sebab dalam 100 pertandingan di Real Madrid, Mbappe berhasil mencetak 85 gol dan 10 assist. Melihat catatan ini, Mbappe sesungguhnya bisa seproduktif Messi pada saat masa keemasannya. Maka wajar jika catatan Lionel Messi, terutama jumlah gol di Piala Dunia, kemungkinan besar hanya akan digoyahkan oleh Kylian Mbappe.

Namun, sulit untuk menemukan pemain yang sempurna. Mbappe bisa jadi gacor, boleh dibilang hebat, namun bukan yang terhormat. Sejauh ini, sampai dengan usia 27 tahun, Kylian Mbappe belum sekalipun mendapatkan penghargaan sebagai Pemain Terbaik Dunia atau Ballon d’Or, sementara pada usia yang sama Lionel Messi telah memperolehnya sebanyak 4 kali. Sekali lagi soal produktivitas, apa yang dicapai Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia mungkin akan segera dikejar oleh Mbappe. Tapi jelas akan sulit bagi Mbappe untuk mendapat rasa hormat yang sama dari publik sepak bola atas capaiannya jika dibandingkan dengan Messi.

Mungkin kehadiran Lionel Messi yang bertahan begitu lama di kancah sepak bola internasional seperti kutukan untuk bibit-bibit muda yang begitu hebat. Anak-anak muda yang hebat ini kemudian sulit memperoleh rasa hormat karena masih ada Messi. Lebih celaka lagi, Messi di usia yang untuk sebagian besar pemain sepak bola memilih beristirahat, ternyata masih terus bermain dan gacor.

Tentu pengorbanan seperti itu yang sulit untuk ditiru, karena Messi pasti sangat menjaga kebugaran tubuh dan juga otot-ototnya dengan berbagai upaya yang sangat disiplin serta menghindarkan diri dari banyak kesenangan. Hebat, rendah hati, tak terlalu banyak mengumbar omongan di publik, dan disiplin menjaga kesehatan serta kebugaran tubuh jelas sebuah to-do list yang sulit dilakukan oleh mereka, pemain sepak bola yang ternama, populer, dan kaya. Lionel Messi memang sebuah kelainan yang sulit dicari bandingannya.

note : sumber gambar – KOMPAS