KESAH.IDPublik dikejutkan oleh sebuah pengumuman yang tidak biasa. Lewat status Facebook pribadinya, Nanik Sudaryati Deyang menyatakan mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus mengabarkan rencana berobat jantung ke luar negeri. Baru satu setengah bulan menjabat, langkah mendadak ini langsung memantik reaksi beragam: simpati, doa, hingga kecurigaan. Cara ia mundur—cepat, personal, dan tidak melalui jalur resmi—membuka ruang tafsir yang lebih luas daripada sekadar alasan kesehatan.

Rabu pagi, 22 Juli 2026, lewat status Facebook pribadinya, Nanik Sudaryati Deyang mengumumkan dua hal sekaligus: ia mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), dan ia akan terbang ke luar negeri untuk berobat jantung.

Baru satu setengah bulan ia menjabat. Dilantik 8 Juni, menggantikan Dadan Hindayana yang lengser karena kasus dugaan korupsi. Kini, giliran Deyang yang pergi — meski dengan alasan yang jauh berbeda, katanya.

Pasti benar jantungnya bermasalah. Tekanan darah tinggi, napas ngos-ngosan saat bicara, sembilan hari terbaring sakit sebelum akhirnya memaksakan diri hadir di rapat kabinet — itu bukan cerita yang mudah dikarang. Siapa pun yang pernah merasakan tekanan kerja birokrasi tahu betapa berat beban psikologis memegang anggaran negara yang sangat besar. Program MBG memegang rekor sebagai terbesar anggarannya. Deyang sendiri mengaku “trauma akut” karena urusan pegang uang.

Tapi ada yang janggal dalam cara ia pergi. Bukan lewat konferensi pers resmi, bukan lewat surat pengunduran diri yang dipublikasikan protokoler. Ia memilih Facebook pribadi — platform yang, disukai atau tidak, terasa terlalu santai untuk sebuah keputusan sepenting ini. Nada tulisannya pun dianggap banyak orang terlalu ringan, nyaris bercanda, untuk ukuran seorang pejabat setingkat menteri yang baru saja melepaskan jabatan.

Publik pun bereaksi cepat. Sebagian mendukung dan mendoakan kesembuhannya. Tapi tidak sedikit yang melontarkan sindiran, bahkan cemoohan, di kolom komentar dan linimasa media sosial.

Ini bukan hal baru. Ada semacam hukum tak tertulis di ruang publik Indonesia: sebersih apa pun seorang pejabat, publik jarang mau percaya begitu saja. Terlebih bila pejabat itu baru saja memimpin lembaga yang mengelola salah satu program paling disorot di negeri ini — Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan anggaran raksasa dan ribuan dapur yang tersebar di seluruh Indonesia.

Deyang sendiri, selama masa jabatannya yang singkat, sebenarnya cukup aktif membenahi. Ia mengevaluasi puluhan ribu satuan pelayanan gizi, mengklasifikasi ribuan dapur MBG berdasarkan standar mutu, menghentikan ekspansi dapur di wilayah yang dinilai sudah jenuh, dan menemukan ratusan dapur bermasalah. Ia bahkan sempat beraudiensi dengan KPK untuk membahas pengawasan dan pencegahan korupsi dalam program tersebut.

Rekam jejak itu semestinya menjadi modal kepercayaan. Tapi cara ia mundur — cepat, mendadak, dan lewat kanal yang terkesan tidak formal — justru membuka ruang bagi orang untuk membaca ulang setiap detail, termasuk detail yang sebenarnya wajar: bahwa ia memilih berobat ke luar negeri.

BACA JUGA : Otokrasi Elektoral

Untuk memahami Deyang, ada baiknya menengok jauh ke belakang — ke masa ketika ia bukan pejabat, melainkan wartawan.

Ia dikenal sebagai jurnalis yang pernah menduduki posisi tinggi di sejumlah media cetak nasional. Pengalaman itu membentuknya: tajam dalam komunikasi publik, terlatih dalam investigasi, dan paham betul cara kerja institusi. Modal itu semestinya menjadikannya birokrat yang transparan — orang yang tahu persis bagaimana publik membaca setiap gerak-gerik pejabat.

Namun jalan hidup Deyang juga penuh belokan tajam. Ia masuk dunia politik dan menjadi salah satu pendukung Prabowo Subianto sejak 2019. Tapi di antara rentang waktu itu, sikap politiknya tidak selalu lurus — pernah menjadi pendukung kuat sebuah pemerintahan, lalu berbalik kritis terhadapnya, sebelum akhirnya kembali merapat ke barisan Prabowo begitu sang tokoh memenangkan Pilpres 2024.

Ini bukan sekadar catatan biografis yang netral. Ini pola. Dan pola sikap yang mudah berubah arah — dari pendukung menjadi pengkritik, dari pengkritik menjadi loyalis — sering kali mencerminkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar preferensi politik: kemampuan membaca ke mana angin bertiup, dan kesiapan untuk berpindah posisi begitu situasi memaksa.

Ironisnya, latar belakang jurnalistiknya yang idealis kini berbenturan dengan caranya keluar dari panggung. Wartawan sejati biasanya paham betul bahwa transparansi adalah mata uang kepercayaan publik. Tapi Deyang memilih jalan yang justru menimbulkan spekulasi: mundur secara mendadak, memberi penjelasan yang terkesan seadanya, lalu segera terbang ke luar negeri sebelum publik sempat mencerna keputusannya secara utuh.

Bandingkan dengan bagaimana semestinya seorang pejabat publik mundur: mengajukan surat resmi kepada presiden, menyampaikan alasan secara jelas dan proporsional, lalu membiarkan proses administratif berjalan tanpa perlu “curhat” panjang lebar di media sosial pribadi — apalagi dengan nada yang oleh sebagian orang dianggap terlalu ringan untuk momen sepenting itu.

Pola inilah yang, disadari atau tidak, ikut membentuk kecurigaan publik. Bukan semata soal sakit jantungnya — yang besar kemungkinan memang nyata — melainkan soal timing dan cara ia menyampaikannya, yang terasa terburu-buru untuk ukuran orang yang mengklaim tidak punya sesuatu untuk disembunyikan.

BACA JUGA : Jambu Manis

Di sinilah letak pertanyaan yang belum terjawab, dan yang menurut saya layak diajukan secara terbuka — sebagai dugaan, bukan tuduhan.

Deyang mundur di tengah sorotan besar terhadap program MBG: ratusan dapur bermasalah, evaluasi besar-besaran terhadap puluhan ribu satuan pelayanan gizi, dan audiensi dengan KPK yang membahas pengawasan dan pencegahan korupsi dalam pengelolaan anggaran yang sangat besar. Ia sendiri mengaku “trauma akut” soal memegang uang negara.

Pertanyaannya sederhana: benarkah kepergiannya ke luar negeri murni untuk berobat jantung — ataukah ada kemungkinan lain, bahwa jarak dan waktu di luar negeri juga memberi ruang aman baginya, seandainya penyelidikan atau audit terhadap pengelolaan MBG selama masa jabatannya mulai menyasar lebih dalam?

Saya harus jujur: ini murni dugaan. Tidak ada bukti bahwa Deyang sedang diselidiki secara pribadi, apalagi berstatus tersangka. Justru sebaliknya — rekam jejak yang tersedia menunjukkan ia termasuk pihak yang proaktif membenahi dan melapor ke KPK, bukan pihak yang menghindar dari pengawasan. Alasan kesehatannya pun didukung keterangan resmi dari Istana, bukan klaim sepihak yang berdiri sendiri.

Tapi kita hidup di negeri di mana pola “keluar negeri saat tekanan memuncak” sudah terlalu sering terulang — dilakukan oleh berbagai pejabat, dari berbagai institusi, dengan berbagai alasan resmi yang masuk akal di atas kertas. Karena pola itulah publik menjadi refleks curiga, bahkan kepada mereka yang mungkin benar-benar tidak bersalah. Ini bukan keadilan bagi Deyang secara pribadi, tapi ini konsekuensi dari sistem kepercayaan publik yang sudah terlalu banyak dikhianati oleh preseden-preseden sebelumnya.

Maka barangkali yang lebih penting bukan menuduh Deyang, melainkan mempertanyakan mengapa negeri ini terus-menerus melahirkan situasi ambigu semacam ini — di mana kepergian seorang pejabat untuk berobat selalu harus dibayangi kecurigaan, karena terlalu banyak preseden pejabat lain yang memakai alasan serupa untuk kepentingan berbeda.

Untuk Deyang sendiri, saran saya sederhana: pulanglah setelah second opinion itu didapat. Jalani pengobatan secara terbuka, bila perlu di rumah sakit dalam negeri, agar publik bisa menyaksikan bahwa alasan kesehatan itu memang berdiri sendiri — tidak bercampur dengan kepentingan lain. Nyawa memang hanya titipan yang bisa diambil kapan saja. Tapi nama baik, sekali retak karena kecurigaan yang dibiarkan menggantung tanpa klarifikasi, jauh lebih sulit dipulihkan daripada jantung yang sudah dioperasi.

Sampai saat itu tiba, dua kemungkinan itu akan terus berjalan berdampingan di kepala publik: kemungkinan pertama, ia benar-benar hanya ingin sembuh. Kemungkinan kedua, ia juga ingin memberi jarak antara dirinya dan sorotan yang mulai mendekat. Keduanya bisa saja benar sekaligus. Dan sampai ada klarifikasi yang lebih terang, publik berhak menyimpan keduanya sebagai pertanyaan terbuka — bukan sebagai vonis.

note : sumber gambar – CNBC