KESAH.ID Berawal dari kebiasaan jalan sore di tengah pembatasan pandemi, sekelompok anak muda Samarinda menyusuri gang-gang sempit untuk merawat ruang kota. Terpotret kontradiksi pembangunan perkotaan: ketika jalan utama dikuasai kendaraan dan logika modal, gang-gang kecil justru menjadi “pustaka hidup” yang menyimpan sejarah lokal, ketahanan ekonomi warga, dan empati yang tersisa. Sebuah ajakan untuk mengenal kota bukan dari atas kendaraan, melainkan dari lorong-lorong tersembunyi yang dilupakan peta.

Rabu malam, 11 Juni 2025, dua orang duduk di depan mikrofon RRI Pro 1 Samarinda, mengudara dalam program Obrolan Komunitas. Bukan pejabat, bukan pula pengamat kota bergelar panjang. Mereka hanya sekelompok anak muda yang punya kebiasaan aneh: jalan kaki menyusuri gang-gang sempit setiap Selasa dan Jumat sore. Mereka menyebut diri Kawan Susur, bagian dari komunitas bernama Susur Gang Samarinda.

Ceritanya bermula dari kegabutan. Saat pandemi Covid-19 membatasi hampir semua ruang gerak, sekelompok warga Samarinda mencari cara berkegiatan yang tidak melanggar protokol kesehatan. Jalan-jalan sore sambil bermasker jadi pilihan. Mulanya hanya naik-turun perbukitan Argamulya, menyusuri gang kecil di tengah permukiman, kadang lewat jalan setapak melintasi kebun warga. Titik kumpul dan titik berangkatnya diberi nama Mexico, di Jalan K.S. Tubun—dinamai begitu karena ada bendera Mexico terpasang di dinding.

Susur Gang Samarinda tidak lahir dari proposal kegiatan, tidak juga dari seminar yang berujung Rencana Tindak Lanjut. Tidak ada visi-misi tertulis, tidak ada AD/ART. Aturannya cuma satu: “Datang jam 5 artinya terlambat.” Selebihnya, komunitas ini tumbuh organik lewat tagar ,partaikubuRUN dan ,sarekatbakarkalori di media sosial—jalan kaki membakar kalori, lalu dibayar lunas dengan nongkrong di Warung Angkringan Elly, yang belakangan membesar jadi Warung Puncak Elly setelah didatangi figur publik seperti Nex Carlos.

Lama-kelamaan jalurnya memanjang. Dari sekadar naik-turun Argamulya, rutenya merambah ke arah kota—Citra Niaga, pelabuhan, Karangmumus, Pasar Segiri, kawasan Unmul, Raudah, Pasar Ijabah, tepian Mahakam—sampai menyeberang ke Samarinda Ilir, Sungai Kunjang, bahkan Samarinda Seberang. Akhir 2024, kegiatan yang dulunya cuma modal japri dan story Instagram ini mulai diurus lebih serius: jadwal disebar lewat flyer, akun Instagram resmi dibuat, dan setiap kali jalan sore, belasan orang ikut melangkah bersama.

Satu aturan tak tertulis yang konsisten dari awal hingga sekarang: rute harus melewati gang-gang kecil, menyisip dan menyusup jalan yang terhimpit rumah-rumah warga. Bukan jalan besar. Bukan trotoar kota yang direncanakan dinas pekerjaan umum. Justru gang-gang yang nyaris tak pernah masuk peta wisata atau rencana pembangunan kota—itulah yang jadi jalur utama Susur Gang Samarinda.

Ada alasan di balik pilihan itu. Sesuatu yang tidak akan ditemukan Kawan Susur kalau mereka memilih berjalan di sepanjang jalan raya.

Numpang nampang di depan rumah orang nan estetik

BACA JUGA : Jambu Manis

Cobalah berjalan kaki di jalan-jalan besar Samarinda pada siang hari. Trotoar—kalau ada—sering berubah fungsi: sebagian jadi tempat parkir motor, sebagian jadi lapak pedagang, dan tak jarang trotoar itu sendiri tiba-tiba terputus tanpa alasan, memaksa pejalan kaki turun ke bahu jalan, berbagi ruang dengan kendaraan yang melaju kencang. Inilah kenapa Kawan Susur lebih memilih menyisip lewat gang ketimbang menyusuri jalan protokol.

Ini bukan cuma soal infrastruktur yang belum selesai. Ini soal siapa yang dianggap penting ketika kota dirancang. Survei ITDP di Jakarta mencatat pemerintah membangun sekitar 214,64 kilometer trotoar dan 301,71 kilometer jalur sepeda untuk memperbaiki mobilitas warga. Namun di lapangan, Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) menemukan hampir 90 persen trotoar di Jakarta berubah fungsi jadi area parkir liar dan lapak dagang. Pola yang sama, dengan wajah berbeda, gampang dikenali di kota-kota lain—trotoar diperlakukan sebagai ruang sisa, dibangun kalau ada anggaran lebih, dikorbankan begitu ada kepentingan lain yang lebih mendesak secara ekonomi.

Ini bukan kebetulan. Sejak masa Orde Baru, pembangunan kota di Indonesia berorientasi pada modernisasi yang ditandai ekspansi jalan dan peningkatan kepemilikan kendaraan bermotor sebagai simbol kemajuan. Penelitian sejarawan urban Jo Santoso soal Jakarta menunjukkan bagaimana mobilitas berbasis jalan raya dijadikan penanda modernitas, sementara berjalan kaki lambat laun diasosiasikan dengan keterbatasan akses dan kelas sosial bawah. Warisan cara pandang itulah yang membuat jalan-jalan besar terus dilebarkan, sementara trotoar diperlakukan sebagai pelengkap yang boleh dikorbankan kapan saja proyek lain butuh ruang.

Di balik pola ini ada logika modal yang bekerja diam-diam. Kendaraan pribadi adalah komoditas—makin banyak mobil dan motor beredar, makin besar permintaan bahan bakar, pembelian unit baru, serta perluasan jaringan jalan. Proyek properti dan kawasan komersial pun selalu butuh akses kendaraan yang lancar dan lahan parkir luas. Sebaliknya, pejalan kaki bukan sumber keuntungan langsung bagi siapa pun, sehingga infrastruktur untuk mereka jadi opsional, bukan kebutuhan dasar. Filsuf urban David Harvey dan Henri Lefebvre pernah menegaskan bahwa ruang kota tidak pernah netral—ia selalu dibentuk oleh logika akumulasi modal, dan trotoar, karena tak menghasilkan nilai pasar setinggi proyek komersial, ditempatkan sebagai elemen sekunder.

Maka tak mengherankan bila kawasan padat penduduk di tepi sungai, yang sering distereotipkan sebagai slum area, justru rawan digusur demi taman kota atau ruang terbuka hijau yang terlihat lebih “beradab”—padahal di gang-gang itulah sumber nutrisi kota sesungguhnya dihasilkan: tahu-tempe, keripik singkong, dan berbagai penghidupan kecil yang jarang tercatat dalam rencana pembangunan mana pun.

Bergaya di gang nan sempit

BACA JUGA : Mundur Jantung

Salah satu jalur favorit Kawan Susur di masa-masa awal melewati gang kecil di samping Gang Arjuna 2, mengarah ke Jalan Bhayangkara atau Taman Samarendah. Di sana ada tembok yang dijebol entah oleh siapa—dan Kawan Susur memanfaatkan lubang itu untuk menyusup ke sebuah kebun di lereng bukit. Di bawah kebun, tersembunyi kolam pengendapan milik Perumdam Tirta Kencana, dengan jalan setapak licin berlumut menuju ke sana.

Di ujung gang itu berdiri rumah tua beratap limasan, dinding separuh tembok separuh kayu—sekilas seperti peninggalan kolonial, meski tak ada bukti historis yang benar-benar mengonfirmasi itu. Di sekitar lokasi beredar cerita urban legend tentang bocah-bocah Belanda yang konon tertimbun dalam gua setelah bermain air. Yang pasti secara historis, pada 1932 pemerintah kolonial memang membangun sistem pengolahan air di kompleks yang kini jadi Perumdam Tirta Kencana.

Fakta sesungguhnya baru terkuak setelah Kawan Susur berkali-kali lewat dan akhirnya berpapasan dengan seorang warga berusia 60-an tahun yang sedang memberi makan ayam. Sambil menebar sisa makanan, ia bercerita bahwa rumah tua itu dulunya adalah stasiun penyiaran pertama RRI Samarinda. Cerita itu dicek ulang di internet, dan ternyata benar. Sejak itu, jalur tersebut dinamai Jalur RRI—bukan jejak kolonial seperti dugaan awal, tapi jejak sejarah penyiaran kota yang nyaris tak pernah diceritakan di mana pun.

Begitulah cara gang bekerja: ia menyimpan cerita yang luput dari mata kebijakan dan pemberitaan media yang lebih gemar melihat gebyar kota. Gang adalah pustaka besar yang menyimpan kisah tersembunyi—siapa sangka di sebuah gang yang dulunya rawa dan langganan banjir, dihasilkan keripik singkong yang menemani warga kota melamun sambil melepas penat. Atau di gang depan kuburan, ada bengkel yang seratus persen energinya sudah dipenuhi tenaga surya.

Di balik dinding-dinding gang, warga saling bertegur sapa tanpa basa-basi berlebihan, anak-anak bermain tanpa takut mengganggu lalu lintas, aroma dapur rumah tangga bercampur jadi satu, membentuk identitas yang tak akan ditemukan di pusat kota yang penuh etalase. Kota sering digambarkan sebagai kumpulan jalan raya, ruang transaksi tempat warga tenggelam dalam urusan masing-masing—karier, cicilan, investasi hari tua. Gang menawarkan yang sebaliknya: ruang untuk menyambung dan menabung empati, menjaga altruisme yang mulai menipis karena hidup yang makin terhimpit.

Karena itu, jalan kaki sore menyusuri gang bukan semata soal sehat dan membakar kalori, juga bukan sekadar menambah teman nongkrong di warung kopi. Ini soal interaksi—dengan sesama Kawan Susur, dengan lanskap kota, dengan bau dan suara kota yang ditangkap lewat seluruh indera, lalu tersimpan sebagai memori yang kelak bisa memacu imajinasi tentang bagaimana kota semestinya dibangun dan dihidupi.

Tidak ada pretensi menjadikan Kawan Susur sebagai pengamat kebijakan publik atau sosiolog perkotaan. Yang pasti, setiap kali menyusuri gang, mereka sedang belajar menjadi warga Samarinda seutuhnya—mau cinta, mau benci, mau rindu, terserah saja. Sebab gang-gang itu, yang sering dianggap sisa ruang oleh logika pembangunan berbasis modal, justru menyimpan sesuatu yang tak pernah bisa disediakan oleh jalan raya mana pun: kesempatan untuk berjalan kaki dengan tenang, sambil benar-benar mengenal kota tempat kita tinggal.

note : sumber gambar – SusurGangSamarinda