KESAH.ID – Dunia kini bergerak dengan ritme Gen Z, namun panggung kepemimpinan global justru dikuasai oleh para sepuh. Rambut memutih yang dulu dianggap simbol kebijaksanaan, di era digital sering kali menjadi tanda keterkungkungan masa lalu. Obsesi kejayaan masa silam bertabrakan dengan kebutuhan generasi muda yang lebih cair, kreatif, dan digital. Dalam jurang gerontokrasi dan regresi demokrasi, anak-anak muda ditantang untuk menulis ulang narasi, menciptakan masa depan yang relevan dengan zaman mereka.
Dunia kini adalah dunia Gen Z. Ironisnya, kepemimpinan global justru dikuasai oleh orang-orang tua. Lihatlah Tiongkok, Xi Jinping berusia 73 tahun; Rusia, Vladimir Putin 74 tahun; Jerman, Kanselir Friedrich Merz 70 tahun; dan di Amerika Serikat, Donald Trump bahkan sudah 80 tahun. Indonesia sendiri dipimpin oleh Prabowo, 75 tahun, sementara Malaysia oleh Anwar Ibrahim, 79 tahun.
Ketika sektor kehidupan sudah banyak diambil alih anak muda, pola kepemimpinan dunia justru menunjukkan kecenderungan serupa: negara-negara dipimpin oleh mereka yang usianya jauh di atas rata-rata rakyatnya. Dahulu, rambut memutih dan jenggot beruban dianggap tanda kebijaksanaan. Kini, di era digital yang bergerak cepat, simbol kebijaksanaan itu justru sering menjadi cermin keterkungkungan masa lalu.
Para pemimpin tua ini cenderung melihat kejayaan dalam bingkai nostalgia, bukan dalam kebutuhan zaman. Trump berulang kali menyerukan Make America Great Again, ingin mengembalikan Amerika ke masa ditakuti dan disegani. Pun Prabowo, masih terobsesi menjadikan Indonesia sebagai Macan Asia. Obsesi itu melahirkan program besar: memberi makan gratis seluruh anak dan ibu hamil, mendirikan koperasi di setiap desa.
Hal-hal besar itu memang patut dibanggakan. Dalam pidato luar negeri, Prabowo selalu menceritakan programnya, bahkan membuat negara lain ingin belajar. Namun kebanggaan itu di dalam negeri justru jadi bahan meme anak muda. Gen Z merasa pemimpin yang mereka pilih karena pesona “gemoy” kini tak lagi related dengan kebutuhan mereka. Mereka merasa ditinggalkan oleh kebijakan negara yang tak berpihak pada akses pendidikan fleksibel, teknologi, ruang kreatif, dan keberlanjutan lingkungan. Jarak antara pemimpin dan generasi muda kian melebar. Komunikasi pemerintah pun sering melahirkan blunder, karena tak memahami audiens anak muda.
BACA JUGA : Tirta Petaka
Era demokratisasi seakan berakhir. Negara pionir demokrasi mengalami regresi. Mereka yang dulu lantang bicara HAM kini menurunkan tensinya. Ekonomi dan kepentingan nasional lebih diutamakan. Demokrasi yang semula menjanjikan partisipasi kini berhenti pada pemilu. Setelah terpilih, pemimpin lebih sibuk mengkonsolidasikan kekuasaan. Demokrasi perlahan bergeser menjadi otokrasi.
Ketika mengumumkan kabinet, Prabowo menunjuk Natalius Pigai sebagai Menteri HAM. Penunjukan ini menjadi paradoks. Harapan akan gebrakan HAM redup, bukan semata karena individu, melainkan karena dunia memang berubah. Isu HAM kehilangan prioritas, digantikan agenda mempertahankan kekuasaan. Pigai pun larut dalam arus itu. Semangatnya membela rakyat tak lagi terdengar. Ia lebih sering tampil sebagai juru bicara pemerintah, membalikkan serangan pada penguasa.
Setelah pemerintahan Prabowo, ruang publik terasa menyempit. Peran tentara merasuk ke area sipil. Amanah reformasi ditinggalkan. Diskursus publik kembali ke masa Orde Baru: kritik dianggap ancaman, partisipasi diabaikan. Partai politik tak bisa diharapkan. Mereka dikooptasi untuk mendukung kekuasaan. Yang menolak akan dibuat merana. Wakil rakyat pun mandul, sekadar stempel legitimasi, memuja program prioritas presiden yang belum jelas juntrungannya. Demokrasi yang seharusnya hidup dari keberagaman suara, kini tereduksi menjadi monolog kekuasaan.
BACA JUGA : Lengo Potro
Dalam iklim defisit demokrasi, gerontokrasi, dan otokrasi, anak muda menghadapi tantangan besar. Mereka tumbuh di dunia berbeda dari generasi tua, dengan kebutuhan cair, kreatif, dan digital. Namun justru di ruang ini peluang lahir.
Anak muda membangun masa depan dengan cara mereka sendiri:
- Menciptakan ruang alternatif lewat komunitas, media sosial, dan gerakan kreatif.
- Menggunakan teknologi untuk membuka akses informasi, membangun usaha, memperluas jaringan.
- Menghidupkan nilai demokrasi dalam lingkup kecil: solidaritas komunitas, advokasi lingkungan, gerakan sosial digital.
- Menolak janji kosong dengan jalur mandiri, tak bergantung pada sistem yang hanya menjanjikan kejayaan masa lalu.
Masa depan tak bisa ditentukan oleh nostalgia generasi tua. Ia dibangun oleh keberanian generasi muda menciptakan dunia yang relevan dengan zaman mereka. Dalam iklim gerontokrasi dan regresi demokrasi, anak muda adalah harapan terakhir: mereka yang berani menulis ulang narasi, menawarkan imajinasi baru, bukan sekadar mengulang kejayaan yang sudah lewat.
note : sumber gambar – RAJAJULIANTONI








