KESAH.ID – Bagi para atlet elite, bertambahnya usia sering kali menjadi lonceng peringatan akan datangnya akhir karier. Namun, bagi sebagian kecil manusia terpilih, waktu justru mematangkan kejeniusan mereka. Menelusuri komparasi rivalitas di lintasan balap hingga lapangan hijau, seorang bocah pemalu dari Rosario bertarung melawan keterbatasan fisiknya, hingga akhirnya berdiri tegak di panggung Piala Dunia 2026 sebagai penegas tunggal gelar Greatest of All Time (GOAT).
Messi dan Marquez, dua-duanya mungkin pantas dijuluki makin tua makin menjadi. Marc Marquez setelah comeback dari cedera berat berkali-kali ternyata masih sanggup menunjukkan dominasi, seperti yang ditunjukkan di sirkuit Balaton, Hungaria.
Tapi buat Marc Marquez masih ada perdebatan yang tersisa tentang yang terbaik di MotoGP, apakah Rossi atau Marc Marquez?.
Lain halnya dengan Lionel Messi, perdebatan soal Greatest of All Times yang sebelumnya diperebutkan oleh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo terlebih ketika keduanya bermain di Barcelona dan Real Madrid, nampaknya sudah berhenti. Dan jawabannya jelas, GOAT dalam sepakbola adalah Lionel Messi.
Yang paling membedakan antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah catatan rekor serta prestasinya di Piala Dunia. Soal keikutsertaan, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi mungkin sama, tapi jumlah gol, menit bermain dan trofi atau penghargaan yang diraih, Lionel Messi jauh lebih dominan dan tak mungkin lagi dikejar oleh Cristiano Ronaldo.
Mengamati kiprah Messi di piala dunia sangat menarik. Memulai keikutsertaan di Piala Dunia sejak masih muda, Lionel Messi tak terlalu berprestasi.
Messi seolah mempersembahkan seluruh kemampuannya untuk Barcelona. Sampai-sampai masyarakat Argentina kurang simpati pada Lionel Messi, lantaran setiap kali bermain untuk Timnas Argentina dianggap tidak mengerahkan seluruh kemampuannya.
Anggapan ini sampai membuat Lionel Messi frustasi hingga terbersit keinginan untuk pensiun dari Timnas.
Untung Messi tak jadi memilih pensiun. Karena setelah meninggalkan Barcelona dan bermain di Paris Saint Germain, Perancis, Lionel Messi memimpin Timnas Argentina dan memenangi Piala Dunia 2022 di Qatar.
Di usia 35 tahun lebih Lionel Messi menjadi pemain matang di Timnas Argentina. Pada usia terbilang tua untuk pemain sepakbola, Lionel Messi justru berjaya.
Di level Piala Dunia, prestasi besar Messi justru dicatat setelah dirinya lepas dari bayang-bayang Barcelona. Bisa jadi benar, Messi mengerahkan seluruh kemampuannya untuk Timnas Argentina setelah tak lagi di Barcelona. Selepas dari Barcelona, prioritas Messi hanya satu yakni Timnas Argentina.
Dengan totalitas itu, Messi bisa mengorkestrasi Timnas Argentina, Messi bukan hanya bersatu dengan seluruh anggota tim, melainkan juga seluruh anggota tim bermain untuk Messi.
Mulai bergabung dengan Timnas Argentina sejak usia 18 tahun, puluhan tahun Lionel Messi yang bertabur gelar, rekor dan piala hanya menemukan penderitaan. Kebanyakan perjalanan bersama Timnas Argentina di masa keemasan Lionel Messi dihiasi oleh air mata dan rasa frustasi.
Diasuh oleh pelatih yang tak punya nama, Messi yang mulai menua akhirnya menunjukkan tajinya setelah dalam pertandingan pertama di Piala Dunia Qatar dihajar Arab Saudi. Di tengah semua keraguan tentang stamina dan ketahanan tubuhnya, Messi menggelora dan akhirnya Argentina kembali meraih gelar juara.
Messi tercatat sebagai pemain yang produktif. Perolehan gol-nya di piala dunia justru lebih banyak diperoleh ketika usianya sudah melewati 30 tahun.
Bahkan Messi makin menggila ketika sudah meninggalkan liga paling kompetitif di dunia, Liga Eropa. Bermain di Amerika Serikat dengan tingkat persaingan dan intensitas yang tak setinggi Liga Eropa, Messi ternyata masih tetap kompetitif.
Pertandingan pertama di Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan secara bersama di Amerika Utara atau Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko membuktikan makin menua Lionel Messi justru makin menyala.
BACA JUGA : Belut Oli
Kisah Lionel Andreas Messi dimulai sedari bocah di Rosario, Santa Fe, Argentina.
Terlahir dalam rumah keluarga pekerja sederhana dengan hidup mengalir apa adanya.
Tak ada gelimang harta karena ayahnya hanya pekerja kasar di pabrik baja dan ibunya membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tukang cuci pakaian. Tapi ada yang melimpah dalam rumah sederhana itu, cinta pada sepakbola.
Bukan kedua kakaknya or bapak ibunya yang membuat Messi kecil mencintai bola. Adalah neneknya yang selalu menyertainya bermain di lapangan tanah dan becek untuk berlatih serta bertanding sepakbola.
Celia, nama neneknya adalah pelindung, pendorong serta saksi pertama atas anugerah keterampilan mengoceh bola yang dipunyai oleh Messi. Hati Messi retak ketika neneknya meninggal saat usia dirinya baru sebelas tahun. Sejak saat itu setiap kali Messi mencetak gol, dia merayakan dengan menunjukkan jarinya ke atas langit. Gol itu dipersembahkan untuk neneknya.
Di usia 7 tahun Messi bergabung dengan Newell’s Old Boys, klub masa kecilnya. Tim-nya tak terkalahkan, sementara Messi mencetak hampir 500 gol dalam 6 tahun. Setiap kali Messi membawa bola penonton akan berteriak “Marado..Marado,”. Seolah penonton tengah melihat Diego Armando Maradona.
Namun ada bayang-bayang kelam, pada usia 11 tahun dokter mendiagnosa Messi mengalami kekurangan hormon pertumbuhan atau GHD. Tanpa pengobatan yang intensif, tinggi Messi diprediksi hanya akan mencapai 140 cm. Bakat Messi adalah cahaya, tapi tubuhnya jadi penjara.
Untuk tetap menjaga pertumbuhan, Messi harus disuntik hormon pertumbuhan yang biayanya sangat mahal dan orang tuanya tak akan mampu. Ayah ibunya menjual apa saja untuk keperluan berobat, tapi semua cepat menguap. Klubnya semula akan membantu, tapi tak juga terwujud. Semua seperti buntu.
Ada harapan tersisa, sebuah ujicoba di Eropa yang akan menentukan apakah bakat Messi akan hidup dan berkembang atau padam.
Lewat kerabat di Catalonia, keluarga Messi mendapat jalur ke FC Barcelona.
Tak butuh banyak waktu bagi Messi untuk menunjukkan keajaian. Carles Rexach, petinggi Barca yang menyaksikan penampilan Messi langsung berbisik pada petinggi Barca lainnya “Kita harus merekrutnya,”.
Di ruang rapat Barcelona masih ada keraguan terutama berkaitan dengan biaya untuk pengobatan Messi. Mereka masih ragu soal akankah bocah pemalu yang ketika masuk lapangan berubah menjadi pejuang itu akan menjadi bintang.
Sang ayah memberi ultimatum, jika tak ada kepastian mereka akan pulang ke Argentina.
Dan momen bersejarah hadir tanpa dokumen resmi, di meja sebuah restoran. Di hadapan Messi dan ayahnya, Carles Rexach menuliskan komitmen dan janji bahwa Barcelona akan merekrut Messi apapun risikonya.
Ini bukan perjanjian yang rapi dan resmi, tapi kelak akan menjadi penanda datangnya era baru di Barcelona.
Kamar akademi La Masia menjadi saksi kesendirian Messi yang kemudian ditinggal ibu dan saudara-saudarinya kembali ke Argentina. Saking pendiamnya, Messi dikira bisu oleh teman-teman seasrama.
Setelah itu di tim yunior Barcelona, Messi naik level dengan kecepatan yang membuat pelatih tak percaya.
16 November 2003, di usia 16 tahun 145 hari Frank Rijkaard, pelatih Barcelona memberi kesempatan bermain dalam laga persahabatan melawan FC Porto. Kemajuan dan kecemerlangan Messi tak lagi bisa dibendung.
BACA JUGA : Ketahanan Pangan Atau Penghancuran Hutan? Dilema Food Estate Yang Tak Terbicarakan
Bersama tim senior Barcelona tak cukup lagi kata-kata untuk melukiskan pencapaiannya. Bersama Messi, Barcelona memperoleh apa yang belum pernah diperoleh sebelumnya. Untuk waktu yang lama Barcelona berjaya.
Satu persatu nama legenda sepakbola dilewati, Messi hanya bisa disandingkan dan dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo. Keduanya bersaing mengumpulkan rekor demi rekor, bersaing menjadi yang terbaik.
Perdebatan tentang Messi dan Ronaldo, mirip perdebatan tentang Rossi dan Marquez di MotoGP.
Namun secara obyektif, Messi telah meraih penghargaan Pemain Terbaik Dunia sebanyak 8 kali sementara Ronaldo 5 kali. Messi juga meraih Sepatu Emas Eropa sebanyak 6 kali, sementara Ronaldo baru sebanyak 4 kali. Messi juga telah meraih Golden Ball di Piala Dunia sebanyak 2 kali, sementara Cristiano Ronaldo belum sekalipun.
Di luar itu, Messi telah mengangkat trofi piala dunia satu kali bersama Timnas Argentina, sementara Cristiano Ronaldo belum pernah memenangkannya bersama Timnas Portugal.
Tercatat sama-sama sebagai pemain terbanyak mengikuti turnamen Piala Dunia, dalam pertandingan pertama Piala Dunia 2026 ini Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo nasibnya beda jauh, bak langit dan bumi.
Messi dalam pertandingan pertamanya langsung mencatatkan beberapa rekor, catatan sejarah yang menurut Ronaldo Nazario, Legenda Sepakbola Brazil akan sulit untuk diulang oleh siapapun di masa depan.
Messi yang telah mencatatkan 48 kali membuat hattrick bersama Barcelona, ternyata baru satu kali membuat hattrick di Piala Dunia, baru di tahun 2026 hingga membuat Messi menjadi pencetak hattrick tertua di Piala Dunia.
Torehan 3 gol di babak pembuka membuat Lionel Messi berdiri sejajar dengan Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia, gol Messi melewati Ronaldo Nazario.
Dan Messi juga tercatat sebagai pemain dengan jumlah gol terbanyak dari luar kotak penalti.
Kisah Messi yang masih menyala di usia tua untuk pesepakbola aktif ini menjadi hiburan tersendiri di tengah suasana Piala Dunia 2026 yang terasa anyep. Digadang-gadang menjadi Piala Dunia terbesar dalam sejarah karena diikuti oleh lebih banyak peserta dan ada lebih banyak pertandingan serta diadakan di tiga negara bersamaan yakni Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko ternyata Piala Dunia 2026 justru mengalami banyak masalah.
Rasanya tidak salah, Messi memilih Amerika Serikat untuk melanjutkan karier profesionalnya ketimbang Arab Saudi yang mungkin bisa memberi cuan lebih banyak. Sehingga ketika Piala Dunia 2026 diselenggarakan di Amerika Serikat, Messi tak perlu melakukan adaptasi iklim, cuaca atau suasana. Berlaga di Amerika Serikat, Messi seperti berlaga di rumah sendiri sehingga tanpa menguras tenaga dan memaksa tubuhnya bisa menunjukkan performa yang maksimal.
Datang sebagai juara bertahan, menjadi juara atau tidak, Messi tetaplah yang terbaik.
note : sumber gambar – SPORTDETIK








