KESAH.ID – Dunia hari ini mungkin bergerak lewat video pendek dan visual yang serba cepat. Namun, di balik setiap tontonan yang memikat, selalu ada fondasi yang kerap dilupakan: kekuatan membaca dan ketajaman menulis. Menemukan kembali alasan untuk menekuni kedua hal ini sering kali tidak datang dari ruang seminar yang formal, melainkan dari sebuah obrolan acak di meja makan.
Sebuah pertanyaan menohok diajukan seorang teman di area outdoor resto sebuah hotel, sesaat setelah kami menikmati makan siang yang tak ada istimewa-istimewanya. Dia bertanya, “Bagaimana agar rajin membaca?” Sebuah pertanyaan berat di kala tubuh sedang berkonsentrasi mengalirkan darah ke sistem pencernaan dan memproduksi hormon serotonin pemicu relaksasi—makanya setelah makan biasanya kita mengantuk.
Saya segera menyahut untuk memberi jawaban pertama, agar jawaban-jawaban berikutnya dari teman lain tidak terlanjur mengobral nasihat. Pertanyaan tentang bagaimana agar bisa menulis, membaca, membuat konten, dan sejenisnya, memang cenderung mendorong mereka yang menjawab untuk memberikan sederet petuah.
Memodifikasi jawaban yang pernah diberikan oleh seorang kawan dulu ketika saya bertanya bagaimana agar bisa menulis, maka saya menjawab, “Baca apa saja yang kamu suka, jangan batasi bacaan.”
Yang bertanya tentu tak puas dengan jawaban saya. Jenis jawaban saya jelas bukan tipe yang biasa diberikan oleh para pegiat literasi. Saya yakin para cerdik cendekia yang bergiat di bidang tersebut pasti akan menjawab, “Tumbuhkan rasa ingin tahumu.”
Logikanya, dengan rasa ingin tahu yang besar, seseorang akan terdorong atau mempunyai niat dan semangat membaca karena buku adalah sumber pengetahuan dan ilmu. Dan buku adalah sumber pengetahuan.
Namun rasanya tak banyak orang yang terlahir dengan nafsu besar untuk membaca. Kalau soal ingin tahu, setiap orang sejatinya punya penasaran yang tinggi, utamanya ingin tahu urusan orang lain. Makanya banyak orang menjadi GU—gila urusan—sok mencampuri urusan orang lain.
Jadi, rasa ingin tahu yang besar tak secara otomatis berhubungan dengan keinginan membaca. Sebab, sebagian besar justru tersalurkan lewat kelakuan membincang orang lain, alias bergosip atau gibah.
Bagi kebanyakan orang, kesenangan membaca sebetulnya dimulai dengan memaksa dan membiasakan diri. Membaca adalah passion, atau kesediaan untuk menderita, memaksa diri, dan membentuk kebiasaan. Dengan paksaan dan pembiasaan itu, lama-kelamaan ia akan menjelma menjadi rutinitas yang mungkin saja menyenangkan.
BACA JUGA : Sachsen King
Kenapa teman saya tiba-tiba punya nafsu untuk membaca? Muasalnya adalah topik dalam sebuah workshop yang membahas soal penulisan.
Sang pemateri menyebut kalau seorang penulis yang produktif atau yang baik adalah seorang pembaca yang rajin. Jadi ketika seseorang bertanya bagaimana bisa menulis, maka jawabannya adalah banyak membaca. Dengan banyak membaca, seseorang diandaikan akan punya limpahan pengetahuan, bahan, atau informasi sebagai landasan untuk menulis.
Saya setuju bahwa seorang penulis yang baik dan ingin meningkatkan mutu tulisannya mesti rajin membaca—membaca tulisan yang baik. Tapi bukan membaca dengan sikap ala orang yang haus pengetahuan, melainkan membaca sebagai seorang penulis.
Seseorang yang membaca tulisan sebagai seorang penulis akan belajar bukan hanya tentang isi bacaan, melainkan bagaimana gagasan disampaikan, konflik dan karakter dibangun, serta bagaimana resolusi atau jalan keluar direfleksikan.
Namun tentu tak benar kalau membaca merupakan syarat mutlak untuk bisa melahirkan tulisan yang bagus. Karena tulisan yang mengasyikkan bisa jadi lahir dari pengalaman dan pengamatan yang mendalam atas realitas.
Seseorang yang punya banyak pengalaman, misalnya seorang pengelana yang malas atau tak sempat membaca buku, tentu saja punya banyak bahan untuk dituliskan. Tapi benar bahwa jika ditambah dengan kebiasaan membaca, tulisannya bakal lebih lengkap, karena pengalaman personal bisa divalidasi dengan sumber lain yang lebih objektif.
Tulisan yang bagus dan menarik bisa jadi berisi komparasi, dan pengalaman pribadi bisa dikomparasikan dengan pengalaman orang lain, atau pengamatan dan analisis orang lain yang telah dibukukan.
Tapi ada juga yang menafsirkan membaca bukan semata membaca buku, melainkan melihat segala sesuatu lebih dalam dan kemudian merefleksikannya. Maka pengamatan menggunakan semua indera bisa dianggap sebagai membaca—seperti membaca keadaan, membaca lingkungan, dan lain-lain.
Dalam penulisan, indera memang penting, terutama untuk tulisan yang bernuansa storytelling; tulisan yang mengubah fakta menjadi cerita. Tulisan jenis ini bukan sekadar bercerita (tell), melainkan menunjukkan (show). Dan apa yang ditunjukkan adalah apa yang dirasakan oleh indera.
Dengan menggambarkan detail, pembaca akan ikut melihat sehingga tulisan mudah dipahami atau dirasakan. Lebih dari itu, tulisan yang menunjukkan, bukan sekadar mengatakan, akan jauh lebih menarik.
BACA JUGA : Nyala Nyali
Sebenarnya apa pentingnya bicara membaca dan menulis? Bukankah generasi sekarang lebih suka menonton, menyukai hal visual, atau bahkan doyan format audiovisual?
Memang benar kalau soal konsumsi. Namun untuk urusan produksi—bahkan produksi konten visual atau audiovisual sekalipun—tulisan tetap memegang peran krusial. Jika produk visual didahului dengan rancangan tulisan yang matang, niscaya hasilnya akan jauh lebih meyakinkan.
Tulisan adalah bahan mentah, yang kemudian bisa diwujudkan baik menjadi teks, desain grafis, reels, stories, mini dokumenter, hingga podcast. Maka suka tidak suka, kemampuan untuk menulis perlu dipelajari dan dilatih oleh siapa pun.
Lihat saja Dandhy Laksono, seorang pembuat film dokumenter yang karya-karyanya selalu meledak. Tak banyak yang tahu kalau Dandhy adalah seorang penulis; sebelum buku Reset Indonesia, Dandhy sudah dikenal lewat buku Indonesia Tidak Dijual.
Dandhy sendiri mengawali karier sebagai videografer setelah terlebih dahulu bergerak sebagai jurnalis tulis. Jadi, kemampuan menulisnya sudah terasah lebih dahulu sebelum ia bermain dengan medium audio visual.
Kekuatan video dokumenter Watchdoc sangat terlihat pada pola isinya. Video dokumenter mereka selalu dilandasi oleh tulisan atau skrip berbasis storytelling yang kuat.
Lihat saja, setiap video dokumenter Watchdoc selalu mempunyai tokoh atau karakter yang kuat, disertai konteks dan konflik yang jelas, yang kemudian mencapai klimaks, lalu diakhiri oleh kesimpulan atau pesan yang penuh makna.
Pada akhirnya, membaca dan menulis bukanlah tren masa lalu yang usang digilas zaman visual. Keduanya adalah fondasi. Tanpa tradisi membaca yang kuat, konten visual kita hanya akan menjadi tontonan kosong yang dangkal. Dan tanpa kemampuan menulis yang terlatih, gagasan hebat dalam kepala kita tidak akan pernah mendarat dengan utuh di hati orang lain. Menulislah, karena dari sanalah segala bentuk karya yang berdampak besar bermula.
note : sumber gambar – DJKN








