KESAH.ID – Jemari tangan kita mungkin telah lama menyerah untuk menghitung jumlah kedai kopi yang tumbuh di setiap sudut Samarinda hari ini. Namun, ledakan gerai kopi ini bukanlah sebuah fenomena instan yang terjadi dalam semalam. Dari fajar gelombang ketiga (third wave coffee) yang intimidatif hingga era demokratisasi es kopi susu gula aren, kedai kopi telah berevolusi melampaui fungsinya sebagai tempat pengisi kafein. Ia telah menjelma menjadi ‘Rumah Ketiga’—sebuah ruang sosial informal tempat ide-ide kota ini dirajut, didiskusikan, dan dihidupkan.
“Sudah nggak cukup jari tangan dan kaki untuk menghitungnya,”
Itu adalah jawaban dari seorang pegiat kopi beberapa tahun lalu, saat saya bertanya mengenai berapa persisnya jumlah kedai kopi di Samarinda kala itu.
Kini, jangankan jemari satu orang, seluruh jari penghuni satu rumah sekalipun sudah tak akan cukup untuk mengalkulasi gerai-gerai kopi di Kota Samarinda. Gerai baru terus bertunas, bahkan di sudut-sudut wilayah yang paling pelosok sekalipun. Istilah hidden gems bahkan sudah kehilangan daya pikatnya dan tak lagi populer. Mengapa? Karena tempat yang dilabeli sebagai hidden gems kini jumlahnya sudah telanjur menjamur di mana-mana.
Point of Interest (POI) Global bahkan menobatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia. Data dari POI Global menyebutkan bahwa terdapat 461.991 kedai kopi yang tersebar di seluruh Nusantara—sebuah angka yang jauh melampaui China di posisi kedua, serta Amerika Serikat. Pertumbuhan yang eksponensial ini disinyalir kuat karena didorong oleh kokohnya budaya “ngopi” masyarakat yang melintasi berbagai generasi.
Ledakan ini bukanlah hasil yang terjadi dalam semalam, melainkan sebuah rentetan pertumbuhan yang berjalan beriringan dengan evolusi ruang sosial sejak medio 2010-an. Sebuah evolusi ruang sosial yang jika diteropong lewat lensa sosiolog Ray Oldenburg, menegaskan bahwa kedai kopi telah bertransformasi menjadi “Rumah Ketiga” (The Third Place). Ini adalah sebuah ruang publik di luar rumah (rumah pertama) dan tempat kerja atau sekolah (rumah kedua), di mana manusia sengaja datang untuk mencari kehangatan komunitas, kesetaraan, serta percakapan yang hidup.
Perjalanan kultural ini dimulai sejak munculnya fajar gelombang baru yang disebut sebagai Third Wave Coffee (kopi gelombang ketiga), yang merekah kuat di Indonesia mulai tahun 2010-an. Kopi gelombang ketiga ini membawa serta ritual, estetika, dan cara pandang baru terkait dengan bagaimana memperlakukan budaya kopi.
Di Samarinda sendiri, memasuki pertengahan 2013, lanskap perkopian mulai mengalami pergeseran seismik. Muncul kedai-kedai kopi lokal yang mandiri, menyusul rentetan kemunculan kedai kopi waralaba internasional. Spektrum kedai kopinya pun sangat luas; ada yang didesain secara sederhana dan mengutamakan ruang yang lega, tetapi ada pula yang secara berani mengedepankan estetika arsitektural yang matang.
Kopi tidak lagi diapresiasi sekadar lewat kemasan merek atau korporasi besar, melainkan melalui identitas biji yang disertai dengan kebanggaan lokal, atau yang dikenal sebagai single origin. Peminum kopi di Samarinda mulai belajar mengeja dan menyebut nama-nama varietas seperti Gayo, Kintamani, Toraja, Wamena Papua, Sidikalang, Mandailing, Pasundan, hingga Ijen. Kopi pun tidak melulu diseduh dengan mesin-mesin espresso berbasis listrik yang mahal, melainkan secara manual menggunakan alat-alat seperti Rok Presso, V60, Aeropress, Chemex, dan sejenisnya.
Di meja-meja warung kopi, para peminum mulai mempercakapkan substansi kopinya (coffee talk). Pembuat kopi atau barista pun tidak lagi bersikap kaku atau bermuka dingin, karena mereka dituntut untuk berkomunikasi secara aktif demi menangkap preferensi rasa yang diinginkan oleh pelanggannya.
Aktivitas ngopi bukan lagi sekadar untuk memenuhi asupan kafein belaka, melainkan sudah bergeser menjadi sebuah pelarian estetik. Di kedai kopi, para pekerja kreatif, mahasiswa, hingga profesional muda bisa memburu inspirasi baru yang barangkali tersumbat dan tidak mereka temukan di dalam ruang kantor, ruang kelas, ataupun studio.
Kedai kopi akhirnya bertumbuh menjadi ruang ketiga—sebuah ruang informal yang memiliki aura menghidupkan. Ada ledakan-ledakan kreativitas yang lahir dari sudut-sudut kedai kopi, mulai dari munculnya ide-ide segar hingga percikan energi literasi untuk terus bertumbuh bersama.
Salah satu dampaknya yang paling nyata adalah geliat literasi kopi itu sendiri. Muncul komunitas kopi lokal yang rajin melakukan edukasi dan pengenalan rasa lewat berbagai kegiatan, salah satunya adalah agenda cupping (uji cita rasa). Lomba atau kompetisi barista juga mulai marak bermunculan, menjadi panggung bagi para pembuat kopi untuk saling beradu keahlian dalam menghasilkan seduhan terbaik serta penyajian yang prima.
Namun, hal yang paling patut diacungi jempol adalah idealisme kopi yang diusung. Selain konsisten menyajikan kopi dengan kualitas terbaik, para pegiat kopi ini juga memiliki visi besar untuk menjadikan kopi nusantara sebagai komoditas kebanggaan di tanah airnya sendiri. Kopi juga terus didorong untuk tampil semakin inklusif, agar kualitas biji kopi terbaik tidak hanya eksklusif dinikmati di gerai-gerai mahal yang mentereng. Ada kesadaran kolektif untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap kopi lokal, di luar nama-nama kopi yang sudah telanjur mapan di pasar internasional.
BACA JUGA : Drama MBG
Ketika gelombang kopi ketiga ini mulai menjalar meluas, kekagetan kultural tidak dapat dihindari. Mereka yang selama ini terbiasa mengonsumsi kopi instan sasetan atau kopi instan racikan (coffee mix), seketika dibuat terkaget-kaget mendapati harga segelas kopi yang menyentuh angka puluhan ribu rupiah, namun secara visual penampilannya justru bening mirip dengan seduhan teh.
Aktivitas ngopi di kedai-kedai yang mengusung konsep manual brewing pada masa itu sempat terasa sedikit intimidatif bagi sebagian orang; salah memilih jenis biji kopi (bean) bisa berakibat fatal pada selera. Sebab, biji kopi berjenis Arabika bisa menjadi sangat mahal apabila dipanen dari benua Amerika, lalu melewati proses pemanggangan (roasting) di Eropa, dan kemudian baru diseduh di Indonesia. Bisa dipastikan, harga per gelasnya akan dengan mudah melompati angka 30 ribu rupiah.
Namun, demokratisasi kopi perlahan berjalan mencari jalannya sendiri. Di tahun 2018, muncul tren baru berupa es kopi susu gula aren. Varian kopi ini terbukti jauh lebih ramah dan cocok untuk karakteristik lidah masyarakat Indonesia pada umumnya, sekaligus sangat bersahabat dengan kondisi kantong. Proses penyajiannya yang instan dan cepat kemudian melahirkan istilah baru: fast coffee.
Jika era manual brewing tidak melahirkan perusahaan rintisan (start-up), hal sebaliknya justru terjadi pada era kejayaan es kopi susu gula aren. Lahir beberapa nama start-up kopi berskala nasional, sebut saja Kulo, Janji Jiwa, Lain Hati, Kopi Kenangan, dan beberapa nama lainnya. Di masa-masa awal kehadirannya, sebagian dari perusahaan ini menerapkan strategi “bakar duit” melalui promo, hingga harga per gelas bahkan per botolnya terasa sangat murah meriah. Acara ngopi ramai-ramai pun identik dengan es kopi susu gula aren.
Diberi label sebagai “kopi kekinian”, jumlah kedai kopi di perkotaan pun semakin berlipat ganda. Pertumbuhannya berjalan secara eksponensial. Pasar konsumen kopi juga kian meluas berkat adanya ekspansi yang berbasis teknologi digital. Kehadiran layanan pesan antar makanan dan minuman berbasis aplikasi secara radikal mengubah peta permainan industri ini.
Ekosistem digital tersebut tidak lagi mengharuskan sebuah kedai kopi untuk berdiri di titik perempatan jalan besar, menyewa ruko di jalan protokol, atau menempati lokasi premium lainnya di pinggir jalan utama. Kedai kopi kini mampu menyusup diam-diam di tengah-tengah permukiman warga, bahkan hingga merayap ke puncak-puncak bukit yang sepi. Dari sinilah muncul kembali istilah hidden gems. Berjualan kopi kini tidak lagi mutlak membutuhkan ruang yang luas; memanfaatkan teras rumah atau ruang mikro lainnya sudah sangat memadai berkat adanya fasilitas layanan bawa pulang (grab and go).
Di sisi lain, pandemi Covid-19 ternyata juga membawa hikmah dan keuntungan tersendiri bagi perkembangan industri kopi lokal. Di Samarinda, kawasan Citra Niaga yang sebelum pandemi dikenal memiliki atmosfer yang agak ‘seram’ dan mati suri saat malam hari, mendadak berubah menjadi sangat ramai dan hidup berkat kehadiran kedai-kedai kopi kekinian.
Puluhan kedai kopi baru menyeruak muncul di Citra Niaga, mengubah kawasan tersebut menjadi terang benderang oleh aktivitas anak muda hingga hampir dini hari. Berkali-kali Pemerintah Kota Samarinda berupaya melakukan proyek revitalisasi untuk menghidupkan Citra Niaga namun kerap menemui jalan buntu. Menariknya, justru komoditas kopilah yang akhirnya berhasil membuat Citra Niaga kembali bernapas, bertransformasi menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Kebijakan pembatasan sosial selama pandemi memaksa sebagian besar masyarakat untuk meredefinisi ruang kerja mereka dari rumah (Work From Home/WFH). Kedai-kedai kopi yang memiliki fasilitas ruang terbuka (outdoor) atau semi-terbuka kemudian dilirik sebagai lokasi kerja alternatif yang menyenangkan. Sebagian orang yang mengaku sedang WFH, pada realitanya sedang melakukan WFC: Work From Café.
Kedai kopi kemudian berevolusi fungsi menjadi coworking space, bahkan menjelma sebagai socio space. Kehadirannya dirasa kian krusial sebagai ruang penengah di antara rumah dan tempat kerja resmi. Kedai kopi menjelma menjadi ruang ketiga yang tidak hanya ramah bagi kaum profesional semata, melainkan juga bagi kelompok mahasiswa. Efeknya, ada begitu banyak mahasiswa yang kini memilih untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan mereka di meja-meja kedai kopi.
Walaupun banyak fasilitas coworking space murni yang bertumbangan karena tidak sukses secara bisnis, kultur WFC (Work From Café) kini telanjur mengakar kuat menjadi gaya hidup baru. Kedai kopi masa kini resmi mengemban fungsi ganda: tidak hanya sebagai tempat melepas penat atau mengisi ulang energi dengan mereguk kafein, melainkan juga telah sah diakui sebagai ruang rapat, ruang kerja, serta ruang kolaborasi yang dibungkus dengan atmosfer informal yang cair.
BACA JUGA : Kopi Bahari
Sampai dengan tahun 2026 ini, Indonesia mantap berdiri sebagai raja kedai kopi dunia dengan catatan lebih dari 461.000 titik kedai atau warung kopi yang beroperasi. Luar biasanya, jumlah yang kolosal ini dinilai belum mencapai titik jenuh karena laju pertumbuhan kedai kopi baru di berbagai daerah nyatanya belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Imbasnya, masing-masing kedai kini dituntut untuk terus memutar otak dan mencari strategi paling jitu demi mempertahankan eksistensi mereka.
Kini, kedai kopi yang paling jamak dibicarakan bukanlah kedai kopi yang memiliki jaringan raksasa atau waralaba internasional. Satu per satu raksasa kopi tersebut bahkan mulai runtuh dan berguguran, menyisakan segelintir nama yang tengah berjuang keras melakukan manuver agar tetap dinilai relevan oleh pasar. Beberapa kedai kopi lokal memilih taktik mengedepankan unsur budaya atau kekhasan daerah untuk bertahan, sembari merawat keunikan interpersonal mereka.
Salah satu formula yang terbukti berhasil di pasaran adalah kepiawaian memadukan unsur estetika modern dengan kultur ngopi tradisional. Dari konsep inilah lahir kedai-kedai kopi baru bernuansa kopitiam klasik, namun dengan tawaran harga menu yang sangat ramah bagi kantong masyarakat luas.
Keunikan lain juga konsisten ditonjolkan oleh kedai-kedai kopi yang secara sadar memilih lokasi yang tersembunyi. Kedai-kedai di sudut sunyi ini terbukti memiliki ceruk pasarnya sendiri yang sangat loyal. Masing-masing kedai akan terus bergerak mencari dan mengukuhkan identitas uniknya sendiri, demi menjaring kelompok pengopi tetap—tipe pelanggan loyal yang akan datang berulang kali—sembari tetap membuka jaring untuk menangkap barisan pelanggan atau penggemar baru.
Meskipun tetap mengusung kata “kopi” pada papan namanya, banyak kedai atau kafe saat ini sejatinya tidak lagi mengandalkan menu kopi sebagai komoditas jualan utamanya. Hal yang mereka tawarkan dan paling laku justru adalah rupa-rupa varian minuman non-kopi serta makanan pendamping. Kedai-kedai kopi modern ini sudah berfungsi layaknya sebuah rumah makan, lengkap dengan beragam pilihan menu makanan berat di dalam daftarnya.
Dengan menggabungkan konsep makanan dan minuman yang komplet, pihak pengelola kedai kopi berharap agar para pengunjung yang datang bersedia bertahan dan betah duduk lebih lama, karena kebutuhan isi perut mereka sudah terpenuhi secara instan di satu tempat. Spektrum bisnis kedai atau rumah kopi kini menjadi kian luas tak bertepi. Nilai istimewa sebuah kedai kini tidak lagi mutlak diukur dari seberapa kencang koneksi Wi-Fi mereka atau seberapa dingin embusan AC di dalam ruangan, melainkan pada kemampuan mereka menciptakan atmosfer ruang yang ramah dan hangat bagi pengunjungnya.
Dengan pergeseran fungsi tersebut, kedai atau rumah kopi kemudian secara otomatis dikukuhkan menjadi titik kumpul komunal (meeting point). Ada begitu banyak komunitas hobi, seni, hingga gerakan sosial yang lahir dan memulai kegiatannya dari obrolan di atas meja kedai kopi.
Pada akhirnya, kedai-kedai kopi yang mampu menawarkan kehangatan interaksi tulen antar-manusia inilah yang akan keluar sebagai pemenang sejati. Dan untuk mencapai titik itu, kedai-kedai ini tidak harus selalu memiliki bangunan yang megah dan estetik, mesin kopi berkomponen mahal, ataupun sokongan modal yang berlimpah ruah.
Jadi, jika ditanya kembali, berapakah jumlah riil rumah atau kedai kopi yang ada di Kota Samarinda saat ini? Entahlah. Yang jelas, kini semakin sulit bagi kita untuk bisa mengunjungi dan mencicipi seluruh kedai atau warung kopi yang tersebar di Kota Samarinda—kecuali, tentu saja, jika kita adalah seorang pengangguran yang kaya raya.
note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM








