KESAH.IDSatu dekade terakhir menjadi panggung bagi generasi baru yang menolak diam; dari Greta hingga Malala di tingkat global, hingga para penggerak lokal yang mendobrak kemapanan dari akar rumput. Namun, begitu masuk ke Indonesia, potret gerakan muda ini menampilkan wajah yang jauh lebih kompleks dan penuh kontras—menampilkan jurang pemisah yang tajam antara mereka yang konsisten merawat nilai di jalur sosial-lingkungan, dengan riuh rendah pragmatisme serta benturan politik anak muda di lingkaran kekuasaan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, dunia mencatat sederet nama anak muda yang dikenal luas berkat konsistensi dan dedikasi mereka di jalur aktivisme.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah Greta Thunberg dari Swedia. Ia memulai gerakannya lewat aksi mogok sekolah sendirian di depan parlemen Swedia pada 2018—sebuah aksi spontan yang kemudian memicu gerakan global “Fridays for Future”. Alhasil, jutaan pelajar di seluruh dunia ikut turun ke jalan, menuntut para pemimpin dunia mengambil tindakan nyata menghadapi krisis iklim.

Seiring waktu, di usianya yang kini menginjak 23 tahun, kiprah Greta makin meluas. Ia tak lagi melihat persoalan lingkungan sebagai isu tunggal yang berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan sistem global yang tidak adil.

Kini, Greta lebih lantang menyuarakan isu kemanusiaan dan hak asasi global. Salah satu poros perubahan terbesarnya adalah mengampanyekan hak-hak warga Palestina, bukan cuma lewat media sosial, tapi juga aksi langsung di lapangan.

Aksi langsung tanpa kekerasan alias Non-Violent Direct Action (NVDA) kini menjadi pilihan utama Greta. Ia tak lagi rajin berorasi di podium PBB atau forum-forum elite lainnya. Greta memilih turun langsung ke garis depan, mengikuti aksi blokade sipil di berbagai negara, dan berhadapan langsung dengan aparat di lapangan.

Cara lain yang ditempuh Greta untuk mendesak perubahan kebijakan—terutama di negaranya sendiri, Swedia—adalah lewat jalur hukum. Greta membawa perjuangannya ke ruang sidang dengan melayangkan gugatan hukum formal kepada pemerintahnya.

Singkatnya, seiring berjalannya waktu, Greta Thunberg telah bertransformasi dari seorang ikon mogok sekolah menjadi aktivis keadilan global yang multidimensional. Ia terus memanfaatkan pengaruh besarnya untuk menantang kebijakan negara-negara maju; tidak hanya soal emisi karbon, tetapi juga soal hak hidup dan keadilan bagi masyarakat yang tertindas di seluruh dunia.

Sosok muda lain yang mendunia adalah Malala Yousafzai dari Pakistan. Sejak masih sangat muda, Malala dengan berani menyuarakan hak pendidikan bagi anak perempuan di bawah rezim Taliban. Kini, Malala telah bertransformasi dari seorang “remaja yang selamat dari penembakan” menjadi pemimpin gerakan global, diplomat kemanusiaan, sekaligus produser media yang matang.

Setelah lulus dari Oxford, Malala memimpin Malala Fund yang mendanai para aktivis lokal di berbagai negara untuk mendobrak kebijakan sistemik yang menghalangi anak perempuan bersekolah.

Malala juga mendirikan rumah produksi Extracurricular karena menyadari bahwa kekuatan narasi visual punya pengaruh besar dalam mengubah cara pandang dunia. Salah satu karya monumentalnya adalah dokumenter berjudul Bread and Roses, yang merekam perjuangan dan keberanian tiga perempuan Afghanistan yang hidup di bawah tekanan rezim Taliban.

Kini menetap di Inggris, Malala aktif sebagai salah satu Utusan Perdamaian PBB (U.N. Messenger of Peace) yang terus melakukan perjalanan diplomatik ke berbagai negara demi memantau kondisi pengungsi dan hak-hak perempuan.

Dari Indonesia, ada juga nama anak muda kakak-beradik yang ikut menginspirasi dunia. Melati dan Isabel Wijsen dari Bali memulai aksi Bye Bye Plastic Bags sejak tahun 2013, sebuah gerakan lokal yang akhirnya berhasil menarik perhatian dunia.

Di usia mereka yang kini memasuki kepala dua, mereka tetap berbasis di Bali dan merawat gerakan tersebut dengan mendirikan platform YOUTHTOPIA. Platform ini menyediakan pelatihan, masterclass, dan ruang jejaring bagi jutaan anak muda dari puluhan negara agar tahu cara memulai gerakan sosial mereka sendiri. Menariknya, markas mereka di Bali kini sering menjadi tempat kunjungan (HQ visit) bagi kamp-kamp pelajar internasional.

Melati juga menulis dan menerbitkan buku berjudul Change Starts Now. Buku ini berisi 100 pelajaran praktis bagi mentor dan anak muda yang ingin membangun gerakan sosial yang berdampak nyata, sekaligus tips menghindari youthwashing (eksploitasi suara anak muda oleh korporasi atau organisasi hanya demi pencitraan).

BACA JUGA : Kopi Bahari

Di tingkat nasional, ada banyak nama anak muda yang menghiasi jagat pemberitaan karena prestasi atau inspirasi dari aktivitas mereka. Sempat muncul nama-nama sosok yang dikenal sebagai pendiri (founder) berbagai startup yang tumbuh kilat hingga dipuja-puji oleh Presiden dalam berbagai kesempatan.

Namun, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan. Ekonomi startup kemudian memasuki masa layu—fase di mana para investor mulai menuntut keuntungan (profitability) ketimbang sekadar pertumbuhan (growth).

Dalam beberapa kasus, mereka yang awalnya dipuja-puji bahkan terbukti melakukan fraud dengan memanipulasi laporan keuangan agar investor terus mengucurkan pendanaan.

Ekonomi digital yang semula digadang-gadang mampu mendemokratisasi ekonomi ternyata ujungnya tidak seindah itu. Bagaimanapun, roda ekonomi tetap butuh modal besar, dan modal selalu terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu.

Ekonomi digital memang membuka kesempatan lebih luas bagi siapapun untuk terlibat dan bertumbuh—nobody bisa menjadi somebody. Tapi tetap saja, peluang itu terbilang kecil karena pertumbuhan dan ekspansi butuh investasi jumbo. Ketika investasi yang masuk sudah sedemikian besar, perlahan pengaruh pendiri asli justru menurun, bahkan menjadi tidak relevan lagi.

Beberapa nama yang dulu harum karena berhasil membesarkan usaha rintisan terpaksa berakhir buruk, bahkan terpuruk. Beberapa di antaranya memang karena terjerat perilaku buruk, sementara yang lain karena mengambil pilihan yang kurang tepat—misalnya, terjun ke ranah pemerintahan atau politik yang logika dan cara kerjanya jauh berbeda.

Namun, sebagai negeri maritim, kita beruntung memiliki sosok muda inspiratif seperti Swietenia Puspa Lestari. Pada tahun 2015, perempuan yang akrab disapa Tenia ini mendirikan Divers Clean Action (DCA). Ia berhasil menggerakkan ribuan relawan muda untuk melakukan aksi bersih-bersih bawah laut, mengumpulkan data sampah medis dan plastik, serta mengampanyekan pembatasan sedotan plastik di berbagai jejaring restoran besar. Berkat konsistensinya, ia sukses masuk dalam daftar BBC 100 Women pada tahun 2019.

Lalu ada Lygia Nostalina dan Salsabila Khairunnisa yang mengomandoi gerakan penyelamatan hutan dan hak masyarakat adat. Mereka mendirikan gerakan Jaga Rimba saat usianya masih belasan tahun untuk melawan deforestasi di Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah hutan adat yang terancam oleh ekspansi industri skala besar. Gerakan ini aktif mengedukasi anak muda perkotaan tentang pentingnya menjaga paru-paru dunia dan hak-hak masyarakat lokal.

Kemudian ada Aeshnina Azzahra Aqilani, atau yang akrab dipanggil Nina. Gadis remaja ini berani menulis surat terbuka untuk para pemimpin negara-negara besar, mendesak mereka agar tidak lagi mengeksplorasi dan mengekspor sampah plastik ke Indonesia, utamanya ke Jawa Timur.

Nina aktif mengampanyekan bahaya mikroplastik dengan meneliti langsung sungai-sungai lokal, dan ia juga vokal berbicara di berbagai forum internasional.

Lewat komunitas River Warrior, Nina konsisten menguji kualitas air sungai di berbagai wilayah Jawa Timur. Advokasinya fokus pada bahaya tersembunyi yang kasat mata: mikroplastik. Ia aktif mengedukasi anak muda mengenai bagaimana partikel plastik ini telah masuk ke rantai makanan, mengontaminasi ikan, dan mengancam kesehatan manusia jangka panjang.

Kiprah Nina ini bisa disaksikan dalam film dokumenter besutan Dandhy Dwi Laksono dari Watchdoc yang berjudul The Last Generation. Film tersebut menempatkan Nina bersama Prigi Arisandi dari ECOTON sebagai sosok sentral dalam menelusuri hulu hingga hilir carut-marut polusi plastik di Indonesia.

BACA JUGA : Kopi Hiperlokal

Di sisi lain, aktivisme anak muda di bidang politik menyajikan kejutan yang berbeda. Sepuluh tahun terakhir ini bisa dibilang merupakan tahun politiknya anak muda; atmosfer politik kita lebih banyak diwarnai oleh gerakan kaum muda.

Sebut saja lolosnya Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres, yang tak lepas dari aksi anak muda asal Solo bernama Almas Tsaqibbirru. Almas mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait batasan usia calon wakil presiden. Gugatan tersebut dikabulkan meski diwarnai gelombang kontroversi, dan putusan MK inilah yang memuluskan jalan bagi Gibran untuk maju mendampingi Prabowo Subianto.

Masih dari Solo, nama lain yang kemudian meroket adalah Kaesang Pangarep. Namanya melambung berkat capaian yang terbilang luar biasa: baru saja resmi diterima sebagai anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tak lama kemudian ia langsung terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum.

Kisah Gibran dan Kaesang ini seolah menjadi anomali di tengah perjuangan anak-anak muda lainnya yang turun ke jalan menyuarakan gerakan ,ReformasiDikorupsi.

Gerakan tersebut memang tidak memunculkan satu ikon atau nama tunggal. Sebaliknya, yang terjadi justru banyak aktivis muda yang dikriminalisasi, bahkan beberapa di antaranya harus meregang nyawa atau mengalami cacat permanen.

Dari beberapa nama yang ada, salah satu yang paling mengemuka saat ini adalah Tyo Ardianto. Mantan Ketua BEM UGM ini namanya melambung ketika mengkritik tajam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memplesetkannya menjadi “Maling Bergizi Gratis”.

Plesetan satir ini sempat ditanggapi sinis oleh Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) saat itu, Nanik S. Deyang, yang menilai Tyo hanya asal bunyi (asbun) dan bicara tanpa data, padahal statusnya mewakili kelompok intelektual mahasiswa.

Namun, kebenaran tampaknya hanya masalah waktu. Di Indonesia, rasanya sulit membayangkan ada program bernilai Rp1 triliun sehari yang bebas dari celah korupsi atau tidak dijadikan ajang bancakan.

Terbukti kemudian, Ketua BGN beserta wakil-wakilnya dicopot dari jabatan, kecuali Nanik S. Deyang. Pasca-pencopotan tersebut, Kejaksaan Agung langsung menetapkan mereka sebagai tersangka korupsi, dan dalam beberapa waktu ke depan, daftar tersangka ini diprediksi bakal terus bertambah.

Dibanding aktivis mahasiswa lainnya, Tyo berhasil mendapat panggung luas di ruang publik. Ia kerap diundang berbicara di berbagai tempat, dan kritik-kritiknya terhadap pemerintah selalu menjadi buruan berita.

Dalam berbagai forum, pembawaan Tyo bahkan dinilai mulai menggantikan lakon yang biasa diperankan oleh Rocky Gerung. Meski tidak terlalu sering mengutip teori atau buku-buku berat, Tyo diuntungkan oleh latar belakang pendidikannya di bidang filsafat.

Di saat Rocky Gerung mulai menurunkan tensi kegarangannya, Tyo hadir menggantikannya dengan tensi yang terus meninggi. Jika dulu Rocky sering dikritik karena diksi “dungu”-nya, kini Tyo ramai-ramai diserang karena kritiknya yang kerap dibumbui kata-kata kasar—kata-kata yang oleh sebagian pendengar dianggap menghina dan tidak beretika.

Bagaimanapun, kritikan pedas Tyo Ardianto berhasil memantik kembali suara beberapa sosok tokoh muda lama. Orang-orang lama yang sempat tenggelam kini mencoba menunggangi gelombang kritik tersebut. Siapa tahu, ombak itu bisa mengantarkan mereka kembali ke dalam lingkaran kekuasaan—yang ironisnya, saat ini justru sedang dipenuhi oleh orang-orang yang pada masa mudanya dulu dikenal sebagai aktivis budiman.

note : sumber gambar – KOMPAS