KESAH.ID – Sungai Mahakam bukan hanya aliran air yang membelah Kalimantan Timur, melainkan ruang yang menyimpan lapisan makna: identitas, kehidupan, dan pertarungan kepentingan. Dari hulu hingga muara, Mahakam merekam sejarah panjang peradaban, menyediakan sumber daya bagi masyarakat, sekaligus menjadi arena perebutan kuasa antara warga, negara, dan korporasi. Membaca perjalanan Mahakam berarti menelusuri denyut nadi Kalimantan Timur—sebuah sungai yang terus menguji bagaimana manusia menjaga, memanfaatkan, dan memperjuangkan ruang hidup bersama.
Kala memutar kembali memori tentang Sungai Mahakam, yang muncul pertama kali adalah rasa kagum: betapa lebar sungai ini, seakan menyerupai lautan. Kekaguman itu bertambah ketika perjalanan membawa saya ke arah hulu, di mana di kanan-kiri aliran sungai terbentang danau-danau luas yang disebut kenohan. Tiga yang terbesar adalah Semayang, Jempang, dan Melintang, namun ada pula Danau Tanjung Sarai, Danau Uwis, dan banyak lagi.
Semakin ke hulu, kejutan lain menanti: riam-riam atau jeram yang monumental, ditakuti karena telah menelan banyak korban jiwa. Jika di Samarinda Mahakam tampak kecoklatan, dihiasi gundukan hitam tongkang batu bara, maka di hulu sungai ini menampilkan wajah berbeda: batuan besar di tepian maupun di badan alirannya. Saat surut, muncul gusung batu yang disebut karangan. Perjalanan saya baru sampai Data Dawai, masih jauh dari ujung Mahakam yang tentu lebih indah dan berwarna.
Ujung lain yang pernah saya capai adalah muaranya, Delta Mahakam. Dari atas, delta ini menyerupai kipas: sungai terpecah menjadi banyak alur dengan pulau-pulau kecil. Di sini, daratan basah Kalimantan Timur melahirkan ekosistem mangrove yang subur, menghasilkan udang, ikan, dan kepiting berlimpah. Terbayang panjangnya Mahakam yang membelah Kalimantan Timur, menjadi saksi tumbuh kembang peradaban sejak masa Kerajaan Hindu Kutai hingga Kesultanan Kutai Kartanegara. Sungai ini bukan sekadar jalur air, melainkan ruang simbolik yang membentuk identitas masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungainya.
Relasi kuat antara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan Mahakam diwujudkan dalam upacara Erau, ritual berhari-hari yang ditutup dengan Belimbur, siram-siraman air sebagai tanda penyucian diri. Erau menegaskan bahwa Mahakam bukan hanya identitas, sejarah, dan tradisi, melainkan juga sumber spiritualitas. Identitas Mahakam tercermin pula dalam kehidupan sehari-hari: lalu lalang ketinting, perahu tambangan, lanting rumah apung, serta kisah-kisah dan legenda masyarakat tepian. Di Samarinda, Mahakam menumbuhkan ekonomi sekaligus menjadikan kota ini ibu kota Kalimantan Timur. Sungai ini menjadi ruang pertemuan budaya, namun tetap menyisakan mitos: siapa pun yang meminum air Mahakam, suatu saat pasti kembali ke Samarinda.
BACA JUGA : Jurnalisme Warga 2
Ruang sungai sepanjang lebih dari 900 km ini bukan hanya ruang identitas, tetapi juga ruang hidup bersama. Mahakam adalah sungai permanen yang menyediakan air tawar sepanjang musim, memenuhi kebutuhan air bersih Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Samarinda. Lebarnya yang dalam menjadikannya jalur transportasi vital, menopang sistem ekonomi sejak masa kerajaan hingga kini. Di tepiannya tumbuh pusat-pusat ekonomi yang bertahan hingga sekarang.
Daerah Aliran Sungai Mahakam adalah surga keanekaragaman hayati: ratusan jenis burung, puluhan di antaranya langka dan dilindungi; ratusan jenis ikan air tawar; bahkan mamalia langka Pesut Mahakam. Namun rumah keberagaman ini rapuh. Sejak era kolonial, Mahakam telah menjadi jalur ekstraksi kayu, minyak, dan batu bara. Sungai yang semula commons—ruang hidup bersama—berubah menjadi ruang privat bagi kepentingan korporasi, dengan dukungan negara.
Puluhan tahun lalu, nelayan sungai masih banyak di Samarinda. Kini mereka bergeser ke hulu, karena aliran Mahakam di kota tak lagi nyaman bagi ikan berbiak. Peternak ikan pun sering kehilangan peliharaan karena karamba ditabrak tongkang. Dulu orang percaya meminum air Mahakam berarti akan kembali ke Samarinda, tetapi kini warga enggan memasak air PDAM yang bersumber dari Mahakam. Mereka lebih memilih air isi ulang atau kemasan, meski biaya meningkat.
Nelayan kehilangan ruang budidaya, petani kehilangan sawah yang berubah menjadi lubang tambang, warga kota harus membeli air galon karena PDAM tak mampu menyediakan air bersih. Penelitian menunjukkan kandungan kadmium dan timbal di Mahakam melampaui ambang batas. Air PDAM harus dijernihkan dengan bahan kimia yang bersifat karsinogenik. Krisis air nyata: warga hanya punya tiga pilihan—minum air tambang, membuat sumur bor dengan biaya mahal, atau membeli air tangki dan galon. Di musim kemarau, debit air menurun, PDAM menjual air tangki lebih mahal, dan satu keluarga bisa menghabiskan 19–36 persen upah minimum hanya untuk air. Mahakam yang dulu sumber kehidupan kini menjadi sumber krisis sosial-ekologis.
Selain itu, banjir besar melanda Samarinda hampir setiap tahun. Sejak 2008 hingga 2020, banjir menggenangi hampir seluruh kota, memengaruhi 50.000 orang. Pemerintah menyalahkan sampah dan permukiman pinggiran sungai, padahal akar masalahnya adalah sedimentasi akibat deforestasi dan tambang batu bara. Ruang hidup di sepanjang Mahakam bukan lagi ruang keberagaman, melainkan ruang keterpinggiran. Mereka yang tinggal di tepian seolah menjadi entitas yang tak dikehendaki.
BACA JUGA : Jurnalisme Warga 3
Kini citra Mahakam sebagai identitas dan ruang hidup memudar. Sungai ini lebih tepat disebut medan pertempuran kepentingan. Sejak masa kolonial, konsesi kayu, tambang, dan perkebunan terus menggerus ruang publik. Infrastruktur sungai berubah menjadi infrastruktur ekstraksi: tongkang batu bara, konveyor, lubang tambang terbengkalai. Privatisasi ruang berlangsung sistematis, melibatkan negara, korporasi, dan politisi yang menjadikan izin tambang sebagai sumber uang dan suara.
Sejak 1968, puluhan perusahaan diberi konsesi penebangan di hulu Mahakam. Antara 2009–2013, DAS Mahakam kehilangan 128 ribu hektar hutan akibat penebangan, tambang, dan perkebunan. Pada 2008 dan 2014, Indonesia dinyatakan sebagai negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia. Hingga 2016, tercatat 748 konsesi pertambangan di sekitar Mahakam, termasuk di dasar sungai dan airnya.
Pertempuran kepentingan ini menimbulkan krisis sosial-ekologis. Warga Samarinda dipaksa hidup di ruang-ruang tersisa, menjadi pengungsi di kota yang melayani industri ekstraktif. Namun Mahakam juga menjadi ruang perlawanan. Pada 2011, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) memfasilitasi gugatan Citizen Law Suit pertama di Asia Tenggara, mengaitkan industri batu bara dengan banjir, perubahan iklim, dan kematian anak-anak di lubang tambang. Pada 2014, warga memenangkan gugatan di Pengadilan Negeri Samarinda. Meski Mahkamah Agung kemudian menolak uji substansi, perlawanan warga menegaskan bahwa Mahakam adalah ruang politik, ruang perjuangan.
Selain jalur hukum, warga dan aktivis membentuk komunitas pecinta sungai. Sekolah Sungai Karang Mumus merekrut relawan untuk menjaga sungai, membersihkan sampah, dan menanam ribuan pohon di bantaran. Anak muda menggelar Aksi Kamisan di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur, menuntut keadilan lingkungan dan hak asasi manusia.
Mahakam adalah ruang pertempuran kepentingan yang kompleks. Di satu sisi, ia jalur vital industri ekstraktif. Di sisi lain, ia simbol perjuangan warga untuk merebut kembali commons, ruang hidup bersama. Pertarungan ini menegaskan bahwa masa depan Kalimantan Timur ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan Mahakam: apakah sebagai ruang eksploitasi atau ruang kehidupan.
Mahakam adalah sungai dengan tiga lapisan makna: ruang identitas, ruang hidup, dan ruang pertempuran kepentingan. Ia adalah nadi budaya, sumber kehidupan, sekaligus arena politik-ekonomi. Sejarah panjang privatisasi menunjukkan bagaimana sungai ini dieksploitasi, tetapi juga bagaimana warga berjuang merebut kembali hak atas ruang hidup bersama.
note : sumber gambar – DETIK








